
Setelah empat hari menjalani perawatan di rumah sakit, akhirnya Amlira diizinkan untuk pulang.
"Sudah siap?" tanya Fahmi yang selalu di sampingnya.
"Sudah." Mira hendak mengambil barang-banranya tapi Fahmi mengambilnya lebih dulu.
"Ini tugas calon suami," kekehnya membuat Mira merona.
"Kan hanya pura-pura."
"Perhatian itu gak bisa pura-pura, Dek. Masa saya tega ibu hamil baru keluar dari rumah sakit dibiarkan membawa keperuannya sendiri."
Fahmi mebalas sapaan dari rekan kerjanya maupun dari pasien saat berpapasan. Di dekat Fahmi Mira merasakan artinya hidup bahagia. Andai dia tidak malu dengan keadannya mungkin ia akan mengharapkan dokter duda tampan itu menjadi suaminya. Mira cukup tahu diri saja.
Setelah memastikan Mira duduk dengan nyaman, Fahmi baru menjalankan mobilnya. Di perjalanan pria itu menawarkan Mira untuk membeli sesuatu.
"Kok berhenti, Dok?"
Fahmi menoleh ke belakang, "mungkin ada yang ingun kamu beli."
"Enggak ah, pulang aja."
"Yakin nih?" Fahmi memastikan sebelum kembali menjalankan mobilnya. "Selama hamil kamu gak ngidam, Dek?" tanya Fahmi dari balik kemudi. Menoleh pada Mira dari spion tengah.
"Gak normal dong, Dok, kalau saya gak ngidam." Mira tertawa pelan.
"Tapi saya gak pernah lihat kamu ngidam ini dan itu."
"Saya tahan, Dok. Karena gak mungkin saya harus merepotkan orang-orang dokter termasuk dokter sendiri."
"Kalau begitu katakan pada calon sumimu ini aoa yang sekarang kamu inginkan," kata Fahmi sambil tersenyum.
__ADS_1
"Dok, jangan berlebihan. Kan hanya pura-pura."
Tidak ada obrolan lagi sampai mobil berhenti di depan rumah Fahmi. Semua orang menyambut kedatangan Mira membuat perempuan itu salah tingkah. Padahal dirinya sama-sama pekerja, tidak perlu diperlakukan berlebihan. Apalagi seperti istri majikan.
"Welcome home, Kak Mira." Adelia langsung menyongsongnya dan menuntunnya untuk masuk. Membantu duduk di sofa dan memastikan kenyamanannya. Semua pekerja perempuan mendekati Mira dan mengatakan mereka iki sedih atas kejadian yang menimpa Mira.
"Terima kasih ya, Alhamdulillah sekarang aku sudah baik-baik saja. Terima kasih atas doanya."
Di antara orang-orang dewasa yang tengah mengerubungi Mira ada anak kecil yang tengah menatap Mira. Ingin mendekat tapi kata sang ayah harus hati-hati katena kaka Mira-nya baru sembuh.
"Kok Dek Syafa gak memeluk Kak Mira. Gak kangen ya atau marah karena Kak Mira gak menemani adek bermain?"
Syafa menggelengkan kepalanya pelan, "kata ayah aku gak boleh ngajak kak Mira main dulu. Kak Mira harus sembuh dulu biar bisa main lagi." kata Syafa dengan wajah yang menggemaskan.
"Kalau begitu peluk Kak Mira sekarang, Kak Mira kangen banget sama adek." Mira merentangkan tangan.
Dengan binar bahagia Syafa langsung memeluk Mira erat. Mereka seperti anak dan ini yang lama terpisahkan. "Kalau aku peluk Kak Mira begini, adek bayinya gak nangis kan?" Pertanyaan polos itu mampu mengharapkan tawa orang-orang dewasa.
Seketika Mira teringat sang adik. Apa kabar adiknya sekarang.
"Dit, dipanggil ustad Rahman." Salah seorang temannya menghampiri dan memberi tahu. "Kakakmu belum ada kabar, Dit?"
"Belum. Aku temui ustadz dulu."
Ardit mengetuk pintu ruangan ustadz Rahman. Pemiliknya menikah dan tersenyum. Memepersilhkan dirinya untuk duduk. "Ustadz memanggil saya?"
