
Mira menatap kamar yang ditunjuk Fahmi untuk mereka. Ternyata ada ruangan baru di rumah ini dan entah kapan di renovasinya. Ruangan itu lebih besar dari kamar yang sebelumnya ditempati Fahmi.
"Bengong." Adelia mengagetkan Mira.
"Adel, Astagfirullah." Mira mengusap dada. "Kapan ruangan ini ada?"
"Sebelum mas Fahmi kecelakaan dia udah memanggil tukang untuk menggabungkan ruangan ini."
Rupanya Fahmi benar-benar sudah menyiapkannya. Bagaimana kalau sampai kemarin Mira menolak lagi. Kasian dan pasti akan merasa dirinya tidak menarik.
Sambil menunggu teman-teman Fahmi pulang, Mira memilih untuk mandi. Dan benar saja saat ia keluar kamar mandi suaminya juga baru masuk kamar.
"Kok gak mandi bareng?" tanya Fahmi sambil merebahkan tubuh pada pembaringan. "Hanya berbincang saja aku cape, Sayang," keluh Fahmi.
Saat Mira mendekati ternyata suaminya malah tidur. Dia jadi tidak tega untuk membangunkan.
Sekitar pukul dua baru Fahmi baru dibangunkan, "Mas waktu dzuhur sudah mau habis." Lembut sekali Mira menggoyangkan tubuh sang suami.
Fahmi bangun dan beranjak ke kamar mandi. Saat di pintu dia melongokan kepala dan memanggil sang istri.
"Ya Mas?"
"Sunah yuk,"
"Kan aku sudah mandi," tolak Mira. Lagi pula masih ada pekerjaan lain yang harus Mira kerjakan.
"Ya sudah, tapi nanti malam?"
Pertanyaan Fahmi membuat Mira menunduk membunyikan rona merah di pipi karena malu. Sebenarnya hal itu lumrah untuk sepasang suami istri. Apalagi masih pengantin baru. Masih anget-angenya dan rasa penasaran akan hal yang katanya surga dunia itu pasti tinggi.
Mira juga menginginkannya tapi dia masih merasa malu.
***
Malam hari.
Rasanya kebahagian Mira terasa lengkap. Di mana sekarang ia memilki suami yang begitu perhatian, penuh kasih sayang dan memanjakan dirinya.
Syafa juga tampak senang dengan adanya Mira dan bayi kecilnya. Anak itu selalu ingin dekat dengan Mira. Bahkan saat Mira memasak, Syafa ikut merecok di dapur.
Beberapa sayur yang dikeluarkan dari kulkas oleh Syafa. Banyak juga sayuran yang di potong tidak beraturan dan Mira hanya mengelus dada. "Potongnya seperti ini ya, Kak. Hati-hati pegang pisaunya." Mira mencontohkan.
"Ok." Syafa selalu menjawab oke tapi hasilnya selalu jauh dari contoh. Tidak masalah namanya juga anak kecil.
Sedangkan Fahmi mengajak Syifa untuk bermain. Usia satu bulan penglihatan bayi mulai jelas. Ia akan belajar mengenali orang-orang disekitar terutama oengasuhnya atau ibu.
Sesekali bayi itu tertawa meski tanpa suara membuat Fahmi merasa gemas. Ia juga melirik istri dan anaknya yang tengah asik di dapur. Sepertinya ikut bergabung dengan mereka di dapur akan sangat menyenangkan. Akan tetapi akan sepeti apa rupa dapur nanti.
Fahmi bersyukur karena Mira bisa menjadi ibu untuk Syafa meskipun usianya masih muda. Namun keduanya tampak akur. Mira berusaha memahami keinginan Syafa. Tentu harapan Fahmi akan selamanya seperti itu. Dia tidak menginginkan akan ada pernikahan ketiga.
"Ayah aku masak sama bunda," teriak Syafa saat menyadari keberadaan ayahnya.
"Masak apa?"
"Gak tau masak apa. Pasti enak."
"Kalau yang masak, Ibu, ya pasti enak."
Saat makanan sudah siap, mereka pun makan bersama. Sikap romantis pada Mira terus Fahmi tunjukan. Hal itu membaut adiknya mencebik.
Syifa menangis disaat ibunya tengah makan. Fahmi bangkit lebih dulu dan meminta sang istri untuk melanjutkan makan. Sedangkan ia menimang bayi itu.
