Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Jalan-jalan ber-2


__ADS_3

Mira dikejutkan oleh teriakan Fahmi di depan pintu dapur. Ekspresi wajahnya begitu sulit untuk diartikan. Apa dia marah atau sebaliknya.


"Kamu sedang bercanda, Sayang?" tanya Fahmi sambil mendekati sang istri. Memperlihatkan alat yes kehamilan yang menunjukan dua garis merah.


"Mana berani aku mengerjaimu, Mas," kata Mira dengan masih menggenggam pisau dan sayuran.


"Berarti ini ...?"


Mira meletakan pisau dan mengangguk, meraih jari suaminya dan membawanya pada perut yang masih datar.


"Allah apa ini mimpi?" tanya Fahmi yang belum percaya dengan keadaan. Dia tatap kembali tangan yang masih di perut istrinya. "Bagaimana bisa, bukanya kamu masih memasang alat kontrasepsi?"


"Maaf aku tidak memberitahumu. Aku sudah melepasnya sejak tiga bulan yang lalu." Mira memberikan senyum termanis yang ia punya.


Fahmi mengusap wajah sang istri dengan penuh cinta. "Aku tidak memintanya, walaupun nyatanya aku sangat senang sekali mendengarkan kabar ini. Kenapa kamu harus melakukan itu?"


"Karena aku yang menginginkan. Rasanya aku terlalu egois jika menahannya hanya karena takut Syifa kehilangan kasih sayang darimu, Mas."


Fahmi langsung mendekap istrinya. "Syifa tetap anakku dan akan selalu begitu. Dia tidak akan kekurangan kasih sayang dariku. Aku akan tetap menyayanginya tanpa membeda-bedakan.


"Aku percaya itu, makanya aku siapakah hadiah ini. Semoga anak laki-laki ya. Kan permpuannya sudah ada dua."


Fahmi tidak menyangka kalau istrinya akan melakukan hal ini. Padahal dia tidak keberatan tidak memiliki anak lagi. Toh sudah memiliki dua. Tugas dann tanggung jawabnya akan semakin besar.


"Ini baru cek di rumah? atau diam-diam kamu sudah cek ke dokter kandungan?"


Mira tertawa dalam dekapan suaminya. "Masa aku curang lagi. Aku ingin cek pertama kali itu ditemani kamu. Bisa kan?"


Fahmi sedikit membungkuk dan mengangguk. Kemudian mengecup kening istrinya.


***


Bosan di dalam apartemen, Dion memilih turun dan berjalan di tempat yang tidak terlalu ramai.


Tak jauh dari temoatnya saat ini ia melihat ada kesimpulan anak muda yang tengah bermain skateboard. Jadi ingat jaman muda dulu. Dia pun ikut bergabung bersama mereka.


"Mau coba?" Salah satu dari mereka menawarkan Dion untuk mencobanya.


Dion setuju. Lagi pula dia juga ingin tahu apakah dia masih jago seperti dulu atau kemampuannya sudah menguap seiring waktu berlalu.


Riuh tepuk tangang sangat ramai saat Dion mulai beraksi. Di antara par penonton itu ada seorang perempuan yang tengah tersenyum. Ikut bertepuk tangan seperti yang lain.

__ADS_1


Keesokan harinya Dion bangun lebih awal. Walaupun sekarang dia hidup sendiri tapi tak membuatnya lupa untuk bangun pagi.


Kemeja putih dijas berwarna abu senada dengan celananya menambah kesan eibawa pada tubuh Dion. Dia melangkah memasuki gedung ya g akan menjadi tempatnya mengais rupiah.


Dia datang sebagai pekerja baru di bagian staff. Rekam jejak pekerjaan Dion sebelum memudahkan dia ditempatkan di posisi mana pun.


Kebetulan dia ditempatkan di posisi staff keuangan. Dia diperkenalkan pada rekan kerjanya yang lain. Ada yang menarik perhatian di salah satu kubikel di dalam ruangan itu.


"Sudah tahukan apa yang harus kamu kerjakan?" tanya atasan Dion.


Dion menagguk pasti. Dia menerima setumpuk berkas untuk segera dia kerjakan.


Tidak ada yang tahu bahwa dia adalah adik dr. Fahmi pemilik perusahaan ini. Semua bekerja normal dan tidak ada yang diistimewakan.


"Tunggu!" Dion memanggul seseorang gadis yang keluar paling akhir dari ruangan itu saat jam kerja sudah habis.


***


Mira sudah mebyiapakan bekal untuk makan siang sang suami. Sebentar lagi dia akan berangkat setelah mengganti pakaiannya.


