Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Permintaan Dion


__ADS_3

"Papa!" seru Gama saat melihat Dion datang dengan pakaian yang basah kuyup. Padahal kan Dion bisa pesan taksi online tidak perlu memaksakan dayang menggunakan motor apalagi tidak pakai jas hujan. Biar apa coba dia melakukan itu. Biar dianggap pengorbanan yang ada dia terlihat bodoh.


Fahmi geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dion. "Ganti baju biar gak mask angin. Di kamar tamu ada pakaian ganti untuk kamu."


Adelia dan Syafa menutup mulut menahan tawa atas kelakuan Dion.


Hanya Mira yang tidak ikut menyambut. Perempuan itu memilih mengajak si anak bayi bermain di dalam kamar.


Sepuluh menit kemudian Dion bergabung bersama Fahmi, Adelia dan anak-anak.


"Bang Ion ngapain sih pake hujan-hujanan segala. Kayak gak ada alternatif lain aja. Terus itu pipi kenapa?" tunjuk Adelia pada pipi yang masih terlihat lebam.


"Biasa ini mah," jawab Dion sambil memangku Gama yang katanya rindu sejak tadi. Anak itu tidak ingin jauh&jauh dari ayahnya.


"Kamu baru keluar Dion, masa mau buat ulah lagi," timpal Fahmi.


"Kayaknya bang Ion lebih betah di penjara deh." Adelia tertawa.


"Sembarang. Tadi tuh ada kejadian salah faham di kantor. Ada salah seorang staff yang nunggu hujan reda sekalian nunggu dijemput eh dia ketiduran. Nah aku inisiatif melepas jas, niatnya mau menyelimuti. Eh tahu-tahu ada bogem mentah," papar Dion.


"Masa?" tanya Adelia gak percaya.


"Asli. Tapi abang gak melawan soalnya masih staff baru. Sayang juga kalau nanti geger terus dipecat sama Mas Fahmi."


"Jadi kalau sudah staff lama mau lebih dari itu?" Fahmi bertanya lalu meminta Syafa memanggil istrinya. "Bilang disuruh ayah ya."

__ADS_1


"Ayo, Gam!" Syafa menaiki tangga dan mengetuk kamar ibunya. "Ibu dipanggil ayah."


"Sebentar lagi ibu turun."


Dion menatap bayi yang berusia 13 bulan yang diserahkan pada Fahmi. Cantik, mungil nan menggemaskan. Tangan dan kakinya bergerak-gerak meronta seperti ingin dilakukan oleh Dion. Kemudian dia menatap permpauan yang berlalu ke dapur dan hanya mengangguk ketika menyapa dirinya.


"Astaga dia menggemaskan sekali. Boleh aku menggedongnya, Mas?" Dion mengulurkan tangan, menerima Syifa ke dalam pelukannya. Secara biologis itu adalah anaknya tapi secara agama mereka tidak memilki ikatan.


Satu tetes air mata jatuh mengambil pipi Syifa. Air mata penyesalan yang tidak bisa menebus kesalahan dan mengembalikan hak Syifa. Gara-gara nafsu satu orang anak harus menjadi korban.


Nak aku adalah ayahmu. Maafkan aku, karena keserakahanku kamu harus lahir tanpa memilki ayah. Maafkan aku, Nak. Tumbuhlah dengan baik, aku akan menembus kesalahanku dengan menjagamu dari jarak jauh. Nak jika suatu hari kamu mengetahui aku adalah ayah bilogismu, tolong jangan membenciku.


Fahmi menempuk pundak adiknya dan mengangguk. Kemudian kembali mengambil Syifa dan emngajak mereka ke ruang makan.


"Gam kamu harus banyak makan sayur. Kata ayah biar sehat. Iya kan ayah?" Syafa meneolah pada Fahmi yang mengangguk.


"Kambing itu makan rumput bukan sayuran. Gimana sih kamu ini," kata Ayah sambil meneouk pundak Gama sedikit keras.


"Kak." Mira menegur putrinya, "minta maaf sama Gama!"


"Maaf ya, Gam, aku tidak sengaja."


"Enggak sakit kok, kan kata ayah aku jagoan." Gama menatap Fahmi meminta pengakuan.


"Ya ya anak-anak ayah memang jagoan. Sekarang duduk dan makan yang banyak biar tumbuh sehat." Fahmi menarik kursi untuk mereka duduk.

__ADS_1


Adelia dan Dion sudah duduk di tempatnya. Dion menatap kursi yang biasa di pakai duduk oleh Nafa ketika mereka berkunjung dan makan di rumah Fahmi. Apa kabar keadaan istrinya. Sepertinya Dion harus menurunkan ego dan menyempatkan untuk menjengukanya di rumah sakit.


Setelah melayani suami dengan mengambilkan makanannya lebih dulu, Mira baru bisa duduk dan menikmati makanan sendiri. Saat ada Dion di sekitarnya, Mira memang lebih banyak diam. Angkat bicara ketika ditanya.


Usai makan, Dion tak langsung pulang karena Gama tidak ingin ditinggal lagi. Anak itu bahkan nangis dan meminta ditemani tidur.


"Bang Ion nginep aja. Besok pagi berngakat dari sini." Adelia menyarankan. Lagi pula tidak tega kalau abangnya harus kembali menerobos hujan.


Dion melirik Fahmi dan juga Mira. Dia merasa tidak enak hati kalau harus menginap. Kasihan juga Mira pasti merasa tidak nyaman.


"Nggak bisa, Lia. Abang harus pulang. Kalau berangkat dari sini itu kejauhan."


"Ada motor, ada mobil masa gak bisa membantu abang tiba di kantor lebih cepat."


"Adelia benar. Nginep aja malam ini kasihan Gama. Kamu bisa pakai kamar tamu untuk tidur bersama Gama. Gak muat kalau kalau tidur di kasur Gama yang kecil."


Karena Gama terlihat sudah ngantuk berat akhirnya Dion setuju. Dia membawa putranya ke dalam kamar yang ditunjukan oleh Adelia. Kamar tamu yang ikurannya lebih luas dari dua kamar tamu lainnya.


Tuan rumah sendiri sudah masuk ke dalam kamar. Malam ini Mira izin pada Fahmi agar Syifa tidur bersama mereka.


Fahmi mengizinkan. Dia faham bahwa masih ada sisa trauma di dalam jiwa sang istri. "Gimana perkembangannya? Sudah bisa apa sekarang?" tanya Fahmi yang ikut berbaring di sebelah Mira. Sedikit mengangkat wajah untuk melihat Syifa yang sudah tidur.


"Sudah mulai berdiri sendiri, tapi masih berat untuk jalan."


Tangan Fahmi mengusap lebih pipi Syifa tapi yang dikecuo adalah pipi istrinya.

__ADS_1


"Kangen," bisik Fahmi mengikuti arah gerak mata istrinya. "Besok aja deh biar bebas."


Mira berbalik setelah memastikan bahwa Syifa posisi tidurnya


__ADS_2