Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Rasa penasaran Adelia


__ADS_3

Adelia menemani Mira agar perempuan itu tidak merasa seorang diri. Ngalor ngidul mereka berbincang sampai akhirnya Mira merasa ngantuk setelah minum obat.


"Kak, aku boleh pinjam penselnya gak?"


" Di atas nakas," jawab Mira pelan. Matanya hampir menutup sempurna.


"Password?"


"Satu sampai delapan."


Adelia memasukan angka satu sampai angka delapan, "gak kebuka, Kak." Adelia mengulangnya lagi, "sama."


"Satu sampai delapan tanpa spasi," gumam Mira.


Adelia menepuk jidat setelah memasukan kata satu sampai delapan tanpa menggunakan spasi. "Bisa, bikin password kayak gini."


Yang pertama dibuka adalah galeri foto, tidak ada yang mencurigakan hanya ada foto-foto Mira bersama Syafa, dirinya dan Mbak Santi. Dari galeri foto beralih ke kotak pesan. Adelia menggulir pesan tersebut sampai menemukan sebuah pesan yang dikunci. Tidak salah lagi itu pasti nomor orang yang sudah menghamili Mira. Adelia tidak bisa mengetahui isi pesan tersebut setelah memasukan password dan gagal. Sekarang beralih ke kontak panggilan, mencari nomor itu. Dapat. Adelia langsung menyimpan nomor itu di ponselnya. Bosan memainkan ponsel dia pun merebahkan diri di sofa.


Fahmi mengunjungi kamar rawat Mira bersama dokter yang menanganinya. Mira sendiri sudahbbangun dan hendak menyadarkan tubuhnya. Fahmi yang melihat itu segera membantunya.


"Selamat siang, Bu Mira," sapa dokter yang datang bersama Fahmi. "Kita cek up dulu ya."


Mira mengikuti apa kata dokter dan Fahmi selalu ada di sampingnya. Kala pandangan bertemu mereka saling melemparkan senyum.


"Sudah mulai membaik, tapi tetap harus dalam pantauan dokter ya Bu. Santai saja selama dokter Fahmi ada di samping ibu," kata dokter setelah menjelaskan perkmbangan Mira.


"Iya, Dok."


Dokter tadi sudah meninggalkan ruang rawat Mira. Menyisakan Fahmi, Mira dan juga Adelia yang masih tidur.


"Adelia gak sekolah?"


"Katanya izin. Saya kira dokter tahu jadi ya sudah saya biarkan."


"Dia gak bilang apa-apa sama saya. Nyaman gak posisinya?"

__ADS_1


"Nyaman kok. Dok ... gaji saya gak habis buat bayar ruang rasa ini kan?" lagi Mira mengungkit pertanyaan itu.


"Enggak, ini bonusnya saja. Lagi pula sudah kewajiban calon suami."


Adelia yang sayup-sayup mendengar obrolan mereka langsung bangun dan ikut menyahut, "Hah calon suami? Tuh kan apa aku bilang, Mas itu mau kan sama Kak Mira."


Fahmi dan Mira menatap Adelia yang sudah membuka mata. Keduanya saling lirik.


Adelia bangun dan menghampiri, "Ck, aku sudah dengar. Santai aja kali. Lagian mas pake acara pura-pura gak mau segala."


"Dek, ngelantur kamu ini," sanggah Fahmi.


"Lah wong aku dengar kok obrolan kalian. Tapi Kak Mira mau gitu sama om-om? Cie salting." Adelia semakin gencar menggoda mereka berdua. "Jadi kapan, Mas?"


"Nanti kalau sudah lahiran," jawab Fahmi santai.


"Lama, sekarang aja. Ya tapi nanti Kak Mira jadi istri yang haram untuk kamu sentuh, Mas."


"Iya makanya nanti aja kalau sudah lahiran. Mas gak akan kuat nahan godaannya," kekeh Fahmi. "Kamu gak sekolah?"


"Adel," rengek Mira yang malu karena di goda terus.


***


Pulang kerja Dion menyempatkan diri untuk mampir ke rumah Fahmi. Dia penasaran dengan maksud Mira di pesan tadi.


