
"Gimana Syafa," tanya Fahmi yang istirahat di dalam kamar. Tersenyum pada istrinya saat datang.
"Sudah lebih baik. Dia sudah minta maaf dan sudah baikan."
"Maafkan dia yang selaku merepotkan kamu ya." Fahmi mengusap pipi istrinya kemudian meraih telapak tangannya untuk ia kecup berkali-kali. "Terima kasih sudah menjadi ibu yang baik untuk dia."
Mira mengangguk dan meminta izin untuk menghubungi ayahnya.
"Papa gimana?" tanya Mira yang duduk di samping Fahmi. Tangannya mengusap surai legam milik suaminya. suaminya.
"Pihak kepolisian sudah sudah menangkap akun yang menyebarkan berita fitnah itu. Tetapi pelaku mengaku bahwa dia melakukan itu atas keinginan dia sendiri." Ardan menjelaskan.
Beberapa minggu setelah berita itu semakin panas Ardan dan Fahmi setuju mengambil jalur hukum. Sebelumnya Fahmi ingin membiarkan dan berpikir akan redup dengan sendiri tapi ternyata tidak. Malah semakin panas dan meremebet pada fitnah lain. Dia dituduh suka main perempuan, memberikan harapan palsu pada anak orang. Bahkan ada juga yang mengaku sempat dilecehkan.
Saat itu Fahmi hanya berusaha bersikap tenang dan tidak terpancing emosi. Ia juga selalu meminta agar Mira tidak meninggalkan dirinya. Beruntung Mira sudah lebih stabil jadi tidak lagi berpikir untuk pergi.
"Bagaimana mungkin, Pa, orang tersebut bisa menyebarkan berita tentang kita sedangkan kita saja tidak terkenal," balas Mira dan disetujui oleh Fahmi.
Kalau saja Fahmi terkenal seperti artis, pengusaha hebat atau dokter-dokter hebat lainnya itu masuk akal. Akan tetapi Fahmi belum sampai seterkenal itu, ia hanya dikenal sebagai dokter dan pengusaha yang meneruskan hasil kerja keras ayahnya.
"Itu lah yang papa tidak mengerti. Papa juga yakin kalau ada orang yang memiliki kepentingan tertentu dalam kasus ini.
"Terus gimana soal Dion?"
"Papa belum mengunjunginya, tapi pengacara papa sudah ke sana. Dion akan bicara kalau kita membantu dia bebas. Apa mungkin ini tindakan Nafa atau Hendro ya Mir?"
"Kenapa Nafa dan pak Hendro, papa. Dia kan juga ada di dalam penjara. Masa masih sempat memikirkan hal seperti ini."
"Tapi bisa jadi dia memainta bantuan orang lain. Kan yang di penjara hanya dia, ayahnya dan juga Dion."
"Berarti kita juga bisa mencurigai Dion, Pa." Fahmi ikut bicara.
"Bisa jadi, tapi Dion mau bayar orang pakai apa. Dia kan tidak membawa apa-apa ke dalam sel. Kecuali jika dia memiliki orang-orang yang solid pada dirinya. Papa kira Nafa yang lebih memungkinkan melakukan hal itu. Katakan saja papa suudzon pada mereka. Gimana kalau ternyata dia meminta bantuan ibunya, mereka kan masih punya harta, orang bisa mereka suruh asal ads imbalan."
"Ah iya juga ya. Aku akan menemui Dion besok, Pa. Siapa tahu dia akan bicara padaku sebagai kakak yang meminta tolong."
" Sepertinya itu lebih baik. Coba saja dulu! Sebab kalau kita harus membedakan dia yang sudah divonis akan sedikit sulit dan membutuhkan banyak waktu. Yang kita cari adalah dalang dari kejadian ini," kata Ardan sebelum pamit dan menutup panggilan.
__ADS_1
Fahmi memberikan ponselnya kepada sang istri. Lalu dia menarik istrinya hinga jatuh sama-sama di kasur.
"Iseng banget sih," Mira bangkit dan memberikan cubitan kecil pada lengan suaminya.
"Kasih aku kekuatan, Sayang."
Mira mengerutkan dahi, "Memangnya aku apa bisa ngasih kamu kekuatan. Aku saja masih lemah, Mas juga tahu kalau aku masih cengeng dan seeing nangis."
"Berikan energi posisifmu dengan cara peluk dan cium."
"Dih bilang aja mau di peluk dan di cium," kekeh Mira tapi tetap melakukan permintaan istrinya.
Fahmi mengusapkan tangan pada perut sang istri sambil menatap langit-langit kamar.
"Mas mau aku lepas kb?" tanya Mira seolah mengerti arti usapan tangan suaminya di atas perut.
"Jangan dulu, Syifa masih membutuhkan banyak perhatian istriku ...."
"Ibunya," sanggah Mira.
"Ya ibunya kan istriku," balas Fahmi tak ingin kalah.
Pukul tiga sore, Adelia baru pulang sekolah. Di ruang keluarga hanya ada Syafa dan Gama yang tengah bermain juga mbak Santi yang tengahenjaga Syifa.
"Kak Mira sama Mas Fahmi ke mana?" tanya Adelia karrna tidak melihat sepasang suami istri itu.
