
"Jadi anak baik ya. Jagan nakal lagi, kalau mereka nakal jauhi.Jangan di balas karena itu akan merugikan kakak. Kalau masih nakal juga bilang sama Miss. Ok?" pesan Fahmi pada Syafa dan Gama. Mereka mengangguk dan menghampiri guru yang menjemput di pintu gerbang.
Fahmi melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.
"Sudah sehat, Dok?"
"Pagi, Dok?"
Saapaan dari beberapa suster yang mengenal Fahmi. Sampai di ruang kerja, ia mulai menerima laporan perkembangan pasien dari suster.
Kemudian melakukan kunjungan ke beberapa pasien yang tengah ia pantau perkembangannya.
Di rumah, Mira sedang mengajak Syifa bermain di taman belakang sambil berjemur. Ia paling senang berjembur di dekat kolam ikan.
Usia berjemur Mira membawa putrinya masuk. Saat anaknya tidur Mira akan membereskan pekerjaan yang bisa ia lakukan atau duduk sambil membaca buku.
Seorang pelayanan menghampiri Mira dan memberi tahu kalau guru ngajinya datang. Ah Mira sampai lupa gara-gara sering absen. Gegas ia turun dan menyalami guru ngajinya.
"Maaf ustadzah saya terlalu asyik di kamar," kata Mira penuh sesal karena kelupaan.
"Tidak apa-apa, berarti bisa kita mulai sekarang?"
Dua jam waktu yang digunakan Mira untuk belajar. Ia juga banyak bertanya mengenai banyak hal. Tentang bab rumah tangga, cara mendidik anak sesuai tuntunan agama, adab menyenangkan suami dan lain-lain. Mkra juga memiliki PR untuk pertemuan minggu depan yaitu setoran hafalan Mira. Dari surat-surat pendek hingga ke surat yang ayatnya lebih bayak.
"Dua hari lagi setoran ya," kata ustadzah sebelum pamit.
***
Saat Fahmi tiba di lapas dia sempat melihat Gina naik ojek online dari sana. "Bukannya itu teman Mira?" ia bergumam dan memperhatikan perempuan yang mirip Gina.
Saat ia meminta izin pada petugas untuk bertemu Dion, ia tak mendapatkan izin.
"Maaf, Pak kunjungan tidak bisa dilakukan lagi. Soalnya baru beberapa menit yang laku tahanan dengan nomor 1034 baru masuk usai ditemui seorang perempuan."
"Baiklah. Kalau begitu tolong berikan makanan ini. Katakan aku mas yang datang."
Lekas Fahmi kembali ke rumah sakit.
Sedangkan di dalam lapas, Dion tengah menatap makanan dari Fahmi yang diberikan oleh petugas.
***
"Bu ini catatan keperluan yang ibu minta." Seorang pelayan memberikan kertas catatan kapeleuan rumah yang harus di beli. Termasuk bahan makanan.
"Letakan dulu di meja ya," kata Mira yang kerepotan karena sedang mengganti popok bayinya.
Usai mengganti popok, Mira menghubungi suaminya.
"Ya sayang?" tanya Fahmi dari seberang telepon. Tangan dan mata fokus pada kemudi dan jalanan.
"Mas lagi di mana? Kok kayaknya gak di rumah sakit."
"Ini baru saja pulang dari menjenguk Dion. Sekarang sedang dalam perjalanan kembali ke RS, Sayang. Apa aku perlu mampir ke rumah?"
"Ya ampun kalau mas ke rumah duku yang ada mas akan memakan waktu banyak. Aku hanya mau izin untuk belanja kebutuhan."
Fahmi tergelak. "Oh kalau itu ya sudah aku izinkan tapi gak boleh pergi sendiri."
"Ya mana bisa aku pergi sendiri yang ada nanti aku kerepotan. Ya sudah aku sudahi dulu ya."
"Oke, hati-hati nanti."
Usai menutup panggilan Mira meminta ditemani untuk belanja kebutuhan. Ia mantap karti ATM yang diberikan Fahmi. Uang di dalamnya belum ia sentuh karena ia masih menggunakan uang cash yang diberikan suami.
