
Fahmi kembali membayar orang untuk memata-matai Silvi. "Aku percaya kamu akan memberikan hasil yang akurat," kata Fahmi sambil menyodorkan amplop berwarna cokelat berisi uang.
"Kapan saya harus memberikan hasil?" tanya orang berkepala plontos itu.
"Secepatnya."
Lelaki itu mengangguk kemudian pamit.
Fahmi menyandarkan tubuh setelah lelaki itu pergi.
Jika itu benar kamu, Sil. Aku gak tahu harus bersikap apa tapi hukum harus berjalan.
Ia melenggang dengan perasaan tak karuan. Tidak ingin mendapati fakta bahwa orang yang bertahun-tahun menjadi bagian dari hidupnya melakukan kejahatan.
Perihal Silvi masih menjadi pikiran sampai Fahmi tiba di rumah. Ia nampak lesu saat sang istri menyambut.
Mira merasakan perubahan Fahmi tapi memilih bungkam. Mungkin dia lelah, itu yang Mira pikirkan. Ia tetap melayani kebutuhan suaminya.
Bahkan tak biasanya Fahmi tidur lebih dulu tanpa bercerita keadaan hari ini. Mira menaikan selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Ia sugar rambutnya dan dan memberikan kecupan selamat malam.
Aku hanya berharap kamu tidak menyesal telah memilihku, Mas.
***
Dion menatap perempuan yang tidak datang selama beberapa hari setelah Fahmi mengunjungi.
"Aku pikir kamu tidak akan datang lagi," kekeh Dion.
"Kenapa? Apa kamu merindukan aku?" tanya Gina nampak santai. "Memang sih kata orang aku itu menggemaskan dan selalu bikin rindu," ucpanya bangga.
"Masa sih, kok aku tidak termasuk salah satu orang yang kamu sebut."
Gina tertawa keras sampai ditegur oleh petugas. Ia mengangguk tanda meminta maaf.
"Kenapa sih harus selalu datang ke sini?" tanya Dion.
"Karena aku tahu kamu pasti merindukan aku," jawab Gina dengan begitu percaya diri. "Iya kan?"
Iya juga sih sebenarnya. Beberapa hari tidak dikunjungi gadis ini Dion merasa rindu tapi buru-buru dia menepis rasa itu.
Ingat! Kamu masih memiliki istri, Dion.
"Perkataanmu tidak ada yang benar," kilah Dion.
"Ya sudah aku pulang," kata Gina sambil berdiri dan merapikan kembali makanan yang ia bawa tapi tangannya ditahan oleh Dion.
"Sayang makanannya kalu dibawa lagi." Dion segera melepaskan tangan yang dia pegang sejak beberapa menit yang lalu. "Jujur! Sebenarnya apa yang kamu inginkan dari aku?" Dion menatap lekat lawan bicaranya.
Gina melipat tangan di depan dada. Perempuan itu menatap Fahmi begitu tajam. "Tentu saja demi Mira."
Hati Dion mencelos mendengar jawaban Gina. Ia kira Gina akan memberikan jawaban sesuai yang Dion harapkan.
"Memangnya demi apa lagi kalau bukan demi dia. Masa demi kamu, kamu kan suami orang," kekeh Gina sambil menutup mulut.
__ADS_1
Pembawaan Gina yang ceria menular pada Dion. Bersama Gina ia bisa merasakan ada sesuatu yang berharga dan tak ingin hilang ketika perempuan itu pergi.
"Ayolah Dion kamu bicara. Kasihan Mira terlalu banyak tekanan hidupnya. Memangnya kamu tidak kasihan sama dia. Bagaimana pun kamu memiliki andil atas apa yang dia alami sekarang. Ah aku tahu kenapa kamu tidak mengatakan apa pun. Kamu ingin melihatku datang lagi kan?" Gina menarik turunkan alis menggoda Dion.
Astaga Gina apa-apaan sih kamu. Waras, Gin! waras. Nyebut-nyebut.
Dion mengangguk membenarkan, membuat Gina mencebik.
"Aku sudah mengatakannya pada mas Fahmi. Mungkin sekarang dia sudah menyuruh orang untuk menyelidiki."
"Sungguh?"
Dion mengangguk.
"Ah berarti tugasku sudah selesai untuk tak datang lagi menganggumu. Baiklah aku harus pulang," kata Gina mengaitkan tas selempangnya ke pundak.
"Gin," panggil Dion saat Gina mulai menjauh. "Terima kasihya telah menjadi orang yang peduli padaku meski demi tujuan lain." Ada rasa perih dalam hati keduanya saat kalimat itu usai ucapkan oleh Dion.
Gina mengangguk dan kembali melangkah.
Dion kembali ke dalam sel dengan wajah yang tampak lesu. Keceriaan beberapa menit yang lalu seperti ikut pergi bersama Gina. Dion tidak mengerti dengan perasaan ini.
Saat teman-temannya memburu kotak makanan yang ia bawa, Dion hanya duduk sambil menatap kosong.
***
"Mas kamu sakit?" tanya Mira saat melihat wajah sang suami tampak lesu. Mira sentuh kening suami yang tidak terasa hangat atau demam. "Kalau sakit istirahat aja ya. Nanti biar aku telepon pihak rumah sakit agar memberimu cuti lagi."
Mira tidak percaya dengan kata baik-baik saja yang diucapkan oleh suaminya. Beberapa bulan menjadi istrinya Mira tidak pernah merasakan seperti ini. Ia merasa Fahmi berbeda.
