
Fahmi izin untuk membersihkan diri sedangkan Mira ditemani pelayan. Adelia menyusul kakaknya katena rasa penasaran. "Mas mau mandi, Dek. Tubuh, mas, bau rumah sakit. Nanti Mas jelaskan ya."
"Sekarang lah, Mas. Aku tuh udah ngantuk tapi penasran. Lagian mas malam-malam bawa pulang perempuan. Mana masih muda lagi. Kalau yang dibawa sudah seusia Mas ya aku gak akan tanya, karena pasti paham maksudnya."
"Temani dulu dia gih! Terus lihat kamar tamunya sudah disiapkan belum. Kalau sudah, ajak dia istirahat. Mas juga belum tahu dia siapa tapi Mas membawanya karena dia terlihat seperti sedang memiliki masalah. Dan Mas keinget kamu. Sana!"
Adelia tidak puas dengan jawaban Fahmi. Dia kembali turun dan berbasa basi dengan Mira. Kemudian pelayan memberi tahu kalau kamar tamunya sudah siap.
"Kakak pasti capek, istirahat di kamar sini ya." Adelia mengantar Mira ke kamar tamu. "Oh iya sudah makan malam belum?"
"Belum."
"Allah, yah sudah tunggu sebentar aku akan meminta pelayan menyiapkan makan malam untuk, Kak Mira."
"Enggak perlu repot-repot. Saya hanya ingin istirahat saja," cegah Mira.
"Eh gak baik kalau membiarkan perut kosong. Tunggu sebentar aku akan kembali lagi."
Adelia meninggalkan Mira yang memilih merebahkan diri. Menatap langit-langit kamar yang ditempatinya. Merasa beruntung karena ia bertemu dengan keluarga yang baik. Hal itu sudah terlihat dari awal. Apa lagi saat Adelia kembali masuk dengan membawa nampan berisi makanan.
Adelia menahan rasa penasaran dengan tidak bertanya pada Mira saat perempuan itu makan. Dia hanya duduk untuk menemaninya saja. "Istirahat lah, Kak. Tinggalkan masalah sebelum tidur, agar esok hari bangun dengan pribadi yang baru." Adelia berkata setelah Mira menyelesaikan makan malamnya.
Esok hari, Mira bangun lebih awal sebelum adzan subuh. Dia teringat ketika ia bersujud di situlah kebaikan datang pada dirinya. Dia celingak-celinguk kemudian membuka lemari, mencari mukenah tapi tidak menemukannya. Mau pinjam sama Adel takut dikira cari perhatian agar dipandang baik.
Pintu kamarnya terdengar diketuk, Mira segera membuka pintu dan melihat Adelia sudah berdiri di sana. "Adelia?"
"Maaf kalau aku membangunkan tidur kakak, tapi aku ingin mengajak salat subuh berjamaah. Sama Mas Fahmi juga."
"Oh, aku sudah bangun kok. Tapi tidak ada mukenah."
"Di mushola tersedia kok."
__ADS_1
Mereka menuju mushola di bagian samping rumah. Mira terkesima karena yang ikut berjamaah bukan hanya dirinya, Adelia dan Fahmi tapi pekerja rumah pun ikut. Selesai solat suasana dirumah ini tampak hangat. Para pekerja dan pemilik rumah terlihat akrab.
Mira yang sedang menuju kamar terkejut karena ada tubuh mungil yang menabrak dirinya. Mira berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil itu. "Hati-hati jalannya, ada yang sakit?" tanya Mira.
Anak kecil itu menggelengkan kepala. "Maaf sudah nabrak kakak." Anak kecil itu tampak malu-malu saat berbicara.
"Kakak baik-baik saja kok. Lain kali jangan lari-lari ya." Mira mengusap pipi gembul si anak perempuan. Dia tersenyum membayangkan andai anaknya sudah lahir. Tumbuh sehat dan hidup nyaman tanpa tekanan. Ah dia tidak boleh menagis lagi. Dia harus bangkit mulai saat ini.
Dari arah belakang si anak, seorang pengasuh menghampiri. "Ya ampun Non Syafa kok kabur-kaburan sih. Mbak gak kuat harus main kejar-kejaran," kata si pengasuh.
