Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Penyesalan yang terlambat


__ADS_3

"Assalamu alaikum istriku. Sudah tidur, Sayang?" tanya Fahmi dari seberang panggilan. Terlihat ia tengah bersandar pada kursi kerjanya.


"Baru juga menidurkan anak-anak," balas Mira sambil menata bantal kemduian ia merebahkan tubuh sambil memijat kening.


"Pasti repot sekali ya mengurus anak-anak. Untungnya Mas bagian piket malam ini."


"Iya beruntung, soalnya kalau ada Mas di sini bisa tambah repot aku."


Di seberang sana Fahmi tertawa.


"Kalau Mas lagi di rumah nanti mas pijitin ya."


"Masa?"


"Iya dong pijat plus plus." Fahmi kembali tertawa. Rasanya menggoda Mira memang hal paling menyenangkan. "Masa pijat doang tapi gak dibayar."


"Oooohh perhitungan ceritanya? Ok aku juga akan mulai menghitung. Pertama mulai hari selasa ya?" Mira bergidik merasa geli dengan pemikirannya.


Di seberang sana Fahmi juga ikut tertawa. Bahkan pintu ruangan sudah di ketuk berkali-kali pun tidak terdengar oleh Fahmi.


Obrolan melalui telepon tidak bisa lama karena Fahmi harus kembali bekerja. Mira setuju karena dirinya ou. harus istirahat. Beberapa hari ke depan pasti ia akan kerepotan karena ada tambahan personil yaitu Gama. Mkra merebahakn tubuh di samping bayinya.Ia jugs menyenangkan untuk mencium kening putranya dan mengcapkan selamat tidur.


Mira menikmati perannya sebagai seorang ibu dari dua anak. Ditambah lagi dengan adanya Gama yang tidak ingin pulang saat dijemput oleh neneknya. Jadilah Gama tinggal di sana karena istri Hendro pun tidak mempermasalahkan.


Jadilah dia seperti ibu muda dengan tiga anak. Dia pun belajar mengatur waktu sebaik mungkin. Kapan ia akan bersama anak-anak, kapan ia akan melayani suami dan kapan ia harus menyenangkan diri sendiri.


Jangan salah menyisakan waktu untuk menyenangkan diri sendiri itu penting. Ketika hati senang maka setiap pekerjaan yang dihadapi seorang ibu akan terasa ringan. Bahkan mereka bisa mengerjakan beberapa tugas secara bersamaan. Sambil masak momong anak pun bisa. Beres-beres cuci ini dan itu pun bisa. Seorang ibu yang tidak memiliki gelar sarjana pun bisa menjadi guru untuk anak-anaknya.


Hebatnya seorang ibu seberapa lelah pun ia tetap menjalankan kewajiban dengan baik. Seorang istri yang mernagkap jadi ibu untuk anak-anaknya tidak sekalipun mereka meminta bayaran untuk setiap pekerjaan yang mereka lakukan. Padahal mereka bekerja dari bangun tidur sampai tidur lagi.


Wahai suami hargailah kerja keras mereka. Jangan tanyakan seharian kamu ngapain aja. Apa yang kamu lakukan? Masa begitu saja tidak bisa.


Seandainya belum mampu memberikan hadiah sebagai bentuk apresiasi pada kerja keras seorang istri, setidikanya jangan menyakiti dengan kalimat yang menyinggung perasaannya.


Fahmi pun memberi kelonggran pada istrinya agar tidak merasa jenuh. Sesekali Mira diijinkan untuk jalan-jalan. Meskipun diijinkan jalan-jalan oleh suaminya tapi Mira tidak pernah pergi jika tidak bersama Fahmi.


Selain karena takut ada orang yang mengenali Mira dengan masalalunya, ia lebih memilih menggunakan waktunya untuk belajar. Diwatu senggang yang ia miliki, Mira lebih memilih berkutat dengan buku-buku di perpustakaan mini yang disediakan oleh Fahmi.


Untuk menyenangkan diri Mira selalu minta izin agar kedua temannya datang ke rumah. Tentu Fahmi tidak melarang karena Fahmi mengenal kedua teman istrinya. Hanya saja Fahmi ingin mereka datang saat Fahmi sedang bekerja atau tidak ada di rumah. Ema dan Gina pun menghargai permintaan Fahmi. Saat mereka akan datang mereka selalu berkabar lebih dulu.


Seperti hari ini di waktu luangnya Fahmi mengajak anak-anak untuk menjenguk Dion dan mengunjungi perusahaan. Dia berikan waktu uang untuk sang istri bersama kedua temannya.


Sedangkan Adelia izin bertemu teman-temannya.


