
"Tidak perlu aku jelaskan," jawab Nafa memalingkan wajah. Kesalahan yang dimaksud Nafa yaitu tentang perasaannya yang tidak dibakas oleh Fahmi. Padahal jelas lelaki itu sudah mengucapkan maaf.
Fahmi tersenyum, lalu mengedikkan bahu. "Maka pada bagian mana aku akan menyadari kesalahanku?"
"Dia memang selalu seperti itu," celetuk Dion. "Tidak pernah merasa bersalah dan selalu merasa paling benar."
Fahmi tersenyum emndnegar ucapan sang adik. Ia segera beranjak dari duduknya kemudian pamit. Menyadarkan orang yang enggan menerima kebenaran itu tidak mudah. Perlu waktu dan kesabaran untuk menyentuh hatinya. Bahkan tak sedikit dari mereka malah menganggap kebaikan yang dilakukan padanya dianggap sebagai ajang pamer.
Padahal dalam hati kecilnya Dion juga mengakui telah melakukan kesalahan tapi kadang hati dan bibir tidak sejalan. Di mana bibir lebih banyak berdusta untuk menutupi sebuah kesalahan.
Dion menghela nafas melihat mobil sang kakak yang mulai melaju dan keluar dari gerbang rumahnya.
***
Merasa pekerjaannya mengganggu penghuni kontrakan yang lain, Mira kembali pindah rumah. Sekarang ia tinggal di sebuah rumah yang di kontrakan. Lumayan lebih besar dari kamar kontrakannya di tempat Gina.
Gina juga tidak mempermaslahakan kepindahan Mira. Toh kenyamanan seseorang tidak bisa dioaksskan oleh orang lain.
Sekarang dia bebas untuk bekerja selama tenanganya masih ada. Dia mengambil waktu istirahat saat waktu shalat dan mengakhiri pekerjaan sekitar pukul sembilan malam. Dari hasil kerja kerasnya dia bisa memenuhi kebutuhan dapur tanpa harus mengambil uang yang dia punya sebelumnya. Uang yang dia ambil dari ATM saat pertama kali kelaur dari rumah orang tuanya masih utuh. Pun uang gaji selama kerja dengan Fahmi hanya terpakai sekian ratus ribu rupiah saja.
Sudah hampir satu bulan dia tinggal di sana. Tidak lagi datang ke rumah Fahmi selain mereka yang datang mengunjunginya sekedar untuk melepas rindu. Syafa dan Adelia bersorak senang saat Fahmi bilang hari ini akan mengunjungi Mira.
"Ayah kita beli jajan dulu yang banyak untuk Kak Mira ya," kata Syafa saat sudah memasuki mobil sang ayah.
"Boleh," balas Fahmi sambil menyalakan mesin mobil.
"Yo berangkat," kata Adelia yang menyusul masuk.
Mobil mulai melaju menuju tempat tinggal Mira yang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Sepanjang jalan Syafa terus mengulang mengatakan bahwa dirinya tidak sabar bertemu Kak Mira-nya. Binar bahagia menghiasi wajahnya yang menggemaskan.
"Ayah, bayi kak Mira sudah keluar ya?" Entah pertanyaan keberapa yang dilontarkan Syafa sepanjang perjalanan mereka.
"Belum, masih lama."
__ADS_1
"Waaahh aku tidak sabar untuk mengajaknya bermain. Dia pasti menggemaskan seperti aku. Iya kan ayah?"
"Iya."
"Ayah tidak bisa mengemudikan mobilnya lebih kencang lagi? Mobilnya berjalan seperti siput," celotehnya lagi.
Memang jalan yang dilalui untuk sampai ke rumah Mira selalu ramai saat akhir pekan. Berhubung tempat tinggal Mira berada di daerah jalur parawisata. Tentu ia harus sabar karena memilih pergi di hari yang sama dengan orang-orang yang hendak pergi untuk melepas penat.
"Sabar, Dek."
Semakin dekat menuju rumah Mira, mereka mampir lebih dulu ke sebuah supermarket untuk membeli apa yang akan mereka bawa. Fahmi hanya tersenyum melihat tingkah dua gadisnya yang sibuk mengambil ini dan itu. Sedangkan dia sendiri mengambil yang sekiranya dibutuhkan oleh Mira seperti bahan makanan.
Di balik hebohnya Syafa dan Adelia, Mira tengah menatap lemari penyimpanan makanan yang menyisakan dua telur saja. "Ampun, aku lupa belanja." Mira menepuk jidat. Terpaksa untuk makan siang ia akan makan dengan telur lagi. Rencannya ia akan belanja nanti sore, agar bisa ditemani Ema dan Gina.
Saat akan memasak ke dua telur tersebut, terdengar pintu rumahnya diketuk. Mira letakan kembali telur tersebut dan gegas membuka pintu.
