Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Repotnya jadi ibu muda


__ADS_3

Sampai di restaurant Mira tang hendak turun mengurungkan niat. Di dalam sana, Mira melihat ada sekelompok anak muda dan salah satunya sangat ia kenali.


Kelompok itu adalah kelompok yang pernah meneriaki Mira dengan sebutan lon.... waktu itu. Hana.


"Ibu ayo turun." Syafa begitu antusias.


Fahmi menatap arah pandang Mira. Oh ternyata ada mereka. Pasti istrinya takut diteriaki lagi seperti waktu mereka jalan-jalan.


"Kak, gimana kalau makannya di mobil saja," kata Fahmi pada putrinya.


"Yah kalau makan di mobil nanti aku hanya bisa makan satu. Enggak bisa nambah lagi."


Fahmi mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak. "Justru kalau makan di dalam sana kakak hanya boleh makan satu, tapi kalau di dalam mobil kakak boleh makan dua." Syafa cepat-cepat naik ke dalam mobil. "Tunggu sebentar ya," kata Fahmi pada sang istri.


Syafa bersorak saat sang ayah membawa makanan yang ia inginkan.


Kaca mobil diketuk dan saat Mira menoleh ternyata Hana sudah berdiri di sana. Rupanya perempuan itu masih mengenal Fahmi dan mengikutinya.


"Jangan di buka!" Fahmi mencegah istrinya untuk membuka kaca.


Hana tidak kehabisan akal, dia menempelkan kertas di mobil Fahri. Kertas itu tidak akan terbang karena di kasih selotif dan di tempel dibagian belakang.


Sebenarnya dia tidak jahat hanya saja sedikit usil. Sebelumnya mereka ketika di sekolah juga biasa aja. Tidak ada persaingan memperbutkan siapa paling cantik dan pria paling populer di sekolah harus menjadi milik salah satu di antara mereka.


Persaingan mereka hanya sebatas nilai dan prestasi.


Mira lebih dulu turun saat Fahmi baru mematikan mesin mobil. Ia mencopot dan meremas kertas yang ditempel oleh Hana tadi.


"Sayang?" Fahmi menghampiri istrinya sedangkan Syafa masuk ke dalam rumah lebih dulu. Rencana yang awalanya akan menikmati ayam kriuk di dalam mobil akhinya berubah. Beruntungnya Syafa tidak memprotes. "Jangan dipikirkan."


"Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya, Mas. Orang-orang akan memandangmu rendah setelah tahu kamu menikahi perempuan seperti aku. Kamu pernah berpikir gak sih?" Mira merasa marah dan ingin menyelesaikan tapi entah pada siapa.


"Itu kenapa aku selalu menolak kamu. Selalu berusaha menjauhi kamu. Karena aku merasa ... aku akan jadi penghambat kamu."


Fahmi memeluk Mira. Diam dan tidak menyangkal apa puj ucapan sang istri.


"Kenapa sih kamu keukeuh ingin menikahi aku. Kenapa kamu tidak berpikir kerugian yang kamu dapt gara-gara aku. Kenapa cinta membuatmu bodoh, Mas Fahmi." Mira menangis dan memukul dada Fahmi. Semua yang menjadi beban pikirannya ia tumpahkan pada sang suami.


"Ingat kata kata Syafa tadi. Temannya mengejek dia karena ayahnya dianggap cabul dan menghamili aku. Padahal itu bukan kelakuan kamu."


Saat tangis mulai mereda, Fahmi mengajak istrinya untuk masuk. Berulang kali dia mangatakan bahwa dia menerima Mira dan masalalunya. "Aku lebih dulu tahu dari pada mereka dan aku tetap memperjuangkan kamu. Karena ketika aku mencintai maka aku akan menerima baik dan buruknya yang kamu bawa. Mereka tidak tahu perjuangan kamu. Mereka hanya melihat dari sisi buruk ya dan aku melihat dari kedua sisi. Percaya padaku ya, aku akan tetap mencintaimu dan aku tidak malu mengatakannya pada dunia."


Mira semakin memeluk suaminya. Oh adakah pria seperti Fahmi yang tersisa?


***


Mira menolak diajak untuk menjenguk Dion. Katanya belum siap. Fahmi tidak memaksa jadinya ia berangkat sendiri.


"Maaf kemarin aku tidak datang. Jadwalku kemarin sangat penuh. Maklum baru kembali bekerja."


"Iya aku paham, pasti repot juga. Kemarin Adelia juga datang ke sini?"

__ADS_1


"Dia datang?" tanya Fahmi.


"Ia katanya kamu yang nyuruh." Ah padahal Fahmi tidak menyuruh Adelia kemarin.


Mereka menikmati moment yang terbatas oleh waktu. Keduanya kembali terpisah saat waktu jenguk sudah habis.


"Aku akan mencari tahu apa kamu bisa bebas dala waktu dekat atau tidak?"


"Tidak perlu, Mas. Mungkin ini memang tempat terbaik untukku. Hanya saja aku merindukan Gama. Kalau kamu punya waktu tolong bawa dia ke sini."


Fahmi setuju.


Sebelum ia kembali bertugas ia menyempatkan waktu untuk menemui Gama. Dia diterima dengan baik oleh istrinya Hendro.


"Salam sama, Om," kata istri Hendro pada cucunya da dituruti.


