
Karena Adelia selalu mengatakan hal itu terus-menerus, akhinya Fahmi mengatakan kalau ia akan mencaritahu kebenarannya. Adelia merasa lega saat mendengar ucapan dari kakaknya. Ia pun kembali ke kamar dan melanjutkan tidur.
Keesokan harinya semua menjalankan aktifitas seperti biasanya. Ponsel Fahmi terus saja berdering sejak tadi. Fahmi mengabaikan karena masih harus memeriksa pasien terakhir.
Saat ia menjawab panggilan tersebut, ia dibuat panik. Ia segera menyambar kunci mobil dan meninggalkan rumah sakit. Panik itulah yang terjadi saat Adelia memintanya segera pulang.
Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi sehingga jarak yang biasanya ditempuh menggunakan waktu satu setengah jam kini hanya ditempuh dalam waktu empat puluh lima menit.
Setelah memarkirkan mobil dengan benar, Fahmi berlari ke dalam rumah. Di sana Ada Dion dengan keadaan pelipis yang dan bagian bawah mata yang berdarah, serta Mira yang mengerang kesakitan. Kondisi Adelia pun tak kalah kusut. Pakaiannya seragamnya tampak kotor dengan wajah yang memerah, dadanya terlihat naik turun. Jelas sekali kalau dia tengah menahan amarah.
Buk, Fahmi langsung menonjok wajah Dion beberapa kali hingga adiknya itu pingsan. Tidak peduli setelah ini dia akan berurusan dengan hukum. hanya utu caranya agar Dion tidak lari setelah ini.
Mengabaikan Dion yang tergeletak, Fahmi segera mengangkat tubuh Mira dan membawanya ke rumah sakit.
Semua pekerja tampak bingung dengan kejadian yang tarjadi secara tiba-tiba.
Melihat majikannya yang menggendong Mira dengan langkah tergesa, sopir Adelia membantu membukakan mobil.
"Tahan Dion di rumah, saya akan kembali setelah memastikan keadaan Mira," pesan Fahmi pada orang-orang rumah termasuk Adelia.
"Mas jangan lupa kabari aku."
Fahmi mengangguk dan langsung membawa Mira ke rumah sakit. Beberapa kali ia hampir kehilangan fokus saat Mira kembali mengerang. "Tahan, sebentar lagi kita sampai."
"Gak kuat, ini sakit sekali," erang Mira dengan tangan terkepal dan mata yang terpejam.
"Bertahanlah, Mira."
Setelah empat puluh lima menit perjalanan, akhirnya mobil tiba di rumah sakit. Dia langsung meminta perawat membawakan brangkar.
__ADS_1
"Bertahanlah, Dek." Fahmi mengangkat tubuh Mira dari dalam mobil.
"Sakit," lirih Mira sampai akhirnya matanya terpejam.
Tentu Fahmi semakin panik, dia bergerak ikut mendorong brangkar Almira sampai ke ruang UDG.
Dia mengepalkan tangan. Dia ingin kembali ke rumah tapi Mira belum pasti keadaannya.
***
Semalam setelah Fahmi memindahkan Mira ke kamarnya, Mira memang terlelap. Akan tetapi saat malam menjelang dini hari ponselnya berdering.
Mira yang kesadarannya belum penuh langsung mengangkat panggilan tersebut. Dia lupa kalau ponselnya sudah ia abaikan beberapa hari sejak pulang dari dokter. Dia mengabaikan ponselnya serta ancaman Dion yang tak kunjung berhenti meski kontaknya sudah di blokir. Dion tidak kehabisan akal, dia mengirim pesan ancaman menggunakan beberapa nomor baru.
Tidak ada suara saat panggilan sudah diangkat, Mira meletakan kembali ponselnya. Dia kembali berbaring tapi ponselnya kembali berbunyi.
Dengan mata terpejam Mira meraih ponselnya. Dia membuka pesan yang dikirim oleh Dion. Merasa Dion sudah kelewatan dan membuat dirinya geram. Mira mengirim ancaman balik. Dia mengirimkan salah satu rekaman percakapan dengan Dion.
Dion yang menerima balasan dari Mira dan memutar rekaman itu menjadi semakin kalap. Sungguh mengghabisinya akan menjadi cara terkahir itu yang dipikirkan Dion.
Kesok harinya, Dion yakin kalau adik dan kakaknya sudah berangkat ke sekolah dan ke rumah sakit. Pastinya di rumah Fahmi hanya tinggal Mira dan beberapa pekerja. Dia tidak memiliki hambatan untuk masuk ke dalam rumaj sang kakak mengingat para pekerja tahu kalau Dion adalah adik majikannya.
