
"Loh sudah datang?" tanya Fahmi pada Ardan.
Pertanyaan itu jelas membuat Mira terkejut, yang lebih mengejutkan lagi adalah mereka tampak seperti sudah saling mengenal saja. Bagaimana bisa mereka akrab secepat itu pikir Mira.
"Baru beberapa menit yang lalu lah. Sehat?" balas Ardan.
Mereka menoleh pada Mira yang tampak bingung dengan keakraban mereka berdua. Kemudian saling tertawa.
"Banyak hal yang gak kamu ketahui tentang kami, Mira," ujar sang ayah.
"Artinya kalian sudah saling mengenal?" tanya Mira disetujui oleh Fahmi dan Ardan.
Fahmi duduk di sebuah sofa, "lebih tepatnya kenal saat kamu sudah berapa hari di rumah saya. Hari ke dua saya mencari tahu tentang kamu. Setelah dapat saya pun menemui orang tau kamu dan memberi tahu keadaan kamu. Ayahmu menitipkan anak perempuannya pada seorang duda," papar Fahmi.
"Ya yang dikatakan dokter Fahmi itu benar. Papa menitipkan kamu sama dia. Saat itu papa terlalu malu untuk menemuimu."
Luar biasa, itu yang ada dalam pikiran Mira tentang Fahmi. Selain mencari tahu diam-diam tentang dirinya dengan Dion ternyata dia juga mencari tahu tentang seluk beluk hidup Mira.
"Papa minta maaf. Bukan papa bermaksud mengabaikan kamu tapi papa benar-benar merasa malu. Papa titipkan kamu sama dia karena dia bisa dipercaya. Dia juga selalu memberi kabar tentang kamu pada papa."
"Papa tahu aku pernah datang ke rumah?" Mira menatap sang ayah.
"Tahu, papa melihat kamu dari dalam rumah. Sengaja papa tidak menyalakan lampu ruangan, karena saat itu papa belum siap menemui kamu. Saat itu papa juga merasakan rindu, tapi papa marah pada diri sendiri. Papa menghukumnya dengan menahan rindu pada anak papa sendiri."
"Memangnya kamu tidak curiga saat saya menemukan kamu duduk depan halaman rumah kamu sendiri, Dek?" tanya Fahmi.
Mira menggelengkan kepala. Dia benar-benar tidak tahu, dia hanya mengira Fahmi bisa menemukan dirinya karena melacak GPS ponselnya. Padahal jelas saat itu ponselnya dalam keadaan habis daya.
"Itu papa kamu yang ngirim titik lokasinya," lanjut Fahmi.
"Tau ah pusing," kata Mira sambil menarik selimut hingga menutupi kepala.
Ardan dan Fahmi saling tatap dan tertawa melihat reaksi Mira. Setelahnya Fahmi pamit karena harus bekerja. Saat dia keluar dari ruang rawat Mira, ponsel di dalam sakura berbunyi, dan meempilkan sebuah pesan.
Fahmi hanya menggelengkan kepala melihat isi pesan tersebut. "Masih belum brubah ternyata," gumam Fahmi, memasukan kembali ponselnya.
Biarlah perih itu akan ia urus setelah pekerjaan selesai.
***
Nafa menatap pesan yang dikirim Fahmi pada Dion. Dia kenghibingi seseorang, "Lakukan tugasmu sekarang!" perintah Nafa.
"Boooom, kamu memang hebat Nafa." Dia memuji diri sendiri dan tertawa. Dia merasa berhasil telah mengandu domba kedua adik kakak itu. Fahmi akan mengira orang yang meneror Mira adalah Dion dan Dion tidak akan terima dengan tuduhan itu.
"Kalian kalah cerdik," kekeh Nafa sambil memandang dirinya di cermin. Dia tengah bersiap untuk pergi.
Pukul sebelas siang, orang suruhannya Nafa datang ke rumah sakit. Membawa buket bunga sesuai perintah Nafa. Dia menanyakan dimana ruang rawat Mira pada petugas, sayangnya dia tidak mendapat izin untuk masuk. Petugas menyarankan agar pria itu menitipkan buket bunganya pada suster.
