
"Yeeeeeeyyy aku punya ibu baru," teriak Syafa sontak membuat yang lain menahan tawa kecuali Mira yang menunduk malu.
Mira masih belum percaya saat dia sudah mnjadi seorang istri. Ia gemetar saat harus bersentuhan dengan pria yang kini menjadi suaminya. Kembali kegugupan Mira menjadi bahan guyonan yang hadir.
Berbeda dengan Fahmi yang lebih luwes. Ia tetap tersenyum pada siapa pun.
Setelah menandatangani dokumen pernikahan serta mamasangkan cincin pada jari sang istri juga menyerahkan maskawin, mereka menikmati makan siang bersama tamu yang lain.
Setelah adzan dzuhur, satu persatu tamu yang hadir berpamitan.
"Mas ganti bajunya di kamar kamu kan?" tanya Fahmi pada sang istri yang mengangguk.
"Ya masa di kamar tamu, kan sudah sah." Adelia ikut bicara. Meski sempat merasa kecewa pada Mira tapi Adelia tetap hadir dan tidak menunjukan sikapnya. Dia berusaha menghargai pilihan kakaknya yang tidak bisa dipaksa sama seperti pilihan dirinya.
Mira dan Fahmi masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Fahmi lebih dulu ke kamar mandi sedangkan Mira mengambil pakaian Fahmi dari dalam koper yang di bawa Adelia tadi.
"Mas tunggu untuk berjamaah ya," kata Fahmi.
"Iya, Mas."
Mira cepat menyelesaikan gilirannya. Saat akan shalat berjamaah Syifa malah nangis. Terpaksa Mira mengurungkan shalat berjamaah agar bisa giliran. Resiko punya bayi.
Mira menyusui bayinya lebih dulu. Sedotan yang kencang dari si kecil membuat Mira tersenyum. Dia elus pipinya dan dia cium.
Sekarang kamu punya ayah, Nak. Gak papa meskipun jatuhmya ayah tiri tapi insyaallah dia akan melindungi kota dengan baik. Seneng gak punya ayah?
"Kak Mira!" terdengar suara Syafa sambil mengetuk pintu.
Mira turun dari sofa untuk membukakan pintu.
"Aku mau lihat adek bayi," kata Syafa saat pintu terbuka.
"Ayo masih tapi gak boleh brisik, ayah lagi shalat."
"Oke."
Karena Syifa belum melepaskan ASI-nya, Mira memilih bersandar pada kepala ranjang dan Syafa naik di sebelahnya.
"Lucu, adek bayi minumnya kencang," kata Syafa sambil tertawa. Padahal tadi bilang oke agar tidak berisik tapi ia lupa karena terlalu bahagia.
Fahmi sudah selesai, dia ulurkan tangan untuk menguasai puncak kepala istrinya yang memejamkan mata sambil bersandar.
__ADS_1
"Shalat dulu, biar mas dan kakak yang jaga Syifa. Iya kan kak?"
"Aku jadi kakak, ayah?"
"Iya kan sekarang punya ade."
Saat akan ditidurkan di atas kasur bayi itu kembali menangis. Jadilah digendong oleh Fahmi karena Mira harus menunaikan kewajiban.
Saat Mira selesai ternyata Fahmi juga tertidur sambil bersandar. Kasihan dia pasti capek karena semalam kurang tidur. Disebelahnya ada Syafa yang juga terlelap.
Setelah melipat dan menyimpan alat-alat shalatnya. Mira hendak mengambil Syifa tapi malah membangunkan sang suami.
"Tidurnya yang benar, Mas biar gak pegal." Mira membenarkan bantal untuk suaminya.
Fahmi yang benar-benar ngantuk hanya mengikuti apa yang Mira katakan tanpa protes. Ia kembali lelap sambil memeluk putrinya-Syafa.
***
Malam hari Mira kembali didera rasa gugup. Apa sang suami akan meminta ia untuk melayani?.
Beruntung Fahmi begitu memahaminya. Saat Mira keluar dari kamar mandi dsn sudah mengganti pakaian dengan pyama, Fahmi menepuk sisi kosong di sebelahnya. Meminta Mira untuk bergabung.
Meski gugup dia tetap naik ke pembaringan. Fahmi merentangkan tangan Agar Mira masuk ke dalam pelukan.
