
Seperti pasangan pada umumnya, Mira menyiapkan sarapan dan paiakan untuk sang suami. Pagi-pagi dia sudah berkutat di dapur bersama para pelayan.
Slesai dengan dapur, Mira kembali ke kamar. Ternyata sang suami tengah mengajak si kecil bermain.
"Kita pulang ke rumah ya, Dek," ujar Fahmi saat istrinya nongol di pintu.
"Hari ini?" tanya Mira mendekat.
"Iya soalnya besok aku sudah kembali kerja. Gak papa kan kalau tinggal di rumah sana?" Fahmi meminta istrinya duduk di sebelahnya.
"Aku ikut aja, kan makmum."
Fahmi mengusap wajah sang istri yang tampak segar. "Tapi kamu juga berhak menolak kalau merasa tidak nyaman."
Jari-jari mereka saling bertaut, mata saling menatap dan bibir saling tersenyum.
"Kita akan pulang ke sana," putus Mira.
Saat sarapan Fahmi mengutarakan niatnya pada Ardan untuk membawa sang istri ke rumahnya.
Ardan bisa apa selain meridhoi, toh kewajiban dan tanggung jawabnya telah ia serahkan pada menantunya. Ia hanya berpesan agar putrinya bahagia. Sebab jika sampai ia mendengar putrinya disakiti Fisik maupun batin, maka ia tidak akan segan untuk menjemputnya.
Kekhawatiran seorang ayah adalah hal wajar dan Fahmi tidak merasa terbebani. Ia yakin ia akan selalu berusaha membahagiakan istri dan anak-anaknya.
Setelah sarapan mereka langsung pamit karena hanya membawa sedikit barang. Toh pakaian Mira dan kebutuhan Syifa juga masih ada di rumah Fahmi.
"Hari itu papa mengusirmu dari rumah karena papa marah. Tetapi kali ini papa ridho kami pergi. Semoga ridho papa selalu menjadi pelindung di mana pun kamu dan Syifa berada," kata Ardan pada Mira.
"Titip Mira ya, Fah. Kapan-kapan kalau senggang datanglah berkunjung. Sekarang rumah ini kembali sepi," kata Ardan.
"Pasti, Pak, kita akan mengunjungi papa. Papa pun jangan sungkan berkunjung ke rumah. Pasti rame kalau kita berkumpul."
Lambaian tangan dari Ardan mengiringi laju mobil yang membawa anak dan menantunya. Ia kembali ke dalam rumah setelah mobil ke luar dari pintu gerbang.
"Berteman sepi lagi," kata Ardan menirukan gaya penyanyi. Pelayan yang berada di sekitarnya dan mendengar ucapan Ardan ingin tertawa tapo di tahan. Dari pada gaji tidak turun.
***
Mobil memasuki pelataran rumah Fahmi. "Kok tumben sepi," gumam Fahmi saat melihat tidak ada tanda-tanda yang akan menyambutnya. Ia turun lebih duku dan mengambi Syifa dari gendongan sang istri. Lalu meminta sopir untuk menurunkan barang.
"Kayaknya gak ada penyambutan untuk kali ini," kata Fahmi pada Mira.
"Lah ya gak papa, pasti mereka juga sibuk."
__ADS_1
Tangan mereka saling menggenggam, berjalan menuju pintu yang akan mandi tempat mereka bernaung.
Saat pintu terbuka, disitulah mereka dapat kejutan. Bahkan ada beberapa rekan Fahmi yang hadir di sana.
"Selamat datang pengantin baru." Serempak mereka mengucapkan kalimat itu.
"Ibu!" seru Syafa merlaldi ke arah Mira dan memeluknya.
"Gak ada kerjaan kalian," kata Fahmi pada teman-temannya yang hadir. "Sebentar ya, aku harus menidurkan putriku dulu. Kasian dia capek. San!" Fahmi memanggil Santi-pengasuh Syafa.
Mira dikenalkan pada teman-teman Fahmi yang datang. Mereka mengobrol banyak hal. Ada yang menanyakan kenapa tiba-tiba menikah. Ada juga yang berasumi mereka digerebek dan dinikahkan langsung apalagi saat melihat lebam di wajah Fahmi.
Fahmi hanya tergelak. Ia dan Mira tidak menganggap candaan mereka serius.
