Pengkhianatan Di Malam Pertama

Pengkhianatan Di Malam Pertama
Bab 79 : Surabaya Atau Bogor?


__ADS_3

Mobil melaju dengan kecepatan sedang pagi itu. Sesekali Aby melirik Embun yang sejak meninggalkan rumah terus terkekeh seorang diri. Hal yang menciptakan kerutan tipis di kedua alis tebal suaminya.


"Kamu kenapa ketawa terus?" tanya Aby penasaran.


Tawa Embun terhenti sejenak, melirik suaminya seperti sedang meneliti. Pandangannya menelusuri garis wajah suaminya itu. Sangat tampan memang, wajar jika beberapa wanita begitu terpikat kepada pesona seorang Abimanyu Fahreza. Dan sepertinya, Embun harus lebih waspada menjaga suaminya itu dari ancaman luar.


"Kenapa sih?" tanya Aby lagi, ketika Embun tak kunjung menjawab.


"Nggak apa-apa. Ada yang lucu aja."


"Lucu apanya?" Aby menatap istrinya sekilas.


"Tetangga kita."


Hembusan napas Aby terdengar panjang saat Embun menyebut kata tetangga. Sudah pasti yang dimaksud adalah si Genit Siska, dan Aby benar-benar tidak menyukai wanita itu sejak awal bertemu.


"Dia lagi." Aby berdecak pelan. "Dia kenapa memangnya? Minta ikut? "


"Nggak, bukan itu."


"Terus?"


"Dia pikir kamu sendirian keluar kota. Makanya dia agak kaget lihat aku tiba-tiba ikut."


"Oh .... " Aby mengangguk pelan.


"Sebelumnya dia juga tanya kamu akan nginap di hotel mana. Barangkali dia mau nyusul kamu ke Surabaya. "


"Separah itu?" Aby terkekeh. Namun, dalam sepersekian detik tersadar. "Tunggu ... Surabaya? Memang siapa yang mau ke Surabaya?"


Tawa Embun meledak saat itu juga. Butuh beberapa saat untuknya meredam rasa geli yang berpusat di perut.

__ADS_1


"Kemarin dia tanya kamu mau ke kota mana, terus nginap di hotel mana, dan perginya sama siapa? Aku bilang aja kamu ke Surabaya. Biar dia nyusul sekalian."


Kening Aby berkerut seolah sedang membedah maksud istrinya. Lalu beberapa detik kemudian, tawa pun menggema sepanjang perjalanan.


"Kamu kok iseng sih? Padahal kita cuma ke Bogor, lho," ucapnya sambil berusaha meredam tawa.


Aby sempat berpikir, Embun memiliki hati yang polos dan tidak akan peka dengan gelagat aneh sang tetangga. Tetapi rupanya Embun selangkah lebih maju dan telah menyiapkan antisipasi untuk menghadapi Siska.


"Aku harus waspada sama dia, kan? Kalau aku bilang kamu ke Bogor, dia gampang nyusul."


Aby kembali mengangguk. Tawanya pun telah mereda. "Tetangga kita satu itu memang agak ajaib. Untung kamu cepat tanggap."


.


.


.


Beberapa menit lalu ia mendapat telepon dari Dewa untuk segera berangkat memeriksa masalah di supplier bahan baku. Sebab Dewa ada pekerjaan lain yang membatalkan keberangkatannya.


"Mbun, aku harus langsung berangkat, ya. Kamu nggak apa-apa aku tinggal sendiri?"


Embun menatap suaminya yang sudah terlihat rapi. "Nggak apa-apa, Mas. Tapi kamu pulangnya nggak malam banget, kan?"


"Nggak, Sayang. Aku usahakan pulang lebih awal," ucapnya. "Oh ya, kalau butuh sesuatu hubungi aku, atau kalau mau makan tinggal pesan di restoran hotel aja."


Embun menjawab dengan anggukan kepala, membuat Aby mendekat dan mengecup kening. Lalu segera melangkah keluar kamar, bersamaan dengan seseorang yang baru saja akan membuka pintu kamar sebelah.


"Aby?" Sapaan familiar itu membuat Aby menoleh seketika. Sejenak ia terdiam menatap pria yang baru saja menyapa.


"Reno?" Aby menatap sedikit terkejut bercampur heran. Setahunya, saat ini Reno sedang ditugaskan di kota lain. "Aku pikir kamu di Jogja sekarang."

__ADS_1


"Aku ditugaskan Pak Desta ke sini beberapa hari lalu. By the way ... kamu ke sini sendirian?"


"Sama istri," jawab Aby singkat.


Keduanya masih mengobrol saat pintu kamar terbuka dan memunculkan sosok Embun. Wanita itu segera keluar kamar ketika mendengar suaminya tengah berbincang dengan seseorang di luar kamar.


"Oh ya, Ren ... Kenalin, ini Embun, istriku," ucap Aby mengenalkan sang istri kepada sahabatnya. "Embun, ini Reno, kamu masih ingat, aku pernah ceritakan tentang Reno sebelumnya?"


Embun mengangguk pelan. Masih segar dalam ingatannya ketika Aby menceritakan seorang sahabatnya yang bernama Reno, yang juga adalah kakak kandung Mega.


Sementara Reno terdiam sejenak memandangi seorang wanita cantik di hadapannya.


Oh, ini istrinya Aby ... Cantik juga sih ....


*


*


*


*


*


Halo teman-teman terkasih, untuk sementara aku label END dulu ya. Tenang aja, akan terus up sampai Abydin-Embun bahagia. Sekarang aku sedang di luar daerah dan laptop ketinggalan di rumah. Terpaksa ngetik dikit2 di hape. 😅😅


Oh ya, diujung episode nanti aku akan buat kuis berhadiah pulsa. Pemenang akan dipilih berdasarkan jawaban yang benar. Jadi, jangan sampai ketinggalan, ya.


☺️☺️☺️


Btw maafin kalau ada Typo.

__ADS_1


__ADS_2