Mira tidak banyak bicara, ia segera turun untuk membaangunkan anak-anak agar agar shalat subuh berjamaah.
Beruntung ketika dibangunkan Syafa dan Gama tidak rewel hanya sedikit malas tapi masih bisa diatasi oleh Mira.
"Kak Mira baik-baik saja?" kali ini Adelia yang menanyakan keadaan Mira.
"Ya seperti yang kamu lihat. Ada yang beda ya dari aku?" tanya Mira.
"Enggak ada sih, cuma heran aja lihat kak Mira pagi-pagi udah bengong. Lagi mikirin apa sih?" Adelia menuangkan air putih ke dalam gelas kemudian meneguknya.
"Enggak lagi mikir apa-apa kok."
Adelia mendekat dan merangkul kakak ipar yang usianya tidak beda jauh. "Kalau mas Fahmi lagi gak bisa diajak cerita, kan kak Mira bisa cerita sama aku. Ya walaupun kak Mira tahu sendiri kalau cerita sama aku gak akan pernah dapat solusi yang bagus," kekeh Adelia diikuti Mira.
Mira merasa Fahmi berubah tapi ia harus percaya bahwa itu hanya peraduganya saja. Bisa jadi ia terlalu menganggap berlebihan.
Sampai berangkat kerja pun sikap Fahmi tidak berubah. Bahkan Fahmi lupa mengecup kening Mira.
Mira menatap mobil suami yang mulai menjauh. Matanya mulai berkaca-kaca.
Bagaimana kalau mas Fahmi ternyata menyesal menikah denganku?
Mira juga mengingat-ingat setiap aktifitas yang ia lakukan dan berpotensi menjadi pemicu perubahan suaminya. Adakah tingkah yang membuat suaminya tidak nyaman dan terkesan acuh.
__ADS_1
Di tengah perjalanan Fahmi baru mengingat bahwa ia lupa mengecup kening istrinya. Gegas ia melakukan panggilan pada nomor Mira. Panggilan pertama tidak diangkat, ke dua, bahkan sampai panggilan ke sepuluh tidak ada yang terjawab.
Mira bukan mengabaikan tapi memang ponsel itu tertinggal di dalam kamar sejak tadi. Sedangkan Mira sekarang tengah memandikan si kecil setelah mengantar anak dan suaminya berangkat.
Saat anaknya sudah nyaman dengan tubuh yang segar serta wangi, Mira kembali memanfaatkan waktu dengan belajar.
Beberapa pekerja menyadari adanya perbedaan sikap antara kedua majikannya. Sejak tadi suasana rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Padahal biasanya hangat dengan adanya canda dan tawa Mira dan Fahmi yang saling melemoar candaan.
Fahmi sendiri merasa tidak tenang dan merasa bersalah atas sikapnya yang tiba-tiba berubah. Ia yakin bahwa sikapnya telah menyakiti Mira.
Saat jam makan siang Fahmi kembali mencoba menghubungi Mira tapi masih sama seperti tadi pagi. Ia pun menghubungi telepon rumah.
"Ibu ada?" tanya Fahmi saat mendengar salam dari orang rumah.
"Tadi ibu di kamar non Syifa, Pak. Mau saya panggilkan?"
"Jangan tapi tolong lihat dia sedang apa?"
Pekerja yang menjawab panggilan dari Fahmi segera menghampiri Mira di kamar Syifa. Ternyata majikannya tengah tidur sambil memeluk putrinya.
"Ibu sedang tidur sambil memeluk non Syifa, Pak."
"Oh ya sudah. Nanti kalau sampai istri saya melewati makan siang tolong dibangunkan ya," pesan Fahmi sebelum menutup panggilan.
"Maafkan aku, De. Kamu pasti tidak nyaman dengan sikapku. Semoga kamu mengerti," gumam Fahmi.
Jam sudah menunjuk angka satu, riuh tawa anak-anak yang baru pulang sekolah tak membuat Mira bangun.
Bahkan ketika Syafa menghampiri dan memanggilnya. "Bu!"
"Ibu kakak pulang," kata Syafa sambil menyentuh tangan Mira.
Syafa berlari ke luar dan memberi tahu Santi kalau ibunya tidak bangun.
"Mbak Santi, kenapa ibu gak bangun ya?" tanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Santi langsung menuju kamar. Ia kira Mira hanya tidur tapi saat Santi membangunkan, tangan Mira malah terkulai. "Astagfirullah," pekik Santi panik dan memanggil rekan yang lain. "Hubungi pak Fahmi sekarang."
Tentu saja melihat Santi panik dan meminta menghubungi Fahmi membuat pekerja lain juga panik.
Sedangkan Syafa mulai menangis takut terjadi apa-apa dengan ibunya.
"Ibuuuuuu ...."
Mira tidak menyahut. Santi mengecek denyut nadi yang terasa melemah. "Tolong panggil pak Amir dan mang Jo! Kita harus bawa ibu ke rumah sakit."
Dengan bantuan mereka Santi membawa Mira ke rumah sakit. Ia berusaha membangunkan Mira tapi sampai mobil tiba di rumah sakit, Mira tak kunjung membuka mata.
"Dek, Ya Allah dek bangun dek. Jangan membuat kami khawatir."
Nihil. Mira masih sama seperti tadi. Apakah Mira akan Selamat? Apa yang terjadi dengannya?
Bersambung ....
__ADS_1