
"Tadi ... tadi abang hanya keliling-keliling rumah ini, ternyata masih sama."
"Sudah keliling semuanya? Mau aku temani?" tanya Adelia.
"Boleh."
"Aku kangen banget sama Bang Ion, dulu kita paling dekat diantara bertiga. Apa-apa aku serba bang Ion tapi ..."
Dion menatap Adelia. Ada perasaan bersalah karena tiba-tiba menjauhinya. Padahal dulu dirinyalah yang menjadi pelindung Adelia.
"Kamu tidak pernah membenci Abang?"
Adelia menggelengkan kepala, "bagaimana pun keadaannya, abang tetaplah abangku." Adelia meghapus air mata yang tiba-tiba saja turun.
"Padahal kamu bisa loh membenci abang."
"Iya tapi apa aku akan merasa puas, bahagia, tenang dengan membenci Abang? Enggak justru aku semakin menderita."
Adelia melambaikan tangan pada Mira yang tengah berdiri di dekat jendela. "Siapa dia?" tanya Dion pura-pura tak mengenal Mira.
"Kak Mira."
"Calon istri Mas Fahmi?" tanya Dion lagi.
"Mungkin, soalnya mas Fahmi baik banget sama dia. Sampai merhatiin segala kebutuhannya. Tapi kalau pas ditanya mau dinikahi atau tidak, Mas Fahmi selalu mengelak. Katanya Mas Fahmi terlalu tua untuk kak Mira."
"Terus kenapa tinggal di sini?"
"Enggak sih, gak tinggal di sini. Dia hanya kerja sebagai pengasuh Syafa soalnya anak itu nempel banget sama Kak Mira."
"Emang tinggal di mana?"
"Di rumah mas Fahmi yang dulu ditinggal saat masih sama mbak Silvi. Kok nanya-nanya, jangan naksir loh. Kasihan kalau nanti diamuk mbak Nafa. Tau sendiri kan istri mas itu. Punya istri tapi kayak singa."
__ADS_1
Dion tergelak, tapi obrolan dengan Adelia membuat dirinya menemukan ide untuk menyingkirkan Mira. Bahaya jika perempuan itu tinggal bersama keluarganya. Kapan saja Mira bisa membocorkan rahasia mereka. Resikonya selain kehilangan Nafa dan sang anak, ia juga beresiko kehilangan jabatan posisi di perusahaan keliatan Nafa.
***
"Kamu gak pernah berubah, Naf." Fahmi menatap adik iparnya.
"Lagian untuk apa aku berubah. Toh gak merugikan kamu juga," ketus Nafa.
"Sudah tumbuh kah cintamu untuk Dion?"
Nafa menatap Fahmi dengan dagu terangkat. "Itu urusanku. Kenapa kamu bertanya hal itu? Iri ya lihat aku baik-baik saja sama adikmu. Sedangkan kamu masih begitu-begitu aja. Makanya gak usah munafik."
Fahmi hanya menanggapi dengan tawa kecil. Lalu dia bangkit dan meninggalkan perempuan yang kini jadi adik iparnya.
Seorang pelayan menghampiri Fahmi dan mengatakan sajian untuk makan malam sudah siap. Fahmi mengangguk dan meminta untuk dipanggilkan adik-adiknya serta anak-anak.
Moment langka di mana kursi di meja makan kini banyak digunakan. Biasanya hanya digunakan tiga atau empat. Itu pun kalau Mira mau bergabung, tapi Mira sering menolak dan katanya lebih nyaman makan bersama sesama pekerja.
"Apaan sih, norak." Nafa menyahut dingin. Ia terpkasa ke sini karena Dion memaksa. Perempuan itu langsung menunduk saat Dion menatapnya tajam.
"Silahkan dinikmati yang sesuai selera saja. Maaf ini makanan di rumah kami," kata Fahmi. Tutur katanya tetap sopan meskipun yang dihadapi adalah seorang Nafa putra satu-satunya Atma Wijaya. Perempuan yang terkenal judes dan selalu ingin diutamakan.
Mereka mulai mengambil makanan yang tersaji sesuai selera. Fahmi tidak tersinggung dengan sikap Nafa meski terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya pada keluarganya. Berbeda dengan Adel yang merasa tidak enak hati dan merasa kesana sendiri.