Mira juga berulang dengan pata perempuan yang hadir. Meski sempat minder tapi genggaman tangan Fahmi menunjukan bahwa ia harus siap.
Di dalam kamar si kecil, Adelia dan Syafa tengah mengajak si kecil bermain ditemani Santi.
"Eh jangan!" seru Santi dan Adelia saat Syafa ingin memangku adiknya. Alhasil karena suara orang dewasa yang tidak dikondisikan membuat Syifa menangis.
"Tuh kan adeknya jadi nangis. Dia mau dilangku sama aku," kata Syafa sambil melihat tangan di dada.
***
Sejak Fahmi pulang dan mengatakan akan menikahi Mira dia lebih banyak diam. Bahkan makanan yang dibawa olah Fahmi belum ia sentuh.
Sesekali ia mengusap wajah dan memejamkan mata.
"Galau?" tanya temannya yang satu ruangan dengan dia.
"Enggak."
"Ya elah muka udah ditekuk juga masih aja bilang enggak."
Dion hanya melirik kemudian memejamkan mata lagi. "Bersyukur bang, lo masih ada yang datang untuk menjenguk sedangkan gue. Di sini sudah hampir empat tahun tapi gak pernah ada yang datang. Jangankan kirim makanan kayak gitu, datang aja nggak," kata pria berambut gondrong.
"Ya elah dari pada galau, mending itu makanan kita makan bareng. Lama nunggu dikasih makan keburu kelaparan kita," kata pria yang satunya.
"Ok ayo makan," ajak Dion.
Mereka menikmati makanan yang di bawa oleh Fahmi bersama. Mereka makan sambil bercanda hingga menimbulkan gelak tawa.
Tiba-tiba pria yang sedikit kurus diantara mereka langsung diam. Wajahnya tampak sedih.
__ADS_1
"Kenapa, Bang?" tanya Dion.
"Saya di sini makan enak, tapi saya gak tahu anak saya di sana makan enak atau tidak. Gara-gara kelaparan saya mencuri, dan sekarang saya di sini."
"Mencuri apa bro?" tanya pria berambut gondrong.
"Beras lah."
"Kasihan ya. Nyurinya sedikit dihukumnya lama," timpal yang lain."
"Kata siapa nyurinya sedikit. Saya nyurinya sepuluh karung."
Akhirnya mereka sama-sama tertawa. Tadi neraka iba sekarang mereka malah saling menertawkaan.
Di tempat ini Dion merasa dirinya tidak dibandingkan dengan orang lain.
Sebenarnya alasan ia marah pada ayah tirinya yang memilih Fahmi untuk memegang perusahaan, itu karena ia ingin jadi bagian dari perusahaan itu l. Ia capek ketika teman-temannya selalu membandingakan dia dengan Fahmi.
"Kamu sama Fahmi beda banget ya. Dia naik mobil, lo naik motor. Ck, emang anak tiri bisa apa."
"Iya lah anak tiri mah ada dan terlihat tapi tidak dianggap. Nasibmu Dion, Dion."
Dion tertawa mengingat ucapan mereka.
"Eh kok dia ketawa sendiri. Kesurupan ya." Penghuni sel tersebut heboh karena Dion tiba-tiba tertawa.
Ada yang membaca doa walaupun hanya Al-fatiha dan Al-ikhlas kemudian dilanjutkan membaca doa sebelum makan.
"Weh, kok allahmua barik lana?"
"Biar setannya lari, kan pasti mengira akan dimakan,"
Dion semakin tertawa. "Udah-udah, saya gak papa."
"Ya elah kirain kesurupan beneran. Serem tau. Mana doa hanya hafal yang tiga tadi," kata pria yang membaca doa sebelum makan.
Selama ini Dion hanya kurang bersyukur.
Saat malam dia kembali merenung. Dalam hati dia menanyakan keadaan Gama-putranya. Kemudian ia membayangkan kehidupan Fahmi yang bahagia. Apa sekarang Mira tengah tersenyum bersama dengan kakaknya. Menjalankan romansa di malam pertama pernikahan.
Dion mengusap wajah, dia meonel ke samping sebelum tidur.
Dulu ia tidur di kamar yang nyaman. Sekarang ia tidur hanya beralaskan tikar yang sudah usang. Di sampingnya ada dengkurann keras yang mengganggu tidurnya.
__ADS_1