Adelia yang memang sudah pulang dari rumah sakit menatap kedatangan Dion dari balik tirai. Dia menekan nomor yang tadi dia curi dari ponsel Mira.Menghubungi nomor itu menggunakan nomor baru. Tersambung tapi tidak diangkat. Dion hanya meghnetikan langkah tanpa mengeluarkan ponsel cadangannya. Dia sudah menebak bahwa dia sedang di jebak oleh Mira.


Sekali lagi Adelia melakukan panggilan tapi Dion benar-benar hati-hati.


Dia keluar dari tirai dan menghampiri abangnya itu. "Tumben mampir? Mas Dion masih di rumah sakit," kata Adelia.


"Oh bang Ion kira dia sudah pulang. Kok sepi? Syafa ke mana?" Sebenernya Dion ingin menanyakan Mira tapi tidak mungkin secara gamblang. Bisa ketahuan rahasia besar diantara mereka.


"Lagi ke taman sama Mbak Santi. Abang mau aku ambilkan minum?"

__ADS_1


"Boleh," jawab Dion sambil merogoh ponselnya.


Kesempatan itu digunakan Adelia untuk melakukan panggilan lagi. Tersambung tapi tidak terdengar dering dari ponsel Dion. Tentu saja Dion akan hati-hati setelah taxi pagi Mira mengiriminya pesan.


Dion melirik ke setiap sudut, memastikan tidak ada yang mengawasinya. Dia hendak menjawab nomor asing itu tapi khawatir ini jebakan. Dia mengabaikannya.


"Minumnya, Bang." Adelia meletakan gelas beserta cemilannya. "Bang Ion ada perlu sama Mas Fahmi?"


"Iya. Ada yang mau mas tanyakan soal usahanya Mas Fahmi."


"Oooohhh. Dia gak tau akan pulang apa enggak soalnya lagi jagain calon istrinya." Adelia memancing Dion dengan kalimat itu.


"Perempuan yang mas lihat jendela itu?"


"Iyalah siapa lagi, mereka cocok banget sih menurutku. Lihat nih." Adelia menunjukan foto waktu Mira dan Fahmi sama-sama berjongkok di depan Syafa untuk membujuknya. "Cocok kan mereka?" Perhatian Adelia tidak lepas wajah Dion. Mungkin cara ini tidak akan berhasil menjawab pertanyaannya. Akan tetapi tanpa dia sadari perkatannya mampu mengusik ketenangan Dion.


"Memang mereka akan menikahi?" tanya Dion penasaran.


"Iyalah orang Mas Fahmi sendiri yang bilang." Kemudian Adelia memutar rekaman obrolan tadi di rumah sakit. Iya saat mendengar Fahmi tengah mengobrol dengan Mira, Adlia langsung merekam obrolan mereka.


"Kok ada kalimat haram disentuh? Memang calon istrinya sedang hamil? Kok mau sih sama perempuan hamil yang bukan anaknya."


"Mas Fahmi itu hatinya kembut kenyal-kenyal. Dia tidak tega melihat Kak Mira berjuang sendirian karena dihamili oleh pacarnya yang bajingan dan tidak mau bertanggung jawab."


Glek Dion hampir saja keceplosan menyangkal ucapan Adelia. Untung ia masih waspada.


"Bang Ion tahu gak siapa nama orang yang menghamilinya?" Dion menggelengkan kepala. Sungguh dia adalah pendusta yang ulung. "Namanya Dion."


Dion tersentak, benarkah Mira sudah memberi tahu semua keluarganya. "Kamu gak nuduh abang kan?" Dion berusaha mengatur ekspresi juga nada bicaranya.


Adelia tertawa, "Bang Ion panik? Ya gak mungkin aku nuduh abang. Aku hanya pernah mendengar aja Kak Mira bicara sama teman sekolahnya pas waktu bertemu di Mall kemarin. Lagian aku yakin kalau Bang Ion gak mungkin sebajingan itu."


Dion melirik jam tangannya kemudian bangkit. "Abang pulang deh. Kayaknya kamu benar Mas Fahmi gak akan pulang. Sampaikan salam Abang ke dia." Dion melempar senyum meski hatinya mulai ketar-ketir.


Adelia semakin yakin bahwa abangnya lah yang dimaksud oleh Mira. Dia yakin tebakannya pada ekspresi Dion tidak meleset. Dia ingin mengatakan ini pada Fahmi tapi dia tidak punya bukti yang cukup.

__ADS_1


__ADS_2