
Fahmi tengah berbicara dengan seseorang di telepon saat pekerja memberi tahu kedatangan Dion dan istrinya. Ia mengangguk pada pelayan. "Siap saya tunggu," kata Fahmi pada orang yang tengah berbicara dengannya. Panggilan berakhir tapi tak lama ponselnya berdering kembali.
Fahmi segera mengangkat panggilan itu dan mengucap salam. Entah apa yang tengah diucapkan orang yang tengah munghubungi Fahmi itu. Sehingga Fahmi mengangguk dan tersenyum seolah mereka tengah berhadapan.
"Terima kasih sudah percaya pada saya. Insya Allah saya tidak akan mengecewakan." Kalimat penutup yang diucapkanFahmi sebelum mengakhiri panggilan.
Dia menuju kamar Mira dan mengetuk pintu. Terdengear sahutan dari dalam. Saat pintu kamar dibuka, Fahmi disuguhkan pemandangan yang sangat cantik. Dia tidak berkedip agar bisa menikmati keindahan itu.
Mira berdehem karena malu diperhatikan oleh Fahmi tanpa berkedip. Ya Mira memoles sedikit wajahnya sehingga tampak berbeda. Gamis yang dibelikan Adelia tempo hari dia gunakan malam ini.
"Cantik." Fahmi memuji seperti bergumam. "Mereka sudah datang."
Mira tidak sabar melihat ekspresi wajah Dion. Ini akan menjadi sebuah hiburan untuknya. Dion tidak paham seharusnya saat ia diam maka pria itu pun diam.
Benar penampilan Mira malam ini sungguh menjadi perhatian penghuni rumah. Dengan perut yang menonjol di balik pakaian lebar itu justru terlihat seksi. Nafa dan Dion juga tak kalah terkejut. Hanya saja penyebab terkejutnya mereka berbeda.
Jika Dion menatap takjub pada perempuan itu, lain halnya dengan Nafa. Dia tidak menyangka bahwa perempuan hamil yang dia katai waktu di bandara ada di rumah ini.
"Maaf aku harus membuat kalian menunggu, mari kita langsung ke meja makan saja." Fahmi menarik kursi di dekatnya untuk Mira duduk. "Silahkan," kata Fahmi dengan nada yang lembut.
"Satu minggu yang lalu kita sudah makan bersama dan sekarang Mas mengundang kami untuk makan malam lagi. Jadi apa yang harus kita saksiakan?" kata Dion sambil melirik Mira dengan tatapan mengancam.
Yang di tatap hanya menanggapi dengan santai. Bahkan Mira membalasnya dengan senyum yang manis. Tapi tidak untuk Dion, senyum itu menyebalkan. Seperti tengah mengejek dirinya.
"Sebenarnya aku malas datang lagi ke rumah ini." Nafa ikut bicara. Alasan perempuan itu bicara demikian hanya Fahmi yang sudah mengetahuinya.
"Nikmati saja kehadiranmu hari ini. Bisa jadi ini terkahir kalinya kamu datang ke rumahku."
__ADS_1
Dion langsung melirik kakaknya kemudian melirik Mira. Apa maksud Fahmi? Apa dia sudah tahu masalah antara Dion dan Mira? Atau bersangkutan dengan masalahnya dengan Nafa. Rumit.
"Maaf, harusnya malam ini malam yang menyangkan," kekeh Fahmi sambil memembenarkan posisi duduk. "Aku meminta kalian datang karena tempo lalu kalian memintaku mengenalkan calon istri. Tepatnya kamu yang minta Dion." Menolah pada Dion.
"Ya aku yang meminta. Karena aku tahu kamu, Mas, sering ngeles kalau ditanya soal pasangan."
"Tapi malam ini tidak. Aku akan menikahi Almira Muntamah, perempuan yang duduk di sebelahku." Fahmi menatap perempuan itu sebentar dengan tatapan memuja. Hanya saja dia cepat menyadari bahwa tatapan itu salah.
Persis dugaan Mira, Dion akan terkejut dan Mira menyukai wajah lawannya menatap tak percaya seperti itu. Tapi tunggu, dari mana Fahmi bisa mengatahui nama lengkap Mira. Selama ini Mira tidak pernah menyebutkan nama lengkapnya.