"Tapi aku mau mandinya sama ayah," jawab Syafa.
"Sama mbak aja yuk. Nanti biar Non Syafa ketika bertemu ayah sudah wangi," bujuk si pengasuh.
"Gak mau," tolak Syafa bahkan melipat tangannya di dada.
"Gimana kalau mandinya sama kakak? Kakak juga belum mandi loh. Jadi kita bisa mandi bersama." Hitung-hitung Mira latihan mengurus anak.
"Mbak nanti bajunya di antar ke kamar tamu saja ya," kata Mira dan dibalas anggukan oleh si pengasuh.
Mira dan Syafa mandi bersama. Tawa riang yang terdengar dari bibir Syafa menularkan kebahagiaan bagi Mira. Tawa dari si kecil bagaikan obat bagi lara yang tengah dirasakan Mira. Dia kembali mengucap syukur karena bertemu dengan keluarga yang hangat. Akan tetapi dia harus sadar diri karena tidak mungkin selamanya tinggal di rumah ini.
Sesekali Mira muntah efek kehamilan. Syafa hanya menatap dengan kening berkerut. "Kakak sakit? Ayahku dokter nanti aku akan bilang pada ayah agar kakak di suntik," kata Syafa.
"Pinter banget sih kamu." Mira mencubit gemas pipi Syafa tapi tidak sampai menimbulkan merah.
"Karena aku anaknya dokter, Kak," balas Syafa sambil memiringkan kepalanya menatap Mira yang kembali mual.
Mira membalut tubuh Syafa menggunakan handuk. Pakaian Syafa beserta kebutuhannya sudah diantarkan ke kamar Mira. Dengan telaten Mira mendandani Syafa. Sesekali menggelitik tubuh Syafa dan membuat anak kecil itu tertawa.
"Kakak dari mana?" tanya Syafa yang sudah rapih dan memperhatikan Mira yang tengah menyisir rambut.
__ADS_1
"Kakak dari Bandung Barat, Dek?"
"Rumahnya jauh dari sini?"
"Iya jauh."
"Nanti kita bisa main lagi?" tanya Syafa lagi.
"Emmm boleh kapan-kapan ya."
Mereka keluar kamar bersama-sama. Syafa langsung lari ke arah Fahmi saat melihat ayahnya menuruni tangga. "Ayaaaaahh, aku sudah mandi dengan kakak itu." Syafa m3nunjuk Mira yang mengangguk sungkan.
"Maaf saya lancang, Pak," kata Mira merasa tidak enak hati.
"Justru saya yang minta maaf karena anak saya sudah merepotkan kamu," balas Fahmi. "Kakak itu tamu di rumah kita, Syafa tidak boleh merepotkan tamu. Kalau mau mandi kan bisa minta tolong sama mbak, atau sama tante Adel. Kalau ayah gak sibuk bisa minta tolong sama ayah ya. Minta maaf sama kakak."
Syafa mengangguk dan menghampiri Mira. "Maafkan aku ya, Kak," ucapnya sambil mengatupkan tangan.
Mira begitu kagum dengan cara Fahmi mendidik anaknya. Dia berpikir apa dirinya bisa mendidik seorang anak. Bahkan dia tidak menyelesaikan pendidikannya.
"Iya, maafkan kakak juga ya karena tadi menggelitik."
Syafa mengangguk dan kembali berlari ke arah sang ayah. "Ayah kakak itu harus di suntik. Tadi kakak itu mual-mual," lapor Syafa pada sang ayah. Padahal beberapa menit yang lalu dia sudah lupa.
"Kamu sakit?" tanya Fahmi menatap sekilas kemudian menudukan pandangan.
"Hanya mual, Pak." Mira sudah mengganti sebutan pada Fahmi, tidak lagi memanggil dengan sebutan Om.
"Kak Mira sakit?" tanya Adel yang baru turun dari tangga dan menghampiri mereka bertiga.
"Enggak, hanya mual. Mungkin efek masuk angin." Terpaksa Mira mengatakan kalimat itu karena tidak mungkin membuka aibnya. Kembali dia membandingkan keluarganya dengan keluarga Fahmi.
__ADS_1
Andai keluargaku seperti ini.