
Sore hari, Mira diajak jalan-jalan oleh Adelia. Gadis itu penasaran dengan tempat-tempat wisata di sekitar tempat tinggal Mira. Mereka mengunjungi peternakan sapi pernah di daerah lembang. Adelia dan Fahmi meminum susu yang baru diperah dari sapinya langsung tapi Mira dilarang minum oleh Fahmi. Pulangnya mereka mengunjungi tempat wisata yang lain. Mereka menebus rindu dengan menghabiskan sisa waktu bersama-sama sebelum nanti berpisah kembali.
Sesekali Fahmi mencuri pandang pada perempuan hamil itu. Dia mengulun senyum tapi langsung bersiakpa biasa saat Adelia atau pun Mira menoleh.
Haru sudah semakin sore, mereka pun memutuskan pulang.
"Ayah aku mau minum," kata Syafa di tengah perjalanan. Fahmi meminta sang adik untuk mengambil air mineral yang sering ia siapkan di dalam mobil. Tetapi ternyata persediaannya habis.
"Gak ada, Mas," kata Adelia.
"Ya udah tunggu ada minimarket ya. Ayah lupa mememriksa tadi."
"Yah ayah aku maunya minum sekarang."
Mobil Fahmi berhenti di depan sebuah minimarket. Saat Fahmi akan turun, Mira turun lebih dulu. Perempuan itu memang ada juga yang ingin ia beli selain membelikan air minum untuk Syafa.
Saat sudah membayar dan Mira keluar dari super market, beberapa pria seusia Dion menghampirinya, "Mira 'kan?" tanya salah satu dari mereka.
"Ya?" Mira menjawab mengerutkan kening.
"Cantik," ucap salah satu dari mereka lagi sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh pipi Mira tapi ditepis langsung oleh Mira.
"Tolong sopan. Saya tidak mengenal kalian."
"Wih, sok jual mahal ya sekarang. Anak siapa itu?" tunjuk pria yang lain pada perut Mira. Mereka bertingkah seolah mengenal Mira dengan baik.
"Bukan urusan kalian, Permisi." Mira berjalan beberapa langkah dari meraka tapi tiba-tiba tangannya ditarik oleh salah seorang dari mereka.
"Wey, santai Mir kok buru-buru. Ada pelanggan yang nunggu ya?" Mereka tertawa mengejek.
__ADS_1
Mira berbalik dan menatap mereka satu persatu. Dia memang tidak mengenal orang-orang itu tapi kenapa mereka sampai melecehkan Mira. "Katakan siapa kalian, apa ada yang menyuruh? Karena saya yakin tidak mengenal kalian."
"Wooooww ternyata Mira si lugu, sudah berubah. Pasti di ranjang makin asyik. Lugu-lagu menggemaskan." Salah satu dari mereka mengedipkan mata pada Mira.
"Maaf, tapi kalian tidak menarik untuk ditarik ke ranjangku," balas Mira dengan senyum mengejek.
Sengaja Mira memainkan perasaan mereka. Kalau sampai mereka tersulut emosinya dan bermain tangan, akan mudah bagi Mira berlindung di bawah hukum. Tetapi jika Mira yang memulai bisa jadi Mira yang mendekam di balik jeruji besi. Dia tidak menginginkan itu. Mereka yang melecehkan, sudah seharusnya mereka yang bertanggung jawab.
"Kau menghinaku?" Pria yang tubuhnya paling tinggi dan termasuk paling tampan tidak terima dengan ucapan Mira.
"Tidak tapi itu kenyataannya. Mau kuambilkan kaca agar kalian bisa melihat seperti apa diri kalian ...."
Salah satu dari mereka hendak melayangkan tangan ke pipi Mira. Beruntung Fahmi yang sejak tadi memperhatikan dari mobik segera turun dan meneriaki mereka.
Melihat pria yang turun dari mobil, ke empat pria yang tadi mengganggu Mira pun bergegas pergi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Fahmi menghampiri dan menghawatirkan Mira.
"Kak Mira hebat loh barusan," kata Adelia saat Mira sudah duduk dan terlihat nyaman.
"Mencoba melindungi diri sendiri aja, Dek. Sebab kan belum tentu setiap hari akan ada yang menjaga. Barusan berani juga karena ada kalian, gak mungkin kan kalian akan membiarkan aku dibawa sama mereka."
Adelia pun tertawa mendengar jawaban Mira. Tentu kalimat terkahir yang diucapkan oleh Mira adalah kebenaran.
