Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Dion Nekat?


__ADS_3

Perilaku baik akan tiada setelah kita melakukan kesalahan. Kebanyakan akan fokus pada kesalahan yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan kebaikan itu sendiri. Seperti citra buruk yang menempel pada nama Almira. Sebelum dia melakukan kesalahan, dia di pandang sebagai gadis baik, pintar dalam akademi, tidak banyak menuntut lada orang tua. Tetapi semua padang berubah. Sekarang yang dipandnag adalah Mira si perempuan tidak baik. Simpanan om-om. Padahal semua itu tidak benar.


Assalamualaikum ustadzah, boleh saya main ke pondok?


Mira mengirim pesan pada guru ngajinya. Bukan ingin menghapus citra buruk dirinya di mata orang lain. Akan tetap dia butuh orang yang bisa menenangkan dirinya.


Kan ada Fahmi? Mira tidak ingin menambah citra buruk pada dokter itu. Semakin dia dekat dengan Fahmi makan akan semakin banyak tuduahn pada keduanya.


Waalaikum salam, Dek Mira. Silahkan mampir, saya sedang tidak ada kesibukan.


Mira akan pulang dulu ke rumah Fahmi baru ia akan izin pergi ke pondok guru ngajinya. Fahmi menawarkan diri untuk mengantarnya, tapi Mira menolak dan memilih menggunakan taksi online.


kedatangan Mira disambut langsung oleh orang yang dituju. Pelukan hangat langsung ia terima dari perempuan yang sangat santun dalam bicaranya. "Ayo masuk, kita minum dulu. Pasti Dek Mira capek ya."


Mira mengangguk dan mengikuti langkah sang guru ngaji, Umi Rohimah. Mereka duduk di sebuah bale di bawah pohon yang rindang. Tawa anak-anak yatim yang sedang berminat menjadi melodi indah yang menemani sorenya Mira.


Kenapa harus kembali mengeluh. Lihatlah di sana ada bayak anak yang tidak seberuntung dirinya. Diantara merka bahkan ada yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibu yang melahirkannya. Mereka tetap tersenyum sebagai bukti syukur kepada pencipta-Nya.


Sentuhan di pundak membuat Mira menoleh dan tersenyum.


"Senang ya, Mi, jadi anak kecil. Tidak merasakan beratnya beban hidup."


Perempuan yang dipanggil umi itu tersenyum. "Kamu juga dulu begitu, Nak. Bahkan mereka tidak seberuntung kamu. Kamu memiliki ayah, ibu, kekayaan. Sedangkan mereka?"


Mira berkaca-kaca.


"Menangislah, berikan apresiasi pada kesedihan. Jika menangis bisa mengurangi beban yang menghimpit, menangislah. Tetapi jangan membuatmu lemah, Nak."


"Aku elah, Umi. Aku sudah dibuang karena kesalahanku. Menanggung kehamilan seorang diri, orang-orang mengolokku, menghinaku. Pria itu tidak mau bertanggung jawab. Ancaman-ancaman itu membuatku lelah, Mi."


Usapan pada punggung yang seharusnya menenangkan malah membuat Mira semakin tersedu. "Aku harus gimana, Umi, aku capek."

__ADS_1


Umi Rohimah mengangkat wajah Mira, menghapus jejak air matanya. Memberikan kecupan hangat pada keningnya. "Bertahanlah, Sayang. Kamu orang pilihan yang Allah uji. Allah tengah merindukanmu. Ia ingin dekat denganmu. Datanglah selalu kepadanya. Temui Ia ditengah kebanyakan orang yang tengah terlena oleh mimpi. Baca kalam-Nya disitu kamu akan menemukan solusinya. Kamu tahu kisah perempuan saliha yang tidak tersentuh pria manapun tetapi beliau hamil? Apa yang dia lakukan ditengah gujingan tajam yang dilemaparkan orang-orang padanya. Beliau puasa bicara. Percuma bicara karena orang yang alergi pada kebenaran tidak akan mau medengarnya."


"Aku beda sama beliau, Mi."


"Ya memang beda. Tapi kamu bisa mencontoh cara yang dilakukan beliau. Diamkan mereka. Tidak perlu menjelaskan karena mereka akan lelah sendiri. Tutup telingamu, buka untuk mendengar yang baik-baik saja. Cara terbaik membungkam mereka adalah dengan menunjukan perubahan terbaikmu, Nak."


Umi Rohimah memberikan senyum hangat pada Mira. Memeluknya dengan kasih sayang. Merasa iba pada anak berusia 19 tahun ini.


