Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Kejutan untuk Fahmi


__ADS_3

Dion membuang nafas secara kasar. Dia melanjutkan langkahnya kembali meski terasa berat.


Sadar Dion, kamu masih memiliki tanggung jawab atas istrimu. Lagi pula wajar jika dia memiliki seorang kekasih. Dia tidak pantas berdampingan dengan pria brengsek seperti dirimu.


Hati Dion seolah tertinggal di tempat ia bertemu kembali dengan Gina. Gadis itu seolah menari di pelupuk mata dan menggoda Dion. Sehingga dia sulit untuk memejamkan mata.


Keesokan harinya Dion menemui Fahmi perihal pekerjaan. Ya kali dia akan terus bergantung pada uang pemberian. Setidaknya dia pun harus bisa menghasilkan. Dia masih punya Gama yang harus ia cukupi kebutuhannya. Tidak mungkin apa-apa mengandalkan Fahmi.


Fahmi: Bertemu saat makan siang aja. Mas masih di RS.


Pesan masuk dari Fahmi pada ponsel Dion. Jadi sebelum makan siang Dion tidak memiliki kegiatan apa pun selain rebahan, nonton tv, makan dan tidur di apartemen.


Terlintas dalam pikiran ingin mengunjungi Nafa. Ingin tahu keadaan perempuan itu. Biar bagaimana pun Nafa masih bersrtus istrinya. Akan tetapi mengingat sikap keluarganya selama Dion di penjara, membuat niat itu diurungkan.


Memikirkan pertemuan-pertemuan dengan Gina rasanya lebih menyenangkan. Namun saat mengingat wajah yang menunduk saat pertemuan kemarin menghadirkan segenap tanya dalam benak Dion.


"Apa dia baik-baik saja. Atau jangan-jangan pria kemarin itu bukan pria baik-baik. Oh astaga Dion emmangnya kamu oria baik?" Dia balik bertanya oada diri sendiri.


Fahmi dan Dion bertemu di tempat makan siang. Mereka akan membahas tentang pekerjaan Dion.


"Jadi maunya gimana?" tanya Fahmi saat makanan sudah dihidangkan. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih pada pramusajinya. "Kemarin aku tawarkan perusahaan kamu menolak."


"Ya kira-kira aja, Mas. Masa mantan narapidana jadi Direktur utama. Bukannya perusahan semakin tumbuh yang ada malah jadi hancur. Nanti aku disalahkan."


"Oke-oke, aku tahu alasan itu. Jadi sekarang katakan kamu mau nya gimana?"


"Gimana kalau aku ditempatkan di bagian bawah dulu."


"Seperti? Cs gitu?" Fahmi menawarkan posisi paling bawah menurutnya. Dia pun tergelak karena ekspresi wajah Dion.


"Ya gak cleaning servis juga kali, Mas. Staff kek."


"Gak berniat buka usaha sendiri gitu? Rumah makan, rumah kontrakan atau mungkin yang lebih tinggi dari itu." Fahmi memberi ide. Kasihan juga kalau orang yang biasanya jadi orang kalangan atas harus kerja bagian staff.


Sebenarnya bukan kasihan Dionnya sih, tapi kasihan staff yang lain. Takutnya sikap boss-nya Dion belum luntur. Yang ada nanti dia memerintah staff yang lain seenaknya aja.

__ADS_1


"Gak bakal ada yang percaya lah kerja sama aku. Apalagi kalau mereka tahu latar belakangku."


"Memangnya kamu itu seterkenal apa sih? Sampai orang akan tahu masalalu kamu." Fahmi berkelakar agar suasana sedikit hangat.


***


Silvi tengah duduk berhadapan dengan suaminya. Perempuan itu menyodrokan map berwarna cokelat berisi surat gugatan cerai.


"Silvi, Silvi, bahkan sudah hampir satu tahun berlalu sejak pertemuan dengan pak Ardan kamu masih saja memilki keinginan untuk bercerai denganku. Apa yang kamu cari. Memangnya dr. Fahmi menjanjikan kebahagiaan sama kamu. Aku rasa tidak. Apa kamu lupa kalau kamu masih diawasi olah Pak Ardan."


"Tidak perlu banyak omong. Tanda tangan saja surat ini dan kita bercerai."


"Aku sih tidak masalah bercerai dengan kamu. Tapi aku kasihan sama kamu, kamu terlalu mengejar patamorgana yang terlihat indah tapi tidak nyata. Kami bahkan harus merendahkan diri sendiri.*


Waktu itu Ardan memang melepaskan Silvi tapi masih tetap dalam pengawas orang-orang yang ia bayar. Akan tetapi jika Silvi berulah lagi, maka sudah sewajarnya kalau perempuan itu bernasib sama seperti sahabatnya. Nafa. Mendekam dan tidur di balik tembok yang dingin. Tidak akan ada keistimewaan bagi orang-orang tidak beruang seperti dirinya.


