Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Jangan pergi lagi


__ADS_3

Sampai jam sepuluh malam Fahmi belum juga pulang. Mira khawatir dan mencoba menghubungi suaminya tapi tidak diangkat. Dia sudah merasa lelah menunggu tapi tidak enak juga kalau harus tidur sementara suaminya belum ada kabar.


Ia menunggu Fahmi di depan televisi, Syifa sengaja dititipkan pada Santi dan tidur di kamar bayi.


Berkali-kali Mira mengintip dari jendela untuk melihat suaminya sudah tuba atau belum. Padahal dia bisa melihat layar cctv. Kalau panik yang mudah pun menjadi sulit.


Pukul sebelas Fahmi baru pulang dan melihat istrinya tidur di sofa. Kasihan istrinya pasti lelah menunggu. Fahmi kecup kening istrinya dan Mira terperanjat karena kaget.


"Maaf aku mengganggu tidurmu, Sayang," kata Fahmi masih berjongkok dan mengelus pipi istrinya.


Mira menggelengkan kepala, lalu meraih tangan suaminya untuk ia kecup berkali-kali. "Mas pasti capek banget kan, aku siapkan air hangat ya untuk mandi."


Fahmi tidak menolak karena memang dirinya sudah cukup lelah hari ini. Dia sampai harus lembur bersama orang kepercayaannya di kantor untuk membahas langkah yang akan mereka ambil setelah beberapa investor mengundurkan diri dan membatalkan kerja sama secara sepihak.


Mereka sama-sama menuju kamar. Mira langsung menyiapkan air hangat untuk suaminya. Bahkan ia ikut berendam untuk menemani suaminya.


"Tumben mau," kata Fahmi saat Mira ikut masuk ke dalam bath-tub.


"Karena mas pasti capek dan tugas istri adalah menyenangkan suaminya."


"Tapi kamu juga sama-sama capek, Sayang. Kamu ngurus rumah, pekerja, anak-anak, aku dan diri sendiri. Maaf ya aku jadi membuat kamu harus menunggu." Fahmi jadi merasa tidak enak hati. Ia selipkan rambut istrinya ke telinga.


"Aku tahu kamu merasa bersalah atas apa yang terjadi. Padahal semua bukan salah kamu, sayang. Ini ujian pernikahan kita. Berhenti menyalahakn diri sendiri dan merasa diri tidak berguna. Mari berdiri bersama-sama untuk melewati ujian ini. Aku juga meminta kamu tetap di sisiku dan jangan berpikir untuk pergi seperti yang sudah-sudah. Aku kuat karena ada kamu, dan aku harap kamu pun kuat karena bersamaku. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan aku lagi ya." Ia dekao istrinya dsn ia kecup puncak kepalanya berkali-kali.


Mira mengangguk dan memeluk suaminya. "Aku tidak akan pergi. Aku akan tetap berdiri di samping kamu. Apa pun yang akan terjadi nanti aku akan siap menghadapi kecuali perpisahan."


"Benar jika kamu menyerah maka mereka akan semakin merasa senang. Bukankah tujuan mereka melakukan ini untuk memisahkan kita."


"Mas kamu mencurjgai seseorang?"

__ADS_1


"Iya, aku tidak sebaik yang kamu pikir. Pikiranku kadang sulit dikontrol agar tetap berpikir baik tapi ternyata sulit. Aku tetap merasa ini adalah salah satu cara agar kira bertengkar dan saling terpisah. Sepertinya orang yang menyebarkan fitnah ini adalah orang-orang yang tidak jauh di sekeliling kita."


Mira melayani suaminya. Dimulai dari menemani mandi, menemani makan dan memijit suaminya. Tidak ada olah raga malam untuk malam ini.


Sambil menunggu kantuk tiba mereka bicara dari hati ke hati tentang keinginan masing-masing.


"Jangan menutupi apapun dari aku ya mas, kalau kamu menganggap aku istri yang sesungguhnya."


"Iya aku akan cerita, tapi janji kamu harus kuat dan tidak lagi menyalahkan diri sendiri."