Ditemani dua orang pekerja, Mira tiba di sebuah super market. Mira sedikit kerepotan karena sambil menggendong Syifa, tapi tidak mungkin juga anaknya ia tinggal sedangkan Santi harus menjemput Syafa.
Ragam kebutuhan sudah masuk ke dalam trloli, tinggal membeli keperluan Fahmi.
"Waw nyonya sedang belanja." Mira menoleh ke sumber suara dan terlihat Silvi ada di sana juga. Entah kapan perempuan itu tiba karena Mira memperhatikannya.
"Iya. Mbak Silvi sendiri sedang belanja?"
"Memagnya aku ngapain lagi selain belanja? Ngikutin kamu? Enggak banget." Silvi mengibaskan tangannya beberapa kali.
"Aku gak bilang begitu."
__ADS_1
"Jangan sombong, mentang-mentang Fahmi memilihmu karena aku pastikan kamu tidak akan lama berada di sisinya."
Mau heran dengan perempuan model Silvi tapi permepuan seperti itu sudah marak. Di mana rasa malu telah tiada dan mereka terang-terangan ingin merebut hak istri sah.
Mira tidak menanggapi, menjauh adalah pilihan terbaik agar otaknya tetap waras.Belum tentu ia masih bisasabaf jika beribadah dengan perempuan bermuka tebal seperti Silvi.
Karena kebutuhan rumah sepertinya sudah di beli semua, Mira melenggang menuju kasir dan belanjaannya mulai di hitung.
"Total belanja jadi 12.265.340 rupiah, Bu."
Mira mengerjakan ATM yang di berikan oleh Fahmi. Ia tersenyum getir saat mendnegar harga yang harus ia bayar. "Ternyata begini rasanya belanja," gumam Mira setelah menerima kambli ATM dari petugas kasir.
Sampai di rumah istri Fahmi itu masih mantap nota belanja. Nanti mas Fahmi marah gak ya aku mengeluarkan uang sebanyak ini? tanya Mira dalam hati.
"Ibu!" seru Syafa dan Gama. Mereka berebut untuk menyalami Mira lebih dulu. Kadang Mira merasa lucu saat kedua anak itu memanggil dirinya dengan sebutan.
"Anak-anak ini sudah pulang," Mira mengusap pucuk kepala masing-masing.
"Salah! anak ibu kan hanya aku, Gama kan bukan," kata Syafa menyenggol Gama. Anak itu cemberut dan nampak bekas-kaca.
Mira lekas merentangkan tangan agar di peluk oleh Gama. "Kak Syafa, Gama dan adek Syifa adalah anak ibu. Sekarang ganti baju nanti ibu mau minta tolong."
"Ayo Gam kita ganti baju," kata Syifa mengajak adik sepuounya berlari ke dalam kamar. Tak lama mereka sudah kembali dengan pakaian rumah. "Ibu mau minta tolong apa?"
"Temani adek bermain ya dan jangan masuk ke dapur."
"Memangnya ibu mau aoa di dapur?" tanya Gama polos.
"Mau buat kejutan." Tak lupa Mira meminta anak-anak untuk makan siang lebih dulu. Setelah mereka kembali sambil mengusap perut dan bibir, baru Mira beranjak ke dapur.
Ia berkutat dengan mixer, telur, tepung terigu, mentega dan beberapa toping yang disediakan.
Sesekali ia minta bantuan pelayan tapi lebih banyak ia mengerjakan sendiri. Satu ham kemudian dya loyang kue sudah jadi. Tinggal nunggu dingin baru akan dihias. Mira meminta pelayan membuatkan satu loyang lagi.
Ponsel yang berderring di saku gamis, Mira biarkan sejak tadi. Fokus pada kue yang mulai dihias.
"Bagus gak?" Mira meminta pendapat pada pelayan yang membantunya.
"Cantik, Bu. Seperti yang membuat," puji salah satu dari mereka.
Mira kembali menghampiri anak-anak. Menyusui Syifa dan menemani yang besar bermain.
Tak terasa hari mukaibsore dan Adelia baru pulang. Tangannya membawa kotak kecil dan entah apa isinya. Mungkin seperti Mira, Adelia ingin membuat kejutan untuk kakaknya yang besok ulang tahun.
