Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Gadis tapi Bukan Perawan


__ADS_3

Setelah memastikan Syafa masuk ke dalam kelas, Mira meminta sopir mengantarkannya ke rumah sakit. Semalam Mira merasakan perutnya sakit tapi ia enggan memberitahu Fahmi. Sudah terlalu sering ia merepotkan Fahmi.


Sampai di rumah sakit dia langsung melakukan pendaftaran. Berhubung tidak bersama Fahmi jadi dia harus menunggu giliran. Kalau dengan Fahmi biasanya sudah membuat janji.


"Silahkan menunggu di sana ibu," ujar suster menunjuk kursi tunggu di depan ruangan dokter kandungan.


Mira memperhatikan beberapa ibu hamil yang ditamni oleh suaminya. Para suami itu begitu perhatian terhadap istrinya. Sabar menemani. Melakukan apa pun yang bisa membuat istrinya merasa nyaman. Bahkan tidak sungkan kalau harus memijat kaki sang istri.


Mira tersenyum membayangkan jika Dion yang melakukan itu. Mungkin dia akan menjadi salah satu orang yang paling bahagia. Akan tetapi mimpi hanyalah mimpi apalagi Dion statusnya suami orang.


Buang jauh-jauh pikiran seperti itu, Mira. Itu mustahil.


Lamunan Mira buyar saat sepasang suami istri duduk di bangku sebelahnya. Mira menoleh, ternyata yang bedeham dan duduk di sebelahnya adalah orang yang tengah ia pikirkan. Akan tetapi ia harus mengalir senyum saat melihat Nafa di sebelah Dion.


Semalam Nafa mengeluh mual dan pusing bahkan sampai pagi. Akunya Dion memutuskan membawa istrinya ke dokter kandungan. Siapa tahu istrinya hamil lagi. Tak menyangka dia akan bertemu Mira di sini.


"Sendiri?" tanya Dion tapi tatapannya seperti mengejek.


Mira menghitung ibu-ibu yang tengah mengantri, "Sepuluh orang," jawab Mira.


"Mas aku mau ke toilet," kata Nafa sambil meringis.


"Mau kuantar," Dion bangkit dan menunjukan perhatian. Seolah mengatakan bahwa kehadiran Mira tak mengganggu keharmonisannya dengan Nafa.


"Gak usah, kan tolietnya di situ." Nafa belum melihat adanya Mira karena tubuh Mira terhalang tubuh Dion yang tinggi tegap.


"Ok." Dion kembali duduk lalu menoleh pada Mira. "Kamu berharap diperlukan seperti itu? Silahkan kalau iya tapi hanya di mimpi."


"Sudah kukatakan aku tidak mengharapkanmu," balas Mira datar. Padahal dia berbohong, tentu saja dia mengharapkan Dion bertanggung jawab meski bukan dengan cara menikahinya.


"Terus untuk apa kamu masih bertahan di keluargaku?"


"Bukan urusanmu."


"Ingat Mira, jangan macam-macam atau aku akan bertindak gila."

__ADS_1


Mira menatap sinis, "ancamanmu sudah tidak mempan. Aku bisa saja mengatakan sekarang pada mereka. Tetapi aku tidak mungkin maju ke medan perang tanpa persenjaatan yang lengkap. Faham kan maksudku."


Ya Mira akan memberi tahu keluarga Fahmi jika buktinya sudah kuat. Kalau dia mengatakan tanpa bukti, bisa saja mereka mengira Mira hanya memanfaatkan kehamilan.


Alasan bertahan di rumah Fahmi, selain karena berlindung dari macam Dion sampai dia melahirkan. Dia juga harus mengumpulkan bukti untuk meyakinkan bahwa Dionlah pelakunya. Tidak rela jika hanya dirinya yang harus menanggung akibat perbuatan mereka.


Menjalani kehamilan dengan tekanan dari perbuatnnya itu berat.


Mira tidak bodoh, setiap Dion menemuinya, saat itu pula dia merekamnya. Tinggal menunggu waktu yang pas.


Dion meninggalkan Mira saat suster sudah emmanguil namanya.


"Kok datang sendiri? Dikter Fahmi kemana?" tanya dokter Nisya langganan Mira.


"Iya, dokter Fahmi katanya ada jadwal operasi hari ini."


"Emh begitu? ada keluhan apa, kan seharusnya jadwal periksa masih dua minggu lagi."


