Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Akibat Kebodohan Sendiri


__ADS_3

Setelah mengantar Dion dan istrinya pulang sampai ke pintu, Adelia langsung mengadukan kecurigaannya terhadap Dion pada Fahmi. Rasanya dia sudah gatal untuk menahan agar tidak bicara. Meski ragu karena tidak memilki bukti dia tetap bercerita.


Fahmi terlihat santai saat menanggapi aduan dari sang adik. Lelaki itu hanya tersenyum saat Adelia bercerita dengan semangat yang menggebu. Menceritakan kgagalannya menyelidiki Dion. "Kamu itu bukan detektif, wajar kalau kamu gagal terus," kekeh Fahmi. "Lagian cita-cita kamu kan bukan jadi intel." Lelaki itu masih saja tertawa.


"Mas kok santai banget disaat aku merasa panik. Gimana kalau ternyata kecurigaan aku itu bener. Bang Ion yang menghamili kak Mira. Atau jangan-jangan, Mas Fahmi sudah tau ya."


"Menurut kamu gimana?"


"Tau ah, malah main tebak-tebakan. Aku ke kamar dulu."


Tak lama terdengar notifikasi dari ponsel Fahmi. Adelia mengirimkan foto dirinya dan Mira yang tengah membujuk Syafa kala itu. Ia tersenyum kemudian meneruskan foto tersebut ke nomor yang hanya dinamai menggunakan ?


Sepeninggal Adelia, Fahmi masih menikmati tayangan bola. Dia melihat Mira keluar dari kamar. Langkah perempuan itu sudah tak segesit waktu pertama kali di bawa ke rumah. Fahmi salit dengan banyaknya perubahan dari diri perempuan itu. Senyum ceria selalu menghiasi wajahnya sekarang.


"Tinggal menunggu waktu saja," gumam Fahmi.


***


Hujan di hari libur memang lebih nikmat digunakan untuk uyel-uyelan dengan orang tersayang di bawah selimut.


Fahmi yang sudah bangun sejak subuh memilih berkeringat dengan berolah raga di ruang Gym. Di temani Syafa yang merajuk ingin jalan-jalan.


"Habis ini ayah mandi, aku mau jalan-jalan," teriak Syafa dari sofa tunggu di ruang Gym.


"Hujan, Nak. Kan minggu kemarin sudah." Fahmi masih berlari di atas treadmill.


"Ayah gak seru, aku mau ajak Kak Mira saja. Dia baik tidak pernah menolakku." Syafa turun dari sofa dan menghampiri Mira yang tengah menyetrika.


Mira yang merasa tidak enak saat diperlakukan berbeda dengan pekerja lain. Dia pun berinisiatif mengerjakan apa yang dia bisa. Yang penting dia tidak makan gaji buta.


"Kak Mira." Syafa datang dan langsung meluk kaki Mira yang tengah berdiri.


Mira mematikan lebih dulu sertikanya lalu mensejajarkan tubuhnya dengan Syafa, menyambut dengan senyum kemudian bertanya, " Kenapa lari-lari lagi? Kan Kak Mira sering bilang agar jangan lari-lari."

__ADS_1


Di belakang anak itu terlihat Fahmi mengikuti dengan kaos yang melekat ditubuhnya karena basah oleh air keringat. Seksi.


"Aku mau main tapi ayah bilang gak boleh." Syafa mengadu pada Mira. Tangan anak kecil itu sibuk mengusap air mata yang bejatuhan.


"Memangnya mau main apa? Nanti Kak Mira temani main setelah pekerjaan Kak Mira selesai ya."


"Mau ke Zoo. Kasih makan jerapah. Teman-temanku bilang di sana rame. Mereka pergi dengan ayah ibunya. Aku hanya punya ayah, tapi ayah juga melarang."


"Kalau gak ujan pasti ayah gak akan melarang. Main di rumah sama kak Mira ya?"


"Ayah takut aku sakit? Ayah kan dokter."


Mira hanya mengangguk dan mengusap pucuk kepala Syafa.


Matahari mulai terlihat. Hangat mulai dirasakan dan angin telah menyapu awan di langit. Jejak basah masih terlihat. Syafa bersorak karena akhirnya Fahmi mau menemani dia bermain ke kebun binatang.


Mira ditawari ikut karena sudah satu minggu tidak keluar rumah. Setidaknya dia harus melihat dan merasakan suasana lain agar tidak bosan. Adelia sudah jelas pasti ikut pun dengan mbak Santi.