Mereka pun mengantar Mira pulang lebih dulu, baru pulang ke rumah Fahmi.
Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang, Mira segera membuka kunci dan segera masuk. Langsung membersihkan diri dan bersiap untuk melaksanakan kewajiban.
Rentetan pesan bernada khawatir dari Kedua temannya, dibaca Mira setelah kewajibannya tunai. Siapa lagi yang mengkhawatirkan Mira selain kedua temannya dan keluarga Fahmi kecuali Dion. Memang tadi sebelum berangkat, Mira lupa mengabari Ema dan Gina. Beruntung mereka bukan tipe teman yang akan mempermasalahkan masalah kecil.
__ADS_1
"Aku di rumah, baru pulang dari luar. Maaf tadi pergi enggak ngasih kabar lebih dulu." Mira membalas pesan dari kedua temannya.
Mira pikir Ema atau Gina akan mengomeli dirinya melalui chat grup. Ternyata mereka langsung menghubungi Mira lewat sambungan video dan mengomelinya.
"Kalau mau pergi bilang-bilang dong, kita bolak-balik tadi cuma mau memastikan kamu baik-baik saja." Panjang lebar Mira mendengar kalimat yang diucapkan oleh kedua temannya. Sungguh, perhatian dari mereka sekarang sudah terasa cukup.
"Aku minta maaf ya," kata Mira menutup panggilan.
Dia menatap kalender di ponselnya, beberapa hari lagi dia harus memeriksakan kandungan. "Kita akan bertemu dokter baik sebentar lagi, Nak. Semoga saat kamu lahir kamu selalu mendapat limpahan kasih sayang dari orang-orang sekitar kamu. Kehadiranmu memang tidak diinginkan, tapi kehilanganmu ibu juga gak siap. Lagi apa di dalam?" tanya Mira pada perut yang tengah dielus. Dibacanya beberapa doa yang mengiringin harapan untuk sang anak di masa depan.
Teringat kejadian tadi, Mira memejamkan mata. Sulit sekali menghilangkan pandangan buruk pada dirinya. Orang-orang tadi bahkan berani bersikap seperti itu padahal di tempat umum. Bagaimana jika bertemu di tempat yang tidak terlalu ramai, bisa jadi dia dilecehkan beneran.
Hidup seorang diri, dia dituntut untuk siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi. Rebahan sambil menunggu waktu Isya, Mira menatap langit-langit kamar, menerawang merangkai harapan bersama sang anak.
Anaknya tumbuh jadi anak yang manis dan sehat. Setiap pagi memintanya untuk membuatkan bekal untuk sekolah. Meminta pada dirinya untuk megantarkannya ke sekolah. Melihat teman-temannya diantar giliran oleh kedua orang tuanya, lalu si anak bertanya, "Bu, kenapa aku tidak pernah diantar olah ayah seperti teman-tamanku. Apa aku tidak punya ayah? Apa aku anak haram?"
Seketika air mata merembes di sudut mata Mira. Ah kenapa dulu dia tidak berpikir jauh untuk ke depan. Kenapa dulu dia hanya berpikir agar ada orang yang menyayanginya sehingga ia bertindak bodoh.
Lagi-lagi rasa sesal menghampiri dirinya.
Berdamailah, Mir. Maafkan dirimu sendiri, kamu berhak bahagia dan tidak terus terbelenggu karena masalalu.
Ponsel Mira berbunyi, sebuah pesan masuk ke gawainya. Dengan perasaan yang masih campur aduk, Mira membuka pesan tersebut. Tampak nomor baru lagi. Mira menggulir layar untuk membuka pesan tersebut. Seketika ponsel dilempar begitu saja.
"Astagfirullah," desis Mira. Dia memejamkan mata mengucap kalimat istighfar sebanyak yang ia bisa.
Pesan itu berisi sebuah video dua orang dewasa yang tengah melakukan hubungan suami istri. Entah apa tujuan orang tersebut mengirim pesan demikian. Tentunya itu berkaitan dengan masalalu Mira.
Baru satu bulan merasakan ketenangan, sekarang Mira harus siap menghadapi hal-hal seperti tadi dan sekarang.
__ADS_1
Suara pintu diketuk membuat Mira terperanjat. Siapa? yang datang? Mira mengintip dari tirai kamar, terlihat seorang pria memakai hoodie hitam tengah menghadap ke arahnya. Wajahnya tidak terlihat jelas karena tertutup tudung hoodie tapi bibir orang itu terlihat jelas tengah menyeringai.