
Adelia tiba di rumah sakit tapi tidak menemukan Mira. Ia juga menghubunginya tapi ponselnya tidak aktif. Gegas dia menghampiri sang kakak.
"Cepat sembuh, Mas. Syafa selalu selalu menanyakan ayahnya kapan pulang. Memangnya tidak rindu dengan anak dan calon istri?"
Fahmi menggeliat dan mulai membuka mata dan memicing untuk menyesuaikan cahaya yang masuk pada retina. Penglihatannya terlihat tidak jelas. Hanya bayangan yang ia lihat.
"Dek?" suara Fahmi terdengar serak. Meski penglihatannya buram namun beruntung karena dia masih mengenal bau sang adik.
Adelia yang tengah menata bawaannya tersentak saat pendengar suara sang kakak. "Mas? Mau apa, minum?" tanya Adelia gugup sekaligus senang.
Fahmi mengangguk.
"Tunggu sebentar," Adelia menuangkan air dan menaikan sandaran untuk Fahmi agar bisa minum. Ini bukan pertama kali Fahmi sadar. Sebelumnya juga sering bangun tapi hanya sebentar-sebentar. "Lagi?"
"Cukup. Dek mana yang lain?" tanya Fahmi sambil meraba untuk menyentuh tangan sang adik.
"Mas, Mas kenapa?" tanya Adelia panik melihat tingkah kakaknya. Jangan-jangan kakaknya mengalami kebutaan.
Adelia menekan bel untuk memanggil suster. Air mata kembali berderai karena rasa takut.
"Dok kenapa kakak saya bertingkah seperti orang yang tidak bisa melihat?" tanya Adelia saat dokter dan suster sudah memasuki ruangan.
"Kita periksa dulu ya. Dokter apa yang di rasa?" tanya Dokter yang selalu meminta keadaannya.
"Kepala masih terasa sakit sekaligus pusing, Dok. Pandangan juga buram."
Adelia menutup mulut dengan air mata yang berduyun-duyun.
"Gelap atau terang?" tanya dokter lagi.
"Terang tapi hanya bayangan yang saya lihat."
"Kita akan melakukan cek MRI. Sus tolong disiapkan."
"Baik, Dok."
Fahmi menggenggam tangan sang adik yang bergetar. "Tenang, Dek. Insyaallah mas akan baik-baik saja. Iya kan Dok?" Fahmi masih bisa bersikap tenang dibalas anggukan oleh dokternya.
Ini ujianku, teguranku. Semoga Allah mengampuni dosaku lewat ujian ini.
__ADS_1
Suster datang dan memberi tahu bahwa sudah siapa untuk melakukan pemeriksaan. Fahmi dibawa ke dalam ruangan khusus itu.
"Doakan mas baik-baik saja ya," pesan Fahmi pada sang adik sebelum genggaman mereka terurai.
***
Fahmi sudah kembali ke ruang rawat dan kini tengah menunggu hasil pemeriksaan bersama Adelia.
Adelia berdiri saat dokter dan suster datang membawa hasil pemeriksaan.
"Dokter Fahmi masih baik-baik saja?" tanya dokter berbasa basi sebelum menjelaskan.
"Masih, Dok."
"Jadi begini, berdasarkan hasil dari pemeriksaan memang terjadi benturan pada saraf ke bagian mata. Hal ini yang menyebabakan anda mengalami kebutaan sementara."
"Sementaranya berapa lama, Dok?" tanya Adelia cepat.
"Bisa satu minggu, dua minggu, satu bulan atau lebih. Tetapi selama ini kasus seperti ini rata-rata sembuh dalam kurun waktu yang tidak lama. Kita akan melihat perubahannya nanti setelah satu minggu ke depan. Kita akan berusaha melakukan pengobatan yang terbaik. Jangan khawatir."
Fahmi mengangguk, dia yakin ini hanya ujian sementara untuk dirinya. Bisa juga berupa teguran karena mungkin ia lalai dalam kewajiban seperti menunjukan lamdangn pada lawan jenis. Sehingga Allah mengambil sementara penglihatannya gara ia sadar.
"Semoga lekas sembuh, Dok," ujar dokter sebelum akhirnya pamit.
Kini tinggal mereka berdua di dalam ruangan ini. Sesekali isakan masih terdengar dari bibir sang adik.