Seorang pria yang tidak Mira kenal tengah berdiri di depan pintu rumahnya. "Siapa?" tanya Mira.
"Iya saya sendiri, ada yang bisa saya bantu 'A?"
"Saya ditugaskan untuk mengantar ini, Bu. Silahkan!" Pria itu menyodorkan kantong berisi bahan makanan. Dilihat dari kemasan rupanya bahan makanan itu dibeli dari supermarket terkenal. Tunggu, tapi siapa pengirimnya?
"Dari siapa ya?" tanya Mira lagi.
"Saya kurang tahu, Bu, karena saya hanya ditugaskan untuk mengirimkannya sesuai alamat." Setelah barang yang dikirimnya diterima, pria itu pamit.
Mira menatap belanjaan tersebut. Beberapa hari yang lalu ia juga menerima kiriman makanan kesuakaannya dan tidak tahu siapa yang mengirimnya.
Untungnya saat ada yang mengirim makanan kesukannya, Ema dan Gina juga tengah berada di rumah Mira. Mereka saling tatap dan saling bertanya.
Ema yang khawatir makanan itu mengandung zat yang berbahaya, ia mencobanya lebih dulu. Tidak peduli akan aoa yang terjadi oada dirinya andai makanan itu berbahaya. Mereka sempat panik khawatir terjadi sesuatu, tapi sampai lima belas menit berlalu tidak terjadi apa-apa dengan Ema.
"Em, Pusing?" tanya Gina
__ADS_1
"Enggak."
"Mual?" tanya Mira.
"Aman kok udah ayo sikat." Ema malah semangat untuk menghabiskannya. Apalagi menurut dia rasanya cukup enak.
"Bodo amat lah siapa yang ngirim, yang penting perut kita kenyang," seru Gina. Malam itu makanan yang dikirim oleh orang yang tidak mereka ketahui pun dihabiskan bersama.
Sekarang Mira mendapatkan kiriman lagi. Saat dia tengah sibuk memikirkan siapa yang mengirim, keributan di depan pintu rumah membuat perhatiannya teralihkan. Dia kembali membuka pintu dan sekarang ia mendapat kejutan lagi.
"Kak Mira," seru Adelia dan Syafa. Di belakang mereka ada pria tampan dan kalem tengah tersenyum ke arahnya.
"Ya Allah, kalian." Mira tidak kalah bahagia. Dia juga merasakan rindu pada mereka. Ia pun mengajak tamunya untuk masuk setelah saling berpelukan untuk saling melepas rindu. Kecuali pada Fahmi, Mira hanya menyapa, "Dok?"
"Gimana kabarnya, Dek? Betah di sini?" tanya Fahmi memperhatikan tempat tinggal Mira yang baru. Rumah kecil dengan fasilitas dua kamar tidur, ruang tengah, dapur dan kamar mandi. Sebagian ruang tengah digunakan Mira sebagai tempat kerja menjahit.
"Alhamdulillah kabar baik, Dok. Kalau masalah betah gak betah ya begitulah," kekeh Mira. Mereka masih berdiri di depan pintu padahal Adelia dan Syafa sudah lebih dulu masuk dan memeriksa rumah Mira.
"Eh ayah jajanannya belum diturunkan," kata Syafa yang tadi sudah masuk kembali lagi ke pintu.
"Oh iya, bantu turunin dulu yuk," ajak Fahmi.
"Eh apa ini?" tanya Mira melihat banyaknya belanja yang dibawa oleh mereka. Padahal dengan kedatangan mereka saja Mira sudah sangat senang sekali.
"Oleh-oleh buat Kak Mira dan adik bayi," jawab Syafa antusias.
"Oalah padahal gak perlu repot-repot lo," balas Mira.
"Gak repot kok, Kak. Kan sudah menjadi kebiasaan kalau berkunjung harus membawa buah tangan. Kak Mira habis belanja?" tanya Adelia yang melihat kantong belanjaan di sudut ruangan.
"Enggak, itu tadi ada yang ngirim, tapi gak tau siapa pengirimnya. Beberapa hari yang lalu juga ada yang mengirimkan makanan kesukasanku tapi yang antar gak pernah kasih tahu siapa yang ngirim," jelas Mira.
"Hati-hati loh, Dek. Kita gak tahu tujuan mereka apa tapi semoga tidak memiliki tujuan yang buruk," kata Fahmi mengingatkan. Jelas dia khawatir dengan keamanan Mira. Efek kejadian satu bukan yang lalu bisa saja Dion atau Nafa merencankan kejahatan. Biasanya skan terjadi dendam saat mereka tidak terima kejahatannya terbuka. Tapi sekali lagi dia tidak bisa memaksa agar Mira kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1