
Melihat Mira mendekat ke arah mobil, si pemilki mobil langsung melakukan mobilnya. Siapa Dia? Dion atau Papanya?
Tepukan di pundak membuat Mira terlonjak dan hampir menjatuhkan kantong kresek yang berisik makanan. Mira mendelik saat mengetahui ternyata yang menouk pundaknya adalah kedua temannya. Ema dan Gina.
"Lihat setan, Bu?" goda Ema.
"Iya kalian setannya," jawab Mira diikuti tawa mereka bertiga.
"Mira aku kangen bangeeeeet!" Ema langsung meluk Mira.
"Engap, Em, engap sumpah. Mana bau keringat lagi."
Ema mengendus ketiaknya, "Perasaan udah ganti pakaian deh. Emang masih kecium?" Yang ditanya bukannya menjawab malah tertawa. "Eeehh dasar ya kalian," gerutu Ema.
Mereka ke kamar Mira. Menghabiskan makanan yang mereka bawa kemudian saling bercerita. Saat giliran Ema dan Gina yang bercerita mereka sama-sama tertawa. Akan tetapi saat giliran Mira bercerita suasan menjadi senyap. Hanya terdengar helaan nafas dari mereka masing-masing.
"Kamu masih mencintai dia, Mir?" tanya Ema disetuji oleh anggukan Gina.
"Cinta dan benci itu beda tipis, kedua hadir dalam waktu bersamaan. Aku tuh sering bertanya pada diri sendiri. Sebenarnya aku mencintai dia atau membenci dia, tapi aku belum menemukan jawaban pasti, Em, Gin."
"Tapi menurutku kalau kamu masih mencintai dan suatu saat menerima dia kembali kami termasuk orang bodoh sih. Apalagi pas dengar cerita kamu bagaimana Dion berusaha menyingkirkan kamu. Sumpah kalau aku jadi adiknya aku hajar dia sampai mampus."
"Setuju. Giliran mau madunya, manis banget sikapnya. Giliran harus bertanggung jawab malah berubah jadi monster. Menurutku psyko sih dia," tambah Gina.
Mira tersenyum.
"Terus rencana kamu ke depan apa, Mir?" tanya Ema.
"Apa ya aku gak punya keahlian," kekeh Mira. "Tadi lihat-lihat sekitar aku pikir aku mau jualan jajanan anak-anak. Ya seperti seblak, basreng, spatula, kayakanya jajanan itu masih jadi makanan favorit tapi aku gak pandai masak," lanjut Mira sambil tertawa. Benar jauh dari keluarga Dion membuat Mira sedikit lepas dari rasa tertekan.
"Masak telur aja gosong," kata Gina sambil mencomot cemilan yang tadi dia bawa.
"Eh enggak, sekarang masak telur mah udah bisa," bantah Mira.
"Masa?" tanya Ema dan Gina bersamamaan.
__ADS_1
Tak terasa hari mulai gelap. Mama Gina datang dan mengingatkan mereka untuk segera menunaikan kewajiban. Setelahnya Ema pamit pulang karena ia tidak terbiasa masih di luar rumah saat hari mulai gelap.
"Yah tadinya aku pengen nginep," kata Ema memasang ekspresi memelas.
"Kapan-kapan aja. Kalau sekarang nginep kasian ibumu, kan tadi katanya bapakmu lagi di luar kota," balas Mira.
"Iya, kasihan juga Mira kalau kita malam ini langsung nginap. Dia butuh istirahat, kalau kita nginap yang ada malah ngobrol sampai pagi," kata Gina.
"Ok, aku pulang, bye Mira besok aku ke sini lagi."
"Bye, Em," balas Mira dan Gina bersamaan.
***
"Temanmu itu jadi ngontrak, Gin?" tanya Pak bambang ayahnya Gina.
"Jadi, udah masuk tadi." Mama Gina yang menjawab sambil menyuguhkan teh hangat untuk suaminya.
"Ma ... Kira-kira pa ya perkiraan yang bisa dikerjakan oleh ibu hami, tapi gak mengurangi waktu istirahatnya. Ada gak?"
"Banyak, bisa jahit, bisa jualan, banyak kok. Iya kan, Pa?"
