Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Fahmi jatuh sakit


__ADS_3

"Pagi!" Fahmi menyapa istrinya yang tengah menyiapkan sarapan di dapur. "Semalam tidurnya nyenyak?" lanjut Fahmi sambil mengusap rambut sang istri yang diikat biasa.


"Nyenyak dong kan dipeluk kamu," balas Mira sambil berbisik. Malu kalau terdengar oleh pelayan.


"Kalau gitu sekarang kita kelonan lagi biar tambah nyenyak," kata Fahmi bergurau.


"Enak saja. Anak-anak gimana kalau aku tidur lagi. Bisa digedor pintu kamar seharian ini." Mereka sama-sama tertawa. Fahmi menemani istrinya sampai masakan di kasih bumbu. Masalah penyanjian di serahkan pada pekerja.


Fahmi meminta sang istri menemani olah raga. Urusan perusahaan serta cerita itu mereka hadapi dengan santai dan tegap menikmati hidup. Toh ujian akan selalu ada. Selesai satu ujian maka akan ada ujian lain. Jadi untuk apa terlalu dipikirkan dan tidak menikmati hidup.


Usaibolah raga mereka mandi bersama, kemudian Mira mengecek keadaan anak-anak. Syafa dan Gama sudah rapih dan sedang mnunggu adiknya yang tengah di mandikan. Bahkan mereka sampai ikut ke kamar mandi walaupun mereka sudah rapi.


"Loh kok pada di kamar mandi?" kata Mira saat melihat anak-anaknya.


"Ibu ... aku sedang melihat adik bayi dimandikan. Nanti aku juga akan memandikannya. Boleh kan ibu?" ujar Syafa. "Iya kan, Gama, kita akan belajar?"


"Iya ibu. hihi adik bayinya lucu tidak menangis," kata Gama.


"Iya boleh tapi sekarang keluar dulu dari kamar mandi. Kan kakak-kakak sudah cantik dan rapi. Tunggu adek di kasur aja ya."


"Baik ibu. Ayo Gama kita akan meyiakan pakai adek." Syafa menarik tangan adik sepupunya untuk menyiapkan pakaian Syifa di bantu oleh Mira.


"Ibu adik dipakaikan ini pasti jadi cantik." Syafa mengangkat atasan dan bawahan Syifa yang bertabrakan warna.


"Iya cantik, tapi lebih cantik kalau yang ini sama yang ini." Mira mengambil salah satu pakaian ditanya Syafa.


Fahmi muncul di pintu, mamanggil istrinya untuk menemani sarapan.


"Astaga aku lupa," Mira menepuk keningnya dan mengajak anak-anak untu segera sarapan.


"Ayah kenapa kita enggak liburan," tanya Syafa di meja makan.


"Ayah kan masih harus bekerja. Nanti kalau sudah waktunya ayah libur kita akan liburan."


"Bareng adek dan ibu juga."


"Iya kita akan sama-sama."

__ADS_1


***


Gina menemui kakaknya yang seorang anggota kepolisian. "Bang, menurut abang Dion bisa dibebaskan sebelum masa hukumannya habis?"


"Bisa pengajuan bebas bersyarat tapi dorang itu minimal sudah menjalani 2/3 masa hukumannya ya minimal 9 bulan sih. Siapa sih? Pacar kamu? Jarang-jarang loh kamu bahas soal lelaki."


"Enggak dia bukan pacarku. Lagian dianjuga udah punya istri."


Gava yang tengah sarapan urung meneyuapkan makanan ke mulutnya. "Punya istri? Kamu berhubungan dengan lelaki yang sudah beristri. Oh, Gin, please jangan membuat kamu mendapat gelar pelakor."


"Enggak gitu, Bang. Aku kan hanya tanya lagian asli aku sama dia enggak ada hubungan spesial. Kira-kira juga aku kalau harus berhubungan dengan suami orang," sanggah Gina. "Abang kan dinas dikepolisian, bisa doang abang membebaskan dia."


"Itu bukan bagianku, Gin," jawab Gava sambil beranjak karena sarapannya sudah selesai. Berbeda dengan Gina yang makanan di piringnya masih utuh.


Ema menghubunginya.


"Gin, om Ardan sudah menemui pengacaranya tapi kata dia Dion tidak bisa bebas begitu aja."


"Iya tau, abangku juga bilang begitu. Terus gimana dong, kita sogok Dion aja kali ya."


"Sodok pake bambu gitu."


