Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Aksi Fahmi


__ADS_3

Kabar itu bukan hanya sampai pada Ardan dan orang-orangnya. Bahkan kepolosisian dan orang-orang Fahmi pun mendengarnya.


Pukul 12 malam saat kebanhakan orang tengah lelap, Orang-orang Ardan bergerak lebih dulu bertindak. Mereka berhasil menerobos pintu gerbang dan harus berjibaku dengan orang-orang Hendro yang tidak sedikit.


Andri yang posisinya belum diketahui oleh orang-orang Hendro, menyelinap untuk mengamankan bayi lebih dulu. Sayangnya masih tidak mudah karena ia tidak mengetahui ruangan mana yang dipakai untuk bayi dan susternya.


Saat orang-orang Ardan mulai kewalahan melawan pengawal yang tidak ada habisnya. Saat itu pula Fahmi dan orang-orangnya tiba.


Andri terus bergerak cepat sampai akhirnya dia menemukan bayi yang tengah terlelap bersama Siti. Dia hendak mengambil bayi itu tapi sebuah pukukan membuatnya terhuyung.


Dengan cepat ia bangkit untuk melawan satu orang itu. Siti yang mendengar keributan pun bangun. Dia merasa ini ada kaitannya dengan si bayi.


Dia segera menggendong Syifa dan membawanya kabur. Biarlah urusan dengan Hendro menjadi urusan nanti. Yang penting dia harus memanfaatkan bayi mungil itu untuk mendapatkan uang. Sebab kedua belah pihak sedang memperbutkannya. Dia bisa mendapata uang lebih banyak dari bayaran yang diberikan Hendro.


Beruntung Fahmi sudah masuk dan tepat waktu. Kalau tidak, entah sampai mana anak itu akan terus dibawa lari.


Keributan yang terjadi membangunkan Hendro yang tengah terlelap bersama istrinya. Ia mengintip dari jendela dan melihat mobil Ardan baru saja tiba.


"Sial," umpatnya. Apalagi ia tidak bisa menggunakan senjata karena polisi pun sudah tiba.


Ia berlari ke lantai bawah untuk mengambil bayi. Sayang, bayi itu sudah berpindah tangan pada Fahmi.


"Tunggu!" Hendro menuruni tangga lebih cepat. "Kembalikan dia milikku," kata Hendro.


"Dia keponakanku, anaknya Dion."


Tanpa di duga Hendro langsung menyerang Fahmi. Beruntung Fahmi menguasai beberapa jurus bela diri. Ia tak keberatan saat harus berkelahi dengan Hendro meskipun tengah menggendong bayi.


Beberapa pukulan masih bisa ia tangkis, dan masih bisa melawan. Hendro smpean kalah dan berkali-jali jatuh. Namun saat pukulan menghantam pelipis dan membuat pandangan menjadi kabur dia kalah. Terjatuh pada Sofa dan hentakan itu membaut Syifa menangis.


Hendro mengambil guci untuk menghantam mereka. Kalau uang tidak bisa ia dapat, setidaknya Ardan akan merasa bersalah karema telah menyerang dirinya.


Fahmi mengerjapakan mata untuk mengirangi efek buram pada pandangan. Dia melihat bayangan berjalan ke arahnya dan seperti mengangkat benda. Ia juga sibuk menenangkan Syifa.


"Jangan beregerak." Beberapa polisi sidah bisa masuk dsn menodongkn senjata pada Hendro.


Hendro menghentikan langkah saat mendengar polisi memintanya untuk diam dan mengangkat tangan.


Fahmi bernafas lega, sekali lagi dia lolos dari maut. Dia dibantu oleh polisi lain ia bangkit dan membawa Syifa keluar. Ia berjalan pelan karena efek buramnya belum menghilang.


Allah tolong jangan ambil penglihatanku.

__ADS_1


Tangis Mira kembali pecah saat melihat siapa yang membawa putrinya. Seharunya Dion yang melakukan itu. Dion yang harus melindungi putrinya bukan Fahmi.


Dia dekap sang anak dengan penuh kasih sayang. Bahagia yang tengah ia rasakan tidak bisa dilukiskan dengan tinta. Sungguh dia bahagia saat bisa kembali memeluk putrinya. Ia terus mengucapkan kalimat syukur masih punya kesempatan untuk membersamai perjalanan hidup Syifa.


"Maafkan ibu, Sayang maafkan ibu." Entah sudah berapa kali Mira mengucapkan maaf pada Syifa. Sedangkan bayi itu kembali pulas setelah mencium bau ibunya.


"Terima kasih, Dokter Fahmi." Ucapan Ardan mengingatkan Mira bahwa ia juga belum mengucapkan terima kasih. Dia lupa karena terlalu bahagia.


Saat menoleh tatapan mereka bertemu, "terima kasih, Dok, sekali lagi anda menyelamatkan putriku."


"It sudah menjadi kewajiban saya, Dek."


Hendro dan para pengawalnya digiring ke kantor polisi. Termasuk Siti. Hanya istri dan cucunya serta para pelayan yang tidak di bawa.


