
"Dokter bisa saja," balas Mira ikut tertawa.
Hari berganti, Fahmi tidak ada jadwal praktek di rumah sakit hari ini. Akan tetapi dia memilki jadwal prekatek di rumah jam empat sore nanti.
Sesuai janjinya kemarin sebelum mereka berpisah untuk tidur, Fahmi mengatakan akan membantu Mira mencari tempat tinggal. Mereka tidak pergi berdua, Adelia dan Syafa dikit sertakan.
"Dok kayaknya kalau ngontrak di perumahan seperti ini terlalu mahal," kata Mira saat mereka memasuki komplek perumahan tapi tidak semewah komplek perumahan Fahmi.
"Tapi yang penting keamanan, Dek. Apalagi kamu kan tinggal sendiri. Perempuan lagi"
"Iya, Kak Mir jangan memikirkan soal mahal apa tidak yang penting aman dulu. Masalah biaya kan ada yang mau nafkahin," goda Adelia yang tak sengaja kemarin menndegatkan obrolan mereka.
Saat Fahmi turun dari kamar, saat iti juga Adelia turun untuk mengambil air minum. Saat dia akan menuju dapur melihat pintu ke arah taman terbuka. Ternyata kakaknya dengan Mira tengah bicara, dan kalimat yang ia dengan adalah soal dinafkahi.
"Apa sih, De? Kurang kerjaan kamu itu kalau nguping Mas."
"Ya memang. Memangnya ada yang masih kerja sampai malam. Yang ada juga yang lagi pedekate-an."
Mira menanggapi dengan senyum, dia tidak menanggapi serius candaan Adelia.
"Jangan heran, Dek Mir. Adel memang seperti itu," kata Fahmi sambil menginjak rem saat sudah melihat rumah yang dituju. "Ayo turun!"
Fahmi turun lebih dulu untuk membantu menurunkan Syafa yang duduk di sebelahnya. Mira dan Adel turun dari pintu kabin tengah.
Seorang satpam komplek menyambut kedatangan Fahmi. Tentu pesona dokter itu sudah dikenal di sekitarnya komplek ini. "Sudah tinggal di perumahan elit kok malah balik lagi ke sini, Dok. Betah ya tinggal di tempat seperti ini," canda satpam yang memang sudah akrab.
"Ya kadang yang terlihat mewah belum tentu bahagia, Pak. Pusing mikirin biaya," balas Fahmi dengan guyonan juga.
"Istri baru?" tanya satpam pada Fahmi saat melihat Mira.
"Doakan saja," kata Fahmi sambil menepuk pundak satpam kemudian melangkah untuk membuka pintu.
"Dokter ini sekrang selersnya yang seger-seger ya." Pak satpam masih bercanda mengiringi langkah Fahmi.
__ADS_1
Mira dan Adel masuk. Rumah yang pernah menjadi tempat tinggal Fahmi dengan sang istri itu masih terlihat rapih. Bahkan jaring laba-laba juga tidak ditemukan, tandanya rumah ini rajin di bersihkan.
"Cukup gak, Dek Mira?" Fahmi menoleh pada Mira.
"Terlalu besar, Dok."
"Kan memang butuh rumah yang luas. Apa lagi nanti."
"Kak Mira takut?" tanya Adel, "kalau takut sendirian, di rumah kita aja."
"Enggak, bukan takut maksudnya. Tapi biayanya ..." Semalam Mira sudah menghitung uangnya. Uang sepuluh juta itu mana cukup untuk memenuhi biaya hidupnya. Apalagi jika menyewa rumah sebesar ini.
"Ini rumah saya," kata Fahmi. "Rumah saat Syafa baru lahir. Mau di jual tapi masih sayang jadi bisa kamu gunakan selama kamu merasa nyaman. Tidak perlu membayar biaya-nya tapi kamu harus kerja dengan saya."
Kerja dengan Fahmi? Mira jadi berpikir yang tidak-tidak. Mengingat Fahmi sudah mengetahui kalau dirinya hamil tanpa bersuami. Mira berpikir kalau Fahmi menganggapnya wanita murahan lalu diminta bekerja dengannya untuk kebutuhan biologis.
Sebenarnya Mira itu perempuan cerdas, tapi sejak kejadian itu akalnya sekaan buntu. Pikirannya hanya spya pandnagn buruk orang tentang dirinya. Itu yang selalu Mira sesali.