"Mas tidak berniat nikah lagi?" Dion membuka obrolan. Dia ingin mengorek sejauh mana Mira dekat dengan keluarganya.
"Mau lah tapi belum tepat aja waktunya," jawab Fahmi sebelum menyuapkan makanannya ke dalam mulut.
"Berarti calonnya sudah ada, kapan-kapan bisa dong di kenalkan sama kita. Atau memang mas belum punya calonnya," pancing Dion.
"Calonnya ada tapi ya begitulah," kekeh Fahmi. "Mau apa nak?" Dia bertanya pada Syafa yang ingin mengambil lauk.
"Mau daging lagi ayah."
__ADS_1
"Oke, tapi tambah sayurnya juga ya," putus Fahmi. Untuk urusan gizi bagi keluarga, Fahmi sangat mengutamakan. Apalagi Syafa yang sedang dalam masa pertumbuhan. "Oh ya Kak Mira pulang, Dek? tadi mas bicara sama dia dan belum selesai."
"Enggak pulang kok, tadi aku lihat dia ada di kamar. Cie kangen ya," bisik Adelia tak luput cari perhatian Dion.
Sungguh Dion merasa adanya Mira adalah sebuah ancaman bagi dirinya. Sejak tadi bertemu dengan Mira di rumah ini dia langsung memikirkan cara menyingkirkan perempuan itu. Kalau meminta Fahmi mengusirnya tentu akan menimbulkan pertanyaan dari kakaknya. Dia melirik sang istri dan memberikan senyum. Posisinya dengan Nafa harus tetap aman.
Selesai makan Dion langung pamit dan Fahmi tidak mencegahnya meskipun masih merindukan mereka. Tetapi mereka juga tidak mungkin menahan apa lagi Nafa menunjukan rasa tidak nyaman di rumahnya.
Sepanjang jalan otak Dion dipenuhi rencana-rencana jahat untuk Mira. Dia menggap Mira adalah anacam paling besar untuk dirinya. Nafa sendiri merasa ada yang tidak beres dengan sang suami. Apa lagi tidak biasanya Dion diam seperti ini.
"Lagi mikirin siapa, Mas?"
"Ah mikirin ... mikirin siapa maksud kamu."
"Gak usah bohong kamu. Pasti kamu lagi mikirin perempuan hamil yang tadi berteman di stand roti kan?" todong Nafa.
Dion meraih jari istrinya untuk digenggam. Dia tempelkan jari-jari istrinya itu ke bibir. "Aku aja gak inget tentang kejadian tadi pagi. Aku tuh lagi mikir bagaimana cara agar tetap membuat kamu bahagia di sisiku."
Pipi Nafa langsung merona. "Awas loh kalau kamu macam-macam. Selain aku tendang dari perusahaan aku juga sunat lagi punya kamu itu. Biar tahu rasa gak bisa merasakan lagi kenikmatan."
"Kamu saja sudah cukup untuk aku," balas Dion. Hah dia harus pandai memainkan peran selama belum bisa menyingkirkan Mira.
Sampai di rumah orang tua Nafa, Dion langsung masuk ke ruang baca dan menghubungi seseorang. "Cari tahu situasi di perumahan itu. Dan awasi perempaun yang fotonya sudah aku kirim."
"Bayarannya?"
"Lakukan saja tugasmu baru bayaran. Ingat jangan sampai ada yang tahu aku yang memereintahmu." Dion mematikan sambungan telepon. Dia mengusap wajahnya dengan kasar, khawatir kalau malam ini Mira langsung bicara dengan Fahmi tentang mereka.
Bahkan sampai di tempat tidur dan Nafa sudah menggodanya, perasaan tenang tidak kunjung menghampirinya. Jadilah malam itu terjadi pertengahan antara dirinya dengan sang istri. Nafa marah karena merasa diabaikan. Dion berusaha meyakinkan kalai dirinya tengah merasa lelah.
"Bohong! Kamu pasti tengah memikirkan perempuan tadi. Dia memang cantik tapi aku lebih segalanya dari dia Dion.
"Benar kamu lebih dari segalanya untukku, Sayang. Ayolah aku hanya sedang lelah, maaf karena malam ini tidak bisa menyengkanmu. Sini tidur dalam dekapanku."
__ADS_1