***


Selesai pekerjaan di rumah sakit Fahmi pergi ke kantornya. Dia harus membagi wktu dengan baik untuk mengurus permaslaahn yang dia hadapi. Lelah memang tapi Mira selalu berusaha menyenangkan dirinya.


Fahmi juga menemui beberapa klien yang memutar kerja sama secara tiba-tiba.


"Saya pastikan jika itu hanya fitnah dan tidak ada sangkut paketannya dengan perusahaan. Saya memang menikahi perempuan yang sudah memiliki anak sebelumnya dan saya rasa itu tidak masalah. Pernikahan kami resmi walaupun tidak dilakukan dengan mewah. Akan tetapi bukan berarti pernikahan saya dengan istri seperti tuduhan dari berita. Ini masalah pribadi dan tidak berkaitan dengan perusahaan. Saya harap anda bijak dengan tidak membatalkan kerja sama karena masalah pribadi."


"Maaf pak Fahmi, tapi kami tidak ingin ada kerugian yang kami alami," kata rekan bisnisnya.


"Apa selama anda menjalin kerja sama dengan kami anda merasa rugi. Anda tetap mendapat bagian anda bukan. Saya rasa memutuskan kerja sama hanya karena masalah pribadi itu bukan sikap profesional. Benar? Coba kita balikan situasinya, anda di posisi saya dan saya di posisi anda. Apa itu adil dari kesepakatan kerja sama?"


"Saya akan memikirkannya lagi," kata rekan kerja sama Fahmi yang kemudian pamit.


Fahmi meraup wajah. Sudah beberapa hari dia harus bekerja seperti ini. Tenaga dan pikirannya benar-benar ia curahakan untuk pekerjaan. Di dalam perusahaan yang dia pegang ada hak Adelia dan Dion yang harus dia jaga. Kalau jatuh secara tiba-tiba itu tidak adil bagi kedua adiknya.

__ADS_1


Rencananya setelah Dion bebas dari masa tahanan, Fahmi akan memberikan hak Dion diperushaan keluarganya.


Istriku: Mas, masih di mana?


Fahmi: Baru selesai menemui klien sebentar lagi mas akan pulang.


Mira: Oke aku tunggu di rumah ya, love you.


Fahmi tiba di rumah begitu larut. Ia bahkan enggan makan malam karena rasa lelah. Mira dengan sabar meminta suaminya makan lebih dulu sebelum tidur.


Hampir satu bulan Fahmi mengalami hal seperti ini bahkan ia sampai jatuh sakit.


Mira menyentuk kening suaminya yang sejak semalam demam. Pagi ini suaminya bahkan enggan untuk bangun. Usaoan lembut tangan Mira hanya membuat Fahmi bergumam tanpa membuka mata.


"Shalat subuh dulu, yuk. Udah lewat sepuluh menit ini dari adzan subuh."


Dengan wajah malas Fahmi bangun untuk menjadi imam sang istri. Bahkan tai shalat Fahmi hanya merebahkan kepala dalam pangkuan sang istri.


Satu tetes air mata menyentuh pipi Fahmi. "Kamu nangis, Dek?"


"Aku minta maaf, Mas. Katakan aku harus berbuat apa untuk membuat keadaan ini menjadi baik."


Fahmi mengusap air mata yang jatuh di pipi istrinya. "Tetap di sampingku dan menjadi kekuatanku. Bersabarlah! Sebentar lagi kita akan menemukan kebahagiaan kita."


Anak-anak sudah kembali ke sekolah dan Syafa selalu diusili oleh anak-anak nakal. Dia mencoba melawan tapi akibat dari perlawanannya pihak sekolah sampai meminta orang tua kedua wali datang ke sekolah.


"Aku gak mau sekolah lagi," teriak Syafa ketika mereka sudah sampai di rumah.


"Kak, ayah lagi sakit, ibu boleh minta tolong?" tanya Mira dengan suara yang lembut. Dia berusha mengembalikan emosinya agar tidak terprovokasi.


"Ibu minta tolong apa?"


"Tapi kakak jangan marah-marah, soalny ibu bingung harus meminta tolong dengan cara apa kalau kakak marah marah."


"Maafkan aku ibu," Syafa memeluk Mira sambil terisak.


"Ibu selalu memaafkan kakak, sekarang tolong jaga adek sebentar ya. Ibu harus memberi ayah obat agar cepat sembuh."

__ADS_1


Padahal Mira sendiri pusing dengan masalah yang tidak kunjung selesai.


__ADS_2