
Fahmi memeluk erat sang anak. Sebelumnya dia selalu berhasil memberi pengertian pada sang anak. Tetapi sepertinya Syafa mulai bosan selalu mendengar alasan yang sama.
"Ayah kenapa tidak menjawab pertanyaan-ku?"
"Dengarkan ayah! Mempunyai ibu atau tidak bukan sesuatu yang hina, sayang. Begitu pun ketika tidak memiliki ayah. Ada tidaknya orang tua adalah sebuah ujian. Orang yang selalu tersenyum saat mendapat ujian itu akan mendapatkan hadiah." Fahmi mencoba memberi pemahaman lain pada sang anak.
Sebenarnya mudah bagi seorang Fahmi untuk mencari pengganti Silvi. Jika dilihat dari sudut pandang harta mana ada perempuan yang akan menolak, begitu istilahnya. Tetapi dia tidak ingin mengulangi kegagalan yang sama. Salah memilih baju itu hanya menyesal satu atau dua hari. Salah memilih pasangan bisa menyesal seumur hidup.
"Hadiahnya apa?"
"Anak yang baik dan selalu bersyukur akan disayang sama ALLAH. Kalau Allah sudah sayang maka apapun yang Syafa minta akan Allah kabulkan. Syafa mau gak disayang sama Allah?"
"Mau. Emm ... apa Allah akan mengabulkan kalau aku baik dan gak nangis lagi?"
"Insya Allah," jawab Fahmi.
"Termasuk kalau aku meminta Kak Mira jadi ibuku?"
Deg.
"Kenapa ayah tidak menjawab? Apa permintaanku tidak akan dikabulkan?"
"Insya Allah akan dikabulkan asal Syafa selalu jadi anak yang baik. Rajin belajar, tidak suka marah-marah sama mbak Santi dan rajin berdoa. Insya Allah akan terkabul."
"Yeeeee aku akan punya ibu," sorak Syafa.
"Sekarang sudah malam ayo tidur!"
Anaknya Fahmi tidak lagi murung, senyumnya sudah kembali. Berbeda dengan Fahmi yang tampak bingung. Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh sang anak. Dia ikut berbaring di sana untuk menemani sampai sang anak menjemput lelap. Setelah memastikan sang anak lelap barulah Fahmi beranjak dari sana.
Keluar dari kamar sang anak Fahmi menghampiri Adelia yang masih belajar di depan televisi. "Belum ngantuk, Dek?"
"Belum, Mas. Syafa sudah tidur?" tanya Adelia sambil menoleh sebentar.
"Baru saja tidur. Dek ..."
__ADS_1
"Kenapa, Mas. Kaya abege lagi galau nih masku?" goda Adelia. "Mau cerita gak nih? mumpung aku belum ngantuk." Adelia menutup buku pelajarannya kemudian duduk di sebelah Fahmi.
Fahmi menatap sang adik dan menarik nafas dalam-dalam. Adelia sudah cukup cukup dewasa untuk diajak berdiskusi.
"Menurut kamu Mira bagaimana?" tanya Fahmi.
Adelia membenarkan posisi duduknya. "Menurutku dia baik, pengertian juga orangnya. Terus dia juga termasuk pembelajar sih orangnya. Kalau mas mau tanya mas cocok atau enggak sama dia, aku jawab cocok."
"Sok tau kamu," sanggah Fahmi sambil tertawa.
"Dih, ngeles. Terus buat apa mas nanya-nanya soal kak Mira?"
"Ya mas hanya mau tau pendapat kamu aja soal dia."
Adelia mencibir sang kakak, "kalau suka bilang, Mas! Dah diambil orang baru tahu rasa nanti."
"Ya tinggal diambil lagi lah, susah amat," kekeh Fahmi. Dia beranjak dari duduknya dan menuju kamar.
Permintaan Syafa dan rasa ingin melindungi Mira terus berdebat dalam pikirannya. Jelas terbayang dalam pikirannya bahwa Mira akan menolak. Perempuan itu jelas menghindari dirinya. Entah karena perempuan itu masih mencintai adiknya atau justru menghindari perhatian dari dirinya yang berpotensi menumbuhkan cinta.