Dion mengamati rumah itu, beberapa pekerja tampak sibuk membersihkan debu yang terdapat pada hiasan rumah.
Menghindari area yang tersorot kamera pengawas, Dion menyelinap ke kamar Mira. Kamarmya kosong. Dia kembali ke ruang keluarga dan di sana dia melihat Mira membawa pakan ikan ke arah belakang. Suatu kebetulan yang menguntungkan.
Dion mengikuti langkah Mira, berjalan seperti biasa agar tidak membuat pekerja yang melihatnya menaruh curiga.
Di kolam ikan yang ada di taman belakang, Mira langsung menaburkan pakan yang ia bawa. Rutinitas Mira memang saat tidak mengantar Syafa ke sekolah ya memberi makan ikan. Dia tidak mengetahui bahwa Dion mengikutinya.
__ADS_1
Setelah memastikan tidak ada yang melihat perbuatannya, Dion langsung membekap Mira dan membawanya ke gudang.
Mira kaget, pakan ikan di tanganmu jatuh. Dia berusaha melepaskan tangan Dion yang membekap mulutnya. Sayangnya tenaga ibu hamil tidak sebanding dengan tenaga Dion.
Brak pintu gudang di tutup menggunakan kaki. "Diam," bentak Dion saat Mira masih berusaha memberontak. Dion mendorong tubuh Mira hingga perutnya hampir membentur ujung meja yang sudah usang.
Beruntung insting seorang ibu untuk melindungi anaknya reflek disaat bersamaan. Mira manahan tubuhnya dengan sikut. Dengan nafas terengah Mira berbalik menghadap Dion. Dalam pikirannya sudah terlintas kalau dia akan kalah lagi oleh Dion seperti saat pertama kali pria itu mengelabuinya dengan kalimat manis. Tetapi hati kecilnya mengatakan bahwa ia harus berjuang, ia harus menang. tidak boleh kalah apalagi mengalah.
"Diam di sana Dion," teriak Mira saat melihat pria itu berjalan ke arahnya dan membawa tambang.
"Oh rupanya kancil yang pemberani itu mulai takut." Dion menyeringai. "Takut mati, hah? Tapi jika kamu mati secara langsung itu terlalu manis sayang."
Panggilan sayang di saat seperti ini hanya seperti nada ancaman bagi Mira.
"Kau membuatku muak, Mira."
"Aku tidak melakukan apa pun Dion. Aku hanya meminta mu untuk diam, tidak mengusikku sampai aku melahirkan bayi ini. Dia harus hidup." Mira menahan air mata yang hendak keluar begitu saja.
Brak, Dion menggebrak barang yang dekat dengan dirinya. "Dia gak boleh hidup, dia akan membuat apa yang kugenggang saat ini hilang. Dan usahaku akan sia-sia, Mira."
Mira melengos mendengar jawaban Dion, "harta dan jabatan maksudmu?" Mira tertawa sumbang, menahan sesak yang menghimpit di dada. "Semurah itu ternyata yang kamu kejar Dion. Ada yang lebih mahal dibanding itu yaitu bentuk tanggung jawab dan sebuah kejujuran."
Tangan Dion melayang dan mendarat keras di pipi Mira. Dion mencekal rahang Mira dengan keras, "anak tidak berpendidkan sepertimu tidak pantas mengatakan soal kejujuran dan tanggung jawab." Dion tertawa mengejek. "Anak kesepian sepertimu hanya butuh kehangatan dan belaian seorang pria. Benar begitu Mira?"
Cuiih, Mira meludahi Dion. Dengan tenaga yang tersisa, Mira mencakar wajah Dion hingga kulit bagian bawah mata Dion terluka. "Arrrggghhh," teriak Dion.
Mira menggunakan kesempatan itu untuk bangun. Tetapi gerkannya yang lambat membuat Dion kembali menguasai tubuhnya. Sekarang tubuh Mira dibuat berbaring. "Kamu ingin seperti ini lagi kan? ayo kita lakukan lagi Mira." Dion hendak melecehkan Mira.
Salah satu hal yang paling menyiksa adalah harus melayani orang yang kita benci. Selain menyerang fisik, Dion juga menyerang mental Mira. Dia yakin tanpa harus membunuhnya, perempuan itu akan menghilang dengan sendirinya.
__ADS_1
"Jangan, Dion." Mira berusaha menahan tubuh Dion menggunakan tangannya.