
Lelaki itu meninggalkan tempat tinggal Mira setelah meletakan sesuatu di depan pintu. Membuat Mira bisa bernafas lega. Setelah memastikan pria itu tidak akan kembali lagi, Mira keluar untuk memeriksa apa yang ditinggalkan pria tadi. Sebuah kotak dihiasi pita berisi pakain bayi, terdapat kertas berisi tulisan di sana "Titip anak kita ya, nanti aku akan mengambilya."
Dion? Benarkah laki-laki itu?
"Dion kenapa kamu tidak membiarkan aku hidup tenang? Padahal aku sudah pergi jauh dari kehidupanmu."
Mira kembali ke dalam rumah, lututnya lemas setelah membaca pesan yang entah dikirim siapa. Haruskah Mira mengatakan tentang ini kepada Fahmi? Namun belum jelas kalau ini Dion yang ngirim. Bisa jadi ada orang yang tengah memanfaatkaan keadaan mereka.
Orang yang mengirim paket tadi masih ada di sekitar tempat tinggal Mira, lalu pria itu menghubungi seseorang, "tugas selesai," katanya melapor.
Mira masih berdiri di depan pintu, berusaha menguasai diri. Tarik nafas, buang, tarik lagi, buang lagi. Ia pun masuk ke dalam rumah dan mencoba membentengi diri agar tak terpengaruh.
Sejak kedatangan surat itu, hari-hari Mira diliputi rasa cemas saat akan membuka pintu. Tidur malamnya tak nyenyak lagi. Selalu takut Dion tiba-tiba datang. Dia sudah berusaha agar tidak terpengaruh tapi nyatanya dia tetap terganggu. Cemas yang berlebih berpengaruh pada kehamilannya.
Saat dia memeriksakan kehamilan pada dokter langganan, dokter mengatakan bahwa berat janin tidak bertambah. Dokter Nisha menatap iba pada Mira. "Ada masalah apa, Bu Mira?"
Yang ditanya tidak menjawab, ia hanya memainkan jari yang saling bertaut.
"Baiklah jika anda tidak ingin membagi masalah yang tengah anda hadapi. Saya hanya berharap semoga masalahnya cepat selesai dan anda kembali seperti sedia kala." Dokter kandungan itu mengulas senyum terbaik yang ia miliki untuk mengalirkan rasa tenang pada pasien.
"Terima kasih," kata Mira sebelum meninggalkan ruang itu.
Dokter Nisha segera menemui Fahmi setelah pekerjaannya usai. Sekarang mereka tengah berhadapan hanya terhalang meja. "Saya rasa saya harus mengatakan ini pada anda." Dokter cantik itu membuka percakapan.
__ADS_1
"Apa ini berkaitan dengan Mira?" tanya Fahmi.
"Ya, memang ada urusan lain selain urusan pasien?" Dokter Nisha tertawa pelan kemudian kembali pada mode serius. "Berat janin Bu Mira tidak bertambah, tentu ada juga paham penyebabnya. Saya sudah mencoba mengorek informasi tapi dia menolak untuk bercerita. Kalau keadaan ini terus berlanjut bisa jadi akan lahir secara prematur."
Stres pada ibu hamil menyebabkan bayi lahir secara prematur.Hal ini karena saat stres plasenta akan menghasilkan banyak hormon pelepas kortikotropin (CRH), yang merupakan hormon pengatur jangka kehamilan.
"Terima kasih sudah memberitahukan hal ini pada saya. Saya akan menemui Mira nanti setelah pekerjaan saya selesai."
***
Dion menatap tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Dia baru saja kembali dari rapat bersama dewan komisaris yang dipimpin oleh mertuanya. Sampai saat ini dia belum kehilangan posisi di dalam perusahaan. Hanya saja sikap mertua padanya tak lagi hangat seperti saat pertama kali dia menjadi menantu.
Belum juga jam kerja berakhir, ponsel milik Dion terus saja berdering. Siapa lagi yang menghubungi jika bukan Nafa-istrinya. Perempuan itu selalu membuat Dion pusing dengan segala tuntutannya. Dion ibarat wayang yang tengah dimainkan oleh dalang.
"Cepat pulang! Kamu lupa hari ini ada acara di rumah Om Tama? Jangan membuat masalah atau kamu akan kehilangan apa uang kamu kejar sekarang."
