
Rentetan pesan dari Gava yanga menanyakan keberadaan dirinya membuat Gina tidak fokus menatap jalan yang dilewati. Alhasil dia harus bertabrakan dengan Fahmi yang sedang menghubungi istrinya.
"Maaf, maaf gak sengaja," ujar Gina sebelum tahu yang bertabrakan dengan dirinya adalah dr. Fahmi.
"Kamu gak papa. Maaf tadi saya kurang fokus." Gina mengangkat wajah dan bertatapan dengan Fahmi. "Loh kamu 'kan?"
"dr. Fahmi? Iya saya Gina, temannya Mira. Sekali lagi maaf dok, sungguh saya yang teledor."
"Gak papa, gak papa. Kamu di sini karena ada keperluan atau ada yang sedang di rawat?"
Gina menepuk jidat.
"Dok, Mas Dion itu adik dokter kan? Dia lagi diinfus di IGD."
"Loh kok bisa?" Fahmi mengerutkan kening.
Iya tadi Mas Dion pingsan saat di kantor. Demamnya juga tinggi," jelas Gina seraya berjalan menunjukkan di mana Dion di rawat. Padahal tanpa ditunjukan pun Fahmi sudah tahu arah IGD di mana.
"Terima kasih ya," ujar Fahmi saat dia akan masuk ruangan untuk melihat kondisi adiknya.
"Dok," sapa perawat yang melihat kedatangan Fahmi.
"Demanya sudah turun?" Fahmi bisa saja memeriksa sendiri keadaan Dion. Akan tetapi menghargai etos kerja rekan sajawatnya jauh lebih penting.
"Padahal dokter bisa memeriksanya sendiri," ujar dokter yang bertugas di IGD membuat Fahmi tertawa pelan. "Demamnya sudah mulai turun tadi sih mencapai 40,6°c dok. Sekarang masih dalam pengaruh obat agar dia istirahat."
"Baiklah teeima kasih, kabari saya jika dia harus di rawat."
Fahmi pamit dan kembali ke ruang prakteknya. Sebelumnya dia berpapasan dan mengangguk pada Gina.
Suster memberi tahu Gina kalau Dion sudah siuaman. Kelas dia masuk mengikuti petunjuk perawat.
"Hai," sapa Gina saat dirinya kini berhadapan dengan Dion. Pria yang tidak sengaja masuk ke dalam hati dan pikirannya.
"Kayak baru pertama kali bertemu aja," ujar Dion seraya melambaikan tangan meminta Gina mendekat. Tidak apa-apa kan berdekatan, toh tak jauh dari mereka masih ada suster. Kayaknya setan gak bakal mampir dan menggoda Dion.
"Makasih ya sudah bawa aku ke sini," kaga Dion lagi saat Gina sudah berada di jarak dekat.
"Bukan hanya aku kok yang bawa. Ada sopir kantor dan Mas Abim juga yang membantu."
"Tapi kamu yang menemani aku di sini, makasih ya."
"Aku juga minta maaf atas tindakan Bang Gava kemarin."
__ADS_1
Dion pura-pura mengingat sesuatu.
"Luka lebam di wajah Mas Dion itu gara-gara dipukul bang saya 'kan?" Gina melanjutkan ucapannya.
"Ooohhh yang kemarin itu abang kamu. Aku pikir itu malah pacar kamu," kekeh Dion, "gak papa. Wajar kok seorang kakak mengkhawatirkan adeknya. Coba deh kamu bayangkan kalau kamu punya adek yang sedang menunggu kamu menjemput dia. Terus dia ketiduran dan di dekatanya ada seorang pria yang melepaskan jas. Mungkin kamu akan berpikir hal yang sama atau juga melakukan hal yang sama. Ya kan?"
Gina mengangguk setuju, "tapi tetap saja yang namanya main pukul tanpa tahu mana yang benar dan mana yang tidak itu tidak dibenarkan. Apalagi gara-gara pukulan itu Mas Dion jadi demam."
Ah Dion jadi bersyukur dengan keadaan ini. Berkat dua kali kehujanan hari kemarin dia bisa ngobrol dengan Gina lagi. Mungkin kalau tidak ada kejadian ini mereka tidak akan pernah saling mempedulikan lagi.
"Permisi, Pak, Bu, kota cek dulu sebatas ya," ujar perawat yang menghampiri mereka. "Demanya sudah turun, dan bisa dirawat di rumah ya."
"Jadi gak perlu do rawat di sini, Sus?" tanya Gina.
"Tidak peru, hanya tinggal istirahat yang cukup dan dan menjaga pola makan yang sehat. Saya permisi dulu ya."