"Semalam perut saya sakit banget, Dok. Kayak kram gitu. Takutnya terjadi apa-apa sama bayinya."


Setelah selesai dokter pun menjelaskan apa yang terjadi. "Apa beberapa hari ini sering menangis atau merasa tertekan?" tanya dokter Nisya.


Mira mengangguk mengiyakan.


"Usahakan untuk melakukan aktifitas yang menyenangkan ya, Bu. Lupakan dulu masalah-masalah yang ada karena akan mempengaruhi kesehatan bayi. Apalagi sudah memasuki minggu ke-24. Bayi akan merasakan apa yang dirasakan oleh ibunya."


Banyak hal yang harus diperhatikan oleh ibu hami. Selain asupan gizi dsn istirahat yang cukup, kondisi mental pun sangat mempengaruhi. Akibat ibu hamil yang mengalami stres dan tertekan salah satunya bisa mempengaruhi psisik dan tingkat pertumbuhan bayi. Bukan tidak mungkin bayi akan lahir lebih cepat dari waktu yang seharusnya atau disebut bayi prematur. (Artikel lengkapnya bisa dibaca di Artikel halodoc.)


"Paham ya ibu?"


"Iya, Dok, terima kasih."


"Sama-sama semoga sehat selalu. Jangan lupa vitaminnya diminum ya."


Mira keluar setelah memastikan kondisinya baik-baik saja. Sekarang PR-nya cukup sulit. Dia harus menghindari Dion agar mentaknya tetap terjaga. Ancaman-ancaman Dion cukup mempengaruhi.

__ADS_1


"Kamu bisa, Mira. Kamu harus sehat," ucapnya pelan memberikan semangat pada diri. Tidak lupa dia pun memblokir kontak Dion agar dia dan bayinya sehat sampai melahirkan.


Fahmi yang baru keluar dari ruang praktek melihat Mira dan menghampirinya. "Dek?"


"Eh, Dok?"


"Kok kesini gak bilang-bilang. Habis dari dokter kandungan? Apa yang dirasakan? kata dokter apa?"


"Hanya sedikit merasa nyeri aja, Dok. Kata dokter Alhamdulillah bayinya baik-baik saja." Mira mengulas senyum. "Mobilnya sudah datang, Dok. Saya permisi dulu."


"Ok, hati-hati. Kalau merasa kurang enak badan istirahat saja. Syafa kan masih ada mbak Santi ya."


Jawaban dari Mira tidak membuat Fahmi puas, sehingga pria itu menghampiri dokter kandungan Mira. Menunggu sampai pasien terkahir keluar. Barulah dia bisa masuk.


"Untuk saat ini kondisi bayi masih baik-baik saja, Dok. Tapi kita tidak tahu sampai kapan kalau bu Mira masih seperti itu."


"Iya saya juga sangat khawatir pada kondisinya. Terima kasih sudah memberitahu saya.


Saat perjalanan pulang ke rumah, Fahmi menyempatkan membeli beberapa makanan kesukaan Mira juga cemilan ibu hamil yang disarankan. Siapa tahu hal yang ia lakukan bisa mengurangi sedikit beban yang dirasakan oleh Mira. Tak lupa membelikan jajan untuk anak dan adiknya.


"Woaaahhhh ayah belanja," seru Syafa saat melihat ayahnya pulang membawa jinjingan yang banyak. "Ayah beli jajan banyak banget." Anak itu membuka kantong belanjaan yang diberikan sang ayah.


"Beli jajannya kok banyak banget, Mas?"


"Ini untuk ibu hamil." Fahmi menyerahkan kantong khusus untuk Mira lada Adelia.


"Ooohh bilang, dong. Ya sudah aku kasih ini dulu." Adelia membawa kantong itu menemui Mira yang tengah berbincang dengan para pekerja yang pernah mengalami hamil. "Kak Mira, ini ada titipan."


"Dari siapa?" Mira menerima kantong itu dari tangan Adelia.


"Dari calon suami."


"Cieee," serempak beberapa pekerja yang tadi verincang dengan Mira.


"Manis banget kan Mas-ku. Sudah kubilang dari awal dia itu suamiable banget. Gak rugi kak Mira dapat duda kayak dia."

__ADS_1


Memang benar dia tidak rugi kalau dapat Fahmi, tapi Fahmi yang rugi dapat dia. Gadis bukan tapi bukan perawan.


__ADS_2