Kalimat ancaman selalu digunakan Nafa untuk menekan Dion agar permintaannya terpenuhi. Lelah rasanya menjadi Dion tapi itu pilihannya. Dia menerima Nafa waktu itu bukan tanpa alasan. Dia ingin membuktikan pada kedua orang tuanya saat itu yang lebih mempercayakan perusahaan pada Fahmi. Bahwa dirinya juga mampu dan pantas memimpin sebuah perusahaan. Kenapa dirinya harus dibedakan hanya karena lahir dari sumber benih yang berbeda.
Orang tua Fahmi memang sempat berpisah saat Fahmi berusia dua tahun. Entah apa penyebab perpisahan itu sebab mereka tidak pernah menceritakan alasannya. Keduanya sama-sama menjalani kehidupan baru bersama orang baru. Ibu Fahmi menikah dengan pria yang berasal dari Batak. Pernikahan itu bertahan selama empat tahun. Mereka berpisah saat Ion baru lahir dalam hitungan hari.
Keadaan tersebut menyebabkan ibu mereka mengalami postpartum depression. Ahkam-ayah mereka yang saat itu sudah menikah dengan perempuan berasal dari suku sunda, dan mengetahui keadaan mantan istrinya menjadi kasihan. Dia selalu menyempatkan waktunya untuk menemui mereka.
Maksud baik Ahkam di salah artikan oleh istrinya yang baru. Pertengkaran di antara mereka pin kerap terjadi. Istri baru Ahkam menyerah. Dia tidak kuat dan mengatakan dirinya hidup di antara bayang-bayang mantan istri sang suami. Ahkam sudah berusaha mempertahankan pernikahannya tapi istrinya bersikukuh ingin berpisah.
__ADS_1
Perpisahanpun kembali terjadi. Singkat cerita orang tua Fahmi memutuskan untuk kembali bersama. Dion dan Fahmi tumbuh dalam asuhan yang sama. Bahagia bersama behkan menyambut gembira kehadiran adik perempuan mereka.
Dion mengetahui bahwa dirinya berbeda saat tak sengaja mendengar obrolan kedua orang tuanya. Dia sempat marah tapi mencoba untuk berdamai, akan tetapi dia tidak berhasil. Dia semakin marah saat orang yang ia panggil ayah mempercayakan perusahaan kepada Fahmi saat itu. Padahal saat itu Dion baru berusia 24 tahun. Sejak sat itulah persaingan antara Dion dan Fahmi terjadi. Lebih tepatnya Dion yang ingin menyaingin Fahmi.
"Aku masih ada pekerjaan. Enggak mungkin aku harus meninggalkan pekerjaan lagi. Yang ada ayahmu akan semakin marah padaku." Dion menolak permintaan istrinya.
"Oh begitu? Berarti siap-siap kamu akan kehilangan." Nafa mematikan panggilan karena enggan berdebat. Itu lah cara Nafa memaksakan keinginan pada Dion.
Dion menggeram kesal. Kehadiran Mira digunakan Nafa untuk menekan dirinya. Dion meminta sekertarinya untuk membereskan pekerjaan Dia. Sedangkan dirinya harus pulang mengikuti keinginan sang istri.
Beberapa kali dia mengumpat saat lampu merah menyala. Sejatinya Dion pun sama-sama tersiksa.
***
Pulang kerja Fahmi menghubungi sang adik dan mengatakan dirinya harus menemui Mira lebih dulu.
"Memangnya apa yang terjadi sama Kak Mira, Mas?" tanya Adelia ikut mencemaskan.
"Nanti mas ceritakan di rumah, sekarang Mas sudah di jalan menuju rumah Mira. Mas matikan dulu ya," kata Fahmi.
Mobil terus melaju sampai akhirnya berhenti di depan gang tempat tinggal Mira. Saat dia tiba hari sudah gelap. Dia yang hendak membuka pintu mobil mengurungkan niatnya saat melihat ada gelagat yang mencurigan dari orang yang tengah duduk dan sepertinya memperhatikan tempat tinggal Mira.
Pria yang memakai hoodie itu berdiri dan membawa kotak entah berisi apa. Orang itu berlari saat mendengar suara pintu mobil Fahmi yang dibanting.
__ADS_1
Fahmi sempat mengejar, tapi orang itu begitu licin seperti belut.