
Tangan-tangan usil penggemar Fahmi yang di provokasi oleh Silvi terus menganggu kebahagiaan Mira. Beberapa akun gosip mulai menaikan berita buruk tersebut. Dan menjadi Viral.
Beberapa judul yang diperlihatlan Mira pada Fahmi membuat suaminya tergelak.
"Kamu tidak merasa terganggu, Mas?"
"Santai aja. Nanti juga mereka diam. Kalau kita kalarifikasi mereka akan mencari berita lain tentang kita."
"Terus pekerjaan Mas di rumah sakit sama perusahaan gimana?"
"Rekan kerja di rumah sakit kan sudah pada tahu lebih dulu. Mereka anteng-anteng aja dan lebih sibuk pada pekerjaan mereka ketimbang mengurusi hal-hal kecil seperti ini."
Memang adanya seperti itu. rekan kerja Fahmi di rumah sakit tidak banyak berkomentar tentang Fahmi yang menikahi Mira. Bahkan mereka tahu Mira selalu kontrol kehamilan serta melahirkan di sana.
Pintu kamar diketuk dengan keras oleh Adelia. "Mas apa-apaan ini. Kamu viral dengan tuduhan-tuduhan keji, Mas. Masa kamu diam aja." Adelia berkacak pinggang sejak tadi ia sibuk war dengan netizen. "Tanganku pegel mas balas mereka."
"Lagian siapa suruh kamu balesin mereka. Kadang mereka itu hanya ingin dinotice. Biarkan saja toh kita tahu mana yang benar dan mana yang tidak. Jangan buang-buang waktu untuk membalas mereka. Kamu akan capek sendiri." Fahmi bangkit dan meraih tas kerjanya. "Aku berangkat dulu. Kalau berita itu mengganggu jangan di baca lagi."
Mira mencium punggung tangan suaminya dan mengantarkannya sampai ke mobil. "Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai jangan lupa kasih kabar."
"Tentu, i love you." Kening Mira kembali menadapat kecupan dari sang suami.
"Love you too."
Mobil mulai melaju dan membawa Fahmi ke rumah sakit. Mira menghela nafas dan kembali masuk. Ia menerima telepon dari Ardan yang sama-sama terkejut melihat berita itu.
"Aku juga gak tahu siapa yang menyebarkan papa. Aku hanya takut pekerjaan dan perusahaan mas Fahmi kena imbas dari berita ini."
"Papa akan segera mencari tahu. Orang itu benar-benar harus dikasih pelajaran."
"Makasih, papa." Sambungan terputus. Mira menjatuhkan tubuh di sofa rasanya ia lelah sekali dengan ujian yang datang tiada henti. Seolah tidak mengizinkan dia bahagia.
"Jangan sedih kak, ujian ini tidak akan lama," kata Adelia yang duduk di samping Mira sambil memangku Syifa. "Kak Mira harus percaya, papa kak Mira dan mas Fahmi pasti tidak akan diam saja. Kita bisa perkarakan orang yang sudah menyebar fitnah itu."
***
Fahmi mengabaikan beberapa orang yang berbisik saat dirinya lewat. Ia tetap tersenyum dan melayani pasien dengan baik.
"Dokter sedang viral ya," tanya salah satu pasien yang sedang diperiksa oleh Fahmi. "Sebenar lagi jadi artis nih."
"Itu hanya pekerjaan orang-orang yang iseng aja, Pak. Lagi pula urusan saya menikah dan siapa yang saya nikahi kan bukan urusan mereka." Fahmi masih tersenyum dan kembali duduk lalu menerangkan hasil diagnosanya. Kemudian memberi saran dan resep obat-obat yang harus di konsumsi.
"Lekas sembuh ya, Pak," ujar Fahmi sebelum pasien keluar.
Fahmi mentap kedua suster yang sikapnya tidak seperti biasanya. Terkesan tidak ramah.
"Kalian ada masalah dengan saya?"
__ADS_1
"Tidak ada, Dok?" Kedua suster itu menggelengkan kepala. Padahal mereka merasa dongkol pada sikap Fahmi dan termasuk berita murahan.
Fahmi kembali meminta dipanggilkan pasien berikutnya. Ia lakukan tigansya dengan baik sampai pasien terkahir. Dia hanya membalas dengan senyum ketika beberapa pasien bertanya tentang kebenaran berita yang beredar.
Saat istirahat dia menghubungi istrinya.
"Jangan banyak pikiran sayang. Kamu harus memperhatikan kesehatan sendiri dan anak-anak. Kasihan Syifa kalau nanti ASI-nya kurang. Jangan berpikir untuk pergi lagi dari aku. Kita harus saling menguatkan. Ini bukan kesalahan kamu, ini ujian untuk kita."
Mira mengangguk.
Usai mengubungi istrinya, Fahmi juga mendapat telepon dari orang perusahaan. Beberapa rekan kerja sama meminta dibatalkan. Ada beberapa rekan kerja yang termakan gosip itu.
"Atur pertemuan saya dengan mereka dan kamu remuk saya nanti sore di rumah."
"Baik, Pak."
Mira pasti akan semakin tertekan jika mengetahui hal ini. Akhirnya Fahmi akan menemui orang kepercayaannya di kantor langsung.
***
Ardit meminta izin pada Fahmi untuk menemui Mira. Dia harus berteman dengan kakaknya. Selain untuk melepas rindu. ia juga ingin sang kakak tidak merasa sendirian seperti dulu.
Pukul sebelas ia tiba di rumah Fahmi.
