
Fahmi tertawa pelan dengan pertanyaan istrinya. "Sama sepertimu, aku juga tidak tahu kapan aku jatuh cinta. Awalnya aku merasa iba melihat seorang perempuan duduk di halte. Terus aku memuji kamu saat kamu membantu Syafa mandi. Diam-diam aku selaku memperhatika saat kamu sering duduk di dekat kolam ikan. Lucu sih kalu ingat itu."
"Terus Mas kan suda tahu dari awal tentang aku dan siapa yang menghamili. Lalu Kenapa tidak mengusirku" tanya Mira sambil menempelkan pipi pada dada suaminya.
"Kamu pikir mas setega itu?" Mira menggelengkan kepala. "Enggak, mas malah berpikir agar kami tetap di sini. Tetap merasa nyaman dan merasakan hangatnya keluarga. Puncak mas takut kehilangan kamu adalah saat Adelia mengatakan kamu dalam bahaya. Mas benar-benar takut apalagi saat melihat kamu meringis menahan sakit. Di situ marah dan takut menjadi satu."
"Ingat gak mas pas aku minta tolong agar mas pura-pura jadi suami aku?" Keduanya sama-sama tertawa.
"Ingat. Terus kalau gak salah mas bilang kirain jadi calon suami beneran gitu kan?"
"Iya. Gimana perasaan mas saat itu."
"Hati mulai berdetak tak karuan. Kadang mas sebut juga dalam doa. Mas minta agar kamu berpaling dari Dion tapi kamu sepertinya tidak pernah melihat mas? Tidak menanggapi mas spesial, bahkan saat mas melamar kamu ke papa, kamu masih memanggil dengan sebutan dr. Fahmi."
Mereka menikmati malam yang mulai berganti hari tetaoi rasa ngantuk tak kunjung datang. Mereka menggunakan waktu itu untuk lebih dekat lagi. Fahmi juga nenutarakan pertanyaan yang selalu bercokol dalam pikiran.
"Jangan marah kalau Mas menanyakan ini?"
"Tentang perasaanku pada Dion?" Tebakan Mira benar dan Fahmi mengangguk.
"Gimana sih awal cerita kamu bisa dekat sama dia."
"Yakin mau dengar, nanti sakit hati loh."
"Enggak lah kan kamu sekarang cintanya sama aku."
"Diiiih pd amat," kata Mira sambil memalingkan wajah. Kemudian ditarik lagi oleh Fahmi.
"Kalau enggak cinta kamu gak akan nempel kayak begini. Mau cerita gak nih? Atau jangan-jangan ...."
"Apa? Mau bilang apa? Aku masih mencintai Dion gitu? Sebelum Dion meminta aku menggugurkan aku memang masih berharap dia akan bertanggung jawab. Setelah itu gak ada lagi cinta untuknya.
"Jadi untuk siapa dong? Fahmi tersenyum jahil.
"Untuk ayahnya Syafa."
Fahmi baru ingat kalau tadi dia melihat teman Mira di tempat parkir lapas. "Mas sudah bilang sesuatu belum sama kamu?"
"Kayaknya belum deh. Emang mau bilang apa?"
"Tadi mas lihat teman kamu di tempat parkir lapas tapi entah habis menemui siapa. Tadi siang jua mas gak bisa menemui Dion, kata petugas sebelum mas datang Dion sudah ditemui orang lain jadi waktunya habis."
Mira menatap cemas, "temanku yang mana mas?"
"Yang tubuhnya seperti kamu tapi sedikit lebih tinggi. Sebentar mas ada fotonya." Fahmi menunjukan foto Gina yang akan menaiki ojek online. "Beneran teman kamu kan?"
Mira menghela nafas, "jadi kira harus mencurigai Dion dan Gina?"
