Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 70 : Sisi Lain Vania


__ADS_3

Dewa tidak tahu harus berkata apa lagi. Vania yang dipikirnya hanyalah gadis polos ternyata adalah gadis bodoh. Bisa-bisanya menyerahkan miliknya yang berharga kepada Aby secara suka rela. Ia menarik napas dalam-dalam demi mengembalikan akal sehatnya yang sempat menghilang. 


"Kalau suka nggak harus gitu juga, Vania!" kesal Dewa. Wajahnya tertekuk marah. 


"Tapi Aby bilang boleh sering-sering," tambah Vania dengan raut muka polos seperti tanpa dosa.


"Ya iyalah dia bilang begitu, orang dia doyan," potong Dewa cepat. Tetapi kemudian menatap Vania iba. Tangannya yang lebar mengusap bahu gadis itu pelan. "Vania ... kalau ada laki-laki yang suka sama kamu, harus dari apa adanya kamu. Tidak perlu dengan kamu menyerahkan semua milik kamu." 


"Tapi aku nggak pernah kasih apa-apa buat Aby. Aby akan kasih apapun yang aku minta." 


Dewa menghela napas. Pembicaraan dengan Vania seolah membuat imun tubuhnya naik turun. "Maksud aku nggak perlu dengan kamu tidur sama dia!" ucap Dewa frontal. Kali ini disambut Vania dengan mata melotot. 


"Memang siapa juga yang pernah tidur sama Aby?" protesnya marah. 


"Tadi kamu bilang main ke hotel. Ngapain ke hotel coba?" cecar Dewa. Tetapi Vania tidak mau kalah.


"Memangnya ke hotel cuma buat tidur? Aby suka makan di restoran hotel. Di sana makanannya enak-enak. Aku sama Aby sering makan di sana," jelas Vania panjang lebar. 


Kening Dewa berkerut semakin dalam mendengar jawaban gadis itu. Wajahnya seketika memerah saat berhasil menarik kesimpulan dari obrolan mereka. 


"Kenapa aku jadi bloon begini, sih?" gerutu Dewa dalam hati.


"Bilang dari tadi kalau ke sana cuma buat makan, bikin salah paham aja!" Dewa mengusap dada sambil menghela napas panjang. Meskipun sedikit kesal, tetapi ada kelegaan dalam hatinya. 


Obrolan pun terhenti bersamaan dengan wahana kincir angin yang terhenti. Vania segera turun dengan sedikit tergesa. Sepertinya ia tertarik untuk mencoba wahana lain. Mungkin Dewa harus siap-siap kelelahan menemaninya.


Baru saja kaki Vania berpijak, sesuatu sudah menarik perhatiannya. Seorang wanita tua berpakaian lusuh duduk seorang diri. Vania terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menghampiri wanita itu. Tanpa pikir panjang, ia merogoh isi tas dan mengeluarkan semua uang yang ada di sana tanpa menghitung. Ia letakkan di dalam kaleng begitu saja, lalu pergi setelahnya.


"Nggak nyangka di balik sikap judes, manja, songong dan urakan itu ada hati yang sangat lembut." Sudut bibir Dewa terangkat membentuk senyuman tipis. Lalu menatap ke arah lain dan berpura-pura tidak melihat apa yang dilakukan Vania barusan.

__ADS_1


"Toilet umum di mana ya, Kak?" tanya Vania.


"Di sana!" Dewa menunjuk ke sebuah arah di mana beberapa orang sedang mengantri. "Mau aku temani?" 


"Nggak usah, aku bisa sendiri," tolak Vania. "Aku titip tas aja, ya." 


Dewa mengangguk, lalu meraih tas milik Vania. Menunggu beberapa saat hingga Vania terlihat ikut mengantri. Dewa pun membuka tas milik Vania dan mengeluarkan ponsel milik Vania. Begitu di-aktifkan, ada banyak pesan tidak terbaca yang berasal dari mami. Dugaan Dewa ternyata benar, Vania sedang kabur dari rumah. Untung saja ponsel tersebut tidak menggunakan kunci layar. 


"Maaf, Van. Aku buka hape kamu. Setidaknya mami kamu harus tahu di mana anaknya."


Pria itu lantas melakukan panggilan tanpa sepengetahuan Vania. Hanya dalam hitungan detik, panggilan sudah tersambung disusul suara panik seorang wanita. 


"Vania ... kamu di mana? Kenapa hapenya kamu matikan?"


"Maaf, Tante ... saya Dewa, anaknya Dokter Allan Hadikusuma. Vania sedang bersama saya sekarang. Jangan khawatir, Vania baik-baik aja. Nanti saya yang akan antar dia pulang." Tanpa ragu, Dewa menyebut nama sang ayah mengingat orang tua Vania mengenal baik ayahnya.


"Dewa? Anaknya Dokter Allan?"


"Oh iya, Tante ingat. Syukurlah, Vania bertemu kamu. Tante sudah takut ada apa-apa sama Vania."


"Vania baik-baik saja, kok, Tante. Nanti saya antar pulang."


"Baik, Nak Dewa. Terima kasih."


Dewa memutus panggilan setelahnya. Lalu, kembali menonaktifkan ponsel milik Vania agar gadis itu tidak curiga. Ia menunggu di depan toilet umum setelahnya. 


"Habis ini kamu mau ke mana lagi?" tanya Dewa sesaat setelah Vania keluar dari toilet. 


"Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Mumpung aku lagi baik mau temani kamu hari ini. Jadi kamu boleh memanfaatkan kemurahan hati aku."


Vania terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu. 


"Nonton aja, yuk!" ajak Vania penuh semangat.


.


.


.


Embun tak pernah melepas genggamannya dari lengan sang suami sejak pemutaran film dimulai. Betapa tidak, Aby membeli tiket film horor. Ditambah lagi suasana gelap di gedung bioskop itu membuat Embun semakin merinding.


Sejak tadi, Embun tampak tidak tenang. Kadang ia ikut menjerit saat film menampilkan adegan menyeramkan.


"Kenapa sih harus nonton film horor?" protes Embun yang kini menyembunyikan wajah di lengan suaminya.


"Nggak apa-apa. Lagian hantunya nggak akan keluar dari sana."


"Tetap aja aku takut!" lirih Embun.


Aby tersenyum menatap istrinya itu. "Ya udah, sini." Aby merentangkan tangan, membuat Embun melorotkan tubuhnya untuk bersandar di dada sang suami. "Seharusnya tadi beli tiket film romantis, bukan malah horor."


"Maaf, Sayang. Aku pikir kamu suka. Kan tadi aku tanya, kamu bilang terserah. Apa mau kita keluar aja dan beli tiket film lain?" Bukannya menciptakan suasana romantis, ia malah membuat istrinya ketakutan.


Gawat, si Madun terancam puasa malam ini kenapa juga belinya film horor?


"Aby, Embun ... kalian di sini?" Sapaan tak asing itu membuat Aby dan Embun menoleh seketika.

__ADS_1


"Dewa?" Aby hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dewa dan Vania baru saja duduk tepat di sebelah kursinya.


****


__ADS_2