
Fahmi yang kembali untuk mengantarkan bahan makanan yang pasti akan dibutuhkan oleh Mira harus emlihat perempuan itu menangis di sebuah sudut ruangan.
Tubuhnya berguncang sambil membenamkan wajah diantara lutut yang ditekuk. Dia menghampiri dan duduk di sebelah Mira mengusap pucuk kepala yang sudah menggunakan kerudung. Tadi pagi perempuan itu mengatakan pasa Adelia ingin mencoba memperbaiki diri dengan menutu aurat. Adelia pun dengan senang hati memberikan kerudung serta gamis yang masih layak pakai. Fahmi sendiri menawarkan untuk membeli pakaian baru tapi Mira menolak.
"Dek Mira? Hey apa yang membuat Dek Mira menangis?"
Menyadari ada Fahmi Mira segera menghapus sisa air matanya. Dia menarik bibirnya agar membentuk senyum kemudian menggelengkan kepala seperti mengatakan dirinya baik-baik saja.
"Terus kenapa harus sampai menangis. Kalau Dek Mira merasa sendirian di sini, ikut saya pulang ke rumah. Saya tidak keberatan Dek Mira tinggal bersama kami."
"Saya ... saya hanya sedang rindu pada adik saya, Dok. Tapi untungnya dia sudah kembali ke pondok."
Fahmi mengangguk, sungguh ia tidak bisa membayangkan betapa mendneritanya anak-anak yang mengalami hal serupa seperti Mira. Tidak sedikit dari mereka yang tidak kuat dengan beban mental yang ditanggung memilih jalan pintas. Salah satunya loncat dari ketinggian.
Dalam kesebariannya Mira memang terlihat tenang tapi ternyata isi kepalanya seberisik itu.
"Dokter kok kebalik lagi?" tanya Mira saa sudah benar-benar dalam keadaan tenang.
"Barusan saya nganter kebutuhan bahan makanan untuk kamu." Menoleh pada beberapa kantong kereta di dekat pintu.
"Ya ampun saya merepotkan sekali," kata Mira dan segera bangkit untuk membereskan bahan makanan yanh dibawa Fahmi.
Meskipun sudah terlihat tenang, Fahmi tidak langsung meninggalkan Mira. Sekali lagi tindakan ini bukan karena memiliki niat buruk atau kepentingan pribadi tapi murni karena rasa iba.
"Dek, apa mau saya bantu mencari lelaki itu?"
Mira yang tengah fokus pada kegiatannya menoleh. Dengan senyum dia menolak, "tidak perlu, Dok. Saya akan mencarinya dalam waktu tertentu."
__ADS_1
"Kalau misal tidak berhasil menemukannya?" tanya Fahmi hati-hati.
"Saya akan berhenti, tidak akan mencarinya lagi. Biarkan dia hidup seperti apa yang dia mau. Suatu saat, mungkin atau tidak dia akan mencari anak ini saat dia membutuhkannya."
"Kamu perempuan hebat," puji Fahmi untuk memberi semangat pada Mira. Setidaknya itu yang bisa dia lakukan, menjaga mental Mira dengan kalimat-kalimat yang menenangkan, serta menghdirkan semangat dalam diri Mira.
Fahmi pamit pulang saat merasa sudah cukup untuk menemani Mira. Saat akan pergi, Fahmi kembali memastikan bahwa Mira baik-baik saja.
"Terima kasih sudah membantu saya, Dok," kata Mira saat mengatar Fahmi sampai ke pintu.
"Siapa pun orangnya pasti melakukan gak yang sama saat melihat adeknya atau saudara perempuan dalam diri Dek Mira. Saya pamit ya." Lelaki itu bejlaan menuju mobil tapi kembali berbalik badan setelah membuka pintu. "Jangan sungkan bilang kalau kamu sedang membutuhkan sesuatu."
Mira memulai kesendirian tidak lagi dengan meratap dan menyesali. Dia mulai berbenah dari hal-hal kecil. Bangun pagi lebih awal, menyiapkan sarapan meski hanya nasi hangat dan telur ceplok. Hari-hari tertentu dia akan mengunjungi kembali tempat-tempat di mana dia bertemu Dion. Meskipun sampai satu bulan ini dia belum menemukannya.
Hari ini Mira datang ke rumah Fahmi. Orang yang ia tuju adalah Syafa. Jadinya Syafa di asuh oleh dua orang. Si mbak pengaruh tidak keberatan karena dengan adanya Mira tugasnya menjadi ringan. Sikap Syafa yang lebih nempel kepada Mira tidak menjadikan perempuan itu merasa iri, toh gajinya tetap sama. Tidak berkurang sama sekali.