"Om bawa sesuatu untuk Gama." Fahmi menunjukan papar bag yang ia bawa. Sengaja tadi ia menyempatkan mampir ke toko mainan yang bersebelahan dengan mini market. Ia juga membawa makanan untuk Gama.


"Woooaaahh apa itu?" tanya Gama antusias. Ia yang tadi malu-malu saat menyalami Fahmi kini mendekat.


"Ini titipan dari papa, Gama."


"Kok papanya gak pulang, Om. Apa papa tersesat ya?" Iya Gama mengira jika ayahnya pergi terlalu jauh dan tidak tahi jalan pulang seperti kartun ptualangam yang sering ia tonton.


"Nanti papa kamu akan pulang. Dia bilang kayaknya dia merindukan Gama."


"Aku juga rindu. Kalau tidak ada papa aku tidak ada yang ngajak main lagi."


Gama pun menatap neneknya dan menunggu neneknya akan memberi izin.


"Gama mau imut sama om?" tanya neneknya.


"Mauuuu."


"Ya sudah kalau mau, tunggu sebentar nenek suaraku dulu keperluan kamu. Mas Fahmi tidak apa-apa kalau menunggu sebentar?"


Setelah kebutuhan Gama siap, Fahmi membawa Gama ke rumahnya. Syafa menyambut bahagia kedatangan sepupunya. Dia langsung mengajak bermain dan


Memberi tahu mainan yang dia punya.


"Gak papa kan aku bawa Gama ke sini?" tanya Fahmi pada sang istri.


"Gak papa, kan Syafa jadi ada teman."


"Dan aku bisa menguasai kamu tanpa harus berebut dengan dia. Aw ...." Fahmi memekik saat mendapat cubitan dari sang istri. "Temani aku siap-siap yu."


"Memangnya mas mau kemana lagi?"


"Aku kan pria panggilan, ya jadi aku harus kerumah sakit. Malam ini bagian jaga. Gak papakan tidur gak dipeluk?"


"Apaan sih," jawab Mira sambil menuju kamar. Ia segera menyiapkan pakaian untuk suaminya.

__ADS_1


Fahmi yang harusnya segera bersiap-siap malah menggoda istrinya.


"Mas," pekok Mira saat tubuhnya di bawa masuk ke kamar mandi.


"Karena nanti malam libur, jadi aku meminta asupan energi sekarang," bisik Fahmi.


Meski merasa canggung karena harus melakukan di kamar mandi tapi Mira tetap melayani suaminya. Fahmi sudah begitu baik dan sekarang waktunya Mira menunjukan bakti sebagai seorang istri.


Di mana istri adalah penyejuk suami, pelindung syahwat suami dari godaan perempuan di luar sana.


Bukan tidak mungkin, meskipun Fahmi lelaki baik bisa jadi suatu saat ia akan merasa bosan jika terus ditolak oleh Mira.


Lepas Shalat maghrib Fahmi sudah berada di rumah sakit. Walaupun dia berdinas bagian malam tapi ia tetap semangat karena sudah mendapat asupan energi dari istrinya.


Sedangkan Mita dk rumah harus mengurus tiga anak dibantu oleh pekerja. Mira mulai merasakan repot saat Syifa menangis sedangkan Syafa meminta dibuatkan makanan oleh Mira.


"Sama mbak Santi aja mau?" tawar Santi. Ia kasihan melihat Mira yang masih muda tapi harus mengurus tifa anak.


Mungkin kalau ada Fahmi ia tidak akan terlalu repot sebab Syifa selalu anteng jika bersamanya.


"Enggak mau, aku maunya masakan ibu."


"Tunggu sebentar gak papa, ibu harus menyusui adek Syifa dulu," kata Mira.


Santi yang lebih dewasa dari Mira meringis melihatnya. Ia sendiri sudah mengasuh Syafa sejak anak itu berusia dua tahun tapi masih saja kewalahan. Apalagi Mira yang masih sangat muda.


"Oke. Nanti ini beri tahu aku kalau makanannya sudah siap ya."


Mira menghela membuang nafas.


"Ibu makanannya mana?" Baru juga Mira meletakan Syifa di tempat tidurnya sudah ditanyai makanan oleh anak sambungnya.


"Ayo kita masak bersama," kata Mira setelah memastikan tidur Syifa aman. Tidak lupa ia juga meletakan bantal sebelah kiri dan kanannya.


Mira bersama Syafa dan juga Gama sudah berada di dapur. Seperti kmarin Syafa selalu ingin membantu yang berujung merepotkan. Ditambah lagi Gama ikut-ikutan.


Adelia yang baru pulang dan melihat itu menertawakan dari pintu.


"Aku juga mau ikutan ah," kata Adelia.


Mira menepuk jidat.


Sebenarnya pelayan menawarkan diri pada Syafa untuk membuat makanan kesukaannya. Tetapi bukan Syafa namanya jika langsung setuju, ia tetap ingin makan masakan ibunya. Padahal masakan pelayan juga tidak kalah enak.


"Pisau aku diambil," lapor Gama karena pisaunya diambil alih oleh Adelia.


"Gama bagian makan saja ya," kata Mira.


"Tapi aku mau sama sama kak Syafa."


Allah repotnya, keluh Mira dalam hati. Bisa saja Mira menasehati mereka. Akan tetapi ia sadar bahea ia belum bisa setengah Fahmi hadi dari pada bicara yang membuat hati anak-anak terluka dia lebih memilih mengikuti saja.

__ADS_1


__ADS_2