Setelah melunais administrasi, mereka pun pulang menggunakan tak online. Ingat Gina tidak bisa mwmbawa kendaraan sendiri sedangkan motor milik Dion masih ada di tempat parkir kantor.
"Gak kasih kabar sama dr. Fahmi dulu?" tanya Gina saat taksi online mera datang dan siap mengantarkan mereka ke apartemen Dion.
"Nanti aja aku telepon dia. Lagi pula ini jadwal dia praktek," sahut Dion seraya memejamkan mata merasakan tubuhnya yang masih lemah.
Gina membantu Dion sampai ke apartemen. Dia cukup takjub melihat apartemen milik Dion yang rapih untuk ukuran laki-laki. Barang-barang tertata rapi, terutama tidak ada pakaian kotor yang tergeletak sembarangan.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Gina setelah membantu Dion berbaring di sofa.
"Oh ya Mas Dion belum makan siang kan, aku pesanan makanan ya."
Yang di tanya tidak menjawab.
"Mas, aku pesanan makan siang ya." Gina mengulang ucapannya.
Bukan jawaban yang Gina dengar melainkan dengkuran halus dari seorang Dion. Akhirnya dia memesankan makanan yang teksturnya tidak terlalu keras. Dia menunggu sampai makanan dagang. Lagi pula kalau kembali ke kantor dirinya juga sudah izin tadi.
Lama menunggu tanpa melakukan apa pun membuat Gina ngntuk dan memejamkan mata. Akan tetapi bunyi bel membuatnya mengerjap dan lekas membuka pintu.
"Pesanan atas nana Bu Gina?"
"Iya saya sendiri, Pak. bayarnya online ya, Pak."
"Siap, Bu. permisi."
Gina menyajikan makanan itu kedalam print dan menatanya di meja dekat Dion berbaring saat ini.
__ADS_1
"Mas ... Mas Dion! Bangun, kan harus minum obat."
Dion menggeliat dan menyipitkan mata. Mengumpulkan seprihan nyawa yang sempat berhambur ke alam mimpi.
"Loh kamu gak kembali ke kantor? Maaf ya gara-gara saya kamu jadi bolos kerja."
"Udah izin kok. Dimakan gih, terus minum obat ini." Tak lupa Gina menyiapkan obat yang harus diminum oleh Dion setelah makan. "Aku gak bisa lama-lama di sini, takutnya jadi fitnah." Gina menyamampirkan tas miliknya dan bersikap pulang.
"Gak makan siang dulu. Makanannya banyak baget, aku gak bakal sanggup menghabiskannya sendiri."
Dion berharap bisa lebih lama lagi dengan Gina. Sayangnya perempuan itu menolak dan tetap pulang.
"Aku sudah makan siang tadi di kantin rumah sakit. Kalau tidak habiskan bisa di simpan di kulkas, nanti bisa dihangatkan lagi pas mau makan. Jangan lupa obatnya diminum. Aku pulang ya," ujar Gina dengan tangan yang meraih handle pintu.
Helaan nafas panjang terdengar dari Dion. Dia bukan siapa-siapa jadi tidak bisa menahan Gina meskipun dia menginginkannya.
Ponsel di saku celananya berdering. Ternyata Fahmi yang menghubungi dan menanyakan keberadaannya.
"Aku sudah kembali ke apartemen."
"Iya ini juga baru bangun dan mau minum obat "
"Enggak modus tapi memang keberuntungan."
"Iya, datang aja."
Panggilan berakhir. Dion melanjutkan makan dan meminum obatnya. Setelah itu dia kembali merebhakn tubuh agar cepat pulih.
Rencananya nanti sore dia kaan mengunjungi Nafa kalau tubuhnya sudah sehat.
***
Selesai dengan prakteknya dokter Fahmi kembali ke ruang IGD. Saat tiba di sana suster memberitahu kalau Dion sudah pulang dan tidak perlu di rawat di rumah sakit.
Dia pun menghubungi Dion.
"Dion kamu di mana?" tanya Fahmi mengawali percakapan mereka.
"Oh ya sudah. Aku pikir kamu masih di rawat. Istirahat yang cukup dan jangan lupa ovatnya diminum."
"Lagian kamu kayak anak remaja lagi jatuh cinta aja pakai acara modus segala."
"Halah bisa aja kamu. Ya sudah istirahat gih, nanti sore aku sama Mira ke sana. Sekalian bawa anak-anak jalan-jalan."
__ADS_1
Setelah menutup panggilan Fahmi berniat kembali ke ruang kerja miliknya. Namum skeila dia melihat orang yang motif dengan Nafa tengah berjalan menjauh darinya.
"Apa Nafa sudah dibebasakan?" gumam Fahmi.