"Enggak. Mas gak bilang begitu, mas hanya tanya ini teman kamu atau bukan. Soal Dion kita akan cari tahu bersama. Sebenarnya masalah ini bisa dianggap clear karena berita itu mulai redup, tapi kita juga perlu waspada."
***
Fahmi mengunjungi Dion lebih awal. Mereka sekarang duduk tersekat meja. Seperti biasa Fahmi tidak akan datang dengan tangan kosong. Selalu ada makanan yang berbeda yang dibawa.
"Dion, aku lelah harus bekerja di dua tempat yang berbeda. Aku jadi mudah cape."
"Ya nikmati saja, Mas. Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti kamu. Kalau capek kan tinggal istirahat," kekeh Dion, mengusap wajah.
__ADS_1
"Aku berencana menyerahkan tanggung jawab setelah kamu bisa mengajukan bebas bersyarat. Aku akan fokus pada pekerjaan sebagai dokter. Agar aku bisa memiliki lebih banyak waktu dengan anak istri."
"Aku tahu maksud kamu, Mas. Kamu sedang merayuku agar aku bicara, benar?"
"Aku senang kamu mengerti maksudku. Efek berita itu berimbas pada perusahaan. Banyak kolega yang terpengaruh dan termakan berita itu. Sekarang aku sedang berusaha memulihkan tapi aku was-was selama orang itu belum kita temui. Sewaktu-waktu dia bisa menyebarkan fitnah lebih buruk."
Dion tertawa pelan. "Bekerja dengan otak dan hati kamu memang cerdas, Mas. Tapi kamu tidak cerdas untuk menilai orang."
"Maksud kamu?"
"Kamu ingin tahu kan siapa penyebar berita itu. Memang kamu tidak mencurigai orang-orang yang pernah singgah dihidupmu?"
"Silvi?" tanya Fahmi, menatap Dion yang mengedikkan bahu. "Jangan mempermainkan aku, Dion. Aku sudah lelah dengan semua yang terjadi. Katakan! apa itu Silvi."
Dion tetap mengedikkan bahu dan bersikap acuh. Dia menoleh kiri kanan seperti menunggu seseorang.
"Siapa orang yang sering menemui kamu selain aku?" tanya Fahmi lagi.
"Rahasia," jawab Dion cuek.
Fahmi melirik jam tangan, waktunya di sana sebentar lagi habis dan dia harus segera kembali. Dia menghela nafas kemudian pamit. Ia menatap adiknya dan berharap Dion memperjelas ucapannya.
Sampai dia melangkah lebih jauh Dion tetap bersikap seperti semula.
Saat mobil Fahmi keluar dari parkiran tak lama Gina datang. Tapi seperti Fahmi kmarin dis tidak bisa masuk.
"Cantik-cantik kok masih setia sama seorang napi," celoteh salah satu petugas dan masih terdengar oleh Gina. Perempuan itu tak ambil hati, dia hanya memasang senyum sambil melangkah pergi.
***
"Dokter sedang banyak pikiran?" tanya suster yang menemani Fahmi.
Fahmi menggelengkan kepala dan tetap menjaga senyum. Ia kembali melangkah untuk meninjau pasien lainnya.
Saat istirahat dia hanya duduk di sofa sambil memejamkan mata. Tangannya memijit pelipis.
Ketukan di pintu ruangan memaksa ia untuk bangkit. Matanya terbelalak kala melihat istrinya berdiri di depan pintu.
"Assalamualaikum," sapa Mira dengan senyum manisnya.
"Kok datangnya gak bilang-bilang, Sayang." Fahmi mengecup kening istrinya dan mengajakanya masuk. "Wah bawa apa ini?"
Mira meletakan paper bag yang ia bawa lalu mengeluarkan isinya. "Belum makan siang kan? Ayo kita makan bareng."
"Satu piring, satu sendok dam saru gelas," pinta Fahmi diangguki oleh istrinya. Mereka makan bersama dan saling menyuapi.
"Sering-sering kayak gini ya," kata Fahmi lagi.
