
Tidak ada kepuasan dalam diri Fahmi setelah menghajar sang adik. Yang ada justru hanya penyesalan. Setelah ini pasti akan timbul maslah lain. Hubungan adik dan kakak itu sempat merenggang sebelumnya, dan sekarang terjadi lagi.
"Seharunya aku gak main hajar," ucap Fahmi setelah mobil Dion dan Nafa keluar dari pintu gerbang. "Maafkan, Mas-mu ini ya," ucapnya pada Adelia.
"Aku masih gak nyangka Bang Ion akan sejauh itu," gumam Adelia.
Fahmi mengusap pucuk kepala adeknya, "sudahlah, lupakan saja. Mas harus ke rumah sakit. Pekerjaan tadi Mas tinggalkan dulu, mungkin nanti akan pulang malam. Sekalian jagain Mira."
Adelia mengangguk, "maaf ya, Mas, aku bolos sekolah."
"Ya gak papa."
***
Fahmi mendapat informasi kalau Mira sudah di bawa ke kamar rawat. Seperti biasa dia selalu menyiapkan ruangan yang nyaman untuk Mira meskipun biaya yang dikeluarkan tidak sedikit.
Senyum Mira menyambut kedatangan dirinya, tapi tak lama senyum itu pudar dan wajah Mira kembali suram.
"Sekarang dokter sudah tahu siapa saya dan siapa bapak bayi ini. Maaf bukan maksud ingin menyembunyikan agar masih bisa tinggal di rumah, Dokter." kata Mira menatap penuh sesal pada Fahmi.
"Justru dengan saya tahu, kamu bisa leluasa tinggal di rumah saya. Mungkin Dion belum ingin bertanggung jawab. Tapi saya sendiri tidak mungkin membiarkan kamu dan anakmu hidup terlunta-lunta. Tetaplah tinggal di rumah saya."
"Dokter tidak marah karena saya menutupi ini?"
"Apa alasan saya marah? Kamu sudah benar dengan berusaha menutupi aibmu, Dek. Kalau pun harus terbongkar, sudah pasti itu rencana Allah agar pelaku bartanggung jawab. Cukup sampai kita yang tahu ya."
Mira mengangguk mengiyakan.
"Saya kembali kerja dulu, nanti kembali lagi ke sini. Kalau perlu apa-apa bilang saja, jangan sungkan ya."
Dokter Fahmi sebaik itu, berbeda sekali dengan Dion. Apa mereka saru rahim tapi tidak satu bibit ya.
__ADS_1
Mira bertanya pada hatinya sendiri setelah Fahmi menghilang di balik pintu.
Pa, Ma, sekarang aku tahu kejamnya dunia. Aku menyesal telah membuat kalian malu, membuat kalian marah dan kecewa. Seharunya aku tidak menuntut kasih sayang darimu dengan menempuh jalan yang salah. Sekarang aku merasakan pahitnya itu. Aku merindukan kalian.
Air mata merambat melalui pipi yang masih menyisakan tanda merah bekas tangan Dion. Mira memejamkan mata dan mulai terlelap.
Entah sudah berapa lama Mira terlelap saat merasakan ada usapan pada pipinya. Sayup-sayup dia mendengar suara yang mirip dengan sang ayah.
"Kuatlah, Nak. Papa tahu beratnya hidup yang kamu jalani, tapi papa percaya kamu bisa melaluinya. Papa masih mengingat perjuangan kamu untuk menjadi juara olimpiade waktu itu. Kamu begitu gigih belajar, meski gagal berkali-kal. Sampai akhirnya keinginanmu itu kamu raih dan kamu tersenyum bangga memamerkan presatsimu pada papa."
"Berjuanglah, Nak. Tunjukan pada papa dan dunia bahwa kamu mampu mengalahkan tantangan dari dunia yang kejam ini. Papa percaya kamu sanggup dan bisa. Buktikan, Nak! Buktikan! Maafkan papa, tapi kamu harus tahu kalau papa sangat menyayangimu."
Mira mengerjapkan mata, mengedarkan tatap pada ruangannya. Hanya ada dokter dan perawat yang baru masuk dan hendak memantau keadaannya.