Syafa kembali bersorak saat sudah turun dari mobil. Dia bahkan loncat-loncat kecil karena saking girangnya. Besok dia akan punya cerita yang sama dengan teman-temannya di sekolah. Anak itu terus berceloteh dan terus bertanya pada sang ayah untuk menjawab keingintahuannya.


Santi dan Mira langsung merapat sedangkan Adelia tengah mengatur kamera. Mencari letak yang pas untuk mengambil gambar.


Sekelompok anak muda yang berpasang-pasangan tidak sengaja menyenggol Mira. "Sorry, sorry," kata pemuda itu. Otomatis teman-temannya yang lain juga menghentikan langkah.


"Mira?" ternyata dalam sekelompok anak muda itu ada teman sekelas Mira. Namanya Hana, orang yang pernah memergoki Mira tengah mengusap perut saat ujian semester. "Lo Mira kan?"


"Hana?"


Refleks tangan Hana langsung kenyentuh perut Mira. Sungguh tidak sopan. Jaman sekarang sedikit sekali anak muda yang menggunakan adab dalam setiap tindakan. Mira langsung menepis tangan itu. Merasa risih.


"Lo hamil?" Sudah tahu masih juga nanya. "Kan harusnya lo masih senang-senang kayak kita. Tunggu, lo hampir di luar nikah?"


"Jangan sembarangan ya kalau bicara." Adelia menyela ucapan Hana. "Dia punya suami, tuh suaminya." Adelia menunjuk Fahmi yang tengah menggandeng Syafa.

__ADS_1


Maksud Adelia membela tapi malah semakin menjadi bahan olokan bagi Hana. Perempuan itu tertawa dan mengejek. "Oh simpanan om-om. Pantes sih kan lo anak kurang perhatian. Jadi butuh belaian-belaian hangat ya kan?"


"Sudah?" tanya Mira menatap tajam pada Hana. "Ini urusanku, bukan urusanmu. Kupikir tindakanku tidak merugikan kamu. Hanya aku yang rugi kan? Terima kasih sudah perhatian." Mira meninggalkan mereka dan menyusul Fahmi yang sudah jauh beberapa langkah dari mereka. Tidak jadi mengambil foto. Masih Mira dengan ejekan dari teman sekelasnya. Dia berusaha menulikan telinga tapi tetap saja perasaannya tidak mampu dikelola dengan baik.


Dia mampir ke kamar mandi untuk membasuh wajah yang memerah. Rasa sesal kembali menyergapnya. Selalu ada kata seandainya dalam setiap penyesalan. Andai aku tidak terbuai, andai aku tidak bodoh, andai aku tidak mudah percaya. Seandainya, seandainya, dan seandainya.


Saat keluar dari kamar mandi, senyum Fahmi menyambutnya. "Nangis?" tanya laki-laki itu.


Mira tidak mengelak, karena jelas mata dan hidungnya memerah.


"Masih ingatkan perkataan saya tempo lalu? Gunakan kedua tangan untuk menutup telinga, gunakan untuk menutup mata. Jangan biarkan perkataan mereka mempengaruhi kita. Kamu perempuan hebat. Setelah kamu melakukan kesalahan kamu berusaha memperbaikinya."


Mira mengangguk dan memaksa bibirnya untuk kembali tersenyum. "Sudah ayo," ajak Mira lebih dulu melangkah ke arah Syafa dan Adelia juga Santi yang menunggu. "Ayo jalan lagi," katanya sambil menggandeng Syafa.


Hana tidak salah, Mir. Jangan sampai membencinya ya. Dia hanya melihat dari jauh dan mengatakan apa yang dia lihat saja.


Mira bermonolog dalam hati.


Puas berkeliling dan memberi makan satwa, Syafa mengeluh capek. Beberapa kali anak itu menguap. "Masih mau main apa mau pulang?" tanya Mira.


"Pulang," jawab Syafa lemah.


"Kenapa, Dek?" tanya Fahmi menghampiri.


"Syafa ngantuk, Dok. Katanya pulang saja."


"Oh ya sudah, sini ayah gendong." Fahmi meraih tubuh sang anak. "Pulang aja ya," katanya pada Adelia, Mira dan Santi.


"Ya." Jawaban serempak dari merka bertiga. Saling menoleh lalu tertawa.


Mira berjalan di belakang Fahmi menuju mobil, karena langkahnya tidak secepat Adelia lagi.


"Woy *****!"

__ADS_1


Mira menoleh pada arah yang berteriak. Ternyata kelompok Hana. Sudah pasti teriakan itu ditujukan pada dirinya. Mira menghela nafas kemudian masuk ke dalam mobil. Duduk di kabin belakang dan memejamkan mata.


__ADS_2