"Kalau begitu saya titip ini untuk, Bu Mira, Sus," kata orang itu pada suster.
Hanya butuh waktu sepuluh menit agar buket bunga itu sampai kepada yang dituju.
"Permisi, Bu Mira, ini ada titipan untuk anda," kata suster sambil menyerahkan buket bunga tersebut.
Mira yang tangah memakan buah pun menerimanya. Dia menoleh pada Ardan yang tengah bekerja melakui laptopnya.
"Dari siapa?" tanya Ardan pada suster.
__ADS_1
"Maaf Pak tadi saya tidak menanyakan siapa pengirimnya."
"Ok terima kasih, Sus," kata Mira menutup percakapan di antara mereka.
Mira membaca tulisan yang terdapat pada kartu ucapan. "Sudah waktunya aku mengambil milikku."
Di saat yang bersamaan Mira melihat Dion dari kaca kamar rawatnya. Hanya saja pria itu tidak lama dan langsung pergi. Menimbulkan kesalahan pahaman di antara mereka. Padahal ada yang tengah tersenyum puas melihat keadaan itu.
Mira langsung mengambil ponselnya, mengirim pesan pada Fahmi.
"Dok, apa bagiku akan aman? barusan aku lihat Dion di depan pintu ruangan"
Pesan terkirim, tak lama masuk pesan balasan.
"Aman, tenang aja. Pengalaman di rumah sakit ini sudah jauh lebih baik."
Mira menghebuskan nafas lega. Ia menolak pada Ardan yang sibuk bekerja. Mira turun dan duduk di sebelahnya.
"Pa?" Mira menyandarkan kepalanya pada pundak dang ayah.
Ardan menghentikan aktifitasnya, "ya?"
"Papa sama mama gimana?"
Ardan terdiam, dia belum menceritakan tentang dirinya dengan Dina.
"Bener papa dan mama berpisah?" tanya Mira lagi.
"Kamu sudah bertemu Dina?"
Mira mengangguk, "waktu itu di Mall. Mama juga cerita tentang perpisahan kalian."
"Ardit pernah menghubungi papa?"
"Nggak, sepertinya dia marah sejak papa mengusir kamu. Tetapi kalau papa yang menghubungi lebih dulu baru papa bisa bicara sama dia."
"Papa marah sama dia?"
"Nggak, kenapa harus marah. Dari keadaan kita tidak ada yang benar-benar harus disalahakan, Mira." Ardan menghela Nafas. "Sekarang ceritakan tentang kamu! Ya meskipun sebagian papa sudah tahu dari Fahmi. Dia itu pria baik, Mira."
Mira setuju dengan pernyataan sang papa tentang Fahmi. "Ya papa benar. Kalau aku memandingkan keluarga kita dengan dia kadang aku iri sama adek perempuannya."
Ardan kembali mendekap Mira. Mencium ubun-ubunnya berulang kali. Dia sendiri menyesal telah menjadi orang tua yang lalai untuk anak-anaknya.
"Kamu suka sama dia? Kalau dia sepertinya suka sama kamu." tanya Ardan, mengurai pelukan.
Mira mengerutkan kening, "gak mungkin papa. Dia itu terlalu sempurna untuk seorang Mira."
"Kalau gitu buat papa aja?"
"Papa normal kan?" Mira menyipitkan mata.
"Ya maksudnya buat jadi menantu papa aja," kekeh Ardan diikuti Mira. Tawa mereka berhenti karena kedatangan Adelia.
"Kak Miraaaaaaa!" seru anak itu dari pintu. Seperti kata Fahmi anak itu datang dengan wajah yang tampak berbinar. Sudah pasti karena kelahiran bayi yang dianggap keponakannya. "Halooo mahmud, ups," Adelia menutup mulut saat melihat ada orang lain di ruang rawat Mira.
"Del, ini papaku. Pa ini Adelia adiknya dokter Fahmi."
