
Mira tertawa pelan, dia duduk sementara Adelia mengambil buku. Saat dia menatap Foto di atas nakas Mira merasa tidak asing dengan salah satu wajah dalam foto tersebut.
Ini?
Salah satu dalam foto itu jika dilihat sekilas mirip dengan Dion. Lelaki yang hilang seperti tenggelam di dasar samudera. Akan tetapi jika diperhatikan lebih dekat wajahnya jauh dari wajah Dion yang saat itu mengumbar racun rayuan.
"Itu foto kami bertiga, Kak. Ini Mas Fahmi, ini aku dan ini Bang Ion." Adel menunjukkan satu-satu foto dalam wajah tersebut.
Ion atau Dion? tapi gak mungkin kalau iti dion yang dicari oleh Mira. Keluarga Fahmi terlihat begitu religius sungguh berbeda dengan Dion.
Mira berpikir ulang untuk mencari tempat tinggal baru. Tapi dia juga harus menyelidiki Ion atau Dion ini. Setiap orang akan mengalami perubahan seiring waktu. Ion yang terlihat biasa saja bisa jadi memang Dion yang tampan saat ini.
Hatinya berdesir andai lelaki itu adalah Dion yang tengah ia cari. Lantas mereka dipertemukan kembali dan keluarga Fahmi merestuinya tentu akan sangat membahagiakan dia berada tengah-tengah orang yang tepat.
"Ini foto berapa tahun lalu?"
"Memangnya kenapa, Kak?"
"Soalnya kamu disini terlihat imut sekali." Mira mencari celah untuk mendapat informasi.
"Itu foto pas aku kelas lima SD kalau gak salah."
"Ooohh berarti saat itu dokter Fahmi berusia 24 tahun ya?"
Adelia menoleh dengan senyum berarti. Tentu dia menebak kalau Mira naksir kakaknya yang duda. Padahal sesungguhnya Mira tengah menghitung usia orang yang bernama Ion.
Adelia gak jadi ngajak Mira belajar. Dia lebih fokus pada topik lain. "Kak Mira, andai ada laki-laki yang menyukai kak Mira tapi ternyata seorang duda. Kira-kira bakal diterima gak?"
Mira tergelak, Adelia pasti berpikir tentang ucapannya. "Kalau duda yang kamu maksud itu dokter Fahmi, maaf aku gak bisa," kekeh Mira. Dia cukup tahu diri untuk tidak merindukan hal yang sulit digapai. Fokus utamanya saat ini adalah memperbaiki diri dan mencari Dion. Syukur-syukur kalau ketemu kalau tidak ya tetap dia harus berlapang dada.
Adelia ikut tertawa, "baru kali ini ada yang nolak mas Fahmi secara langsung. Padahal biasanya banyak banget yang suka sama dia. Meskipun dia menyebalkan menurutku tapi dia itu suamiable banget loh, Kak. Tampan, kaya, soleh juga menurutku kok Kak Mira nolak sih?"
"Karena beliau terlalu sempurna untuk seorang pendosa sepertiku."
"Kak Mira jangan berkecil hati. Tidak semua pendosa harus mendapat pengecualian."
Mira menagguk mengaminkan. Dia ingin mengorek info lebih tentang pria bernama Ion itu. Jelas dari nama mereka pun mirip hanya kurang satu huruf. Pun dengan wajah.
__ADS_1
Dari perbincangan dengan Adelia ia tahu bahwa lelaki bernama Ion itu tengah berada di luar negeri. Katanya akan pulang dalam waktu dekat. Mira tidak sabar untuk bertemu pria itu. Semoga saja dia adalah Dionnya. Lelaki yang pernah memberikan perhatian dan menjadi penyejuk hati Mira ditengah kekeringan kasih sayang. Lelaki yang saat ini masih ia cintai meskipun telah mengahancurkan masa depannya. Harapan Mira patah sebelum mengudara, Adelia mengatakan kalau kakaknya yang satu itu sudah menikah.
Mira berusaha menguasai diri, mungkin itu bukan Dionnya. Kesedihan Mira teralihkan saat Adelia mengajak dirinya menemani Syafa bermain. Anak kecil itu seperti obat yang mampu mengurangi rasa sakit hati Mira.
Karena didikan keluarga yang baik, Adelia bisa menjaga keponakannya dengan baik. Sekali lagi hal itu membuat Mira membandingkan dengan dirinya. Adel tumbuh dikeluarga yang sehat, didikan yang baik masa depan gadis itu terlihat cerah. Sedangkan dirinya. Tanpa sadar air matanya kembali jatuh segera dia seka saat Syafa menghampiri.
"Kok kakak ini nangis, sedihya mau iku main?" pertanyaan polos itu membuat Mira kembali tertawa. Begitu juga Adelia yang mendengarnya.
"Kakak boleh ikut main?" tanya Mira.
"Boleh, ayo kita main dokter-dokteran. Kakak kan tadi sakit ayo tiduran biar aku periksa," perintahnya.