Padahal barusan ia merasa mimpi itu nyata, bahkan air matanya jelas menunjukan bahwa ia menangis. Masih ada jejak basah di pipinya.
"Selamat sore, Bu Mira. Bagaimana keadaannya?" tanya dokter yang tengah mengunjunginya dan memeriksa cairan infus.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Dok."
"Dok, Maaf, apa barusan sebelum dokter masuk ada seseorang di sekitar saya?"
Dokter melirik pada suster pendampingnya kemudian menjawab, "Saya tidak melihat siapa pun di ruangan ini, Bu Mira. Apa anda merasa tidak nyaman?"
"Enggak, Dok. Saya hanya bertanya saja." Mira membiarkan dokter itu keluar.
Aneh padahal jelas Mira merasakan hangatnya sentuhan tangan itu di pipi. Usapan tangan dari cinta pertama seorang anak perempuan.
"Apa aku terlalu merindukan papa ya?" gumam Mira, "semoga papa sehat dan baik-baik saja."
Mira tidak lagi melanjutkan istirahat, dia selalu menatap pintu ruang rawatnya. Berharap papanya datang, memeluknya dan mengungkapkan rindu seperti dulu saat mereka harus terpisah karena pekerjaan di luar kota, dan saat kembali suasana menjadi hangat lagi. Ah sungguh tidak tahu diri si Mira ini. Sudah mengecewakan tapi masih berharap sang ayah datang menjenguknya.
__ADS_1
"Hei." Fahmi datang dengan membawa buket bunga juga buah-buahan. Meletakannya di atas nakas. "Kok gak istirahat?" Fahmi menarik kursi kecil agar duduk di dekat Mira berbaring.
"Takut gak bangun lagi."
"Loh kok gitu? Mimpi buruk ya?"
Mira kembali menatap pintu lalu menatap Fahmi. Pria itu jadi tahu apa yang dipikirkan oleh Mira.
"Menunggu aku datang atau menunggu seseorang?" tanya Fahmi lagi. "Mungkin adiknya dokter Fahmi yang ditunggu." Dia mencoba berkelakar sayangnya Mira malah menundukan wajah.
"Dia tidak akan pernah datang selain meminta saya untuk pergi, Dok," kata Mira sambil menatap nelangsa.
"Sabar ya, kan ada saya," kekeh Fahmi, "masih berlaku kan status calon suaminya?"
"Kan sekarang, dokter, sudah tahu siapa orang yang saya maksud."
"Berarti gak berlaku nih," goda Fahmi sambil mengambil buah dan mengupasnya kemudian. Sebagian untuk Mira sebagian lagi untuk dirinya.
***
Sampai di rumah, Nafa langsung melupakan marahnya pada Dion. Bukan karena rasa iba pada Mira sebagai sesama perempuan tapi karena dirinya merasa dkhianagi dan tidak dinomor satukan lagi oleh suaminya.
"Kamu pulang ke indonesia waktu itu untuk menidurinya dia, Dion?"
"Iya, dan hasilnya aku dapat mobil mewah itu. Mobil yang lebih sering kamu gunakan sekarang." Berkata tanpa rasa bersalah sama sekali.
Jadi Dion menidurinya Mira karena taruhan dengan teman-temannya.
"Bukan soal mobil Dion tapi soal nama baik. Gimana kalau perempuan itu membuka aib ini pada publik. Bukan hanya kamu yang akan malu dan hancur, tapi aku dan nama baik keluargaku."
"Kalau gitu diam," bentak Dion dan meninggalkan istrinya.
__ADS_1
Sial, sekarang aku terjebak dengan pria seperti ini. Semua gara-gara kamu Fahmi.
Ketika kegagalan menghampiri maka yang selalu disalahan tentu orang yang kita benci. Menganggap mereka memilki andil atas kegagalan kita. Padahal penyebab gagal yang sesungguhnya yaitu karena kita tidak bisa menguasai diri sendiri dari hawa nafsu. Itu yang terjadi pada Nafa. Hanya karena dendam cinta yang tak terbalas, dia mengikuti egonya. Pada akhirnya semua keputusan yang diambil tidak dengan kesadaran hanya menimbulkan sebuah penyesalan.