Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Silvi


__ADS_3

Ardan menikmati perjalanan panjangnya malam ini bersama sopir dan asistennya. Hatinya berdebar tak karuan saat akan bertemu sang anak. Terakhir mereka bertemu ya saat Mira diusir karena dua hari setelhnya Ardit memutuskan untuk kembali ke pondok.


Bagi Ardit pondok adalah tempat tinggal yang paling nyaman. Ia tidak perlu merasa insecure karena keluarganya tidak utuh. Sebab beberapa anak pondok pun mengalami hal serupa hanya beda cerita.


Pertama dengan Ardit jauh lebih menegangkan dibandingkan Ardan harus bernegosisi dengan pembisnis lain.


Perpisahan yang tak enak apa akan menghadirkan pertemuan yang membuat haru. Bolehkah Ardan berharap kalau Ardit akan menerimanya sebagai ayah lagi. Memaafkan sikap lalainya pada mereka. Lagi-lagi Ardan berpikir apa dirinya oantas mendapatkan maaf dari anak-anaknya.


Tidak terasa perjalanan panjang itu membawa Ardan tiba di kota tujuan. Ia hanua tinggal mengemudikan mobil beberapa km lagi maka ia akan bertemu putranya.


Karena hari sudah sangat malam dan ketiga merasa lelah setelah 9 jam berkendara, mereka memilih mencari tempat untuk segera beristirahat. Masih ada beberapa jam lagi untuk menuju pagi. Sepertinya cukup untuk membuang lelah.


Arisan senagaja tidak mengabaikan kedatanagannya pada Ardit. Berharap ini menjadi kejutan baik yang akan dikenang oleh putranya.


Saat adzan subuh berkumandang, Adran sudah rapih dan siapa berangkat. Usai menghabiskan waktu 3 jam dalam perjalanan akhirnya mereka sampai.


Ardit yang tengah bersiap menunggu giliran dirinya dipanggil. Ia mengintip di antara kerumunan itu adakah orang tuanya. Sayangnya tidak ada. Sampai dirinya tampil ia tidak melihat satu pun keluarganya.


Pembawa acara mulai mengumumkan siapa yang menjadi pemenang. Ardit dipanggil pertemanan karena dirinya juara ketiga.


Kecewa itu ada, Ardit kan sudah tahu bagaimana keadaan keluarganya apalagi orang tua yang sudah tidak utuh. Hanya saja ia terlalu berharap.


"Dit selamat ya, kita bangga kamu sudah menjadi wakil pondok," kata teman-teman Ardi yang datang mendukung.


"Alhamdulillah, walaupun maunya jadi juara pertama," kekeh Ardit.


"Ya lumayan juara tiga juga, daripada kita-kita gak masuk final sama sekali."


Acara sudah bubar dan mereka bersiap untuk pulang bersama rombongan.


"Ardit," teriak Ardan saat Ardit akan naik mobil.


"Papa?" Ardit urung naik dan menghampiri ayahnya.


"Maaf papa tadi gak bisa masuk jadi papa nunggu di luar."


Ardan meminta izin pada guru Ardit untuk membawa paketnya sebentar. Sebenarnya kejutannya sudah gagal sebagai gantinya Ardan mengajak putranya untuk makan malam.


Mereka juga melakukan video call dengan Mira.

__ADS_1


"Woooaahh adiknya ibu tampan sekali," ucap Syafa setelah perkenalan dengan Ardit.


"Iya, tapi ... emmm tapi ... lebih tampan papaku," kata Gama yang ikut bicara.


"Oh ya?" tanya Ardit.


"Iya, kalau aku sudah besar aku om mau gak jadi pacar aku?" Syafa tersenyum malu-malu.


"Hey kata siapa itu?" tanya Mira yang kaget mendengar ucapan Syafa.


"Kata teman-temanku."


"Syafa tahu pacar itu apa?"


"Enggak."


Oh ya ampun obrolan anak-anak jaman sekarang ngeri juga ya. Anak TK sudah tahu pacar, entah mereka mengerti atau tidak.


"jadi juara, Dit?" tanya mira.


"Juara, Kak. Walaupun juara tiga,"


"Aman, tapi pinggang papa yang gak aman."


***


Tidak ada pohon yang tumbuh tinggi lolos dari terpaan angin. Seperti itu juga kebahagiaan Mira dengan Fahmi. Di tengah kebahagiaan ada seseorang yang tidak menyukai kebahagiaan itu.


Silvi. Dia benci ketika Fahmi tertawa bersama Mira dan bukan dirinya.


Ditengah kemelut oraknya yang terus memikirkan ingin menghancurkan kebahagiaan Mira ia pulang ke rumah orang tuanya.


"Tumben kamu ke sini?" ia bertanya pada Hana.


"Jengukin om dan tante. Kan mereka juga yang membesarkan aku. Emangnya kamu, pergi gak pulang-pulang. Sekarang pulang bawa kaba apa lagi?" Nikah lagi atau cerai lagi?"


"Enak banget ya tu mulut kalau ngomong." Silvi hendak menjambak rambut adik sepupunya.


"Sudah-sudah. Kalian itu kalau bertemu selaku saja ribut. Kamu masih ingat jalan pulang, Sil?"

__ADS_1


"Kalau enggak ingat ya aku enggak di sini, Bu. Ibu sehat?"


"Kalau gak sehat tante di rumah sakit kali," ujar Hana.


"Sudah-sudah ayo makan dulu makan. Mumpung masih anget biar nanti brantemnya ada tenaga."


Mereka menuju ruangan makan dsn menikmati makanan yang dibuat oleh ibunya Silvi.


Malam hari.


Silvi duduk sambil menatap foto Mira. "Apa ya yang ada dalam diri kamu dan membuat Fahmi bahagia. Masas ih aku gak punya?" ia bertanya pada diri sendiri.


Hana yang melihat Silvi duduk seorang diri menghampiri dan mangagetkan.


"Kampret lu," omel Silvi.


"Kamu kenal sama dia, Kak?" Hana menunjuk layar yang menampilkan foto Mira.


"Enggak terlalu sih cuma pernah bertemu beberapa kali. Emang kamu kenal sama dia?"


"Kenal lah kan dia teman sekelas."


"Berarti kamu banyak tahu tentang dia?"


"Enggak," jawab Hana sambil berlalu.


Silvi yang paham akan karakter hana, menahan tangannya. Lantas ia mengeluarkan uang dari dompetnya. "Gua tahu lo pasti gak bisa nolak kalau ada ini."


Secepat kilat tangan Hana meraih beberpaa lembar uang seratus riubuan. "Mau dengar cerita apa tentang dia?"


"Apa pun yang lo tahu."


"sebanrnya hidup dia itu membosankan sekali. Degar nih ya ...." Hana mulai menceritakan apa yang ia kefhui tentang Mira. Termasuk soal Mira hamil.


"Hamil?" Akhirnya ada senjata yang bisa dia gunaka.


"Iya makanya dia gak sekolah sampai selesai. Ya mungkin karena malu juga."


"Kamu tahu siapa yang menghamilinya."

__ADS_1


Hana mengedikkan bahu dan berlalu pergi. Yang penting kan uangnya sudah di tangan.


__ADS_2