Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Tangis dan Tawa


__ADS_3

Hari terus berganti hingga kini usia kandung Mira sudah memasuki bulan ke lima. Mulai merasakan adanya pergerakan di dalam perut. Desas-desus tetangga mulai terdengar. Bahkan menyindir Mira secara terang-terang saat belanja di abang sayur keliling.


Suaminya kemana? Kok tinggal sendiri? Berkerudung kok hamil? Padahal tinggal sendiri ya tapi kok perutnya melendung. Selain kalimat seperti itu ada juga yang terang-ternyata mengatakan dirinya palcur syar'i.


"Sabar ya mbak Mira, mulut mereka memang gak ada remnya," kata si abang sayur.


Ada yang lebih parah dari itu Mira sering mendapatkan surat berupa ajakan untuk bermalam. "Kalau kesepeian saya siap kok menemani, dua atau tiga putra juga sanggup. Dijamin ketagihan." Itu adalah isi surat yang tengah mira pegang saat ini. Ada surat-sura lain yang hampir mira terima setiap hari. Isinya sama berupa ajakan untuk bersenang-senang.


Mira meremas kertas itu, ia menatap sekeliling. Pandangannya bertemu dengan sekumpulan ibu-ibu yang tengah membeli sayur juga tengah menanatapnya sinis. Padahal Mira tidak pernah mengusik hidup mereka tapi sangsi sosial dari perbuatan Mira di masa lalu sungguh menguji kesehatan mentalnya.


"Sok polos banget ya tu wajah, padahal lagi cari mangsa," kata seorang ibu yang tubuhnya sedikit gempal dengan lemak bergelambir di mana-mana.


"Iya tuh, pergi pagi pulang malam eh melendung juga tuh perut. Berapa orang ayng dilayani sehari?"


"Sudah-sudah, sekarang sepertinya gerobak sayur saya ini berling pungsi bu-ibu. Bukan lagi tempat jualan sayur tapi tempat gibah." Kata si abah tukang sayur.


Mereka berhenti menyindir Mira saat melihat mobil dokter Fahmi mendekat. Tapi sifat nyinyir tetaplah ada, mereka saling berbisik.


Dokter Fahmi turun saat mobil sudah berhenti di depan rumah Mira. Senyum dokter tampan itu menyapa ibu-ibu yang tengah membicarakan dirinya. "Sudah siap, Dek?" Hari ini jadwal periksa kandungan Mira. Biasanya mereka tidak hanya pergi berdua selalu ada Adel yang menemani. Akan tetapi kali ini Adel tidak bisa ikut berhubung jadwalnya masuk sekolah.


"Dok, kok mau sih?" tanya seorang ibu yang paling jilid diantara mereka.


Dokter Fahmi hanya membalas dengan senyuman. Tidak berniat menjawab pertanyaan tidak bermutu ibu tadi. "Mang duluan," katanya pada si abang tukang sayur.


Di dalam mobil mira memejamkan mata. Pipinya yang memerah menandakan kalau perempuan itu tengah menahan segala yang menyesakan dalam dada. Mobil perlahan melaju.


"Jangan dengarkan omongan mereka yang tidak sesuai dengan hati kita, Dek." Fahmi bicara tanpa menoleh. Pandangannya lurus pada jalanan di depan.

__ADS_1


"Capek, Dok," kata Mira lemah. Air mata berduyun-duyun turun di pipi. "Sesakit ini ya untuk memperbaiki diri."


"Nangis saja, Dek. Setelah itu lupakan, bangkit lagi. Kita tidak bisa mengontrol lidah mereka tapi saya yakin kamu bisa mengontrol perasaan kamu. Yang di dalam perut itu adalah kekuatanmu. Kamu adalah ibu yang hebat."


Kalimat panjang Fahmi tidak mampu membuat Mira meredakan tangis. Pundaknya tetap berguncang. Ingin rasanya Fahmi memeluk tubuh itu, mendekapnya dan meyakinkan bahwa ia tidak seorang diri. Ada dirinya yang akan selalu menemani. Tapi sepertinya Mira tidak ada tanda-tanda akan menerima orang baru. Hatinya masih sama tertutup dan hanya terbuka untuk lelaki yang telah menang benihnya tanpa ikatan.


"Jangan merasa sendirian ya, anggap kaluarga saya adalah keluarga kamu juga. Jangan merasa sungkan. Kami bukan Jangan anggap kasih sayang kami sebagai bentuk rasa mengasihani. Kami menyayangimu tulus. Kamu adalah adik saya, kakang Adelia, saudaranya Syafa."


"Terima kasih, Dok."