__ADS_1
"Adel, Om."
"Ardan papanya Mira."
"Kak tadi malam aku baca pesan dari mas Fahmi, aku pikir itu mimpi. Pagi-pagi aku baca lagi pesannya ternyata nyata." Adelia bercerita dengan semangat yang menggebu-gebu. "Sampai-sampai aku di sekolah merasa waktu tuh bergerak sangat lambat. Aku mau bertemu keponakanku."
"Tapi dia belum bisa ditemui, kita hanya bisa melihatnya dari kaca."
"Yaaaaahhh padahal aku mau gendong dia."
"Nanti saja kalau sudah pulang," kata Ardan yang ikut bicara.
Ruang rawat Mira menjadi semakin rame dengan datangnya dua orang teman Mira. Mereka tak kalah heboh dengan Adelia.
Fahmi datang belakang karena dia harus bekerja. Dia menyempatkan melihat Mira di sela waktu kerjanya tapi tidak lama.
Ardan sendiri memilih untuk mencari makan siang di laur. Memberi ruang pada sang anak untuk bersama teman-temannya.
Gina, Ema dan Adelia heboh saling bercerita. Adelia pun jadi akrab dengan kedia teman Mira.
***
Sere hari, setelah jam kerjanya habis, Fahmi kembali menjenguk Mira, setelah ini dia akan menemui Nafa.
Saetengah jam perjalanan yang ditepuh Fahmi membawa menuju sebuah kafe yang jadi tongkrongan favorit anak muda. Dia turun dari mobil dan menuju ruangan yang sudah dia reservasi.
Tidak lama Nafa datang dengan wajah berseri. Penampilannya sungguh cantik saat tahu Fahmi mengajaknya untuk bertemu. Dia tida sabar untuk bertemu dengan orang yang selalu ada dalam hatinya. Dia gagal Move on.
"Aku telat ya?" tanya Nafa saat sudah berhadapan dengan Fahmi.
"Saya juga baru datang, kok. Mau pesan?"
"Boleh."
Fahmi meminta seorang pelayan mendekat. Ia hanya merasa minuman karena niatnya hanya untuk bicara dengan Nafa.
Berbeda dengan Nafa yang memesan makanan.
"So ... jadi kamu mengajak bertemu di sini untuk?" tanya Nafa setelah pelayan kembali.
"Kamu belum berubah ya," kata Fahmi sambil tersenyum kecil. "Saya pikir kehancuran rumah tangga saya dengan Silvi sudah cukup untuk kamu, Naf. Tetapi rupanya masih kurang."
"Ma-maksud kamu?"
"Naf, nasib bisa di rumah tapi takdir itu ketentuan-Nya. Saya sudah tahu apa yang kamu lakukan. Terhadap rumah tangga saya dan Silvi."
Deeeerrr, Nafa terdiam.
"Terlambat memang saya mengetahuinya, toh dia juga sudah menikah dengan orang lain. Tapi ... saya tidak paham tujuan kamu dengan Mira."
"Mi-mira?" Gugup, itu yang terjadi pada Nafa.
"Ya Mira, Kamu masih emnaggap dia saingan kamu untuk mendapatkanku? Padahal kamu sendiri bukan wanita single. Atau kamu takut Dion akan berpaling padanya dan semua orang meninggalkan kamu?"
"Kamu menuduhku mengganggu calon istrimu, Fahmi? Untuk apa aku menganggu dia, kenal saja tidak." Nafa mengelak, dia berusaha menguasai diri. Meski dalam hati kecilnya memang mengakui.
"Bukan menuduh tapi ini buktinya." Fahmi menyodorkan bukti-bukti yang dikirim orang suruhannya. "Kamu boleh menyangkal, kamu boleh mengelak, tapi bukti ini nyata."
__ADS_1
"Ternyata kamu pandai membuat sebuah fitnah, Fahmi."
"Oh ya? perlu aku beberkan selain bukti ini. Mungkin tentang kehancuran rumah tanggaku?"