"Menikahi perempuan ini?" tanya Dion tak percaya, "perempuan hamil ini?"
Nafa menatap dengan tatapan mengejek, "Seleramu dari dulu memang buruk, Fah."
"Ya, Aku akan menikahi perempuan ini," ulang Fahmi.
"Mas, kamu ... kamu gak jijik hidup dengan perempuan yang bahkan pernah aku ...."
Mira sangat berharap Dion keceplosan jadi dia tidak perlu repot-repot menjelaskan. Tapi Dion keburu menyadari ucapannya. Bukan hanya Almira yang berharap Dion keceplosan, Adelia juga. Sedangkan Fahmi hanya menatap biasa saja.
"Maksudku pernah disentuh orang lain."
"Tidak masalah bagiku, karena selama dia bersama keluarga kita dia sudah banyak menunjukan perubahan."
"Kamu tidak takut dia mengincar hartamu?" tanya Nafa. Soal harta memang jadi paling sensitif bagi sebagian orang. Apalagi Nafa yang tidak mengetahui asal usul Mira. Dia juga setuju dengan perkataan sang suami. "Dion bilang dia hamil dan bukan kami yang menyentuh. Bisa saja dia berniat merampas hartamu."
"Aku lebih mengenal dia, Mira sudah tinggal di rumah ini selama beberapa bulan. Dia tidak menerima uang pemberianku secara cuma-cuma selain gaji seperti pekerja yang lain. Jadi aku tidak khawatir soal harta."
__ADS_1
Dion menatap Mira, lalu menatap Fahmi. "Bukan tanpa alasan kamu ingin menikahinya kan?"
"Apa alasan itu penting untukmu?" Suasana mendadak tegang saat Fahmi bertanya dengan nada yang dingin.
"Lupakan ayo lanjutkan makan malamnya," kata Dion.
Mira pamit lebih duli setelah makanannya habis. Dia mengeluh masih ada bagian yang terasa linu. "Perlu aku antarkan?" tanya Fahmi lembut.
"Eits, belum halal. Biar aku saja," kata Adelia yang lebih dulu beranjak dari duduknya.
Di lorong menuju kamar Mira, Adelia mengehentikan langkahnya. "Kak, aduh perutku sakit. Sepertinya aku kebanyakan makam pedas hari ini. Maaf aku anter sampai sini ya." Bukan itu alasan utamanya Adel penasaran apakah Dion akan menyusul Mira atau tidak. Dia berlari ke arah kamar mandi.
Baru Mira kembali beberapa langkah, Dion datang dam langsung mencekal tangannya. "Lepas." Mira mengehentak tangannya. "Jangan cari masalah Dion," kata Mira pelan sambil menggerakan ekor matanya. "Adikmu menjatuhkan alat penyadap pada pas bunga di belakang kamu."
Dion melepaskan tangan Mira. Membiarkan perempuan hamil itu pergi ke dalam kamar. Dion menghampiri pas bunga yang disebut Mira tadi. Benar dia menemukan alat penyadap di sana.
Adelia keluar dari kamar mandi dan memergoki Dion. Dia menghela nafas karena usahanya untuk menemukan fakta tentang Dion tidak semudah yang dia bayangkan.
"Bang Ion," suara itu membuat Dion terlonjak. "Kok ke sini. Ini kan menuju kamar Kak Mira." Adelia tidak bisa lagi menutupi rasa penasarannya. "Jangan bilang kalau kalian terikat masalah kehamilan itu."
Dion memutar otaknya agar menemukan jawaban logis yang tidak bisa disangkal lagi oleh adiknya. Dion buntu.
"Benar dugaanku?" tanya Adelia lagi. "Aku melihat mas Dion aneh sejak bertemu kak Mira. Tadi mas Dion hampir keceplosan kan?"
"Adelia kami ini bicara apa sih. Hanya karena aku berada di sini kamu langsung mengaitkannya dengan Mira. Bertemu saja baru dua kali."
Adelia bersedekap dan menatap sinis pada abangnya. "Aku bisa membaca gerak-gerik kamu. Mas Fahmi belum mengetahui soal ini. Hati-hati kamu." Adelia meninggalkan Dion yang tidak menyangka Adelia yang terlibat polos bisa mencurigai dirinya.
__ADS_1