Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 59 : TERNYATA KAMU?


__ADS_3

"Sudah, tapi aku malah ragu kalau dia pelakunya." Wajah Embun terlihat murung setelah mengucapkan kalimat itu. Bagaimana pun juga, ia akan sangat merasa bersalah jika ternyata Vania tidak terlibat, tetapi harus merasakan hukuman.


"Loh, bukannya mobil yang menabrak Kak Aby itu memang mobilnya Vania, ya? Ada kan rekaman CCTV-nya."


Embun memang tak menampik bahwa semua bukti telah mengarah kepada Vania. Terlebih, setelah mengetahui kenyataan bahwa Vania mengidap bipolar. Belum lagi laporan pihak kepolisian yang menyatakan keterangan yang diberikan Vania berubah-ubah dan membingungkan.


"Aku masih belum yakin. Bagaimana kalau ternyata ada orang lain yang memanfaatkan keadaan Vania." Embun menatap lekat wajah Mega setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia dapat melihat raut wajah Mega yang terlihat jelas terkejut. "Aku juga yakin, orang yang mendorong aku di perkemahan bukan Vania."


Mega mengusap tengkuk lehernya. "Kalau begitu kamu harus hati-hati. Karena bisa saja bahaya masih mengintai kamu."


Embun hanya menyahut dengan anggukan kepala. Sementara Mega melirik jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan kanan.


"Oh ya, aku harus pergi sekarang. Aku ada janji sama Kak Dewa sore ini. Sampai jumpa, Embun."


"Sampai jumpa," balas nya singkat.


Kala Mega melangkah keluar, Embun masih menatapnya hingga menghilang di balik pintu. Kemudian membuka galeri ponselnya sambil melihat-lihat foto yang ia ambil di perkemahan, beberapa saat sebelum jatuh terperosok ke jurang.


Tak terasa, hari menjelang senja. Cahaya kemerahan sudah terlihat melingkupi langit. Embun masih duduk di kelas menunggu. Ponsel miliknya baru saja berdering menandai adanya pesan masuk.


"Aku sudah dijalan. Kamu tunggu sebentar, ya." Isi pesan Aby.


"Iya, Mas."


Menghela napas panjang, Embun memasukkan buku yang tadi dibacanya ke dalam tas. Ia akan menunggu sang suami di kantin kampus saja. Kebetulan kantin sangat cukup dekat dengan parkiran, tempat biasanya Aby menunggu.


Embun masih melangkah dengan santai melewati ruangan-ruangan kosong ketika merasakan punggung lehernya tiba-tiba mendapat hantaman keras, yang membuat sekeliling terasa berputar dalam pandangannya. Hanya dalam hitungan detik, segalanya mulai terlihat gelap.


Embun ambruk dan tak sadarkan diri lagi.


.


.

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan Aby baru saja memasuki gerbang kampus dan berhenti tepat di depan gedung. Biasanya di tempat itulah ia menunggu Embun.


Dengan cepat pria itu mengeluarkan ponsel dari dasboard. Lalu segera menghubungi sang istri. Namun, hingga beberapa kali mencoba, tak kunjung tersambung.


"Kok nggak aktif?" gumam Aby, dengan kerutan tipis di alis tebalnya. Bukankah lima belas menit lalu mereka masih saling berkirim pesan?


Aby berpikir ponsel milik Embun mungkin kehabisan baterai. Laki-laki itu lantas menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran mobil. Ia akan menunggu, Embun pasti akan datang sebentar lagi.


Namun, sang mentari sudah hampir tenggelam. Tetapi Embun belum memunculkan diri.


"Embun ke mana, ya?"


Aby memilih keluar dan berdiri bersandar pada mobil. Lengan kemeja ia gulung hingga batas siku, yang membuatnya tampak lebih keren.


"Aby, kamu ngapain di sini?" Sapaan itu membuat Aby menoleh seketika. Tampak Dewa sudah berdiri tak jauh darinya.


"Lagi nungguin Embun. Tapi belum keluar juga." Aby mengedarkan pandangan sekali lagi.


"Kamu yakin Embun masih di dalam?" tanya Dewa.


"Tadi sih katanya masih di kelas sambil nunggu," ujarnya.


"Sudah kamu hubungi?"


Aby mengangguk. "Sudah, tapi nggak aktif. By the way, Kamu ngapain di sini?"


"Aku ada janji sama Mega." Dewa lantas mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. "Coba aku hubungi Mega. Mungkin dia sama Embun."


Beberapa saat menunggu, Aby mulai tampak tidak tenang dalam posisinya. Sesekali menatap Dewa yang mencoba menghubungi Mega.


"Nomornya Mega juga nggak aktif." Ia memasukkan ponsel ke saku jaket, lalu menatap Aby, "Kita cari ke dalam dulu deh. Siapa tahu mereka lagi bareng."


.

__ADS_1


.


Perlahan Embun membuka mata. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah ruangan luas dengan pencahayaan temaram.


Dalam keadaan setengah sadar, ia meneliti ruangan itu. Embun baru sadar tubuhnya dalam keadaan terduduk di sebuah kursi kayu dengan tali tambang yang melilit tangan dan kaki.


Seketika rasa takut menyergap begitu kuat. Apa lagi. Tubuhnya menggeliat berusaha melepaskan diri. Namun, sia-sia karena tali yang menjeratnya begitu kuat.


Belum lagi, mulutnya tertutup oleh selembar kain, yang membuatnya tak dapat menjerit untuk sekedar meminta tolong. Dua bola matanya sudah tergenang oleh cairan bening.


"Mas Aby, tolong aku?" Embun hanya dapat menjerit dalam hati. Berharap Aby menemukannya di sana. Berbagai pikiran buruk pun sudah menguasai benaknya.


"Kamu sudah bangun, ya?"


Dalam keadaan panik, tiba-tiba terdengar suara yang begitu familiar. Embun menolehkan kepala ke sumber suara. Bola matanya spontan melebar melihat sosok yang berdiri tak jauh darinya.


"Kenapa? Kamu terkejut?" Pertanyaan santai bernada ancaman itu membuat tubuh Embun meremang. Apa lagi setelah melihat belati tajam yang dimainkan wanita itu di tangan kanannya.


Kala sepasang kaki itu melangkah, Embun menggeliat hingga kursi yang ia duduki bergeser mundur. Namun, wanita yang mendadak terlihat menyeramkan itu malah terkekeh.


"Kamu pikir, setelah mengambil Aby dari aku ... aku akan melepaskan kamu begitu saja?"


"Mas aby? apa maksudnya?"


Embun semakin gemetar. Cairan bening yang menggenangi bola matanya sudah meleleh di pipi.


Wanita dengan sorot mata tajam membunuh di hadapannya memindai tubuhnya, lalu perlahan mendekat. Mencengkram bahunya kuat. Belati tajam di tangannya ia arahkan ke leher.


Kelopak mata Embun terpejam ketika merasakan perihnya belati itu menggores lehernya, tepat pada tanda merah yang ditinggalkan Aby semalam.


"Aku akan menghilangkan jejak yang ditinggalkan Aby dari leher kamu!"


*****

__ADS_1


__ADS_2