Fahmi sendiri masih memeriksa pasien terakhir sebelum jam kerjanya usai.
"Sonten Fahmi!" panggil seseorang saat Fahmi berjalan di koridor. Ia menghentikan langkah dan menoleh.
"Ada titipan untuk anda," kata satpam memberikan bungkusan mirip kado.
Fahmi menerimaa tapi tak kunjung membuka. Ia mengucapkan terima kasih kemudian melangkah untuk pulang.
Sampai di rumah ia di sambut oleh anak-anak yang tengah anteng belajar bersama sang istri. Mira mulai mengenalkan huruf karena di sekolah lebih fokus pada perkembangan anak tentang minat dan bakat. Belajar sambil bermain. Mira hanya mengajarkan hal-hal dasar.
"Fokus banget sih," kata Fahmi yang ikut duduk dan mencium pipi istrinya.
"Mas," Mira tersentak apalagi sang suami menciumnya di depan anak-anak.
"Salah sendiri terlalu anteng sama mereka. Sampai tidak menyadari kedatangan suaminya." Fahmi menyandarkan kepala di pundak sang istri.
"Memangnya mas mengucap salam?" Mira menoleh hingga pipinya bersentuhan dengan hidung Fahmi.
Bukannya menjawab, Fahmi malah menatap istrinya. Kalau tidak ada anak-anak sudah pasti itu bibir dan pipi langsung mendapat serangan.
"Anak-anak sudah dulu ya belajarnya. Perlu bicara sama ibu, kalian main dulu sama tante Adel atau tamani adek Syifa," kata Fahmi.
"Oke ayah," Syafa menutup buku dan merapihkannya kemudian mengajak Gama main di kamar Adelia.
Si empu yang punya kamar dam sedang belajar jadi terganggu. Ia turun dari kasur dan berkacak pinggang. Apalagi melihat box mainan yang ditarik ke kamarnya. Sudah pasti kamar akan seperti rumah habis kena gempa.
"Siapa yang menyuruh kakian main di sini?"
"Di suruh ayah," jawab Syafa cuek dan mulai mengeluarkan mainannya.
Adelia mendengus dan hendak protes tapi saat menanyakan keberadaan kakaknya pada pelayan, katanya mereka masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Ia urungkan niat protes. Tak elok mengetuk pintu kamar pasangan itu bila tak ada urgensinya.
Di dalam kamar Fahmi tengah menatap istrinya yang begitu gesit menyiapkan kebutuhan dirinya. Ia juga mendengar cerita istrinya yang mengaku kaget saat belanja tidak terlalu banyak tapi mengeluarkan nominal yang sangat banyak.
"Kan kebutuhan sekarang begitu. Apa-apa serba mahal," jawab Fahmi sambil melelaskan pakaian karena Mira mengatakan airnya sudah siap. Ia masuk ke dalam bath tub untuk mengendurkan syaraf-syaraf yang terasa tegang akibat lelah bekerja.
Mira juga berinisiatif memijat pundak suaminya. Tentu Fahmi merasa sangat senang. Bahkan lama-kalamaan baju Mira jadi basah karena di tarik oleh suami agar ikut begabung. Tahu kan yang terjadi kalau sudah bgitu?
***
Malam hari.
Mira keluar dari pelukan suami dan turun ke dapur. Beberapa pelayan dengan wajah ngantuk menunggu Mira turun.
"Tolong bangunkan Adelia sama anak-anak ya," pinta Mira. Ia sendiri mamstikan kua yang dia buat layak untuk diberikan pada suaminya.
Anak-anak datang dengan tangan menggoda mata. Gama bahkan berjalan dengan mata merem. Untung dia dituntun oleh seorang pelayan.
Adelia juga tak jauh neds dengan anak-anak. Rambutnya bahkan mirip buku singa yang mengembang.
"Siap?" tanya Mira setelah memberi fahmi bahwa akan memberi kejutan pada Fahmi. Anak-anak mengangguk dan berjalan menuju kamar Mira dan suaminya.
