
"Dia adalah ... kakaknya orang yang sudah menghamiliku, Pa."
Deg, jantung Ardan seperti ditonjok sekuat tanaga. Dia bahkan mematung untuk sementara waktu.
"Papa belum tahu kan soal ini? Aku membayangkan dokter Fahmi akan jijik dengan tubuhku, Pa. Aku pernah disentuh laki-laki yang tidak halal dan itu adiknya sendiri. Bahkan aku membuat anaku tak memiliki ayah. Pasti dia akan malu saat dia mengetahui kenyataanitu. Mungkin juga ia akan membenciku. Papa ..."
Ardan yang sibuk dengan perasaan yang tak karuan menatap sang anak. Mengusap puncak kepalanya.
"Boleh gak aku meminta papa menolongku kali ini?" tanya Mira menatap penuh harap.
Hati Ardan terasa diperas, dia pernah menyakiti Mira dengan tidak membantunya menyelesaikan masalah. Kali ini dia mengangguk. Setelah ini dia juga akan menemui Fahmi agar mempertemukan dia dengan Dion.
"Katakan kamu ingin bantuan seperti apa?"
"Aku ingin menjauh dari kehidupan mereka, tapi aku bingung harus pergi kemana."
"Kamu memang butuh waktu, silahkan pilih mau menepi di mana. Tenangkan pikiran kamu sebelum mengambil keputusan. Sekarang papa harus ke kantor ada hal penting yang harus di kerjakan. Tunggulah di rumah." Mira mengangguk setuju.
Selesai kepergian Ardan Mira mengamati rumah sang ayah, mengobrol dengan beberapa pelayan untuk mengakrabkan diri.
Seorang pelayan terpogoh menghampiri Mira dan menyerahkan ponslenya yang terus berdering. Terdapat beberapa panggilan tak terjawab di sana.
Tampak nama Adelia pada layar ponselnya. Saat panggilan terhubung Mira langsung mendengar tangis Adelia. "Dek apa yang terjadi?" tanya Mira kebingungan sekaligus panik.
"Mas Fahmi, kak ... Mas Fahmi kecelakaan."
Kecelakaan, bagaimana bisa? Bukankah seharusnya Fahmi masih tugas di rumah sakit?
"Kecelakaan? Adel, Adel bicara tenang. A-aku gak bisa mencerna perkataanmu dengan baik."
"Mas Fahmi kecelakaan kak Mira. Sekarang dia sudah di bawa ke rumah sakit." Suara Adelia tampak serak. Sepertinya dia sudah menangis cukup lama.
__ADS_1
Mira menatap panggilan yang sudah terputus. Dia lalu menghubungi sang ayah yang katanya masih di kantor. Ardan pun tak kalah terkejut. Mereka janjian akan bertemu di rumah sakit.
Lekas Mira mengganti pakaiannya dan meminta sopir untuk mengantarnya.
Tiba di rumah sakit, ada pemandangan langka yang Mira lihat. Perempuan yang ia ketahui sebagai mantan Fahmi ada di sana. Tak lama dia juga melihat Adelia datang dan mereka langsung saling memeluk. Menguatkan satu sama lain. Mira jadi merasa kerdil sendiri, ia urung menemui dan memilih menunggu kedatangan Ardan.
Dua puluh menit berlalu barulah Ardan datang. Ia melihat Mira di lobi. "Mir, gimana keadaan Fahmi?"
"Aku belum melihatnya, Pa."
Ardan menggamit tangan Mira menuju tempat Fahmi masih mendapat penanganan.
Mira menundukan wajah saat menyadari Silvi masih ada di sana. Menunggu kabar dari dokter yang menangani Fahmi.
"Kak Mira!" Adelia langsung berhambur memeluk Mira. Dia masih menangis takut kehilangan satu-satunya orang yang peduli terhadap dirinya. Mira mengusap punggungnya untuk menyakitkan rasa tenang.
Sesekali Mira juga menyeka sudut mata yang basah, tapi dia tidak sesenggukan seperti Adelia. Saat ia menoleh ke arah Silvi, ternyata wanita itu juga tengah menoleh ke arahnya. Mira mengangguk dan mengulas senyum.
Ardan mengerutkan kening. Kok bisa ada orang mabuk di siang hari? gumam Ardan. Kalau malam hari sih masuk akal tapi kalau siang hari rasanya ada yang janggal tapi siapa yang harus dia curigai.
