Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 54 : Rencana Pindah Ke Rumah Baru


__ADS_3

Halo gengs, yang belum sempat lihat Visual, Visual coba ke bab 29 ya. Soalnya Visual tokoh novel ini ku selip di sana.


🤗🤗🤗


.


.


"Apa maksud Tante?" tanya Aby dengan nada mulai tak bersahabat.


Ia terkekeh. "Tante sangat tidak menyangka bahwa kamu bisa meninggalkan Vania karena perempuan lain. Apa sih lebihnya perempuan ini dibanding Vania?" 


Sepasang mata Aby berkilat marah mendengar kalimat sarkas wanita itu.


"Tante, tolong hargai istri saya. Dia tidak tahu apa-apa dalam hal ini!" 


Aby menaikkan intonasi, membuat wanita dengan penampilan modern itu melotot marah. 


"Perlu Tante ketahui, saya sudah beberapa kali mau mengakhiri hubungan dengan Vania secara baik-baik, bahkan jauh sebelum saya menikah. Tapi Vania selalu mengancam akan bunuh diri!"


Napas wanita itu seperti tertahan mendengar ucapan Aby.


"Saya rasa Om dan Tante juga tahu apa alasan saya bertahan dengan Vania selama satu tahun," sambungnya.


Mami Vania menundukkan pandangan seraya menarik napas dalam-dalam. Semua yang diucapkan Aby memang benar adanya. Dirinya lah yang kala itu memohon kepada Aby agar tidak meninggalkan Vania. Mami bahkan tahu tentang Vania yang berniat mengakhiri hidupnya sehari sebelum Aby menikah. 


"Tapi Aby ...." Wanita itu mulai tampak gugup.


"Tadinya saya pikir Tante kemari untuk membicarakan langkah terbaik yang bisa dilakukan untuk Vania. Tapi sepertinya Tante lebih tertarik memberi penilaian terhadap istri saya. Jadi, lebih baik Om dan Tante pulang dulu dan memikirkan masalah ini dengan kepala dingin." 


Mami Vania menatap suaminya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan itu. Tak ada sanggahan atau pembelaan sedikit pun darinya untuk Vania. 


Sementara Embun memilih diam. mencoba menarik benang merah dari pembicaraan suaminya dan orang tua Vania. 


"Sudah lah, Mam. Lebih baik kita pulang dulu. Aby benar dalam masalah ini," ucap papi Vania.


Wanita itu pasrah ketika suaminya berdiri dan menarik tangannya. Karena kesal, ia melangkah keluar lebih dulu tanpa permisi. Membuat papi Vania hanya dapat menggelengkan kepala.


"Maaf, Nak Aby kalau kedatangan kami sudah mengganggu. Maafkan ucapan Maminya Vania, dia sedang sedih dengan apa yang terjadi kepada anak kami," ucap pria itu penuh sesal. 


Aby menjawab dengan anggukan kepala diiringi senyum tipis.


"Tidak apa-apa, Om. Saya bisa mengerti. Tapi, tolong kasih tahu Tante agar tidak menyalahkan istri saya dalam masalah ini." 


Pria itu menganggukkan kepala, sebelum akhirnya melangkah pergi, menyusul istrinya yang sudah lebih dulu keluar.

__ADS_1


.


.


.


Aby dan Embun kembali ke kamar setelah pembicaraan sengit itu. Kekesalan masih tampak jelas dalam tatapan Aby. Apa lagi setelah mendengar ucapan Mami Vania kepada istrinya.


Penghinaan Mami Vania terhadap Embun tadi membuatnya merasa bersalah. 


Melihat suaminya seperti sedang menahan amarah, Embun pun mendekat dan duduk di sisi sang suami dengan tatapan penuh tanya. 


"Mas, sebenarnya ada apa? Kenapa aku kurang mengerti apa yang kalian bicarakan tadi?" 


Di kepala Embun sudah ada banyak pertanyaan yang membutuhkan sebuah jawaban. Aby merangkul sang istri dan menyandarkan di bahunya. 


"Aku nggak tahu harus mulai dari mana sebenarnya." 


"Memangnya ada apa, Mas?" Embun tampak semakin penasaran. 


Aby terdiam beberapa saat. Menarik napas dalam, lalu menjawab,


"Vania itu mengidap bipolar." 