Mira cepat-cepat menghabiskan makanan di piringnya. Ia lekas minum dan mengambil Syifa dari sang suami. Kasihan pasti suaminya juga lapar.
__ADS_1
"Biar aku saja, Mas, kamu lanjutkan makan saja."
Fahmi mengangguk dan mengusap pipi Syifa. Lantas ia kembali ke meja makan untuk mengambil makanan kemudian ia menyusul Mira yang memilih duduk di sofa untuk menyusui.
"Loh kok makanannya di bawa ke sini?" tanya Mira heran.
"Biar bisa makan berdua. Sini aku suapi."
Sambil menyusui sambil disuruh makan oleh suaminya. Ah Mira senang sekali diperlukan seperti itu. Ia berkali-kali mengucapkan syukur. Kasih sayang yang tidak sempat ia rasakan kini ia dapat dari Fahmi.
Pria baik yang bahkan tidak jijik untuk menerima masalalunya.
"Makan yang banyak, biar Adek tidak kekurangan ASI," kata Fahmi.
"Mas kamu juga harus makan," protes Mira saat ia menyadari bahwa suapan demi suapan hanya diberikan pada dirinya.
"Nanti saja. Kamu suapi aku kalau Syifa sudah kenyang dan tidur." Manisnya dokter Fahmi.
Benar terjadi, saat Syifa sudah tidur kembali dan dipastiakn tidurnya nyaman, Mira menyuapi suaminya.
"Manja," celetuk Adelia saat melihat mereka.
"Iri?" balas Fahmi. "Nikah dong."
"Enggak juga. Hanya kasihan aja sama kak Mira. Mana lagi ngurus bayi kecil sekarang harus mengurusi bayi tua."
Mira menahan senyum melihat interaksi kakak beradik itu. Sungguh hal kecil seperti ini sudah membuat ia bahagia.
"Bayi tua? Tua-tua gini juga masih seksi." Cepat-cepat Fahmi membekap mulutnya sendiri. Ia keceplosan.
Selesai makan malam mereka tidak langsung masuk kamar. Mereka duduk berbincang di ruang keluarga sambil menonton siaran sketsa yang menghadirkan tawa bagi para penontonya.
Akan tetapi ada yang lebih seru dari pada menertawakan aksi para pelawak di televisi. Yaitu aksi Syafa dan Fahmi yang memperebutkan Mira. Anaknya ingin dipangku sedangkan bapaknya ingin merebahkan kepala di pangkuan sang istri.
"Iiihhh ayah." Syafa mengangkat kepala Fahmi yang sudah direbahkan di atas pangkuan Mira kemudian ia duduk setelah kepala ayahnya menjauh.
Mira hanya tersenyum. Ia tidak bisa memprotes, karena itu terlalu lucu baginya.
"Sudah besar, duduk di sofa," kata Fahmi pada Syafa.
"Ayah juga sudah besar jadi harus mengalah." Lagi Syafa mengerahkan tenaga yang ia punya untuk megalihan kepala sang ayah.
Berhasil tapi Fahmi pun tidak mau kalah. Ia turunkan Syafa kemudian ia gendong istrinya ke dalam kamar. Mira meronta saat tubuhnya di gendong.
Tindakan Fahmi membuat putrinya kalah dan menangis. Mira segera turun untuk menenagkannya.
"Ngalah, Mas, ngalah. Nanti juga ada waktunya biat mas Fahmi. Iya kan kak Mira?" cerocos Adelia.
Syafa masih sesenggukan dalam dejaoan ibu tirinya. "Aku mau tidur sama Ibu boleh?"
Sinta pertanyaan Syafa membuat Fahmi kalang kabut. Rencananya malam ini ia akan mencoba mernda kasih dengan istrinya. Akan tetapi rencana bisa gagal kalai Mira menyetujui permintaan Syafa.
"Emmm, tanya ayah?" kata Mira.
"Enggak mau, ayah pasti melarang." Syafa semakin memeluk Mira.
Fahmi mengusap wajah dan ditertawakan oleh Adelia. "Makan tuh."
"Boleh ayah?" tanya Mira.
"Tuh kan ayah tidak mengizinkan," kata Syafa dan kembali menangis.
Alamat gagal semua rencana.
