
Panik. Mira berteriak meminta para pekerja untuk mencari putrinya. Dia berlari ke dalam kamar mencari ponsel dan menghubungi sang ayah yang baru berangkat.
"Papa, Syifa gak ada," kata Mira. Nada suaranya jelas menggambarkan bahwa ia panik.
"Gak ada gimana?" Ardan tak kalah panik.
"Tadi ia lagi berjemur aku titipkan pada suster karena aku harus ke kamar mandi. Saat aku kembali mereka sudah tidak ada. Aku takut papa" Terdengar isakan dari bibir Mira.
"Sungguh? Sudah dicari ke sekitar? Pak putar balik ke rumah," pintanya pada sopir.
Sampai di rumah orang-orang tengah sibuk mencari, Syifa beserta pengasuhnya. Petugas keamanan pun kena damprat dari Ardan. "Aku menggajimu untuk bekerja bukan untuk tidur saja, cari cucuku sekarang!" bentaknya.
Dalam kamera pengawas, terlihat Siti yang baru bekerja beberapa hari itu mendorong kereta bayi keluar dari pintu gerbang. Mereka Terlihat menjauh dari pintu. Akan tetapi jangakauan kamera yang terbatas, apa gang dilakukan siti tidak terlihat lagi.
Para pekerja mulai menanyakan mereka pada warga yang lalu lalang. Siapa tahu ada yang melihatnya tapi dari sekian orang yang ditanyai, jawabannya sama. Mereka tidak melihatnya.
"Jef, hubungi detektif swasta untuk membantu mencari Syifa. Bayar berapa pun mereka mau asal cucuku ditemukan sebelum hari berganti." Ardan mengepalkan tangan tapi tidak bisa melampiaskannya. Apalagi Mira sejak tadi tidak berhenti menangis.
Membayangkan putrinya yang masih bayi harus jauh dari sang ibu. Bagaimana kalau dia menangis, bagaimana kalau kelaparan. Apa pengasuhnya akan memperlakukan Syifa dengan baik atau tidak.
"Pak, Saya menemukan ini di dekat saluran air," kata satpam membawa ponsel juga sebuah kain bayi. Nafasnya terengah sepertinya habis berlari
"Itu Syifa papa." Mira kembali histeris, bahkan sampai tidak sadarkan diri.
Ardan mengambil ponsel itu dan meberikannya pada Jef-kaki tangan Ardan. "Cari tahu melalui ponsel ini. Aku yakin kamu bisa diandalkan."
"Siap, Pak." Jef langsung memeriksa ponsel tersebut. Sedangkan Ardan membawa Mira ke dalam kamar dan menghubungi dokter langganan keluarganya sejak dulu untuk membantu menyadarkan Mira.
Bagaimana tidak tertekan, seorang ibu muda yang baru habis masa nifasnya, harus mengahadapi kenyataan pahit. Belum lagi sejak kembalinya Dion, ia selalu mendapat tekanan. Beruntung tidak sampai depresi.
Detektif swasta sudah dikerahkan. Namun Ardan tidak bisa berdiam diri. Lekas ia meminta seorang pekerja untuk memeriksa barang milik Siti. Siapa tahu ada identitas perempuan itu yang bisa digunakan sebagai petunjuk. Akan tetapi mereka tidak menemukan apa pun.
Ia pun menghubungi yayasan tempat ia mencari pengasuh itu.
"Maaf, Pak Ardan kami tidak jadi mengirim calon pengsuh untuk cucu anda. Karena saat dalam perjalanan, mobil kami dicegat oleh orang yang mengaku suruhan anda."
Sial.
__ADS_1
Penculikan ini sudah direncanakan. Sepertinya bukan hanya uang tebus yang mereka incar. Ada hal yang le ih besar yang mereka inginkan.
Ardan bergumam.
Jarum jam terus bergulir, tepat menunjuk pada angka dua belas. Akan tetapi tanda-tanda keberadaan Syifa belum terlihat. Mira semakin takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada putrinya.
"Bagaimana ini, Papa." Dalam keadaan panik boro-boro ia mengingat perkataan Hendro waktu itu. Ia merasa buntu dan dunia seolah runtuh dan menghimpit dada. Sesak.
***
Hendro tersenyum saat orang-orangnya berhasil membawa cucu Ardan. Sekarang mereka pasti tengah kalang kabut mencarinya. Hendro tertawa puas.
"Bawa masuk, jangan sampai dia mati sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau," titah Hendro pada Siti.
"Pah, kamu yakin akan membiarkan bayi itu tinggal di sini. Gimana kalau mereka mencurigai kita." Istri Hendro tampak khawatir. Apalagi bayi itu terus menangis.
"Tentu tidak. Kita akan memindahkannya esok pagi. Kita akan memulai permainan." Hendro menyeringai.