Mira menyambut kedatangan kedua temannya di depan pintu saat diberi tahu oleh satpam jika mereka sudah datang.


Selalu saja heboh jika mereka sudah berkumpul, bercerita ini dan itu dan selalu Mira yang menjadi pendengar.


"Gitu loh Mir, si Ema kalau naksir seseorang selalu saja mengorbankan aku, suruh ngedekatin lah, suruh minta nomor wa-nya lah. Parah kan nih anak." keluh Gina stelah bercerita panjang lebar tentang sahabatnya.


Yang diceritakan malah asyik menikmati jamuan dari Mira sambil mengajak Syifa bermain. Bayi yang berusia kurang dari dua bulan itu tengah tertawa saat digoda oleh Ema.


"Kenapa begitu Em? Kan kamu yang suka," tanya Mira.

__ADS_1


"Sengaja. Biar ini anak punya pacar masa kemana-mana minta di jemput. Kalau gak dijemput minta antar kakaknya. Kasian aja gitu sama kakaknya."


"Kasihan?" Mira dan Gina kompak bertanya.


Ema mendelik kesal, "apaan sih. Jangan bilang kalian nuduh aku suka sama abangnya Gina."


"Eh kita gak bilang begitu loh," kata Mira sontek Ema membungkam mulutnya.


"Kamu suka sama kakakku, Em?" Gina menatap penuh selidik.


"Enggak, apaan sih. Gak ada ya, gak ada pokoknya. Aku itu murni kasihan. Sumpah." Ema mengacungkan kedua jarinya.


Kedua sahabatnya malah menatap sambil menggoda.


"Enggak ya." Ema menegaskan sambil melepar bantal sofa kepada kedua sahabatnya. "Eh, Mir! Suami kamu pernah marah gak sama kamu?" Ema terlihat salah tingkah. Untuk apa juga dia menanyakan Fahmi pernah marah apa tidak. Kan tidak ada hubungannya dengan mereka.


"Apa hubungannya?" tanya Gina.


"Ya ada, biar aku tuh bisa nyari calon suami representasinya dr. Fahmi gitu."


"Perasaan yang kita omongin itu kamu sama kakakku loh. kok melipirnya jauh banget sampai ke dr. Fahmi segala. Sudah lah Em ngaku aja kalau kamu suka sama dia."


Ema bilang enggak tapi pipinya merah seperti kepiting rebus. Huuuh dia membuang nafas kasar.


"Eh, Mir aku juga penasaran loh sama kayak Ema tentang dr. Fahmi."


"Tuh kan ikut-ikutan juga," serobot Ema. Akhirnya ia lolos dari pertanyaan-pertanyaan kedua temannya. Soalnya dia sendiri masih belum yakin dengan perasaannya.


"Jangan penasaran nanti kalau mau jadi repot. Soalnya suamiku edisi terbatas," kekeh Mira. Dia tidak ingin menceritakan tentang suaminya sekalioun itu kebaikan.Dia takut berawal dari cerita, orang lain akan tertarik pada suaminya dan menghalakan segala cara karena eksoektasi tadi.


"Loh memang suamiku. Masa suami kalian. Kan kalian cantik-cantik tapi jomblo."


"Eeemmmm sombong-sombong. Ingat Mir cukup Firaun saja yang sombong kamu mah jangan sebab gak akan kuat. Cukup dia saja."


"Betul kata Ema, ingat di atas nasi masih ada ikan bakar, sambal sama lalapan." Gina menambahkan.


"Yeee bilang aja lapar." Mira tertawa sambil beranjak ke dapur dan memeriksa makan siangnya sudah disiapkan atau belum.


Mendengar deru mobil ketiganya langsung menoleh ke arah pintu. Mira mengira suaminya yang datang dan kedua temanmu belum pada pulang. Ternyata yang datang bukan Fahmi melainkan ayahnya Mira. Ardan.


"Papa," sapa Mira langsung menghampiri dan mencium punggung tangan ayahnya.


"Om," sapa Gina dan Ema mengangguk sopan. Mereka saling senggol karena melihat pesona Ardan. Tua-tus keladi, semakin tia semakin berisi.


"Apaan sih?" bisik Gina.


"Duren medan, Gin. Selera kami banget." Mereka saling berbisik sedang berbisik sedangkan Mida dan Ardan tengah berbincang.


"Tumben papa kemari, biasanya juga lewat telepon."


"Iya soalnya kangen sama cucu papa. "Kalau videocall doang rasanya gimana gitu. Oh ya Fahmi lagi of kan dari RS?"


