
Silvi masih bersikap tenang. Seolah apa yang Ardan tunjukan tidak menganggu dirinya sama sekali. "Kalian menjebaku ternyata." Silvi menyunggingkan senyum.
"Aku suka perempuan pemberani sepertimu. Sayangnya kamu salah menemoatkan sikap beranimu itu. Ini peringatan pertama dan terkahir. Seandainya kamu tidak berubah maka jangan salahkan siapa pun ketika kamu kehilangan apa yang kamu miliki saat ini."
Ardan mencicipi hidangan yang sudah tersaji lalu mengusap bibirnya dengan tisu. "Makan malam yang enak, tapi maaf aku harus segera pergi. Terima kasih untuk waktu anda," kata Ardan.
Silvi mengepalkan tangan menatap pria yang masih sah menjadi suaminya.
"Jadi begini cara mainmu?" tanya Silvi menatap sinis.
"Aku hanya mempertahankan rumah tangga kita. Sil, kenapa harus mengejar Fahmi yang jelas-jelas dia tidak lagi melihat ke arah kamu. Kalau soal kekayaan ya aku akui memang masih di bawah dia tapi setidaknya kamu pun tidak berada dalam kekurangan saat hidup denganku."
***
Gina dan Ema saling lirik saat Gina meminta dibubgkuskan makanan yang sama dengan yang dia makan.
"Buat siapa, Gin?"
"Em anu ... buat bang Gava tadi dia nitip soalnya."
Duh itu mulut kenapa tiba-tiba mesesan makanan untuk dibungkus. Niatnya itu makanan akan ia kirim ke tempat Dion. Sekarang Gina jadi bingung gimana harus mengantarkannya.
"Aku tau kalau gugup berarti kamu lagi bohong. Jadi itu untuk siapa?"
Gina hanya menaikan kedua bahu dan melanjutkan makan. sedangakn Ema yang tidak puas dengan jawaban terus menatapnya penuh curiga.
"Makan ah! ngapain liatin aku kek gitu banget."
Gina terus memutar otak mencari cara untuk mengirimkan makanan itu tanpa dicurigai oleh Ema. Mau di kirim ke tempat Gava pasti abangnya malah curiga soalnya itu bukan makanan kesukaan dia.
"Gin, kamu tuh lagi nyembunyiin apa dari aku. Gak biasanya loh. Kamu udah punya pacar dan makanan itu untuk dia, iya?"
"Enggaklah. Jangan ngeliatin aku kayak gitu."
Makanan itu dititipkan pada ojek online untuk dikirim ke tempat Dion.
"Sekarang kamu gitu ya. Kayak gak percaya sama lagi sama teman sendiri. Atau kamu pacaran dengan suami orang," tuduh Ema.
"Gak kurang jauh mikirnya, Em. Gak sekalian kau nuduh aku jadi simpanan gadun, Em." Perempuan itu langsung meninggalkan Ema.
Hanya gara-gara perhatian Gina pada Dion yang tidak seharusnya, kini menjadi penyebab mereka renggang.
Sedangkan di tempat lain, Dion baru saja menerima makanan yang di kirim ke oleh Gina. Dia memaklumi alasan perempuan itu tidak datang lagi. Setidaknya Dion bisa menjaga hatinya dan tidak berharap lebih.
"Enak banget ya kau, Dion. Hampir setiap hari ada saja yang ngirim makanan."
__ADS_1
"Kalau kita-kita sih mana ada yang peduli."
Tidak banyak yang dilakukan untuk menanggapi ucapan mereka. Diam dan tersenyum sepertinya akan lebih baik.
Namun hati tidak bisa dipungkiri bahwa ia mengharapkan kedatangan gadis itu.
***
Rasa lega dirasakan oleh sepasang suami istri saat hasil lab mengatakan bahwa Mira sehat. Tidak terinidikasj ada penyakit yang berbahaya. Jadi Mira sakit murni karena beban.