Jawaban yang diberikan Aby membuat sepasang mata Embun membulat penuh. Untuk beberapa saat Embun seperti kehilangan kemampuannya untuk berpikir.


"Kamu serius, Mas?" 


Aby mengangguk. "Aku serius. Makanya aku nggak pernah mau mengenalkan Vania ke ayah dan bunda. Saat kamu pergi camping bersama Vania, aku sempat melarang kamu. Aku juga cepat menyusul bahkan sebelum Dewa menghubungi aku, untuk kasih tahu kalau kamu hilang. Dan ternyata apa yang aku takutkan terjadi, kamu didorong orang sampai jatuh ke jurang." 


Embun terkesiap. 


"Karena itulah Vania akan sanggup melakukan apapun, termasuk berusaha bunuh diri."


"Aku tahu, saat kamu kritis, Vania datang untuk menjelaskan semua. Dia mengaku, sehari sebelum kita menikah mengancam bunuh diri kalau kamu meninggalkan dia." 


"Iya, itu memang benar." Aby kembali memeluk istrinya. "Kita nggak usah pikirkan itu lagi, ya? Lebih baik sekarang fokus tentang kita saja. Besok kan kita mau lihat-lihat rumah." 


.


.


.


Keputusan Aby untuk membeli sebuah rumah ternyata mendapat dukungan penuh dari ayah dan bunda. Semua pasangan yang baru menikah pasti punya impian untuk tinggal di rumah sendiri. Selain lebih leluasa, tentunya mereka akan belajar untuk lebih bertanggung jawab dan saling menjaga. 

__ADS_1


"Nggak apa-apa kalau kalian mau tinggal sendiri, yang penting sering-sering nginap di sini. Biar ayah sama bunda tidak kesepian," ujar bunda pagi itu, di sela-sela sarapan.


"Iya, Bunda."


"Siapa tahu dengan tinggal di rumah sendiri bunda bisa cepat dapat cucu," tambah wanita itu sambil terkekeh. 


Embun hanya menundukkan pandangan sambil berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya. 


"Memang kapan rencana kalian mau pindah?" 


"Secepatnya, Bunda. Siang ini baru mau lihat rumahnya dulu. Kalau Embun suka, langsung ambil."  


"Bunda sih dukung aja. Yang penting kalian bahagia dan akur." 


Siang harinya ....


Embun menatap takjub saat memasuki sebuah rumah. Ini adalah rumah ke empat yang mereka lihat. Dua rumah sebelumnya ditolak Embun karena dinilainya terlalu luas. Sedangkan rumah yang lain baginya terlalu mewah. Embun menyukai sebuah rumah yang tidak begitu besar dan tidak mencolok.


"Kamu suka yang ini?" tanya Aby, saat melihat istrinya begitu antusias. 


Embun mengangguk penuh semangat. 


"Aku suka rumah ini, Mas. Tidak terlalu besar dan ada taman kecilnya," jawabnya sambil meneliti bagian rumah itu. 


"Kalau begitu kita ambil rumah ini aja." 


"Aku setuju." 


Embun kembali memulas senyum. 


Sementara Aby menarik tangannya. Kemudian merangkul menuju tangga untuk melihat bagian lantai atas. Rumah itu sudah dilengkapi dengan perabot. Sehingga jika akan pindah ke sana, tidak perlu repot membeli perabotan lagi. 


"Ini kamarnya." Aby membuka pintu sebuah kamar. 


Pandangan Embun berkeliling ke setiap sudut kamar itu. Sebuah kamar berukuran tidak terlalu luas dengan sebuah ranjang berukuran 200x200. Ada jendela besar yang mengarah ke taman belakang. Embun berdiri di depan jendela sambil memandangi taman belakang. 


"Kamarnya bagus sekali." 


Aby memulas senyum tipis. Mendekati istrinya dan memeluk dari belakang. 


"Jadi nggak sabar mau pindah ke sini."


"Memang mau pindah kapan?" Embun membalikkan tubuhnya, hingga posisinya kini berhadapan dengan suaminya. Sementara Aby langsung melingkarkan tangan di pinggang. 


"Kalau bisa sih sebelum tamu bulanan kamu pulang, jadi kita bisa langsung tancap gas." 

__ADS_1


Aby tersenyum menggoda, menciptakan semburat merah di pipi Embun. 


*** 


__ADS_2