Mira terus berjalan untuk sampai di warteg. Kebanyakan penduduk yang tinggal di sekitar tempat tinggal Mira bermata pencaharian sebagai penjahit.
"Bu, di sini kebanyakan pekerjaannya menjahit ya?" tanya Mira pada yang melayaninya.
"Iya, neng. Penduduk baru ya?"
"Iya baru pindah kemarin."
Mira kembali ke rumah dan ternyata Gina sudah berdiri di depan pintu menunggu dirinya.
"Dari mana, Non? Pagi-pagi udah keluyuran. Nih aku bawain sarapan. Buka pintunya! pegel aku dari tadi berdiri."
Mira tertawa sambil membuka pintu, "Kan bisa balik lagi ke rumah, atau duduk lesehan kek." Mira mempersilahkan Gina masuk. "Oh ya Gin, di sini banyak yang kerja menjahit ya. Mereka ngambil pekerjaan itu dari mana ya?"
__ADS_1
Gina mereka sarapan yang ia bawa, "Ada yang punya sendiri ada juga yang makloon. Biasanya ngambil makloonan dari pak haji. Kamu mau menjahit?"
"Kayaknya sih iya, tapi harus belajar dulu. Setelah kupikir-pikir mejahit kan gak menghabiskan banyak tenaga. Akubjuga gak harus angkat bebas berat. Tinggal duduk, kaki dan tangan yang bekerja. Kehamilan aku kayaknya gak akan terganggu juga."
"Gitu ya?" tanya Gina setelah memasukan makanannya ke mulut. "Masuk akal sih. Nanti aku minta mama buat bilangin ke Pak Haji."
"Eh tapi aku harus beli mesin jahitnya dulu ya?"
"Gampang biasanya pak haji ngasih pinjem mesinnya sepaket. Mesin jahit sama mesin obras. Tapi biasanya perbaju itu dibayar sekitar 15-16k. Murah sih emang mau?"
"Ya gak papa yang penting aku bisa produktif. Gak hanya ongkang-ongkang kaki. Setidaknya aku gak menggunkam uang dari dokter Fahmi untuk menunjang hidup."
Sesuatu janji pada Mira, Gina meminta mamanya menemui pak haji pemilik konveksi. Meminta pekerjaan untuk Mira. Tidak lupa mama Mira juga menjelaskan kalau yang akan bekerja masih belajar dan dalam keadaan hamil.
Pak haji mengerti, dia berbiak hati meminjamkan satu paket mesin untuk Mira berikut orang yang akan membimbing Mira dalam belajar.
Selama satu minggu Mira belajar sudah bisa menghasilkan walau hanya baru bisa menyelesaikan sedikit. Dia tersenyum mendapat gaji pertamanya yang diteria setiap satu minggu sekali.
"Alhamdulillah, semoga minggu depan bisa meninggalkan banyak ya." Kata Hilda orang yang mendampinginya.
"Iya teh Hilda, makasih sudah sabar mengajarkan pada saya."
"Saya juga dulu gitu kok. Gak tiba-tiba bisa. Minggu ini sanggup berapa potong?"
Mira tampak berpikir, meskipun beberapa model pakaian sudah mulai bisa ia kuasai tapi dia belum tau sejauh mana kemampuannya.
"Ambi sedikit-sedikit aja dulu, nanti kan kalau satu ikat sudah beres bisa ambil lagi," kata mama Gina yang ikut bergabung.
"Iya, tante."
Di siang hari pada hari minggu, Fahmi mendatangi rumah Dion. Kedatangnya tidak disambut baik oleh Duit dan istrinya. Bahkan untuk sekedar minum pun mereka tidak menawari.
"Kedatanganmu ke sini untuk memintaku tanggung jawab pada calon istrimu, Mas?" Dion bertanya dengan memasang ekspresi yang tidak ramah. Tidak jauh beda dengan istrinya.
"Aku datang sebagai kakakmu untuk meminta maaf atas kesalahanku. Aku minta maaf karena tidak bisa mengendalikan emosi. Urusan kamu minta maaf sama Mira atau tidak itu urusan kamu, Mira dan Tuhanmu. Tapi aku harap masih ada kebaikan dalam dirimu, setidaknya meminta maaf meski tidak bertanggung jawab."
__ADS_1
Nafa berdecih, "kamu pernah meminta maaf padaku?"
"Salahku?"