
Disebabkan oleh penurunan detak jantung, Fahmi dipindahkan ke ruang ICU. Tangis dan doa dari orang-orang terdekat.
Beruntung selama dalam pengawasan detak jantungnya kembali stabil. Sehingga tak harus berlalu-lama berada di ruangan yang menegangkan. Iya jika sudah masuk ICU harapan untuk hidup itu kecil kemungkinan. Meskipun takdir siapa yang tahu. Dia pun kembali dipindahkan ke ruang rawat VIP.
Saat di ruang ICU Fahmi sempat sadarkan diri. Orang pertama yang ia sebut adalah Silvi. Saat itu hanya ada Mira yang tengah menunggu karena Adelia masih di sekolah dan Silvi sedang mencari makan.
"Alhamdulillah kabar baik, Bu," ujar dokter yang baru keluar dari ruang ICU. "Dokter Fahmi baru saja siuman."
"Alhamdulillah, beneran ini dok?" tanya Mira tak percaya sekaligus bahagia.
"Benar, Bu, beliau juga menyembut nama Silvi, sepertinya dia ingin bertemu dengan orang tersebut. Anda kah orangnya?"
"Bukan, Dok. Orangnya tengah makan siang," jawab Mira. "Nanti akan saya sampaikan, Dok."
"Baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu."
Mira bernafas lega sekaligus merasa miris pada nasibnya sendiri.
Aku baik-baik saja.
Dokter Fahmi berhasil keluar dari masa kritisnya. Adelia, Silvi dan Mira bergantian menjaga Fahmi.
Ya Silvi akhirnya tahu bahwa Mira adalah calon istri Fahmi.
Hari itu Silvi sempat tak terima saat Mira menawarkan diri untuk ikut menjaga Fahmi. Tapi Ardan berdiri tegap di samping sang anak dan mengatakan yang sebenarnya.
"Harunya sebagai calon istrinya, maka Mira yang menentukan siapa yang boleh menjaga dan tidak." kata Ardan.
"Calon istri?" tanya Silvi tampak terkejut. Berbeda dengan Adelia.
"Ya dia calon istrinya dokter Fahmi."
"Gak mungkin," tolak Silvi tegas.
"Cincin yang melingkar di jari putriku adalah bukti bahwa Fahmi telah memintanya kepada saya. Saya belum pernah tahu anda siapa dalam kehidupan dokter Fahmi. Calon istrinya juga?" kata Ardan menatap perempuan yang selalu berada di sana setiap kali ia datang. Sekarang perempuan itu juga menolak putrinya untuk ikut menjaga Fahmi.
"Mbak Silvi mantan istrinya Mas Fahmi," ujar Adelia mendahului Silvi.
"Oh mantan, Seharunya hidup itu berjalan maju kan? bukan berjalan mundur_?"
__ADS_1
"Papa sudah!" Mira menyela dia tidak ingin mempermasalahkannya. Hal ini memang penting tapi tidak sekarang. Mira sendiri belum mengambil keputusan untuk melanjutkan atau tidak. Apa lagi sepertinya masih ada wanita lain dalam hati Fahmi. Terbukti saat ia sadar orang pertama yang dicari bukanlah dirinya.
Setelah berembug bertiga akhirnya sepakat mereka akan gikiran menjaga Fahmi. Hari ini Mira yang anak menjaga. Ya Silvi mengalah karena malu oleh perkataan Ardan meski sebenarnya tak rela. Lagi-lagi perasaan dan tindakan tak sejalan tapi logika ikut bicara dan mendukung tindakan.
Sudah beberapa hari Fahmi di rawat tapi Dion tak kunjung menjenguk. Laki-laki itu terlihat sibuk dengan pekerjaan. Bertemu klien satu dengan yang lainnya. Melobi untuk sebuah kerja sama dan menandatangani sebuah kesepakatan. Hingga sebuah tepuk tangan besar dari mertuanya ia dapatkan kembali. "Aku bangga atas pencapaianmu. Ya setidaknya aku masih punya alasan untuk mempertahankanmu di sisi putriku."
"Maaf, saya tidak akan mengulangi lagi."
"Aku pegang janjimu," kata mertuanya.
Fahmi dan mertuanya berpisah di tempat parkir. Mereka hendak kembali ke perusahaan, menggunakan mobil masing-masing.
Adelia: Mas Fahmi sudah keluar dari ruang ICU, keadaannya sudah mulai membaik. Kapan Bang Ion akan menjenguknya?
Salah satu pesan dari Adelia yang Dion baca.
"antar saya ke rumah sakit?" perintahnya pada sopir.
"Baik, Pak."
Mobil pun sampai di rumah sakit. Dion segera turun dan menanyakan ruang rawat kakaknya. Melangkah dengan tubuh tegap penuh pesona, dan di lirik banyak wanita tak mengganggu langkahnya.