Mereka kembali berpegangan tangan, berjalan beriringan satu langkah dan satu irama. Saling memaafkan agar pondasi rumah tangga mereka tetap kokoh.
Fahmi juga tidak lagi berani mengulangi kesalahan yang sama. Cukup sekali ia menyakiti istrinya secara tidak sengaja. Ia kejadian kemarin tidak sengaja karena niatnya tidak ingin membebanii sang istri dan malah sebaliknya.
Tidak terasa pernikahan mereka sudah berjalan hampir satu tahun. Pun dengan pengajuan pembebabasan bersyarat untuk Dion telah diajukan.
Hari ini Mira beserta suami dan anak-anak akan menjemput kepulangan Dion.
Sebelum berangkat Mira kembali menarik nafas panjang meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. Anggaplah Dion telah berubah. Kalau pun perubahan itu hanya pura-pura semoga ia dan suami bisa berlapang dada menerimanya.
Kehidupan bukan hanya tentang menjaga perasaan Mira tapi juga perasaan seorang anak yang merindukan kedua orang tuanya. Seorang anak yang dipisahkan dengan orang tua karena keadaan. Gama. Ya anak laki-laki itu terlihat ceria saat Fahmi memberi tahu bahwa mereka akan menjemput ayahnya.
Binar bahagia terlihat di wajah Dion. Akhirnya dia bisa kembali menghirup udara bebas tanpa terhalang tembok dingin dan kokohnya jeruji besi.
Momen haru itu disaksikan oleh Mira. Takut dan bahagia berjalan berdampingan.
Fahmi yang paham keadaan sang istri langsung menggenggam tangannya. Tersenyum dan meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Mas," sapa Dion langsung berhambur memeluk kakak serta adiknya, Adelia.
"Mira!" Dion memanggil dengan suara pelan lalu tersenyum.
Fahmi mengadakan syukuran kecil-kecilan atas kebebasan Dion. Ia membawa keluarganya ke sebuah rumah makan yang sudah disiapkan lebih dulu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah makan, suasana bahagia masih terasa di kabin tengah dan belakang. Dion menayampaian rasa rindunya pada Gama. Ia peluk sang putra berkali-kali. Adelia dan Syafa pun kecioratan bahagianya.
Di kabin depan sepasang suami istri tidak banyak bicara. Mereka berkomunikasi lewat ekspresi wajah. Di mana Fahmi lebih sering mengedipkan mata menggoda.
Aneka makanan lezat tersaji di atas meja panjang yang didepan oleh Fahmi. Semua anggota keluarga menempati tempat duduk masing-masing.
"Ini sebagai bentuk syukuran atas kebebasan Dion. Silahkan Dion barang kali ada yang ingin disampaikan," Fahmi mempersilahkan.
Dia tersenyum sebelum akhinya bicara, sepertinya untaian kalimat manis telah ia rancang saat tahi dirinya akan dibebaskan.
"Ini terasa mimpi untuk saya. Bisa kembali menghirup udara bebas dan duduk bersama keluarga tercinta. Yang ada dalam pikiran saya sejak dinyatakan saya akan bebas adalah saya harus meminta maaf." Dion menatap Fahmi dan Mira bergantian. "Saya tahu ribuan maaf yang saya ucapkan tidak akan mengembalikan apa yang telah saya ambil. Namun saya yakin Mira adalah perempuan yang tidak suka menyimpan dendam."
__ADS_1
"Hatimu begitu baik, Mira. Setelah apa yang saya lakukan, kamu masih berbesar hati menjaga dan merawat Gama. Saya ingin mengatakan sendainya tapi saya sadar bahwa waktu tidak bisa diputar kembali. Penyesalan pun akan percuma jika tidak ada perubahan. Sekarang saya hanya berharap kamu akan memaafkan saya meskipun entah kapan."