Kedua orang polisi itu pamit setelah menyampaikan kewajibannya. Saat akan pergi, Ardan menghampiri mereka dan meminta dilakukan penyelidikan lanjut terhadap sopir yang dianggap mabuk itu.
Dokter yang menangani Fahmi keluar, mereka yang ada di situ langsung menyongsongnya. "Gimana keadaan kakak saya, Dok?" tanya Adelia dengan air mata yang tak kunjung berhenti.
"Dokter Fahmi mengalami benturan pada bagian kepala yang menyebabkan hilangnya kesadaran. Kita akan menunggu sampai beberapa jam ke depan sebelum melakukan cek MRI (Magnetic Resonance Imaging) untuk melihat apa ada pembekuan darah atau tidaknya pada bagian otak."
Mira, Adelia dsn Silvi saling menutup mulut. Sedangkan Ardan mengangguk paham dan meminta dilakukan merawat yang terbaik pada dokter Fahmi.
"Apa kemungkinan kakak saya akan mengalami kelumpuhan atau kebutaan, Dok?"
"Saya belum bisa mengatakan sekarang, mohon bersabar untuk menunggu hasil observasi selanjutnya. Kakak anda seorang dokter yang hebat, insyaallah dia akan baik-baik saja." Dokter itu mengulas senyum dan kembali masuk setelah menyampaikan informasi pada pihak keluarga.
__ADS_1
Terdengar adzan dzuhur berkumandang, Mira menjauh dari mereka untuk menunaikan kewajiban. Selain memohon ampunan, dalam sujudnya dia juga memohon kebaikan untuk orang-orang disekitaranya. Dia juga memohon kesembuhan untuk sang anak dan juga Fahmi.
Selesai merapihakan mukena, Mira bersandar pada dinding mushola. Memejamkan mata untuk sekedar menenangkan perasaan yang tidak karuan. Kembalinya Silvi menambah pengaruh pada perasaan Mira. Entah harus senang entah harus bersedih.
Ponsel Mira bergetar, terdapat pesan dari Ardan yang mencari dirinya.
Mira: Aku di mushola, Papa. Apa dokter sudah memberi kabar terbaru dokter Fahmi?
Ardan: Oh syukurlah kamu di sana.
Mira kembali memejamkan mata sampai ia mendengar tangis seorang wanita yang tengah berdoa. Posisinya tidak jauh darinya sehingga dia bisa mendengar untaian kalimat doa yang diucapkan perempuan itu.
"Ya Allah, aku mohon berikan kesembuhan pada Fahmi. Aku ingin kembali melihat dia tersenyum bersama putriku. Aku menyesal telah meninggalkan dirinya begitu saja. Aku ingin menebus kesalahanku padanya. Aku mohon izinkan aku kembali berbakti padanya. Aku masih mencintainya."
Deg.
Mira menoleh, ya itu adalah Silvi. Entah perempuan itu tahu bahwa Mira sudah diminta oleh fahmi untuk jadi istri atau belum. Entah perempuan itu mengetahui keberadaan Mira dan sengaja berdoa seperti itu entah tidak.
Mira bangkit dan menghampiri sang ayah. Dia mengajak sang ayah untuk menjenguk putrinya sebentar. Ia tersenyum pada sang ayah yang saat itu juga tengah menatapnya bergantian pada bayi.
Segera sembuh sayang. Kita akan memulai petualangan seperti yang pernah ibu ceritakan.
***
Silvi menatap orang yang masih ia cintai dari kaca. Pria yang tengah berbaring dengan beberapa perban terlihat akibat pecahan kaca juga benturan. Alat pemantau dengan jantung juga dipasang di badannya.
Dia ingin masuk dan memeluknya, memberi tahu Fahmi bahwa dia kembali.
"Bangun, Fahmi. Lihat aku di sini," gumamnya.
Baru saja Silvi bergumam seperti itu, keadaan di dalam ruangan tempat Fahmi di rawat seprti panik. Suster dan dokter keluar masuk. Adelia yang baru selesai shalat juga ikut panik. Mira dan Ardan yang baru kembali setelah menengok putrinya juga menatap heran.
__ADS_1
"Dokter apa yang terjadi?" tanya Adelia tak kuasa. Ia takit Fahmi akan meninggalkan dirinya.