"Ibu lagi menemani bapak istirahat di kamar," kata mbak Santi yang sudah mengganti panggilan pada Mira meskipun usia Santi lebih tua dari Mira. Akan tetapi ia akan terlihat tidak sopan jika memanggil Mira dengan menyebut nama langsung. Padahal Mira meminta agar Santi tetap memanggil namanya seperti saat ia dan Fahmi belum menikah. Artinya masih sama-sama berstatus pekerja.
"Jangan sampe Syifa punya adik lebih cepat," kekeh Adelia sambil menjawil pipi keponakannya. Ia hendak emmangku tapi Santi mengingatkan bahwa Adekia harus bersih-bersih dulu. "Ya udah deh pangguknya nanti kalau tante sudah mandi dan wangi. Sampai ketemu nanti Syifaaaaa."
Iseng-iseng Adelia merobohkan mainan yang sudah dia susun oleh Gama dan Syafa kemudian berlari.
"Tante Adel!" teriak Syafa dan Gama sambil embegejar Adelia ke dalam kamar.
"Kok anak-anak pada lari ke kamar Adel, Mbak?" tanya Mira yang tengah menuruni anak tangga. Kemudian duduk di samping putrinya.
"Tadi Neng Adelia iseng, menjatuhkan mainan yang sudah disusun oleh anak-anak."
__ADS_1
"Oh alah pantes mereka mengejar Adel," kata Mira sambil memangku putrinya yang tersenyum. Tak lama terdnegarlah tangis salah satu dari mereka. "Eeemmm pasti seperti ini lagi. Tunggu sebentar ya sayang, ibu harus cek kakak kamu dulu," kata Mira sambil meletakan Syifa kembali dan membiarkan anaknya kembali belajar tengkurap.
Di dalam kamar, Adelia tengah mengerjai kedua keponakannya.
"Kasihan kalian bakal punya adeeek nanti kalian gak akan dimasakin lagi sama ibu. Soalnya ibu reoot harus urus adek yang bayi."
Adelia semakin iseng tapi Mira keburu muncul di pintu sambil menggelengkan kepala.
Syafa dan Gama yang sibuk mengusap air mata langsung berlari dan memeluk Mira.
"Ibu apa ibu gak akan lagi sayang sama aku kalau ada adik baru?" tanya Syafa terisak. Begitu juga Gama.
"Tante Adelia bilang, ibu gak akan ngajak aku main lagi."
Adelia nyengir dan mengacungkan kedua jari membentuk huruf V. "Senang ya lihat kakak iparnya jadi repot kayak gini."
"Eh maksud aku baik kok. Biar kak Mira gak fokus sama bayi tua doang," sanggah Adelia.
"Aku bilangin mas Fahmi loh kamu bilang dia bayi tua. Mas Fahmi kan gak suka kalau dibilangin tua sama kamu."
"Eh jangan-jangan! nanti yang jajanku disuant lagi sama Mas Fahmi." Adelia memasang wajah memelas. "Jangan ya, Kak. Aku janji deh bak balak ngerjain mereka lagi. Asli sumpah." Adelia terlihat panik apalagi jika mengingat uang jajan.
Fahmi turun dari akamr dan ikut bergabung bersama siti dan anaknya meski masih tiduran di sofa dan kepala dioangkuan istrinya.
"Pasti mereka dikerjai Adellia lagi," kara Fahmi menatap sisa air mata pada wajah putri dan keponakannya. Hingg saat Adelia imut begabung Fahmi langsung menatapnya.
Adelia menciut dan salah tingkah. "Sumpah nggak akan lagi," kata Adelia.
"Deri kemarin-kemarin juga bilangnya gitu kamu mah."
Waktu terus merangkak dan adzan maghrib sudah berkumandang. Fahmi kembali bergabung melakasnanakan smalam berjamaah di mushola bersama para pekerja. Rasanya begjtu tenang saat ia kembali menjalankan rutinitas hariannya.
Pekerjaan dan urusan perusahaan yang menyita banyak waktu Fahmi seperti terbayar hari ini. Dia sakit tenyata membawa hikmahnya.
Ia juga bisa kembali mengajar Syafa dan Gama mengaji. sedangkan Mira melaksanakan kewajibannya di dalam kamar. Ia tidak bisa memikirkan Syifa pada Sabtu di waktu ibadah karena takut mengganggu. Jadinya Mira memilih menjaganya sendiri.
Malam semakin merangkak dan menyisir hingga pagi dan mentari menyapa. Fahmi sudah segar dan akan kembali bekerja. "Yakin nanti mau bertemu Dion?" tanya Mira sambil merapihkan kerah kemeja yang digunakan suaminya.
__ADS_1
"Yakin semoga Allah memperkenankan. Lagi pula aku juga sudah beberapa hari tidak mengjenguknya. Aku takut dia kembali merasa diasingkan olehku."
Setelah sarapan bersama, Fahmi pamit dan akan mengantarkan Syafa dan Gama ke sekolah lebih dulu. Ya selain Gama tetap tunggal di rumah Fahmi, anak itu juga pindah ke sekolah yang sama dengan Syafa. Tentu dengan izin lebih dulu pada Dion.