
Mira tidak langsung beranjak dari duduknya. Dia merasakan ketenangan saat berada di dalam masjid. Ia juga mendengarkan beberapa anak kecil yang tangah membaca Al-Quran didampingi oleh orang dewasa. Bacaan mereka sungguh fasih membuat Mira merasa malu. Hafalan Mira hanya sebatas surat-surat pendek saja.
"Kamu akan tumbuh lebih baik dibanding Ibu, Sayang. Ibu akan berusaha membesarkan kamu dengan penuh kasih sayang. Ibu akan berusaha memenuhi kebutuhan kamu tanpa mengabaikan kasih sayang. Ibu akan berusaha memberikan yang terbaik meskipun nanti kita tidak berhasil menemukan ayah bilogismu. Bantu Ibu ya, Sayang." Mira bicara dalam hati sambil mengusap perutnya.
Dia menatap ponsel yang sudah ia non-aktifkan sejak keluar dari rumah orangtuanya. Terbit pertanyaan apakah mereka mencari dirinya atau tidak? Apakah mereka mengkhawatirkan keadaannya atau tidak?
Setelah salat isya Mira baru keluar dari masjid. Dia berjalan di trotoar dan menatap sekumpulan anak muda sesusia dirinya yang tengah tertawa bersama. Membandingkan hidup dirinya dengan mereka yang tentunya tidak sama
Mira duduk di sebuah halte sampai sebuah mobil berwarna putih berhenti di depannya.
***
Menjalani peran ganda sebagai ayah juga ibu ditambah bekerja membuat Fahmi kewalahan. Apa lagi pekerjaan sebagai seorang dokter. Dia harus pandai membagi waktu untuk putrinya juga pekerjaannya.
Anak perempuannya yang masih berusia empat tahun kadang selalu meminta perhatian lebih darinya. Seperti sore ini, dia belum habis shift kerjanya tapi Adelia-adiknya terus menghubungi. Mengatakan kalau Syafa terus merengek dan menolak makan.
"Mas bisa pulang cepet kan? Aku kewalahan, begitu juga dengan para mbak."
"Kamu coba tenangkan dia, ajak ke taman bermain. Mas gak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja. Ini berkaitan dengan profesional pekerjaan. Mas akan segera pulang saat jam kerja selesai. Sudah ya Mas harus praktek dulu."
Fahmi menatap langit-langit sambil membuang nafas. "Begini banget nasib jadi duda beranak," kekehnya.
Perawat yang mendampinginya memberi tahu kalau sudah waktunya dia praktek. Dia memakai kembali jas kedokteran dan menuju ruang praktek. Meminta suster memanggil satu persatu pasien sesuai nomor pendaftaran.
Melayani dengan sepenuh hati, serta tak pernah melepaskan senyum saat menanyakan keluhan. "Sudah berapa lama keluhannya dirasakan, Pak? bertanya pada lelaki yang usianya 50 tahun dan didampingi oleh anak permpuannya.
"Sudah lama dok, sepertinya ini penyakit hati," jawab si pasien.
"Sudah pernah dipastikan sebelumnya?"
__ADS_1
"Belum, tapi saya yakin ini penyakit hati. Soalnya sering terasa sakit saat anak saya menolak dijodohkan. Padahal dia sudah pantas untuk menikah." Jawaban pasien itu menggelitik hati Fahmi juga suster yang menemaninya. "Dokter sudah menikah belum?"
"Sudah. Baik kita periksa dulu ya silahkan berbaring di sana! Sus tolong dibantu."
Setelah melakukan pemeriksaan Fahmi menyarankan agar si pasien tetap menjaga pola makan dan beristirahat cukup. Selian itu dia pun menuliskan resep obat yang harus dikonsumsi.
"Ingat Pak, jangan lupa bersyukur. Itu akan membantu bapak lebih cepat sehat."
"Oh sudah selesai, Dok?"
"Sudah, silahkan kebagian farmasi untuk mengambil obatnya. Saya sudah mengirimnya ke sana."
"Dokter tidak mau menikahi anak saya?" tanya si pasien lagi dan hanya ditanggapi dengan senyum.