Allah aku memohon dengan segala kerendahan hati, berikan petunjuk-Mu. Aku dilanda kebimbangan, antara belum siap memulai hidup dengan perempuan lain, rasa ingin melindungi dia, dan permintaan putriku. Allah, Engkau sebaik-baiknya pemilik rencana, aku serahkan keputusannya pada-Mu.
Barulah Fahmi bisa memejamkan mata setelah itu.
***
Mira menatap box yang diserahkan Gina tadi. Dia penasaran tapi juga takut. Setelah diam cukup lama, akhirnya boks tersebut dibuka. Mira menatap tak percaya pada isi boks tersebut. Semua isi dalam boks tersebut mengingatkan Mira terhadap Adnan-sang ayah.
"Benarkah ini papa yang kirim? Bukankah papa membenciku?' tanya Mira pada diri sendiri.
Dia menggulir layar ponselenya mencari kontak nomor sang ayah. Dia buka blokirnya dan hendak menghubungi tapi dia urungkan kembali. Tiba-tiba perutnya terasa mulas dan mulai terasa kram. Pada akhirnya dia tidak jadi menghubungi sang ayah melinkan menghubungi Gina.
"Gin ... perutku kram dan mules," kata Mira setelah panggilan tersambung.
"Eh eh serius, Mir?" Gina yang sudah berbaring manja menjadi panik. Gegas dia keluar dari kamar menuju kamar sang ibu. "Tenang Mir tenang, jangan panik!" Dia berusaha menenangkan Mira sedangkan dirinya sendiri juga panik. Beruntung dia sudah sampai di depan kamar sang ibu. "Ma, Mira mules ma," kata GIN sambil menegtuk pintu kamar sang mama.
__ADS_1
"Gin, tolong!" terdengar erangan Mira.
Gina mengetuk kamar sang mama semakin keras. Rupanya orang tua Gina sudah pada tidur. Lama Gina menunggu barulah terdengar kunci dibuka.
"Apa sih, Gin. Papa sama mama gak lagi nyetak adekmy kok." Papa Gina yang muncul.
"Pa kasih tau mama, Mira mules dan kram katanya. Aku gak tahu harus apa" Gina menggaruk kepala yang tak gatal.
Papa Gina langsung membangunkan istrinya. Mereka langsung ke rumah Mira dan membawanya ke rumah sakit.
Mira mencengram pakaian Gina untuk menahan rasa sakit yang mulai menyerang. Keringat mulai membasahi kening Mira. Dia tidak banyak bicara untuk menahan rasa sakit, hanya cengkeraman pada pakaian Gina semakin kuat. Menandakan perempuan itu menahan rasa sakit yang teramat.
Beruntung jalan menuju rumah sakit tidak terlalu ramai, sehingga mereka bisa sampai lebih cepat. Papa Gina sigap berlari ke dalam rumah sakit meminta pertolongan. Mira kembali masuk ruang UGD entah yang ke berapa kalinya.
Gina langsung menghubungi Fahnmi menggunakan ponsel Mira.
"hallo!" terdengar suara khas bangun tidur dari seberang sana.
"Dok, Mira dibawa ke rumah sakit. Ini Gina temannya. Saya shareloc langsung ya."
Begitu mendengar Mira masuk rumah sakit, rasa kantuk Fahmi langsung menguap. "Ok, saya segera ke sana," kata Fahmi.
Laki-laki itu turun dari tempat tidur dan masuk kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya dia langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Katakan pada Adelia kalau besok anak itu menanyakan saya. Saya pergi ke rumah sakit," kata Fahmi pada satpam yang menjaga rumahnya.
Apa ini sebuah jawaban agar aku menikahinya?
Fahmi terus melajukan mobil hingga tiba ditujuan. Beruntung orang tua Gina membawa Mira ke rumah sakit tempatnya bekerja. Dia langsung menuju ruang UGD. Terlihat du ornag yang tadi ia temui di rumah Mira bersam seorang laki-laki.
"Gimana keadaan Mira? Dokter sudah keluar?" tanya Fahmi berusaha terlihat tenang tapi rasa cemas pada perempuan yang telah dihamili sang adik tidak bisa disembunyikan.
Beruntung malam itu dokter Nisha kebagian tugas jaga. Saat perempuan itu keluar dari ruang UGD, Fahmi segera menyongsongnya.
Fahmi menunggu degan harap-harap cemas apa yang akan dikatakan oleh dokter itu.
__ADS_1