Hendro menatap Ardan dan seolah mengatakan bahwa ia belum kalah. Ardan menanggapinya dengan senyum yang mengejek. lengkungan garis bibirnya turun ke bawah. Kemudian ia mendekat, "penjara adalah tmpat yang tepat untuk memperbaiki diri agar tidak serakah. Aku tahu kamu melakukan ini bukan sekedar karena Nafa. Tapi untuk uang yang hilang."


Ardan kembali setelah menepuk pundak Hendro.


"Bayinya selamat?" tanya Andri yang baru datang dengan wajah babak belur seperti yang lain. "Ku pikir aku akan mati di dalam," kekehnya mengangguk pada Fahmi dan yang lain.


"Faktanya anda masih bisa berjalan," jawab Ardan membuat Andri tertawa. "Iya bayinya selamat, untung ayahnya datang tepat waktu.


"Papa ...." Mira protes sedangkan Fahmi menanggapinya dengan senyum manis.


"Gak perlu berterima kasih, kan saya di bayar," kekehnya. Padahal barusan raga dan nyawa hampir saja terpisah, tapi laki-laki itu masih bisa bercanda. Luar biasa.


Setelah urusan selesai, mereka pun meninggalkan rumah Hendro. Fahmi yang merasa harus memastikan Mira dan Syifa selamat sampai tujuan, mengantarkan mereka pulang dengan mengikuti dari belakang.


Saat tiba di rumah dan hendak pergi, Mira memintanya untuk masuk lebih dulu. Ia menitipkan sang anak pada ayahnya agar dia punya waktu untuk mengobati wajah Fahmi. Hanya itu cara untuk membalas kebaikannya.


"Aw," pekik Fahmi saat handuk basah menyentuh bagian yang sakit.


"Maaf," kata Mira tanpa menatap lawan bicara. Dia sibuk memeras handuk dalam mangkok besar.


"Gak cukup kalauhanya bilang maaf."


Mira mengangkat wajah menatap Fahmi yang terasa berbeda. Biasanya laki-laki itu selalu bersikap manis dan lembut. Akan tetapi kali ini berbeda. Membaut Mira bertanya-tanya.


"A-aku harus apa?"


Fahmi menatap wajah yang sebab, ingin sekali dia mengusap sisa air mata itu.

__ADS_1


Tahan! belum halal.


"Menikah denganku."


Ardan yang hendak menghampiri mengurungkan langkah. Biarlah ia memberi sedikit waktu untuk mereka. Toh Fahmi bukan Dion. Aman.


"Aku ... Aku gak bisa, Dok."


"Karena?"


"Masih ada banyak perempuan baik untuk dokter."


"Kalau saya maunya kamu gimana? Bisa kamu carikan saya calon yang seperti kamu. Aku ingin yang sama persis. Bulu matanya, hidungnya, lesung pipinya, bibirnya. Astagfirullah ...."


Fahmi mengerjap karena terlalu lama menatap Mira. "Ya aku ingin yang seperti kamu. Segera, bisa?"


"Gak ada dan gak akan pernah ada. Masih ada yang jauh lebih baik, lebih cantik dan lebih dari segalanya dari saya. Dokter akan ...."


"Pokoknya saya mau tetap kamu." Fahmi rempong ucapan Mira. "Apa sih yang kamu khawatirkan? atau kamu merasa terbebani jika menikah dengan duda beranak?"


"Enggak-enggak, bukan begitu maksud saya ...."


Kembali ucapan Mira terpotong karena dering ponsel milik Fahmi.


Panggilan video dari Adelia. Pasti putrinya bangun dan menanyakan keberadaan dirinya.


"Kamu di mana, Mas. Itu wajah kenapa bisa begitu. Kamu dihajar orang, ya ampun baru juga sembuh." Fahmi disambut omelan panjang kali lebar dari adiknya. Ia masih bisa menanggapinya dengan tawa membuat adiknya mendengus. "Sok jagoan."


"Ayah di mana, kenapa belum pulang. Aku gak suka sama ayah yang ikar janji terus. Katanya mau temani aku bobo. Katanya mau bawa mamah baru, tapi sekarang belum pulang," celoteh Syafa. Wajahnya tampak mengantuk.


"Ini ayah lagi di rumah calon mama baru." Fahmi mengarahkan kamera pada wajah Mira membuat wanita itu gelagapan.


"Kak Mira? Ayah mama barunya Kak Mira?" Syafa tampak girang sedangkan Adelia menatap penuh tanya.


"Iya," jawab Fahmi pada Syafa, "iya kan, Ma?" tanya Fahmi pada Mira.


Dari jauh Ardan mengelengkan kepala sambil tersenyum. Geli juga melihat tingkah Fahmi yang biasanya kalem tapi jadi pemaksa. Mungkin ia lelah ditolak terus oleh putrinya.


"Kak Mira, mama barunya aku?" tanya Syafa pada Mira. "Kok gak di jawab, gak mau ya?"


Maju kena mundur juga kena. Fahmi tersenyum, ia harus berterima kasih pada sang anak yang menghubunginya tepat waktu.

__ADS_1


Akhirnya Mira mengangguk.


__ADS_2