"Hmm?"
"Gugup ya?" Sudah tahu masih tanya. "Tenang saja, Mas akan menunggu kamu siap kok. Gak harus malam ini juga. Kita masih punya malam-malam lain. Boleh mas buka kerudungnya?"
Mira mengguk setuju dengan perasaan yang terus berdebar.
"Cantik," puji Fahmi membaut dengan istri menunduk dan tersipu. Sebagai pria yang sudah lama puasa tentu ada yang meronta di bagian lain. Akan tetapi dia ingin Mira merasa nyaman dengan pernikahan ini. Jadilah harus bersabar meski merasa gemas dan ingin menerkam. "Angkat wajahnya, Dek. Tatap aku!"
Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir. Sebenarnya ingin lama tapi sekali lagi ia menginginkan Mira merasa nyaman lebih dulu.
Mira membaranikan mengangkat wajah, "Mas?"
"Hmmm?" Saat bicara Fahmi akan menatap istrinya penuh cinta.
"Kalau ... kalau Mas mau sekarang aku ... aku ridha."
__ADS_1
"Enggak, Sayang. Aku ingin seperti ini dulu. Ingin kita saling mengenal lebih dulu sebelum mengenal anstomi tubuh."
Dipanggil sayang oleh suami kembali menghadirkan semburat merah pada pipi Mira.
"Setelah ini apa yang kamu inginkan?" Ia bertanya mabuk mengusap puncak kepala sang istri. Manisnya dokter Fahmi.
"Aku belum tahu aku mau apa. Yang aku pikirkan sekarang ya bagaiamana aku harus menjadi ibu dan istri yang baik."
"Kita akan belajar sama-sama, Sayang. Jangan sungkan untuk menegurku jika aku salah. Jangan sungkan meminta apa pun dariku ya!"
Mira mengangguk.
Entah sampai jam berapa mereka menghabiskan waktu untuk berbincang. Sampai Mira tertidur lebih dulu. Tidak ada malam zafaf untuk malam ini.
Fahmi membedakan posisi tidur sang istri. Menaikan selimut hingga menutupi dada. Ia kecup keinginan istri dan mengucapkan selamat tidur.
Sejenak ia pandai wajah istrinya yang masih unyu-unyu. Bulu mata yang lentik, hidung bangir, alis tebal tanpa make up dan bibir merah yang melambai meminta di kecup.
Dari pada terus ditodong adam yang di bawah, Fahmi memilih ikut ke dalam selimut dan memluk istrinya dari belakang hingga ia terlelap.
Mira terbangun karena mendengar tangis Syifa. Ia sempat merasa aneh karena ada tangan kokoh yang memeluknya tetapi sedetik kemudian ia tersadar bahwa ia sudah memiliki suami.
Lucu saja biasanya ia kan bangun dan tidur seorang diri tapi sekarang dan selamanya akan ada seorang suami di dalam kamar miliknya.
Merasa ada bergerak dari sang istri, Fahmi membuka mata. Ia melihat istrinya turun dan mengambil Syifa dari tempat tidurnya. Melihat Mira menyiapkan popok dan yang lain Fahmi bangun.
"Dek boleh mas yang ganti popoknya."
"Loh mas bangun, pasti merasa terganggu ya?" Mira merasa tidak enak karena mengganggu tidur sang suami.
"Enggak terganggu kok, Sayang. Boleh mas yang ganti?" Ia sudah bangun dan duduk di sebelah Syifa.
Mira setuju. Suaminya kan dokter pasti akan jauh lebih hati-hati dibandingkan ia.
Akan tetapi ekspekatsi Mira terhadap sang sumi tepatahkan saat melihat cara Fahmi mengganti popok putrinya.
"Mas emang harus begitu?" Apalagi setelah melihat bayinya ditengkurapkan.
"Gak papa, Sayang sesekali kita latih tummy time untuknya."
"Tapi kan Syifa bukan bayi yang lahir cukup umur."
__ADS_1
"Insyaallah dia akan baik-baik aja, Sayang. Kita akan melatihnya bertahap tidak perlu lama yang penting rajin."
Adapun manfaat dari tummy time atau bayi latihan tengkurap, diantaranya melatih otot tangan dan leher, mencegah kepala peyang, dan masih banyak lagi.