"Adrit," panik Mira katena tidak tabu adiknya akan berkunjung. Mereka saling memeluk dan disitu air mata Mira kembali jatuh setelah ditahan sejak tadi.
Ardit belum banyak bicara, ia hanya menguasap punggung kakaknya untuk menenangkan. Ia tidak banyak mengatakan kalimat penyemangat. "Aku beroda kak Mira akan kuat menghadapi ini. Jangan sedih lagi ya. Masa aku di sini kakak sedih. Oh ya keponakanku mana? aku bawa oleh-oleh untuk dia."
"Hai, kita ketemu lagi," sapa Adel.
Tidak ada yang membahas apa yang sedang terjadi hari ini. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Ardit menemani Syafa dan Gama bermain. Adelia mengajak Syifa bercanda.
Haruskah Mira mengeluh dan selalu menyalahkan apa yang terjadi adalah akibat dirinya. Haruskah dia menjauh dari kehidupan suaminya? tentu jawabannya tidak.
Mira dan masalalunya adalah ujian bagi Fahmi. Fahmi beserta kebaikan dan masalalunya adalah ujian bagu Mira.
Di tempat lain Gina dan Ema sudah membaca berita hari ini. Mereka janjian untuk bertemu.
"Kamu sudah baca kan berita basi hari ini?" tanya Gina. Dia sedikit meledak karena kasihan dengan kehidupan Mira. Semesta selalu tak menginginkan dia bahagia.
"Sudah. Aku heran kenapa sampai ada berita seperti itu. Tapi yang aku pikirkan sekarang adalah apa cara kita untuk membantu Mira. Kasihan sekali nasibnya. Saat dia mulai bahagia ada aja cobaan yang datang."
"Aku juga mikirin itu." Keduanya sama-sama diam.
"Dion!" kompak mereka menyebut nama Dion.
"Ya, ada kemungkinan dia yang menyebarkan fitnah itu," kata Ema pada Gina yang tengah memyeruput minumannya.
__ADS_1
"Tapi gimana caranya Dion melakukan itu. Sia kan diepnjara."
"Gin jaman sekarang, apa pun bisa dilakukan. Ingat beberapa kasus? penjara bukan penghalang langkah mereka. Bahkan pengedar narkoba pun masih bisa beraksi."
"Bener juga ya. Kalau gitu kita harus menemui dia. Belum tentu juga dia pelakunya tapi bisa jadi dia memilki beberapa kunci yang kita butuhkan."
Gina menghabiskan minumanya dan meraih tas.
"Semangat amat, Gin mau ketemu duda," goda Ema dan kepalanya langsung digetok oleh tas Gina.
"Dia bukan duda, Em, dia masih memilki istri walaupun sama-sama di penjara. Ya hanya gak bisa anu-an aja.
Mereka meluncur ke tempat tahanan. Setelah menunggu akhirnya mereka bisa bertemu Dion juga.
"Ganteng, Gin," bisik Ema dan langsung disikut.
Mereka duduk bersekat meja dengan Dion.
"Kamu Dion kan. Mantannya Mira," tanya Gina.
"Ya? Kalian mengenal saya?"
"Kita temannya Mira dan kita pernah bertemu di depan gerbang sekolah saat kamu menjemput Mira," ujar Ema.
"Jadi tujuan kalian datang kemari untuk?"
"Jawab kita jujur. Hari ini ada berita tang memfitnah dr. Fahmi telah menghamili Mira, apa kamu yang melakukan itu?" tanya Gina.
Dion tertawa, "kalian pikir aku bisa melakukan itu saat aku ada di dalam sana. Jangankan untuk melakukan hal sepeti itu, untuk bertemu anak sendiri pun saya susah."
"Tapi kan kamu bisa saja menyuruh seseorang untuk melakukan itu. Misal ada yang membesuk kamu dan kamu meminta bantuan padanya. Kita tidak tahu itu." Ema mengedikkan bahu. "Kamu juga pernah kan membayar orang untuk meneror Mira."
"Itu saat saya tidak di sini dan saya bisa membayar mereka. Sekarang saya bisa bayar mereka dengan apa? Keluarga istri saya pun tidak ada yang menjenguk saya di sini. Yang sering menjenguk adalah kakak saya. Masa kalian menuduh korban sebagai pelaku."
Hening. Ketiganya larut dalam pikiran. Seketika Dion teringat orang-orang yang memiliki sifat seperti dirinya. Bisa jadi pelaku itu adalah orang-orang yang tidak suka atas kebahagiaan Fahmi. Bisa Nafa arau bisa juga mantan istrinya. Silvi.
Dion tidak langsung mengatakannya. Dia harus bisa memanfaatkan siatusi agar ia bisa keluar dari tempat ini tanpa menunggu masa hukumannbya habis.
"Aku tahu beberapa orang yang bisa dicurigai," kata Dion.
"Siapa?" tanya Ema dan Gina bersamaan.
"Aku akan kasih tau dan akan mencari tahu tapi elu ingin kalian melakukan sesuatu untukku."
Ema dan Gina saling pandang. Tidak langsung menyetujui karena takut syarat dari Dion akan membahayakan keduanya.
"Terserah kalau kalian tidak mau membantu Mira. Tapi aku yakin tujuan kalian datang ke sini karena kalian memilki niat baik pada teman kalian. Benar? Bantu aku maka aku akan membantu kalian."
__ADS_1
"Apa kamu bisa dipercaya, Dion?" tanya Ema.
Dion menaikan alisnya.