Fahmi menceritakan apa yang terjadi di rumah sakit, perusahaan dan penyebab dirinya pulang larut. Ia bercerita tanoa melepaskan sari yang saling bertaut dengan jari sang istri. Hal itu membuat Mira merasa dihargai.


***


Pulang dari lapas, Gina dan Ema menuju rumah Ardan. Lagi-lagi mereka harus menunggu karena Ardan belum pulang. Sengaja tidak memberi tahu Mira lebih dulu sebab mereka tahu Mira orangnya tidak enakan.


"Enggak, tapi kita harus mencobanya. Lagian si Dion syaratnya aneh-aneh dan tidak masuk akal."


"Gak masuk akal di sebelah mananya, Em. Jelas dia akan memanfaatkan situasi ini demi keuntungan dia juga, Em."


"Cieeeee."


"Apa sih, Em, cua cie cua cie norak tau gak."


"Eeeemmm gitu aja marah."


Ardan baru turun dari mobil saat diberi tahu kedatangan tamu dua gadis cantik yang seumuran Mira. Langkah kakinya bergerak pasti menunggu ruang tamu.


"Loh tentang kalian," ujar Ardan saat melihat kedua teman anaknya yang menunggu kedatanagnd dirinya. "Silahkan duduk!" kata Ardan saat mereka sempat berdiri dan menyapanya. "Kalian tidak mungkin datang ke sini aku tidak ada sesuatu yang penting."

__ADS_1


"Benar, Om. Ini menyangkut Mira," kata Gina.


"Sepertinya kalian juga sudah mendengar berita hari ini."


"Iya, Om dan kita ingin melakukan sesuatu untuk Mira. Saya tahu Om juga tidak akan tinggal diam tapi iInkan kami jiga berkontribusi untuk kebaikan Mira."


"Jadi?" tanya Ardan.


"Om tadi kira menemui Dion, Om pasti sudah tahu siapa dia. Kita juga sempat menuduh bahwa dia pelakunya tapi dia dengan tegas mengatakan tidak. Akan tetapi dia bilang dia bisa membantu kita tapi ada syarat yang harus kira penuhi," lapar Ema.


Ardan mengerutkan kening.


"Dion akan membantu kira kau kita menemui om dan meminta untuk membebaskan dia." Gina imut menambahkan perkataan Ema.


Ardan menghela nafas, "sebenarnya saya bisa saja membebaskan dia dengan jaminan, tapi apa perkataan Dion bisa dipegang."


"Bisa, Om," kata Gina penuh keyakinan. Dia tidak ragu dengan ucapan Dion.


"Baiklah, saya akan menemui pengacara untuk diskusi lebih dulu. Semoga saja Dion memang bisa dipegang ucapannya."


Keesokan harinya Ardan menemui pengacara yang menjadi langganan kaluarganya termasuk kasus pembebasan Dion.


"Jadi dia bisa dibebaskan kan?"


"Kita bisa mengajukan pembebasan bersyarat tetapi minimal Dion sudah menjalani 2/3 masa hukuamannya. Paling sedikitnya p bulan dan Dion mendapatkan catatan kelakuan baik selama itu. Akan tetapi di sini kasusnya Dion belum menjalani mssa hukumann sampai sembilan bulan. Jadi ini akan terasa sulit."


"Aku ingin memberi pelajaran pada pelaku yang memberi pelajaran pada pembuat fitnah itu. Tapi sampai sekarang aku belum mendapat informasi dari mereka." Ardan memijit keningnya yang terasa pusing. "Kemarin teman-teman Mira menemui Dion dan Dion akan mengatakan apa yang ia katahui asal kira membebaskan dirinya lebih dulu."


"Kalau begitu kita temui Dion sekaran," ajak pengacara itu. "Kita akan mengatakan bahwa kita akan membesakan dirinya tapi ya menunggu sampai sembilan bulan dulu. Kita akan mencoba melakukan negosiaisi dengan dia."

__ADS_1


__ADS_2