"Dor," Adelia mengejutkan Fahmi. "Cie lagi senyum-senyum merhatiin calon istri. Udah cocok tuh sama Syafa," goda sang adik dengan senyum jenaka-nya.
"Kebiasaan kamu itu main cocokologi. Gak cocok kamu jadi seorang psikolog nanti."
"Lah orang aku hanya menggoda, Mas. Lagian Mas emang gak butuh perempuan lagi dalam hidup, Mas. Serbuk sari numpuk gak tuh?" Adelia membekapnmulutnya karena keceplosan lagi.
"Adel?" Fahmi menatap sang adik tajam, tidak suka dengan kalimat Adel yang terlalu prontal. Bukan sekali dua kali adiknya berkata seperti itu, Fahmi khawatir adiknya mengatakan seperti itu pada orang lain. Tentunya orang lain bisa berpikir yang tidak-tidak tentang sang adik.
"Mas ...." Adel merasa bersalah pada kalimat terakhirnya.
"Ini bukan pertama kali kamu bilang seperti itu. Mas takut itu jadi kebiasaan kamu. Berhenti mengatakan serbak-serbuk seperti tadi. Jangan dibiaskaan berkata seperti itu meskipun hanya sebuah guyonan."
__ADS_1
"Iya maaf, tadinya hanya bercanda." Adel tidak berani membalas tatapan tajam sang kakak.
"Mas memaafkan, tapi lain kali cari kalimat yang pas ya." Fahmi kembali ke wajah ramahnya. Adel langsung berhambur memeluk kakaknya. Marahnya Fahmi memang menyeramkan tapi tidak lama.
"Mas?"
"Ya?"
"Aku penasaran kenapa mas gak cari perempuan lain untuk menambah warna dalam hidup Mas dan Syafa. Aku tuh kasihan lihat Mas, bekerja mengurus Syafa mengatur keuangan rumah tangga itu pasti berat banget. Mas emang gak butuh teman untuk melepas hormon stres? Apa Mas gak bisa move on dari mbak Silvi? Mbak Silvi sendiri bisa loh, bahkan satu tahun setelah perceraikan kalian terjadi."
"Bukan susah move on, Dek tapi gimana ya menjelaskannya. Laki-laki itu susah mencari perempuan yang bisa menerima status dirinya. Apalagi Mas duda beranak."
"Itu mah bukan susah, Mas-nya aja yang gak membuka hati. Padahal banyak kok yang mau sama laki-laki seperti mas. (Author ini contohnya). Toh mas membawa seorang anak juga gak akan merepotkan. Syafa sudah bisa diajak kompromi kok dia anak yang baik. Perempuan yang mendapatkan mas itu beruntung kok menurutku. Tampan, mapan, baik juga plus ada anaknya," kekeh Mira diakhir kalimat. "Atau mas lagi nunggu Kak Mira?"
"Loh kok Mira?"
"Soalnya aku lihat mas perhatian gitu sama dia. Terus mas juga sering merhatiin dia diam-diam kan, sambil senyum-senyum seperti tadi. Ayo ngaku," todong Adel.
"Salah, Mas bukan hanya memperhatikan dek Mira tapi juga memperhatikan Syafa. Dek Mira juga banyak perubahan sekarang. Lebih banyak senyum dan banyak bicara ya meskipun hanya dengan Syafa. Gimana kemajuan Mira saat belajar mengaji?"
"Tuh kan Mas perhatian sama Kak Mira. Udah lah mas ngaku aja."
Sejak kenal dengan Adelia dan keluarga, memang banyak yang Mira lakukan untuk dirinya. Salah satunya tidak pernah absen untuk belajar mengaji. Saat jadwal mengaji bersama seorang ustadzah yang didatangkan oleh Fahmi untuk adiknya, Mira selalu hadir lebih awal. Dia banyak bertanya hukum-hukum islam yang manjadi pedoman. Dia selalu mendapatkan kedamaian setelah mengikuti kajian.
Orang yang sedang dibicarakan oleh Fahmi dan Adelia menoleh ke arah mereka karena Syafa memanggil sang ayah.
Tatapan mereka bertemu tapi kali ini Mira yang lebih dulu menundukan pandangan. Dia sudah meneguhkan hatinya untuk tidak mudah jatuh cinta lagi. Selain karena niat memperbaiki diri, nama Dion masih menempati ruang besar dalam hatinya. Masih ada sedikit harapan Dion akan kembali. Sekacil apa pun harapan itu tetaplah tetap diharapkan meskipun kemungkinannya sangat kecil.
__ADS_1