Ya Fahmi memperlakukan Mira seperti saudara sendiri. Selama Mira hamil dia tidak pernah absen untuk tidak mengantar Mira memeriksakan kandungan. Dia sudah seperti suami siaga, sayangnya tidak bisa menyentuh.


Sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju dokter kandungan Mira. Berhubung ada akses dari Fahmi jadilah Mira tidak ikut mengantri seperti ibu hamil lainnya. Tentu saja karena sudah membaut janji sebelumnya.


"Gimana rasanya, Dok menyambut kelahiran anak ke dua?" tanya rekan seprofesi Fahmi. Lelaki yang ditanya itu hanya tertawa, tidak tersinggung sama sekali.


"Dinikahi dong, Dok biar halal di sentuh-sentuh," balas dokter kandungan setelah meminta mira berbaring untuk melakukan USG.


Saat dokter pererempuan itu meminta Mira menaikan pakaiannya saat itu Fahmi memilih menunduk dan memainkan gawai. Ia hanya mendengarkan penjelasan dokter tentang perkembangan kehamilan Mira.


Mira menatap haru layar yang menampilkan keadaan bayi di dalam rahimnya. Bayi yang hadir karena kelemahan Mira saat itu.


Maafkan ibu, Nak.


"Perkambangannya bagus, bertanya juga sesuai dengan usianya. Ya masa sih gak sehat kan suaminya dokter."


Sudah biasa Mira mendengarkan candaan dua dokter ini saat ia periksa. Sudah tidak merasa aneh lagi, justru dengan adanya candaan dari mereka sedikit mengurangi mood yang tadi sempat kacau.

__ADS_1


Dokter juga mengingatkan agar Mira tetap makan makanan yang bergizi dan istirahat cukup tapi bukan berarti malas-malasan.


"Lalu tugas saya apa dok," tanya Fahmi iseng.


"Bapak tetap puasa sampai saksi mengatakan sah. Ingat ya Pak dipinang dulu baru dipanjat. Sudah biasakan puasa?"


"Ya dokter tahu sendiri lah," kata Fahmi kemudian pamit bersama Mira.


Mira di jemput oleh sopir dari rumah, sedangkan Fahmi mulai malaksanakan pekerjaannya. Candaan tadi di ruang dokter masih ternginag di benak Mira. Sesekali dia tersenyum mengingat setiap kalimat itu. Tadi pagi dia menangis, barusan dia tertawa di ruangan dokter. Begitulah hidup selalu ada dua sisi yang berbeda arah tapi tidak bisa dipisahkan. Langit dan bumi. Siang dan malam. Kesedihan dan kebahagiaan dan masih banyak lagi. Sepatu tidak kiri semua tapi ada kanannya. Manusia tidak benar-benar buruk tapi dalam keburukan itu terselip kebahagiaan.


Dari banyak kejadian yang Mira lalui ia bisa mengambil hikmah di dalamnya. Sehingga dia jarang lagi mengeluh seperti dulu. Saat ia mengeluh Fahmi selalu hadir di dekatnya. Mengatakan bahwa masalalu adalah bagian dari dirinya. Tidak bisa dilepas apa lagi di hapus tapi masa lalu mengajarkan pada diri kita agar tidak masukkan hal yang sama dan tidak menyesal untuk kali kedua.


"Sudah sampai, Mbak Mira." Sopir membertihau Mira yang tengah melamun.


"Astagfirullah, karena bapak membawa mobiknya dengan baik saya sampai tidak sadar kalau kita sudah sampai. Terima kasih Pak," kata Mira saat sopir membuat pintu untuknya.


Mira bekerja dengan Fahmi tapi pekerja lain di sana memeperlakukan Mira seperti memperlakukan anggota kaluarga yang lain.


"Kakak!" Syafa berlari ke arahnya. Rambutnya sudah rapih dikuncir dua dan tubuhnya sudah wangi. "Kangen," katanya sambil bergekayut manja memeluk tubuh Mira.


"Kakak juga kangen, kenapa tidak sekolah?"


"Emm aku maunya diantar kesekolahnya sama kakak."


"Ayah tahu Syafa tidak sekolah?" Anak kecil itu menggelengkan kepala. "Lain kali gak boleh gitu ya, kasihan ayah sudah bekerja agar Syafa bisa sekolah. Nanti ayah sedih kalau tahu Syafa bolos."


"Iya deh nanti aku minta maaf sama ayah. Ih perutnya besaar." Syafa menyentuh perut Mira dan mengusap-usap tangannya di sana. "Ade bayi ini adik aku?"

__ADS_1


Seketika Mira dan pengasuh Syafa saling pandang.


__ADS_2