"Tadi abah mengambil bersama anak-anak penan ikan di kolam pondok. Mau bantu umi memasaknya?"


Mira menyeka sudut matanya kemudian mengikuti langkah Umi Rohimah ke dapur.


Sampai adzan maghrib berkumandang Mira belum kembali ke rumah Fahmi. Ponsel yang tidak bisa dihubungi membuat Adelia dan Fahmi cemas. Khawatir terjadi sesuatu pada perempuan itu. Fahmi juga menghubungi pondok tapi kata mereka Mira sudah pulang sejak pukul lima tadi.


Fahmi melacak ponsel Mira menggunakan titik kordinat. Tapi terkakhir ada di pondok.


"Mas gimana kita lapor polisi?" usul Adelia.


Dia juga meminta sopir untuk membantu mencari Mira.


Dua mobil keluar dari gerbang rumah Fahmi. Mereka menyisir jalanan dan taman kota. Mengunjungi tempat yang sekiranya akan dikunjungi oleh Mira.


Adelia menunggu di rumah dengan perasaan tidak tenang. Pikirannya terus tertuju pada Dion. Bisa jadi Mira hilang karena Dion. Dia langsung menghubungi nomor kakaknya. Panggilan pertama tidak diangkat, kedua dan ke tiga pun sama. Entah pada panggilan yang ke berapa barulah terdengar jawaban dari seberang sana.


"Dimana, Kak Mira?" tembak Adelia.


"Kamu gila apa kamu menghubungi nomor suami saya hanya demi menanyakan perempuan hamil itu." Ternyata panggilan diangkat oleh Nafa. "Memangnya dia punya hubungan dengan Dion hah?"


Adelia langsung mematikan sambungan. Harusnya dia memastikan dulu kalau ia bicara dengan Dion. Sekarang bisa jadi perang dunia ke tiga di rumah sana.


Dion yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung mendapat tatapan tajam dari Nafa. Istrinya masih menggenggam ponsel miliknya. Dion menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Barusan adikmu telepon. Dia menanyakan perempuan hamil itu padamu. Memangnya kamu terikat apa dengan dia?"


Deg.


"Apa maksud kamu? Jelaskan biar aku paham."


"Jangan bohong Dion. Kamu memilki hubungan kan dengan perempuan hamil itu. Kemarin tidak lama setelah perempuan itu beranjak, kamu juga beranjak. Kamu menyusulnya? Iya?" bentak Nafa.


"Enggak. Aku ke kamar mandi. Aku gak ada urusan sama dia."


"Terus maksud adikmu menenanyakan dia apa? Kalau tidak ada sesuatu gak mungkin dia menghubungimu tiba-tiba."


"Mana kutahu." Dion melengos mengambil pakaian dan menggunakannya. Dion memaki adiknya dalam hati. Itu tandanya sang adik memang mencurigainya.


Selesai memakai pakaian dia menatap istrinya yang belum berubah dari posisi semula. "Masih ada lagi?" tanya Dion.


"Ya, tidak mudah mempercayai seorang pembohong Dion." Nafa menatap sinis pada suaminya.


"Gila kamu, main tuduh-tuduh aku seperti itu." Dion mendekati meja rias dan menyisir rambutnya.


"Terus apa yang kamu lakukan saat beberapa bulan yang lalu kamu pulang ke indonesia. Pekerjaan? Pekerjaan apa memangnya? Jangan pikir aku bodoh Dion."


"Terserah kamu mau bicara apa pun. Itu kan kebiasaan kamu." Dion mengelak dan meninggalkan istrinya.


Ketenangan hidup Dion semakin terganggu. Selain karena Mira sekarang adiknya pun sudah mulai mencurigai dia. Tidak menutup kemungkinan, esok, lusa rahasianya akan terbongkar.


Pikiran jahat selalu mendominasi otak Dion. Dia tidak ingin kehilangan apa yang saat ini dia genggam padahal semua itu hanya titipan. Jika ancaman tidak lagi berguna maka tindakan harus bekerja.


Permintaan Mira yang mengatakan dirinya akan diam kalau Dion diam itu tidak bisa dipercaya oleh Dion. Lihat sekarang perempuan itu sudah menggunakan Fahmi untuk menjadi pelindungnya.


Kalau dia terlambat menyingkirkan Mira dan rahasia terbongkar lebih dulu maka dirinya yang akan hancur.

__ADS_1


Dion nekat?


__ADS_2