"Insyaallah, kalau anak-anak tidak rewel," kekeh Mira. "Ada apa kenapa menatap seperti itu?" tanya Mira karena suaminya menatap tak biasa.
***
Setumpuk berkas telah Ardan periksa. Ia meregangkan tangan dan meminta Jeff masuk ke ruangannya.
"Anda memaggil saya, Pak" tanya Jeff setelah dipersilahkan masuk.
"Ya. Apa agenda ku setelah makan siang?"
__ADS_1
"Pukul 03:15 anda harus menemui perwakilan dari HK group, Pak."
"Ok, siapkan tempat untuk makan siang."
"Anda ingin makan siang di luar?"
Ardan mengangguk. Jeff langsung menunjukan beberapa resto dengan penilaian baik. Sebenarnya Ardan bisa makan di mana saja yang penting bersih dan nyaman.
"Pilih saja, Jeff, aku tidak pernah kecewa dengan pilihanmu."
Setelah Jef melakukan reservasi, ia memberi tahu atasannya bahwa apa yang diminta telah siap.
Ardan mematikan layar komputer dan mengambil barang miliknya. Ia berjalan lebih dulu menuju tempat makan siang. Jef mengikuti di belakang, menekan tombol lift dan mempersilahkan tuannya untuk masuk.
"Jeff, kamu tidak pernah merasa kesepian?" tiba-tiba Ardan bertanya seperti itu pada sekertarisnya. "Hampir setiap hari setiap jam kamu di dekatku. Apa kamu tidak ingin memiliki kehidupan sendiri?"
"Apa anda ingin saya berhenti bekerja dengan anda?" tanya Jeff di balik kemudi.
"Tidak juga, saya hanya bertanya," kekeh Ardan.
Jeff bisa menangkap maksud lain dari atasannya. Akan tetapi dia tetap menjaga sikap agar tidak ikut campur dengan urusan tuannya.
Mereka tiba di tempat makan dan menuju tempat yang sudah dipesan oleh Jeff. Mereka memesan makanan dan makan bersama.
Meja di sebalah mereka, ada sekelompok orang yang terlihat hangat dengan canda dan tawa. Berbeda dengan Ardan yang hampir 24 jam bersama sang asisten.
Makanan yang dipesan pun tiba, Ardan dan Jeff langsung menyantapnya.
Usai makan siang mereka bersiap kembali ke kantor. Saat di depan mobil Jeff marah-raba saku.
"Ada yang ketinggalan, Jeff?"
"Sepertinya ponsel saya tertinggal, Pak. Saya izin kembali ke dalam." Ardan mengangguk dan mempersilahkan.
Sambil menunggu dia menyandarkan tubuh di pintu mobil, tangannya masuk ke dalam saku celana. Ardan terlihat cool meski usia tidak bisa ditutupi lagi. Beberapa rambut berwarna perak mulai terlihat.
Beberapa gadis yang melintas terdengar berbisik dan memuji.
"Sugar daddy."
"Aku mau kok jadi selingkuhannya."
"Aku rela jadi madu asal kita sama-sama memilikinya."
Ardan masuk ke dalam mobil kemudian menatap dirinya dari pantulan spion tengah. Benarkah kata paea perempuan tadi kalau ia masih mempesona.
"Jeff, menurutmu aku pantas gak jika menikah lagi?"
Jeff ingin tertawa mendengar ucapan atasannya tapi dia mampu menguasai diri. Tidak sopan jika ia sampai menertawakan.
"Tentu, Pak."
"Ah jawaban kamu seperti jawaban robot, Jeff."
Sejak tadi Ardan bersikap seperti remaja yang tengah jatuh cinta. Mungkin ia tengah mengalami puber ke dua. Akankah ia menikah lagi untuk menemani masa tuanya nanti.
Tapi adakah seseorang yang mau dengn seorang Ardan?
__ADS_1