Dion masuk dan menatap tubuh sang kakak yang masih terlihat gagah meskipun dalam keadaan sakit. Hanya bagian wajahnya yang terlihat pucat.
Aku pernah berniat buruk, tapi aku tidak tahu kamu akan mengalaminya tanpa aku berbuat.
Mendnegar pintu dibuka seketika Dion menoleh dan melihat Mira di sana. Gegas dia menghampiri perempuan itu.
Mira sendiri selalu merasa was-was saat harus berhadapan dengan Dion. Dia tidak pernah merasakan tenang seperti saat bertemu Fahmi.
"Saya kira kamu sudah pergi dari kehidupan kami, Mira. Ternyata belum. Pantas saja jika kesialan selalu menimpa kami. Tidak ingin kah kamu membuat hidup kami tenang?" tanya Dion. Terlihat santai tapi terdengar menyakitkan.
"Tidak sopan rasanya jika aku pergi dalam keadaan dokter Fahmi seperti ini. Setidaknya aku tahu cara membalas kebaikan," jawab Mira tegas. Dia memberanikan bicara sambil menatap mata Dion.
"Waaaaawww, kamu selalu membuatku terpana, Mira." Dion melangkah lebih dekat. Tangannya terulur hendak menyentuh pipi lawan bicara tapi ditepis oleh Mira.
"Jangan pernah menyentuhku. Kamu tidak memiliki hak atasku."
"Apa kamu tidak merindukan sentuhanku, hm? Mende-sah nikmat di bawah kungkunganku? Ah aku yakin kamu pasti merindukan itu dariku. Itukan sebabnya kamu tidak pernah menjauh kan?" Dion menyeringai.
__ADS_1
Bicara baik-baik dengan Dion tidak pernah menghasilkan hak baik. Maka Mira memilih labgsung mendorong tubuh Dion agar keluar dari dalam ruangan itu. Dion tertawa mengejek, sampai tubuhnya benar-benar berada di luar ruangan itu.
Ardan yang memang hendak menjenguk Fahmi akhirnya bisa mengetahui wajah orang yang telah menghancurkan sang anak. Wajah yang tidak asing dalam dunia bisnis. Dion hanya mengguk saat melihat Ardan di sana. Dia tidak tahu kalau Ardan adalah ayahnya Mira. Ayah yang sudah menguping percakapan mereka.
"Mir," sapa Ardan saat ia masuk.
Gegas Mira melipat kertas yang berisi pesan untuk Fahmi.
"Apa itu?" tanya Ardan sambil duduk dan menatap Fahmi yang masih tidur karena efek kantuk dari obat.
"Bukan apa-apa, Pa. Oh ya ada kabar baik untuk papa."
"Apa itu?"
"Kata dokter cucu papa sudah bisa di bawa pulang."
"Alhamdulillah, papa udah tidak sabar untuk menggendongnya. Jadi keputusan kamu?" Ardan menatap wajah sang anak yang masih terlihat bingung.
"Kita bicarakan nanti di rumah ya, Pa."
Ardan setuju, dia bangkit dan menghampiri Fahmi kemudian kembali duduk.
Sebelum pulang dan giliran Adelia yang menjaga Mira menyelipkan kertas yang ia tulis beserta cincin yang pernah Fahmi berikan. Ia selipkan kedua benda itu pada bawah bantal. Entah akan dibaca atau tidak tapi semoga saja.
"Maaf, Dok. Saya harus pergi. Lekaslah sembuh karena banyak orang yang membuyuhkan kamu. Terima kasih telah menjadi malaikat terbaik yang Allah kirim untuk menolongku," kata Mira pelan agar tidak mengganggu istirahat Fahmi.
Mira tersenyum kemudian melangkah keluar bersama Ardan. Mereka menuju ruang rawat ibu dan anak untuk menjemput Syifa yang sudah mendapat izin untuk pulang.
Mira kembali menangis haru saat bayi mungil yang tumbuh akibat kesalahannya diserah kan oleh suster.
"Semua sudah dijelaskan dokter Nisha kan, Bu?" tanya suster pada Mira dan Ardan.
"Sudah, Sus," balas Ardan karena Mira sibuk menciumi buah hatinya.
"Dadah bayi kuat. Selamat bermanja pada ibu ya. Ah aku pasti merindukanmu," kata suster itu sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih, Sus," ucap Mira dan Ardan.
Hari ini Mira bahagia karena akhirnya bisa memeluk buah kesalahannya. Sekaligus dia bersedih akan perpisahan sepihak dengan dokter Fahmi.
__ADS_1
Tak apalah dia dikatakan tega. Meninggalkan Fahmi dalam kondisi yang belum pulih seutuhnya.