Lilin kue sudah dinyalakan saat mereka mendekati pintu. Saat Mira membuka pintu sontak mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Mendengar suara itu Fahmi bukannya bangun malah pura-pura tidur.
"Ish ayo bangun," kata Mira yang tahu suaminya tengah pura-pura.
"Apa sih," Fahmi bangun tapi amtanya sengaja merem.
"Ayah ayo tiup lilinnya," seru Syafa yang tidak sabar ingin meniup lilin.
"Oke sini!" Fani meminta Syafa dan Gama untuk mendekat dan meniupnya secara bersamaan.
"Yeeeeeyyy!" yang lain kompak mengucapkan kata itu.
"Terima kasih loh ya kalian sudah repot-repot menyiapkan ini. Tapi lebih banyak terima kasihnya untuk sang istri." Tak tinggalan Fahmi memberikan kecupan pada istrinya.
Mereka turun ke ruang keluarga dan menikmati kue buatan Mira. Canda tawa di malam hari itu sangat terasa.
Pukul satu Fahmi meminta semua kembali tidur. Ia sendiri langsung memangku istrinya ala-ala pengantin baru.
"Beri aku hadiah yang lebih istimewa," bisik Fahmi sukses membuat pipi sang istri merona alami.
Beruntung pintu kamar menutup secara otomatis. Sehingga Fahmi langsung mengeksekusi istrinya.
Mira tertawa geli kala bibir sang suaminya menyentuh gampir setiap kulitnya.
Tangan-tangan nakal mulai bergerak menuju tempat yang disuaki. Mira menggeliat tak kuasa mantan rasa yang tak pernah membuat ia bosan. Padahal mereka jemput jarang absen kecuali salah satu ada yang sakit atau Mira sedang bulanan. Selebihnya tentu jarang mereka lewatkan.
Fahmi tak pernah bosan memuja keindahan yang diberikan Tuhan pada istrinya.
"Mas," rengak Mira saat suami menggigit kulit sensitif Mira.
"Aku senang ketika Miraku menjerit seperti ini," bisik Fahmi.
Mira memukul dada bidang suaminya karena malu, ya ujung-ujungnya tetap memeluk juga.
Dada mereka bergerak tidak karuan seiring nafas yang memburu. Mereka telah tiba di puncak setelah melewati terjalnya lembah dan tingginya bukit.
Keduanya saling melepas senyum puas dan saking mendekap.
"Aku bahagia sekali malam ini," kata Fahmi. Tangannya terus bergerak mengusap rambut sang istri. "terima kasih istriku."
"Aku juga bahagia telah menjadi bagian dari kamu." Mira sudah tidak malu lagi jika memberikan kecupan bibir lebih dulu. "Selamat ulang tahun suamiku, super heroku, pahlawanku, kekasihku. Semoga kebiakan selaku Allah berikan kepadamu dan kita semua. Entah kapan aku mali jatuh cinta kepadamu, entah saat ketentuan pertama dk halte, entah saat kamu membopongku saat aku dikerubungi orang di rumah lama milikmu dan entah kapan pastinya. Yang jelas saat aku memutuskan untuk pergi dari rumah ini, aku merasa kembali hampa. Ada rindu yang ingin aku sampaikan tapi aku cukup malu untuk mengakuinya. Kamu hadir laksana gerimis yang menyenjukanku, membuat harapan-harwownku tumbuh dan ingin menikmati hidup lebih lama lagi."
"Aku tidak tahu sampai kapan kita akan bersama tapi sangat besar harapanku agar setelah maut memisahkan kita, kita dpertemukan kembali di kabadian. Bimbing aku agar bisa terus mendapingimu."
"Manisnya," kata Fahmi berkali-kali mengecup kening sang istri.
"Mas?"
"Hmm?"
"Boleh aku tanya sesuatu?" Mira mendongakkan kepala sehingga netra mereka bertemu tatap. Fahmi mengangguk mempersilhakn istrinya untuk bertanya.
__ADS_1
"Kamu sering mengatakan aku mencintaimu, kalau boleh tahu sejak kapan kamu memilki rasa itu untukku. Atau kamu menikahiku hanya karena rasa kasihan pada perempuan ini?"