"Bapak," protes anaknya. "Maafkan bapak saya ya, Dok. Kami permisi dulu." Mereka pamit dan mengangguk sopan di balas hal serupa oleh Fahmi juga perawat.
"Ada-ada saja ya, Dok. Kalau soal dinikahi dokter saya juga mau," canda perawat.
Fahmi melakukan hal yang sama sampai pada pasien terkakhir. Setelah selesai dia mencuci tangan dan kembali ke ruangan kerja. Menulis laporan pekerjannya. Bersiap pulang untuk menemui putrinya.
Sudah jam sembilan malam pasti putrinya sudah tidur. Dia pun menghubungi sang adik dan bertanya meminta dibawakan apa. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaannya.
Di jalan dia mampir di sebuah masjid untuk melaksanakan salat isya. Tapi seorang perempuan yang duduk di halte seorang diri menarik perhatiannya. Perempuan itu seperti menatap kosong. Ah biarlah dia menunaikan kewajibannya lebih dulu. Sampai dia kembali ke mobil perempuan itu masih ada di sana.
Fahmi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia perhatikan lagi perempuan yang diperkirakan seumuran dengan adiknya. Menghentikan mobil di depan perempuan itu dan membuka kaca mobil.
"Kenapa malam-malam duduk di halte seorang diri, Dek?" tanya Fahmi.
"Lagi nunggu kendaraan umum lewat, Om," jawab Mira.
__ADS_1
Fahmi turun dari mobil dan menghampiri Mira. "Memangnya mau kemana? ini sudah malam. Tidak baik seorang perempuan masih di luar rumah di atas jam sembilan malam. Apa lagi adek tidak ditemani orang dewasa. Di mana rumahnya, mari saya antar."
Mira menatap ragu pada pria dewasa yang tiba-tiba menawarkan diri. Dia takut kejadian dengan Dion terulang kembali.
Melihat Mira yang tampak ragu, Fahmi menunjukan identitasnya. "Saya seorang dokter. Saya menawarkan untuk mengantar pulang karena saya memiliki adik seumuran kamu. Saya takut adik saya mengalami hal seperti kamu. Semoga kebaikan ini jadi kebaikan untuk adik saya."
Mira menghela nafas, "saya tidak punya rumah, Dok. Saya sudah membuat orang tua saya marah dan akhirnya saya berada di sini."
Fahmi bisa menangkap maksud Mira. "Kalau begitu ikut saya dulu. Besok kamu bisa mencari tempat tinggal untuk kamu. Jangan takut insyaallah Allah niat saya tulus."
Melihat sekitar yang mulai sepi, Mira pun memilih ikut dengan pria yang mengaku sebagai dokter. Yang penting untuk malam ini dia bisa mengistirahatksn tubuhnya.
Mira dipersilahkan duduk dikabin tengah, untuk menghindari pikiran buruk bahwa Fahmi akan berbuat yang tidak-tidak. Dia melakukan itu murni karena sifatnya yang memilki rasa empati yang tinggi.
Mobil memasuki komplek perumahan elit. Dimana tetangga tidak ikut campur urusan penghuni lainnya. Kebanyakan penghuninya terkesan acuh dan sibuk dengan urusan pribadinya masing-masing.
"Ini tempat tinggal saya dan keluarga. Ayo turun," ajak Fahmi ketika mobil sudah memasuki garasi dan berhenti dengan baik.
Adelia yang mendengar deru mobil langsung membukakan pintu untuk kakaknya. Dia mengarutkan kening saat melihat ada seorang perempuan di belakang kakaknya.
"Assalamualaikum." Fahmi mengucap salam dan dijawab oleh Adelia.
"Kok bawa perempuan sih, Mas. Masih muda lagi," bisik Adelia.
"Pikirannya dikontrol ya. Oh ya kenalkan ini Dek Mira, Dek Mira ini Adelia adik saya."
Adelia dan Mira saling pejabat tangan dan mengulang menyebutkan nama mereka.
"Ayo masuk, Kak Mira," ajak Adelia.
__ADS_1
Meski merasa sungkan Mira tetap melangkah mengikuti si pemilik rumah. Dia dipersilahkan duduk di ruang tamu dan Fahmi meminta pelayan menyiapkan kamar untuk tamunya. Tak lupa Mira disuguhi minum lebih dulu.