__ADS_1
***
Fahmi menndegkus kesal melihat istri dan anaknya tidur saling berpelukan Sedangkan dirinya masih memeriksa laporan dari kaki tangannya di perusahaan yang dititipkan oleh ayahnya.
Mira menggeliat dan membuka mata. "Belum tidur, Mas?" Ia bertanya saat melihat suaminya masih memangku laptop di sofa.
"Belum, Sayang. Aku harus memeriksa laporan akhir bulan."
"Mau aku buatkan minuman hangat?"
"Boleh deh, tapi jangan kopi. Takutnya nanti gak bisa tidur."
Mira turun ke dapur. Setelah berkutat selama beberapa menit akhirnya satu cangkir jahe susu telah jadi.
"Aku buatkan jahe susu, Mas. Semoga cocok " kata Mira sambil meletakan cangkir yang ia bawa.
"Terima kasih, istriku." Ah kata-kata Fahmi selalu emnvaut hati Mira berdebar tak karuan. Bahkan saat Fahmi meminta ia duduk di sebelahnya. "Mas boleh minta ditemani gak?"
Mira mengangguk setuju. Fahmi menarik kepala Mira agar bersandar di pundaknya.
Setelah beberapa menit bekerja, Fahmi meletakan laptop dan meraih minuman yang dibuat oleh istrinya. Dia menyeruput dan menikmatinya. "Enak," kata Fahmi memuji. "Ini minuman favorit kamu?"
"Bukan."
"Berarti kamu belum mencoba? Cobain deh, enak loh" Fahmi menynagsurkan cangkir itu pada Mira. Bahkan sengaja bekas birbinya yang ia arahkan pada sang istri.
"Enak?" tanya Fahmi lagi setelah Mira meneguknya.
"Enak," jawab Mira.
"Enak minumannya atau bekas bibirnya."
Astaga, Mira sungguh malu ditanya seperti itu.
Fahmi meletakan kembali cangkir itu pada meja. Ia kemudian membenarkan posisi agar berharap dengan Mira.
Dikecupnya kening Mira, hingga yang menerima memejamkan mata untuk menerimanya. Kemudian turun ke kedua mata, pipi dan terakhir nempel di bibir.
Jangan ditanya bagaimana degup jantung Mira saat ini.
Fahmi menjauhkan bibirnya sebenartar membuat Mira membuka mata.
"Boleh?" Fahmi meminta izin lebih dulu.
Melihat istrinya mengangguk Fahmi kembali menempelkan bibirnya dengan bibir sang istri. Lama dan dalam sekali mereka menikmati itu. Tindakan yangverka lakukan mengalirkan sengatan lain pada syaraf di tubuh masing-masing.
Setelah saling menjauhkan diri untuk meraup pasokan udara, Fahmi mengusap pelan bibir istrinya. Tidak ada yang saling berucap. Mereka berinteraski melalui sorot mata.
Fahmi kembali menempelkan bibirnya, disambut oleh Mira. Mereka berperang dan saling menuntut apalagi Fahmi yang berusaha mendominasi. Maklum dia sudah menganggur selama beberapa tahun. Wajar jika dia merindukan itu. Apalagi sekarang ia udah memilki istri.
Akankah Mira menjalankan kewajiban sebagai seorang istri malam ini?
Nafas keduanya saling berburu. Apalagi saat tangan Fahmi mulai berkenalan dengan aset-aset yang dimiliki oleh Mira.
"Emmmhh," satu kata lolos dari bibir Mira. Tangan Fahmi semakin bergerak untuk bisa akrab dengan apa yang Mira punya. Dia tidak mengingat bahwa istrinya pernah ditiduri oleh Dion.
Merek melepaskan tautan bibir kemudian menoleh ke arah pembaringan. Di mana di sana ada putrinya.
"Aku pindahkan dulu Syafa ke kamarnya ya."
"Tapi gimana kalau nanti dia bangun dan marah kalau tau dipindahkan."
"Jangan khawatir, Sayang. Yang perlu kamu khawtirkan sekarang adalah ...."
__ADS_1
Mira mengikuti arah mata Fahmi yang turun ke bawah. "Mas," rengek Mira karena malu.
"Kasihan dia sudah lama berpuasa. Aku meminta hakku malam ini. Boleh?" bisik Fahmi dekat sekali pada wajah Mira. Bahkan henbusan nafasnya terasah hangat menyapu wajah Mira.