"Tenang, Dek, ini hanya sementara. Insyaallah Mas akan sembuh kembali. Kamu harus kuat saat ini karena mas pasti akan merepotkan kamu. Tolong jaga Syafa dengan baik ya. Oh ya mas gak mendengar suara Dek Mira, apa dia tidak datang hari ini?"
"Kata suster tadi dia di sini dan pulang saat aku akan datang."
"Oh begitu ya."
"Mas tidak menanyakan mbak Silvi?"
"Memangnya harus?" tanya Fahmi menegrutkan kening. Kenapa harus menanyakan orang yang sudah lama meninggalkan dirinya.
"Kan saat mas pertama kali sadar dia orang yang mas sebut."
" Oh ya. Dek Mira tahu soal itu?" tanya Fahmi mulai khawatir. Perasaan Mira tak jauh beda dengan perempuan lain. Pasti akan merasa terasingkan atau merssa tidak dianggap keberadaannya oleh Fahmi. Dan Fahmi tidak ingin itu terjadi. Mira adalah calon istrinya.
__ADS_1
"Tahu, karena kita juga tahu dari dia. Tapi selama beberapa hari dia masih datang dan bergantian menjaga, Mas, di sini kok."
"Apa jangan-jangan dia marah ya, Dek?"
"Kayaknya enggak deh. Dia masih tersenyum kok saat kita bertemu. Sepertinya Kak Mira menganggap itu adalah hal wajar karena mas tidak sadarkan diri cukup lama."
"Tolong hubungi dia ya. Katakan mas ingin bicara."
Adelia langsung melakukan panggilan pada nomor Mira tapi sama seperti tadi ponselnya dinyatakan tidak aktif.
"Gak aktif, Mas, mungkin lagi istirahat."
"Coba hubungi papanya, nomornya ada di ponsel, Mas."
Adelia melakukan perintah Fahmi. Kali ini terdengar nada tersambung tapi tak kunjung di angkat.
Ardan menatap ponselnya yang sejak tadi berdering. Dia menoleh pada Mira yang tengah mengajak sang anak bicara meski tak ada jawaban. Lucu memang tingkah seorang ibu itu.
"Papa keluar dulu ya."
"Iya," jawab Mira menoleh sebentar lalu kembali fokus pada sang anak.
"Ya, Ardan di sini?" kata Ardan setelah memnggeser ikon berwarna hijau dan tidak mengetahui nomor siapa yang menghubunginya. Sebab itu nomor yang tidak terdaftar dalam kontak telepon.
"Hallo, Om Ardan ini Adelia, adik Mas Fahmi. Kak Mira ada? Maaf harus menghubungi, Om. Aku sudah menghubungi nomor kak Mira tapi tidak aktif."
"Oh iya Adelia!" Ardan mengingat gadis itu. "Ponselnya Mira sedang di charger. Mira sedang asik dengan bayinya, jadi om tidak ingin mengganggunya. Ada yang bisa om bantu?"
"Bayi kak Mira sudah dibolehkan pulang?" Adelia tampak senang mendengar kabar itu begitu juga Fahmi. Pantas ponselnya tidak aktif, mungkin dia sedang ingin menghabiskan waktu dengan sang anak. "Iya tadinya, Mas Fahmi ingin bicara dengan Kak Mira, tapi ya sudah nanti saja. Jangan disampaikan ya Om. Kami tidak ingin menganggu kak Mira. Nanti saja saat kak Mira sudah santai," ujar Adelia yang mengerti isyarat Fahmi.
"Baiklah, Oh ya dokter Fahmi sudah bangun?"
"Sudah, katanya kangen sama calon istri," kekeh Adelia menggoda Fahmi.
"Akan om sampaikan rasa kangennya nanti. Salam untuk dokter Fahmi ya, semoga lekas sembuh."
"Aamiin, terima kasih om. Aku tutup ya." Panggilan diakhiri. "Bayi kak Mira sudah pulang, jadi kak Mira lagi melepas rindu," papar Adelia pada sang kakak. Padahal tadi Fahmi juga mendengarnya.
"Gak papa nanti saja. Dia pasti sedang menikmati waktunya jadi jangan diganggu." Fahmi kembali merebahkan tubuh dibantu oleh sang adik. Akan tetapi sebuah kertas yang terselip di bawah bantal menarik perhatian Adelia. Ia tarik kertas itu dan membacanya.
__ADS_1
Bersambung ....