"Aku akan menceraikan kamu tapi kamu tidak akan bisa menuntut harta gono gini. Semua yang ada di depan kamu sekarang itu aku dapatkan jauh sebelum aku menikahi kamu. Jadi tidak ada hak mu di sini."


Pria berkepala plontos itu menekankan setiap kalimat yang dia ucapkan. Saat hendak menandatangani Silvi langsung mencegahnya.


"Kenapa? Kamu takut jadi orang miskin?" Suami Silvi tersenyum mengejek.


"Caramu menahanku itu berhasil. Setidaknya sampai aku memiliki harta jadi surat ini akan aku simpan dulu."


Suami Silvi beranjak dari duduknya. Meninggalkan Mira yang menggerutu karena niat lepas dari suaminya ternyata tidak mudah. Sebenarnya mudah kalau dia rela kehilangan kemewahan yang dia nikmati selama ini.


Silvi adalah definisi perempuan tidak bersyukur dan serakah. Menginginkam lebih bahkan dengan cara merampas sekali pun. Sayangnya kejahatan tidak pernah direstui oleh semesta. Ada pun jika direstui maka akan jadi pertaka dikemudian hari.


Dia benar-benar sudah tertipu oleh tipu muslihat dunia. Padahal jelas-jelas di depannya ada seorang pria yang berusaha meratukan dirinya. Hanya saja pria itu jiga tidak bodoh. Dia tahu cara mengendalikan Silvi adalah dengan harta.


Bukankah itu yang dia cari dari Fahmi?


Silvi harus memutar otak agar lepas dari suaminya dengan membawa harta. Sepertinya cara paling mudah selain merampas adalah merendahkan harga dirinya. Merayu dan berpura-pura baik adalah jalannya.


***

__ADS_1


Mira menyiapkan kejutan untuk suaminya. Berkali-kali ia melirik jam dinding, sepertinya sebentar lagi suaminya akan pulang. Dia tidak sabar menunggu reaksi suaminya saat melihat kejutan itu.


"Ibu!" Syafa menghampiri ibunya di dalam kamar. "Wah ada kado kecil. Untuk siapa itu, Ibu, apa itu untukku? Aku kan ulang tahun masih jauh."


Syafa duduk di dekat sang ibu.


"Ini untuk ayah," jawab Mira sambil merapihakan kotak kecil yang berbedntu seperti kado.


"Loh ayah kan ulang tahunnya sudah lewat. Kenapa masih dikasih kado juga." Anak kecil itu tampak berpikir membuat ibunya merasa gemas.


"Ngasih kado kan gak harus saat ulang tahu saja, Sayang. Ini itu spesial untuk ayah."


"Berarti ada untuk aku juga?"


Kali ini Mira yang garuk-garuk kepala. Dia lupa kalau anak sambungnya itu sangat pandai. Seharusnya dia memilih kalimat yang tepat. Sekarang dia repot sendiri soal kado yang di minta oleh putrinya.


"Ada tapi ibu lupa membelinya." Mira menampilan deretan giginya. Berharap anakanya akan memaklumi dan tidak akan marah


"Yah gimana sih ibu. Masa ayah doang yang dikasih hadiah. Aku mau telepon ayah ah biar membeli kado juga untukku." Anak itu turun dari kasur diikuti oleh Mira dari belakang.


Baru saja hendak melakukan panggilan sudah terdengar ucapan salam diiringi pintu terbuka dan menampilkan Fahmi di sana.


"Ayaaahh!" seru Syafa sambil menghampiri ayahnya. "Ayah tahu gak, Ibu, sudah menyiapkan kado untuk ayah."


"Oh ya kado apakah itu?" tanya Fahmi pada sang istri dengan manaikan satu alis.


"Enggak tahu tapi kadonya kecil. Tapi ibu curang karena lupa memberikan kado untuk aku juga."


"Nanti beli sama ayah ya. Oh ya adik Syifa mana? Boleh panggilkan mbak Santi untuk membawa adik Syifa sama ayah?" Begini cara Fahmi agar bisa berduaan sama sang istri. Setidaknya untuk beberapa menit saja.


Mira mengambil tas kerja Fahmi dan menyalaminya. Meletakan tas kerja itu di ruang kerja suaminya.


"Jadi ada kejutan apa untukku, Sayang. Aku jadi penasaran," tanya Fahmi terua mengekori istrinya.


"Apa ya?" Istri Fahmi bergaya seperti tengah berpikir. "Cari di kamar aja ya! Aku harus menyiapkan makan malam dulu."

__ADS_1


Eh baru saja Fahmi ingin berduaan dengan sang istri malah ditinggal ke dapur. Emang belum milik sepertinya.


Mira dikejutkan oleh teriakan Fahmi di depan pintu dapur. Ekspresi wajah Fahmi sulit untuk diartikan. Apa dia maraha tau sebaliknya.


__ADS_2