Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Tidak Suka Cara Oma


__ADS_3

Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, Aby menyempatkan waktu untuk mengantar Embun ke rumah sakit dan memeriksakan kandungannya. Sebagai seorang suami dan juga calon papa, Aby agak khawatir dengan kondisi kesehatan Embun. Apalagi ada kista yang bersarang di rahim Embun dan Aby takut akan mempengaruhi kehamilannya. 


Seperti biasa Dokter Allan menyambut dengan ramah. Mereka pun melakukan pemeriksaan menyeluruh. 


"Embun ada keluhan lain selama kehamilan?" tanya sang dokter sesaat setelah melakukan pemeriksaan USG. 


"Cuma pusing dan mual, Om. Kadang lemas juga," jawab Embun. 


"Itu gejala normal untuk trimester pertama. Om resepkan obat dulu, ya." 


Embun mengangguk. 


Sekarang Aby menatap Dokter Allan dengan mimik serius. "Tapi Om, bagaimana dengan kistanya? Apa itu tidak akan membahayakan janinnya? Maksud saya, apa Embun bisa menjalani kehamilan normal dengan adanya kista itu?" tanya Aby panjang lebar. 


Sebelum menjawab, Dokter Allan mengulas senyum tipis. Ia paham dengan kekhawatiran Aby.


"Untuk kistanya, kita akan tetap pantau perkembangannya seperti apa. Kalau tidak mengecil juga, nanti bisa diangkat sekalian saat Embun lahiran." 


"Berarti aku kemungkinan lahiran Caesar ya, Om?" Embun mulai panik. Ia sangat takut dengan meja operasi.


"Iya. Melihat kondisi kamu sepertinya lebih baik persalinan dilakukan dengan operasi. Kamu tenang saja. Tidak kerasa, kok."


Meskipun sedikit takut, tetapi Embun mencoba untuk tidak menjadikan sebagai beban. Lagi pula, bukankah Dokter Allan adalah dokter ahli kandungan senior?

__ADS_1


Dokter Allan lalu menjelaskan beberapa hal seputar prosedur pengangkatan kista. Baik Aby maupun Embun dapat bernapas lega setelah mendapat penjelasan. 


Cukup lama mereka menghabiskan waktu untuk berkonsultasi. Setelah resep obat sudah di tangan, keduanya berpamitan pulang. 


"Selamat untuk kehamilan kamu. Banyak istirahat dan banyak konsumsi makanan yang bergizi ya, Embun," ucap sang dokter. 


"Iya, Om. Terima kasih." 


*


*


*


Dua bulan berlalu 


Meskipun ingin menjadi cucu yang baik dan tidak ingin memiliki masalah dengan oma, namun Embun juga tidak berani melanggar larangan Aby. Terlebih, suaminya itu sudah memberi peringatan keras dan Embun tahu seperti apa Aby saat sedang marah.


 Sehingga sesekali hanya bunda dan ayah yang datang untuk melihat keadaan Embun. 


"Mas ... kamu masih marah sama oma?" tanya Embun sore itu. Mereka sedang menghabiskan waktu di balkon rumah sambil menikmati teh hangat dan camilan. 


Namun, bukannya menjawab pertanyaan itu, Aby malah membahas hal lain. "Kamu nggak mual-mual lagi kan, Sayang?" 

__ADS_1


"Nggak lagi." Embun memilih mendekat dan bersandar di dada suaminya. "Kamu belum jawab pertanyaan aku!" 


"Yang mana sih?" Aby pura-pura polos, kemudian menyeruput teh hangat manis dengan nikmat. 


"Kamu masih marah sama oma?" Embun mengulang pertanyaan itu. 


Aby menarik napas dalam, lalu membelai puncak kepala Embun. "Aku nggak marah sama oma. Aku cuma nggak suka caranya memperlakukan kamu." 


"Tapi kalau kita menghindar begini nanti oma sedih." 


"Sayang ... suami kamu ini bukan orang yang punya hati malaikat. Lagian suami mana sih yang senang istrinya dihina orang. Sekalipun itu oma sendiri aku tetap nggak suka." 


"Tapi kasihan oma, Mas. Kamu kan cucu kesayangannya," bujuk Embun sekali lagi.


"Kalau cucu kesayangan seharusnya oma juga sayang sama istriku, kan? Bukannya malah memusuhi." 


*****


Halo teman-teman sambil menunggu kelanjutan kisah Aby dan Embun, mampir ke Karya satu ini dulu yaaa. 🤗🤗🤗


Judul : Di saat Menikah Karena Perjodohan


Author : Harumini

__ADS_1


Jangan lupa Masukin ke Favorit biar ada notif kalau up.



__ADS_2