Fahmi tak melepaskan genggaman pada tangan sang istri. "Jangan katakan apa pun kalau terasa berat, Sayang," bisik Fahmi.
Mira menggelengkan kepala, ia juga berhak bicara sekarang. Ia tatap satu persatu wajah keluarga yang hadir di sana. "Seperti katamu memaafkan itu memang sulit Dion. Aku bukan perempuan yang mudah berlapang dada menerima permintaan maaf darimu. Tapi kita bisa mengesampingkan ego demi keutuhan sebuah keluarga. Benar begitu bukan?" tanya Mira pada suaminya yang mengangguk.
"Ya istriku benar. Dion aku harap kamu benar-benar berubah. Bukan untuk aku dan istriku tapi untuk kenyamanan bersama. Kasihan Gama yang sudah nyaman tinggal di rumahku bersama Syafa. Kesehatan mental seorang anak perlu kita perhatikan."
Syafa dan Gama saling menatap, mereka belum mengerti apa yang dibicarakan oleh orang-orang dewasa itu.
Setelah makan malam mereka membahas rencana Dion ke depan. Termasuk Fahmi yang akan memberikan tanggung jawab perusahaan kepada Dion.
"Aku rasa itu terlalu cepat," tolak Dion kala Fahmi mengutarakan tujuannya, "jika niatmu karena kasihan dengan kondisiku."
Ya sekarang Dion tidak memiliki apa-apa setelah dijebloskan ke dalam penjara oleh Ardan. Hendro-mertuanya bahkan mencabut semua fasilitas yang pernah diberikan kepada Dion.
Selain itu Dion diabaikan oleh keluarga dari istrinya. Mereka datang untuk hanya menjenguk Nafa dan Hendro.
"Aku rasa tidak, karena aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari sebelum hubungan kita renggang. Aku hanya dititipkan harta ayah dan kalau sudah waktunya harus dibagikan juga. Atau kalau kamu tidak mau ya sudah buat aku saja semuanya," kekeh Fahmi diikuti yang lain.
Dalam perbincangan ini Mira tidak ikut bicara, dia hanya duduk di sebelah Fahmi dan sesekali berbincang dengan Adelia.
Dulu Dion sangat menginginkan posisi yang ditawarin oleh Fahmi sekarang. Namun demi nama baik perusahaan, Dion menolaknya. Ya dia sadar diri bahwa dirinya baru saja ke luar dari penjara.
Usai makan malam Dion memisahkan diri dan tidak imut pulang ke rumah Fahmi. Karena tahu adiknya tidak memilki tempat tinggal, Fahmi memberikan sebuah kunci apartemen lada Dion.
"Kamu bisa tinggal di sana dari lada lontang-lantung di jalanan."
"Oke." Dion menerima kunci dan kartu ATM yang diberikan Fahmi.
Tidak perlu munafik, sekarang Dion memang sedang membutuhkan keduanya.
Mereka berpisah di tempat parkir. Sekali lagi Fahmi menawarkan agar Dion ikut bersama mereka. Tetapi Dion tetap pada pilihannya.
"Papa apa kita akan bertemu lagi?" tanya Gama sebelum pintu mobil ditutup.
"Tentu, Gam, papa akan mengunjungimu di rumah ayah Fahmi. Jadi anak baik selama tinggal di sana ya." Dion mengusap rambut sang anak.
Sebenarnya berat bagi Dion untuk berpisah kembali dengan anaknya. Akan tetapi kahadiran dirinya bisa saja merusak suasana hangat dalam rumah tangga Fahmi dan Mira.
Saat dia menuju tempat tinggal yang diberikan Fahmi. Dia melihat Gina tapi perempuan itu tidak sendiri. Ada pria lain yang tengah menggamit tangannya.
Mereka saling tatap, ingin menyapa tapi mama Gina sudah memanggil mereka.
Dion langsung memalingkan wajah. Mengusir perasaan yang tidak bisa fahmi.
__ADS_1