Penyesalan Almira

Penyesalan Almira
Salah Sangka


__ADS_3

Mira tengah menemani anak-anak bermain di taman yang dibuat oleh Fahmi. Hari ini Gama terlihat murung.


"Gama sakit?" tanya Mira sambil memeriksa kening anak itu.


"Enggak, tapi kangen papa," jawabnya polos.


"Mau telepon papa?"


"Boleh ibu?" anak itu bertanya sambil mengedip-ngedipkan matanya. Tampak lucu dan menggemaskan.


"Minta kakak Syafa ambilkan ponsel ibu ya di kamar," kata Mira sambil memangku Syifa yang baru saja minum ASI.


"Aku aja," sahut Gama sambil bangun dan berlari. Tak lama kembali lagi tapi tidak membawa ponsel. "Ponselnya Ibu di mana?"


"Di kamar dekat tempat tidur."


Saat Gama kembali dan membawa ponselnya, Mira langsung menghubungi sang suami. Mengatakan kalau Gama merindukan Papanya.


"Aku kirimkan nomornya aja ya," kata Fahmi di seberang sana.


"Jangan, Mas! Kamu suruh aja dia telepon ke rumah nanti aku suruh Gama untuk menjawabnya langsung."


Fahmi setuju dan langsung menghubungi Dion. Memintanya menghubungi nomor rumah.


Gama menatap bingung saat Mira mematikan meletakan ponsel. Katanya tadi dia boleh menempuh papanya tapi sekarang malah di matikan ponselnya.


"Gama tunggu di dekat telepon rumah ya, nanti kalau teleponnya bunyi langsung Gama angkat." Mira mencontohkan menggunakan tangannya.


***


Dion yang masih duduk di dekat Gina meminta izin untuk mengangkat panggilan dari Fahmi.


"Maaf, Gin aku harus menghubungi anakku dulu," ujar Dion saat panggilan dari Fahmi sudah berakhir. Dia kembali ke meja kerjanya dan menghubungi nomor rumah kakaknya.


Dia sempat tersinggung saat Fahmi mengatakan Mira menghubungi kakaknya lalu minta dirinya menghubungi nomor rumah. Kenapa tidak langsung menggunakan nomor Mira saja.


"Halo papa." Terdengar suara riang milik Gama. Padahal sebelum itu dia tampak murung. "Papa aku kangen sama papa. Katanya kita akan main lagi."


"Iya, kita akan main lagi tunggu papa datang ya. Nanti sepulang papa kerja papa akan ke rumah ayah."


"Beneran, Papa?"


"Iya nanti papa datang. Gama mau di kirim apa?"

__ADS_1


"Eeeeemmmm makanan yang banyak. Soalnya aku suka makanan. Tadi aku sama Kak Syafa makan banyak." Ciri khas anak-anak saat bercerita pada sosok yang dia rindukan.


Dion tertawaendnegar celotehan anaknya. Setelah cukup berbincang, Dion mengatakan bahwa dia harus bekerja. Gama cukup dewasa, dia tidak merengek dan mengiyakan.


Gina sempat mendengar percakapan Dion dengan anaknya. Sebenarnya Dion tidak terlalu buruk. Andai Dion menjdi suaminya, bersikap hangat pada dia dan anak. Bertanggung jawab dan penuh perhatian, pasti dia akan bahagia. Buru-buru Gina menerus pikiran konyolnya. Dia lantas keluar untuk makan siang. Padahal tadi dia bikang bawa bekal.


Hujan turun diwaktu para pekerja akan pulang. Yang memilki mobil aman bisa pulang tanpa menunggu hujan reda. Sedangkan mereka yang berangkat menggunkan motor atau kendaraan umum memilih membiarakan hujan turun lebih dulu.


Gina dan Dion sama-sama tidak bisa pulang. Lebih tepatnya Dion memilih menemani Gina menunggu hujan reda. Mereka menunggu di sofa lobi bersama yang lain.


"Halo, Bang." Gina merima telepon dari Gava. "Iya ini juga tunggu hujannya reda dulu."


"Iya aku tunggu di kantor," kata Gina menutup panggilannya.


Gina menatap gelas berisi teh hangat yang dibuat Dion saat perempuan itu menerima panggilan.


"Aku gak mencampur apa-apa kok. Murni hanya teh manis. Di minum!" Dion seolah paham tatapan Gina yang tidak percaya pada dirinya. Sekali lagi wajar karena perempuan itu tahu bagaimana jahatnya Dion pada Mira.


"Dijemput?" tanya Dion basa basi karena Gina tidak banyak bicara sejak tadi.


"Ya."


Sampai adzan maghrib berkumandang hujan tak juga reda. Begitu pun Gava yang katanya akan menjemput Gina masih belum juga datang. Bahkan perempuan itu sampai tertidur di sofa karena terlalu lama menunggu.


Sejak Gina enggan diajak bicara, Dion memang memilih duduk menjauh dari dia. Tapi melihat Gina yang tidur tanpa selimut membuat dia merasa kasihan. Dia bermaksud baik dengan melepaskan jas dari tubuhnya.