"Mbak Santi bisa jemput Syafa sama Gama? Saya harus mengantakan makan siang untuk dr. Fahmi."


"Bisa, Dek."


Setelah merpaihkan kerudung, Mira bergegas masuk ke dalam mobil dan meminta diantarkan ke tempat kerja sang suami.


Bibirnya menggmbang saat baru saja ia turun ternyata sang suami sudah menunggu nya di depan loby.


"Aku pikir kamu akan membiarkan aku makan siang di kantin lagi," kata Fahmi menyambut tangan sang istri. Dan mengajakanya ke dalam ruangan khusu dirinya.


"Ampun, Mas, ini di ruangan kerja kamu loh," protes Mira kala suaminya langsung mendekapanya penuh cinta saat pintu ruangan sudah tertutup.


"Kangen." Fahmi merengek persis Syafa.


"Lebay ah, udah punya anak tiga juga."


"Oh iya ya. Kok waktu gak kerasa ya saat aku bersama kamu." Fahmi duduk di sofa dan menooang dagu menatap sang istri yang tengah membuka kotak makanan.


"Disuapi lagi?" tanya Mira karena suaminya malah asyik menatap dirinya dan mengabaikan makanan. Padahal tadi bilangnya lapar.


"Harus dong. Soalnya nanti waktu kamu akan smekain tersita oleh anak-anak. Pastinya kamu juga akan meminta aku untuk mengalah. Begitu bukan?"

__ADS_1


Kali ini Mira yang tertawa. Fahmi ini kadang serius kadang wibawa kadang maja juga.


Setelah makan siang, mereka langsung menemui dr. Nisha dokter yang menangano kehamilan pertama Mira.


Senyum manis selalu dokter cantik itu berikan pada setiap pasiennya.


"Ada apa lagi ini dr. Fahmi?" tanya dr. Nisha sambil tersenyum dan mepersilahkan mereka duduk.


"Gak perlu bertanya lagi, Dok. Kalau saya membawa istri ke ruangan anda memangnya apa yang akan saya lakukan. Masa anu di sini. Aw ..." Fahmi mengusap perutnya yang di cubit oleh istrinya.


"Sudah tahukan gimana dr. Fahmi, Bu Mira?" dokter Nisha menggoda. Lantas memiinta Mira suster memeriksa tensi darahnya lebih dulu. Kemudian dialjutkan oemriksaan yang lain. " Jadi kalau dari hasil pemeriksaan, kehamilan baru memasuki usia minggu ke empat. Masih sebiji kacang."


"Jadi beneran hamil dok?" tanya Mira.


"Iya masih rentan, tapi saya percaya dr. Fahmi bisa menjaga anda dengan baik. Tetap menjaga asupan yang bergizi dan tidak melakukan aktifitas yang berat. Yang ringan-ringan saja."


Sejak dokter menjelaskan sepasang suami istri itu tidak berhenti menebar senyum. Bahkan saat Fahmi harus kembali bekerja, Mira tidak diizinkan pulang.


"Istirahat di sini aja, Sayang. Pulangnya nanti kita bareng."


"Kasihan anak-anak dong, Mas, apalagi Syafa nanti dia protes lagi."


"Boleh kan kalau aku sedikit egois kali ini. Aku ingin kamu di sini dan kita akan pulang bersama."


Baiklah, kali ini Mkra mengalah, dia menunggu sang suami bekerja di ruangan pribadinya. Dia juga melakukan panggilan video dengan Syafa dan memberi tahunya kalau dia tengah berada di rumah sakit.


"Kenapa ibu sakit lagi, ayah kan dokter?" tany Syafa dari seberang telepon.


"Enggak sakit sih, tapi ya ibu harus ke dokter. Pulangnya nanti sekalian sama ayah. Kakak mau ibu belikan apa?"


Syafa tampak berpikir. Jari mungil yang mengetuk-ngetuk pelipisnya tampak lucu. Apalagi tanganmu ikut bersedekap.


"Apa aja deh," jawaban Akhir dari Syafa sebelum panggilan berakhir.


Tak terasa sudah waktunya Fahmi pulang. Mira berdiri dan menyambut suaminya yang masuk ke ruangan itu.


"Kakak tadi telepon," kata Mira sambil melepas jas putih dari tubuh sang suami.


"Enggak marah kan dia?"


"Enggak lah, tapi kjta hasur beli jajanan dulu agar dia tida protes," usul Mira saat mereka sudah memasuki mobil.

__ADS_1


"Bilang aja kalau ibunya mau jalan-jalan," kekeh Fahmi sambil menyentuh perut sang istri. "Jadi mau kemana kita?" tanya Fahmi saat mobil sudah melaju


__ADS_2