"Iya. Ardit, hampir satu semester saya perhatikan kamu dan kamu tidak seperti biasanya. Ada masalah berat, Mak?"
Ardit mengangguk membenarkan.
"Kalau kamu percaya pada saya, berbagilah. Siapa tahu kita bisa menemukan solusinya bersama-sama."
__ADS_1
"Aku mengkhawatirkan kakakku yang pergi dari rumah, Ustadz." Ardi mulai terbuka dan menceritakan kejadiannya termasuk pencatianya yang tak berbuah hasil. Ardit tidak khawatir menceritkaan keadaan kakanya pada Ustadz Rahman. Ia yakin gurunya itu akan menyimpan aib ini dengan baik. Ardit tidak punya pilihan untuk mendapatkan solusi. Dia mengkhawatirkan kakaknya.
Ustadz Rahman mengangguk paham. "Begini, Kemenag kan mengadakan lomba MTQ. Saya berencana mengirim beberapa perwakilan dari pondok kita dan salah satunya kamu. Acara akan disiarkan di televisi. Kalau kamu menang kamu punya kesempatan untuk diwawancara. Nah disitulah kamu punya kesempatan mengatakan pesanmu. Tentunya kita berharap kakakmu bisa menontonya. Kalau pun tidak, semoga netizen terserah hatinya dan memviralkan pesan kamu. Gimana kamu siap mengikuti lomba itu?"
Tidak banyak pikir stelah mencerna ucapan sang guru dengan baik, Ardit menyetujuinya. Dia pun kembali bergabung dengan teman-temannya yang tengah belajar di sebuah bale bambu.
***
Dion menatap ruangan kerjanya yang nyaman. Keberadaan Mira mengancam dia kehilangan posisi ini. Usahanya bertahun-tahun akan sia-sia jika sampai Mira membuka mulut.
Tadi pagi dia menerima pesan dari Adelia, meneruskan pesan dari Fahmi berupa undangan makan malam bersama.
Fahmi sengaja mengajak keluarganya berkumpul agar rencana Mira berjalan dengan baik. Fahmi pikir dengan keluarganya mengetahui akan semakin mudah untuk melindungi Mira dari pria biadab itu. Fahmi belum mengetahui kenyataan bahwa pria biasa itu adalah adiknya sendiri.
Dion menghubungi sang istri. "Hai sayang, cantik amat hari ini. Membuat aku ingin pulang nih." Dion langsung menggoda sang istri. Dia tahu kelemahan Nafa adalah ketika disanjung maka akan terlena.
"Pulang dong." Nafa membuka dua biji kancing atasnya. Menggoda sang suami dengan begituan dada yang besar.
"Nakal, aku gak bisa pulang sekarang. Aku takut dimedan ayahmu karena bolos bekerja. Aku akan mendatangimu nanti malam. Dandan yang cantikya nanti kita akan makam malam."
"Di rumah kakakmu?" Nafa langsung menebak karena di hafal saat Dion merayu pasti ada yang diinginkan.
"Istriku pintar sekali. Aku gak tahu dia mau membicarakan apa. Hanya saja aku merasa aku kita harus datang. Barang kali memang ada sesuatu yang penting."
Nafa memutar bola mata jengah. Harus ya dia berharap dengan pria itu lagi? Masih ternyata jelas oleh Nafa kejadian beberapa tahun yang lalu. Yang membuat dirinya mengambil Dion dengan tujuan tertentu.
Dia merasa sudah cukup puas dengan hancurnya rumah tangga Fahmi dengan Silvi. Dan tidak harus berharap kembali dengan pria itu atau rahasia itu akan terbongkar.
"Hey, aku masih di sini loh," kata Dion menyadarkan istrinya yang malah bergelut dengan pikirannya.
"Iya, jemput saja nanti."
__ADS_1
"Oke, aku hafus kembali kerja by, Sayang." Panggilan berakhir. Dion heran karena istrinya slelau enggan kalau diajak berkunjung ke rumah Fahmi. Entaj rahasia apa yang berada di balik punggung Nafa dan Fahmi.
Dion mengenyahkan pikiran itu. Dia kembali pada pekerjaan berusha bekerja dengan baik meski pikirannya terus terbayang Mira. Wanita itu harus dibungkam.