Gava datang dan mengira Dion akan berbuat yang tidak-tidak pada adiknya.


Dion yang tersungkur dan baru akan bangun harus kembali tersungur. Dengan gagahnya Gava mendeng wajah Dion dan membuatnya tergeletak. Kaki Gava yang menginjak dada membuat Dion memekik.


"Hey dengar! Saya tidak akan membiarakan tanganmu menyentuh tubuh adikku. Jangan kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu. Mantan napi dengan kasus mengancam perempuan yang telah kamu hamili. Aku tidak akan membiarkan adikku jadi korbanmu berikutnya."


Dion langsung menarik nafas panjang saat kaki Gava sudah pindah ke lantai dari dadanya. Dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Padahal bisa saja dia melawan Gava, tetapi dia tidak ingin membuat masalah lagi.


Tadi saat Gava tiba dia melihat adiknya tidur dan ada di Dion di sana. Apalagi saat Gava melihat ada dua gelas. Pastilah dia berpikir yang tidak-tidak.


***


Gina bangun dan menatap heran karena dikelilingi orang tua serta kakaknya. Ternyata sudah di rumah, tapi tunggu kapan dia pulang. Astaga saking lelapnya dia sampai tidak tahu apa yang terjadi. Kalau saja dia bangun saat kakaknya menghajar Dion sudah pasti dia tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Maaf, aku ketiduran," ujar Gina seraya bangun dan menurunkan kakinya dari sofa.


"Ketiduran?" Gava mengerutkan kening. Jangan-jangan dia salah sangka dan malah menghajar Dion.

__ADS_1


"Iya aku ketiduran. Udah mah dingin terus abang juga lama datangnya. Ya udah aku tidur," sahut Gina. "Jangan bilang abang ...." Gina melebarkan mata.


"Aku menghajarnya." Gava mengakui tindakannya.


"Astga, Abaaaang. Abang mengira dia akan berbuat macam-macam sama aku. Bang di kantor tadi itu gak hanya kita berdua yang nunggu hujan reda. Banyak yang lainnya. Ya mungkin saat abang tiba mereka sudah pada pulang dan tinggal aku sama dia. Lagian abang pikir mana ada dia akan berbuat macam-macam di kantor. Sama saja dia memutar nasibnya di sana."


"Memangnya siapa yangg kamu hajar, Gav?" tanya papa Gina.


"Teman kerjaku, Pa," jawab Gina menatap dingin pada kakaknya. "Lain kali jangan asal menghajar. Abang itu abdi negara jangan sampai hanya karena kelakuan abang masyarakat akan memandang buruk citra institusi tempat abang bekerja."


Gava bergeming. Ya adiknya benar tapi tetap saja dia juga memiliki alasan kenapa sampai menghajar Dion.


Di tempat lain. Dion baru sampai apartemen dengan tubuh yang basah. Dia lantas memanaskan air dan mengganti pakaian. Dia menatap luka lebam di wajah dan menyentuhnya.


"Lumayan, masih tetap ganteng kok," ujarnya sambil tersenyum. "Gina tidak tahu aku dihajar oleh kakaknya. Besok gimana ya reaksi dia melihat ini."


Dion jadi membayangkan Gina yang merasa bersalah kemudian bersikap manis. Rasanya hari-hari Dion akan tambah menyenangkan sampai beberapa hari kedepan.


Lamunan Dion buyar karena ponsel yang berdering.


"Halo, Mas?" ternyata Fahmi yang menghubungi.


"Gama bilang kamu akan ke rumah. Dari tadi dia nunggu kedatangan kamu."


"Astaga aku lupa." Dion menepuk kening sendiri, "ya sudah aku akan ke sana sekarang. Sekalian numpang makan," ujarnya membuat Fahmi ikut tertawa.


***


"Dasar," guamam Fahmi sambil menutup panggilan. "Katanya papa kamu sebentar lagi ke sini. Sambil nunggu papa datang Gama belajar lagi sama kak Syafa ya," ujar Fahmi pada Gama yang duduk di sebelahnya sejak tadi.


"Papa gak akan bohong lagi ayah?"


"Enggak tapi kamu harus jadi anak baik. Kak ajak Gama belajar," teriak Fahmi pada Syafa.


"Ke sini aja, Gam," balas Syafa tak kalah berteriak.


"Rumah kok kayak hutan," kata Mira yang menggendong Syifa dan menghampiri suaminya.


Fahmi langsung meminta Syifa. Memberikan kasih sayang pada anak itu. Dia tidak membedakan Syifa dengan Syafa pun dengan Gama.


"Masih sering mual?" tanya Fahmi pada sang istri.


"Masih sih tapi ya gak seperti kemarin-kemarin. Sudah mulai jarang."

__ADS_1


Fahmi duduk sambil memangku Syifa, di sampingnya sang istri duduk dan menyandarkan kepala. Tak jauh dari mereka Syafa dan Gama tengah duduk sambil belajar. Benar-benar potret keluarga yang bahagia.


Lalu bagaimana saat Dion datang?


__ADS_2