Mira mengikuti perintah Syafa berbaring. Kemudian anak kecil itu menempelkan stetoskop mainan di kening Mira. Lagi-lagi tingkah lucu Syafa membuat orang-orang dewasa di sekitarnya tertawa. "Tunggu, harus minum obat dulu," kata Syafa sambil berlari ke arah dapur diikuti oleh sang pengasuh. Tidak lama kembali datang dan membawa satu pcs kota strawberry. "Ayo buka mulutnya, ini manis kok." Menyodorkan satu buah berwarna itu itu ke mulut Mira.
Deru mobil yang terdengar memasuki pekarangan rumah, membuat Syafa meninggalkan mainannya. Dia berlari ke arah pintu yang dekat dengan ruang bermain. "Ayah pulang," soraknya kegirangan.
Rasa lelah Fahmi selalu menguap kala bertemu dengan sang anak. Syafa yang selalu menyambut kedatangannya di depan pintu seperti menggantikan peran perempuan yang meninggalkan dirinya tanpa alasan. Perempuan yang melahirkan Syafa tapi pergi saat sang anak berusia satu setengah tahun.
"Assalamualaikum." Fahmi menghampiri sambil melebarkan senyum. Merentangakan tangan agar anak itu berlari ke pelukannya.
Fahmi membawa Syafa sambil terus tertawa karena celotehan sang anak. Menurunkannya saat Adelia menghampiri dirinya. Sedangkan Mira hanya mengangguk sebentar kemudian kembali diajak bermain oleh Syafa.
"Gimana?" tanya Fahmi saat hanya tinggal didinya dengan sang adik.
"Menyedihkan."
"Ayo bicara di kamar, Mas." Mereka naik ke lantai dua.
***
Dari balkon kamar Fahmi dapat melihat Mira yang berjalan menuju kolam ikan. Perempuan itu duduk di sana dan terlihat beberapa kali menarik nafas dalam.
Fahmi sudah mengatahui tentang Mira dari dari Adelia juga dari orang suruhannya yang ia bayar untuk mencari dan mendapatkan data Mira. Sungguh menyedihkan. Gadis iti terlihat bicara seorang diri. Tangannya terlihat menyeka sudut matanya beberapa kali.
Merasa iba. Fahmi turun dan mendekati Mira. Tidak ada maksud lain selain rasa iba.
Suara deheman Fahmi membuat Mira menolah dan sesegara mungkin mengusap sisa tangsinya. "Dok?"
__ADS_1
"Orang-orang sudah pada tidur tapi kamu malah duduk di sini. Gak dingin?" Cuaca malam itu memang tidak turun hujan tapi sangat terasa dingin.
"Belum ngantuk, Dok."
"Butuh teman bicara, kasihan ikannya kalau diajak ngobrol. Mereka juga harus tidur" kelakar Fahmi ikut duduk dengan jarak satu meter dengan Mira. Usianya yang matang mampu memposiskan diri sebagai siapa saja. Bisa jadi adik, kakak, teman, saudara bakhan seperti orang tua.
"Soalnya kalau bicara sama ikan kan gak akan disebarkan lagi, Dok. Jadi sepertinya aman kalau curhat sama mereka."
"Memang, kalau untuk sekedar melepaskan sesak di dada itu bisa jadi salah satu cara tapi gak dapat solusi. Bener gak sih?" Fahmi bicara tanpa menoleh.
"Dokter ini lucu," kekeh Mira.
"Gimana harimu tadi?" Pertanyaan Fahmi adalah perhatian kecil yang tidak pernah diberikan oleh orang tua Mira. Hatinya sedikit menghangat hanya mendengar pertanyaan seperti itu.
"Alhamdulillah, Dok."
"Setelah ini rencana kamu mau gimana? Pulang ke rumah orang tua atau seperti apa?"
"Dokter pasti sudah mendengar cerita tentang saya dari Adel."
"Ya itu benar. Apa solusi dari Adel tadi? Dia lagi belajar menjadi pendengar yang baik. Katanya mau jadi psikolog."
"Apa ya saya juga gak tahu dok. Tapi saya pikir saya akan mencari tempat tinggal dan mencari pekerjaan. Ya semoga saja ada yang mau memberi saya lapangan pekerjaan."
Hening. Fahmi belum menaggapi perkataan Mira. "Tidak ingin pulang ke rumah orang tua?"
"Saya sudah membuat mereka malu. Saya tidak berani untuk pulang, Dok."
"Maafkan mereka ya," kata Fahmi dan diangguki lelah Mira. "Kalau tidak ingin pulang, tinggal saja di sini. Biar Adel memilki teman, Syafa juga. Tadi dia merepotkan kamu?"
"Enggak, Dok, Syafa anak yang baik. Terima kasih tawaran untuk tinggal di sininya tapi saya ingin mencoba Mandiri."
"Sudah dipikirin matang-matang? Kamu akan tinggal sendiri di tempat yang belum kamu pahami seluk beluknya tentu tidak akan mudah."
"Itu benar tapi saya tidak ingin merepotkan. Tanggungan hidup dokter pasti banyak apa lagi kalau ditambah saya," kekeh Mira.
"Sekalian dinafkahi juga ayo kalau kamu mau,"
__ADS_1