"Lagian papa uangnya gak dimanfaatin buat beli bensin dan bertemu cucu. Iya mas Fahmi lagi besuk Dion. Sekalian bawa anak-anak jalan-jalan. Kata mas Fahmi Dion kangen sama Gama. Kalau papa ada perlu sama dia aku telepon sekarang soalnya mas Fahmi bilang habis jenguk Dion mau cek and ricek apalah aku kurang ngerti.

__ADS_1


"Gak ada perlu apa-apa sih, papa hanya kangen sama kalian. Sekalian papa mau bilang kalau papa mau ke pondok. Papa mau lihat adikmu dalam lomba nanti."


"Oh iya aku sampai lupa kalau lombanya di undur. Papa mau ke sana sama siapa?"


"Biasa sama sopir dan Jef. Mau ajak salah satu teman kamu tapo terlalu muda," kelakar Ardan membuat kedua teman Mira tertawa. "Kasihan nanti salah satunya punya anak tiri seumuran."


"Papa ...."


"Enggaklah papa hanya bercanda. Kasihan yang bujang kan masih banyak."


"Ini Gina masih nganggur, Om," kata Ema.


"Lah kamu sendiri? Eh aku lupa kamu kan naksir sama kakakku."


Mira menghubungi Fahmi dan menanyakan akan makans uang di rumah atau tidak.


"Sepertinya enggak, Sayang. Ini Syafa ngih janji yang waktu itu. Katanya mau makan ayam kriuk di temlatnya langsung."


"Oh gitu, ya sudah selamat makan siang. Aku tutup ya."


Mira, Ardan dan kedua teman Mira makan siang bersama. Sesekali kebersamaan itu mereka selipkan canda dam tawa. Sebagai orang tua Ardan juga sesekali menyelipkan nasehat.


Selesai makan siang Ardan pamot. Ayahnya Mira mengatakan akan berangkat sore ini ke pondok tempat Ardit menuntut ilmu agar di jalan lebih santai. Jarak Bandung dan tempat Ardi mondok sekitar 720km. Jika ditempuh menggunakan mobil dan menggunakan jalur tol maka mereka berada di dalam mobil selama kurang lebih sembilan jam. Kalau tidak macet di pintu gerbang tol.


Sedangkan kedua teman Mira masih di sana dan melanjutkan perbincangan.


"Mir, maaf nih ya aku tanya soal ini. Dokter Fahmi pernah gak bahas atau menanyakan soal masalalu kamu sama adiknya."


"Sejauh ini dia belum pernah menanyakan atau apa pun. Lah wong dia sudah tahu lebih dulu tentang aku sama adiknya."


"Serius, Mir."


"Ngapin juga aku bohong hanya untuk terlihat bagus."


"Kamu ga serem sama dia?" tanya Gina penasaran soalnya menurut dia dr. Fahmi menyembunyikan sifat lain di balik sikap ramahnya. Lihat saja, bahkan ia lebih dulu mencari tahi tentang Mira. Menurut kalian itu hanya bentuk kewaspadaan atau memang Fahmi memiliki sifat tersembunyi.


***


"Papa," seru Gama berlari ke arah Dion. Akhirnya setelah terpisah lebih dari satu bulan mereka bertemu juga. Dion ciumi putranya. Sungguh ia sangat rindu dan berterima kasih pada Fai kareana mengambil keinginannya.


Gama juga bercerita kalau sekarang dia tinggal bersama Fahmi dan keluarganya. Ia tidak merasakan kesepian lagi kadena memiliki teman seperti Syafa.


"Terima kasih sudah mau menjaganya, Mas."


"Tidak perlu berterima kasih Dion. Gama buka orang lain dia keponakanku. Seberapa kesalnya aku pada kamu dan Nafa sangat tidak etis jika sku memperlakukan Gama dengan tidak baik."


"Ya aku paham."


Jarak kembali memisahkan seorang ayah dan seorang anak. Rasanya Dion ingin menerobos penjaga dan ia bisa hidup bebas dengan putranya.


Ah iya jadi teringat akan anak hasil dari keselahannya. Apa kabar ia? Apa dia tumbuh dengan baik? merasakan limlahan kasih sayang? Ah jangan ditanya sudah tentu Fahmi akan melakukan tugasnya dengan baik tanpa ia ajarkan. Apa saat besar nanti ia akan mendapatkan kasih sayang dari anak itu. Sedangkan dirinya tidak pernah memberikan kasih sayang.


Bahkan sejak bayi itu lahir, Dion tidak pernah menimangnya. Ah kenapa baru terpikirkan sekarang.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Dion bersujud pada Sang Pemilik Kehidupan. Ia menangis meski tanpa suara. Hanya Air mata yang berbicara mengutarakan keinginanya.


__ADS_2