"Kak Mira baik-baik saja?" Adelia mendneksti Mira yang tampak bimbang. Perempuan itu menggelangkan kepala.
"Dok kalau maksud dokter saya harus kerja dengan dokter adalah ...."
Fahmi sekarang kebimbangan yang tengah dirasakan Mira, "Pikiran kamu terlalu, Dek Mir. Bukan itu maksud saya, kerja dengan saya ya salah satunya untuk menjaga Syafa, itu pun kalau Dek Mira mau. Soalnya saya lihat Syafa itu cocok dengan dek Mira."
Adelia berdehem dan memotong ucapan mas-nya, " jadi mas?" tanya gadis itu dengan senyum jenaka.
"Apa Adel? kebiasaan. Gitu Dek Mira paham maksud saya?"
Mira mengangguk tidak berani menatap wajah rupanya sang dokter. Dia malu karena sudah berpikir yang tidak-tidak dan kebaca oleh Fahmi.
"Jarak dari sini ke rumah juga kan gak terlalu jauh. Dek Mira bisa pulang pergi."
"Dok tapi kan saya harus mencari ...."
__ADS_1
"Iya saya paham, Dek Mira bisa menggunakan waktu libur untuk mencarinya. Gunakan waktu dan kesempatan yang ada."
Hari itu juga Mira langsung pindah ke rumah itu. Ya di sinilah dia, hanya ada dia dan anak yang berada dalam kandungannya. Fahmi dan rombongan sudah pulang sekitar tiga puluh menit yang lalu.
Di rumah ini masih tersedia barang-barang kebutuhan seperti tempat tidur, alat-alat makan dan juga alat-alat memasak.
Air mata kesedihan dan penyesalan selalu muncul saat ia tengah sendiri. Teringat akan sang adik, apakah dia masih di rumah? Apakah dia baik-baik saja? Apakah kepergian dirinya membuat sang adik membenci kedua orang tuanya. Selalu ada pertanyaan yang tak mampu Mira jawab.
Mira kembali membuka blokir pada nomor sang adik. Tak lama serentetan pesan masuk dari sang adik bernada kekhawatiran.
Kak, Kamu di mana?
Kak, katakan kamu di mana aku menjemputmu.
Kak balas pesanku!
Aku gak tahu lagi harus kemana mencarimu. Aku ada di sini sekarang, kalau kak Mira ada di sekitar sini temui aku sekarang. (Foto sebuah masjid yang sempat dikunjungi Mira sebelum bertemu Fahmi.)
Kak kamu bilang akan memperbaiki keadaan keluarga kita, tapi dengan kamu pergi aku tidak bisa mewujukannya.
...
...
... (Pesan serupa)
Kak aku akan kembali ke pondok. Percuma aku pulang kalau kamu tidak di rumah. Kalau sempat beri aku kabar bagaimana keadaan kakak. Aku cemas memikirkan keberadaan kamu. Tapi aku juga memberi ruang untuk kamu menenangkan diri. Kamu tetap kakakku walau bagaimana pun keadaan kamu. Sekalipun kamu dalam keadaan hamil aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku tetap adikmu. Harsunya kamu tidak pergi begitu saja. Kamu masih punya aku, Kak Mira. Aku gak peduli orang akan mencemoohku, menghinaku, asalkan kita menghadapi ujian ini bersama. Orang-orang termasuk mama dan papa tidak berhak menghakimimu seperti itu. Merka tidak tahu bagiamana perjuangan kamu bertahan dalam keluarga yang tidak sehat. Hanya kita yang mengalami yang akan memahami.
Jangan berpikir akan menggugurkannya, dia akan menjadi penuntun kita dalam kegelapan menuju terang. Jangan takut akan membesarkannya sendirian karena aku tidak akan pernah meninggalkan selain untuk belajar. Beratahanlah sedikit lagi, Kak. Aku mohon jangan pernah menyerah.
Di mana pun kamu berada aku akan selalu meminta pada Allah agar Ia menjagakanmu untukku. Semoga kak Mira bertemu dengan orang-orang bisa menerima keadaan kakak tanpa menyakiti dan menghakimi. Aku berangkat ya. Kalau rindu temui aku di pondok.
Adikmu yang selalu menyangimu.
__ADS_1
Sebuah foto ransel di peron stasiun pin terlampir. Mira menangis membaca pesan dari Ardit-adiknya. Sakit tiada terkira. Dia tidak pernah memikirkan akan seperti ini pada akhirnya. Dia menyakiti dan merepotkan banyak orang.