Kamu salah lawan Ardan karena berani mengusik hidupku.
***
Beruntung hari ini Dion tidak lagi menolak. Mungkin cape harus terus membuat alasan.
Sebesar apa pun kesalahan sang adik, sebagai kakak tentu Fahmi harus tetap mengayomi. Dia akan menyentuh hati Dion yang keras dengan kelembutan kasih sayang.
"Silahkan tertawakan aku!" ucap Dion dingin bahkan memalingkan wajah.
Fahmi hanya tersenyum, lalu mengeluarkan kotak makanan dari tas yang ia bawa.
"Aku datang untuk memberikan ini. Masih termasuk makanan favorit kamu kan?" Fahmi menghindari perdebatan lagi.
Dion menoleh dan menatap saudaranya yang tersenyum hangat.
"Ayolah tidak perlu pura-pura. Ayo kita makan bersama atau aku habiskan sendiri makanan ini." Fahmi membuka kotak makanan itu dan mulai menyuapkan makanan ke mulutnya. "Masih enak loh masakannya. Ternyata aku masih bisa memasak menu ini untuk kamu."
Benarkah Fahmi yang baru sembuh rela memasak makanan untuk dia.
__ADS_1
"Buka mulutmu!" kata Fahmi lagi sambil mengangsurkan satu suapan pada Dion. "Ayolah, masa kamu akan tega membiarkan kakakmu makan sendiri," kekeh Fahmi dan suapannya di terima olah Dion.
Fahmi terus menyuapi Dion hingga makanannya habis. Ia seka air mata Dion yang tiba-tiba jatuh. Ia juga sodorkan air minum pada adiknya.
Dion menatap Fahmi.
"Aku akan tetap jadi kakakmu, apa pun keadaanmu. Ingat itu adalah janjiku sejak kita kecil." Fahmi kembali mengatakan janji itu pada Dion. Berharap Dion-nya akan kembali.
Dion semakin terisak di tempat duduknya. Pasalnya sejak ditahan, keluarga sang istri tidak pernah ada yang mengunjungi Dion. Jangankan menyediakan pengacara atau memberikan jaminan kebebasan. Menanyakan kabarnya saja tidak.
"Waktu habis," kata sipir.
Dion memaksakan senyum saat bangkit. Saat susah ternyata orang yang memperhatikan keadaannya dan itu bukanlah orang lain. Melainkan saudara sendiri.
Fahmi tersenyum getir. "Bersabarlah, mungkin ini tempat yang baik yang Allah pilihkan untuk kamu. Di sini kamu akan jauh dari godaan duniawi. Kamu bisa fokus memperbaiki diri.!" Fahmi mengangkat tangan memberi semangat pada sang adik. Terus menatapnya hingga menghilang di balik tembok.
Fahmi tersenyum pada sipir lain sebelum pulang. Saat di parkiran ia berpapasan dengan Ardan yang baru turun dari mobil.
"Pak Ardan!"
"Dokter Fahmi, sudah sehat?" tanya Ardan.
"Alhamdulillah seperti yang anda lihat. Bagaimana keadaan Mira dan putrinya, Pak?"
"Alhamdulillah kami sedang diuji. Doakan kami kuat menghadapinya." Ardan tetap tersenyum meski pikirannya tak henti memikirkan keadaan cucunya.
"Memangnya apa yang terjadi?" Fahmi menatap penasaran. Bukan karena rasa dendam dan ingin menertawakan karena perempuan itu meninggalkan dirinya saat tak berdaya. Bukan.
"Bayinya Mira diculik tadi pagi." Tarikan nafas yang berat bisa Fahmi mengerti keadaannya sekarang. Bahwa bayi itu belum ditemukan.
"Izinkan saya membantu pencarian, Pak Ardan."
"Anda baru sembuh, Dok. Bantu kami melalui doa saja, insya Allah Syifa akan baik-baik saja."
Mereka berpisah karena Ardan harus segera melaporkan kehilangan putrinya. Sedangkan Fahmi mulai menghubungi orang-orang yang biasa ia mintai pertolongan. Tentunya dengan bayaran yang tidak sedikit.
"Cari tahu rekan-rekan bisnis, Pak Ardan. Laporkan jika menurutmu ada yang mencurigakan," kata Fahmi pada orang yang tengah ia hubungi.
__ADS_1
Ia yakin aksi penculikan ini ada kaitannya dengan bisnis Ardan. Ia faham persaingan dalam dunia bisnis tidak semua bersih. Masih ada banyak pebisnis yang melakukan banyak cara demi kepentingannya.
Ia pun meminta sopir untuk pulang karena ia masih memiliki jatah cuti untuk beberapa hari ke depan. Ia akan menggunakan waktu itu untuk menantu mencari Syifa setelah mendapat informasi dari orang suruhannya.